Minggu, 06 Juli 2008

Api di Bukit Menoreh 56

“Ya, aku melihat sendiri kau memenangkan perlombaan memanah pada waktu itu”
“Bukan ukuran dalam peperangan yang campuh” jawab Agung Sedayu.
“Tetapi unsur perseorangan sangat berarti dalam peperangan yang betapapun juga”
“Mungkin kau benar. Tetapi aku mengharap bahwa ada orang lain yang akan dapat mengganti kedudukannya. Bukankah di Sangkal Putung masih ada kakang Untara dan paman Widura?”
“Ya, dan kau kakang?”
“Aku tidak terhitung dalam tingkatan itu. Aku hanya seorang untuk menambah hitungan saja”
Sekar Mirah memandang Agung Sedayu dengan sudut matanya. Alangkah jauh berbeda. Kalau yang berdiri dihadapannya itu Sidanti maka jawabannya pasti akan bertentangan sama sekali. Sidanti pasti akan menjawab “Tak ada orang lain di Sangkal Putung yang dapat menyamai aku”. Tetapi Agung Sedayu berkata lain “Aku hanya seorang untuk menambah hitungan saja”
“Hem” Sekar Mirah menarik nafas.
“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.
Sekar Mirah menggeleng “Tidak apa-apa”
Kembali Agung Sedayu tersenyum. Ia menyangka bahwa Sekar Mirah masih jengkel kepadanya karena lebah gula itu. Tetapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya bergolak didalam gadis itu. Diam-diam ia selalu membandingkan Agung Sedayu dengan Sidanti.
Sidanti baginya adalah seorang laki-laki yang dahsyat. Ia selalu berkata tentang dirinya, tentang kepercayaan pada diri sendiri, tentang kemampuan dan tentang cita-citanya yang melambung setinggi langit. Ia kagum kepada anak muda itu. Ia kagum akan kedahsyatannya, akan kepercayaan kepada diri sendiri, akan kemampuan dan cita-citanya. Tetapi ia hanya mengaguminya. Lebih dari itu, ternyata tidak. Ia kecewa bahwa Sidanti pergi. Kecewa karena di Sangkal Putung tidak ada seorang yang dapat dibanggakan kesaktiannya. Tidak ada orang yang berkata kepadanya, bahwa dadanya adalah perisai dari kademangan ini. Tidak ada orang yang berkata kepadanya seperti Sidanti pernah berkata “Mirah, berkatalah. Apakah aku harus membawa sepotong kepala untuk kakimu? Tunggulah, pada saatnya, aku akan membawa kepala Tohpati. Rambutnya dapat kau pakai untuk membersihkan alas kakimu”
Meskipun Sekar Mirah tahu benar justru Untara ternyata melampaui kedahsyatan Sidanti menghadapi Tohpati, namun ia hampir tidak mengenal Untara. Orang itu terlalu angker baginya. Seakan-akan hampir-hampir belum pernah ia bercakap-cakap dengan orang itu. Karena itu maka tidak sentuhan apa-apa yang dapat memberinya kebanggaan. Widura yang menurut pendengaran Sekar Mirah tidak kalah saktinya dari Sidanti, itupun bagi Sekar Mirah tidak berarti apa-apa. Dahulu ia pernah mengharap didalam hatinya, semoga Sidanti dapat menunjukkan kelebihannya dari Widura, sehingga Sidanti mendapat tempat yang lebih baik daripadanya. Dengan demikian ia akan dapat turut merasakan kedudukan anak muda itu. Sebab Sekar Mirah lebih mengenal Sidanti dari Widura yang sama sekali hampir tidak pernah mempedulikannya.
Diantara mereka yang dapat dibanggakan di Sangkal Putung yang dikenalnya dengan baik adalah Agung Sedayu. Menurut penilaiannya Agung Sedayu ternyata melampaui Sidanti. Ia melihat sendiri Agung Sedayu memenangkan perlombaan memanah beberapa saat yang lalu. Bahkan ketika mereka berkelahi disamping kandang kuda itupun ternyata Sidanti terpaksa mengambil sepotong kayu sebagai senjatanya. Sedang Agung Sedayu sama sekali tidak mempergunakan senjata apapun. Tetapi kenapa Agung Sedayu tidak pernah berkata kepadanya “Mirah, apakah aku harus membawa kepala Tohpati untuk alas kakimu?”
Tidak, Agung Sedayu tidak berkata demikian kepadanya. Anak muda itu hanya akan membuat gelodok lebah gula untuk mendapat madu.
Sebenarnya Sekar Mirah menjadi kecewa atas sikap Agung Sedayu itu. Sikap yang baginya kurang jantan. Kurang dahsyat dan kurang perkasa. Sangat berbeda dengan Sidanti. Tetapi meskipun Sekar Mirah mengagumi Sidanti, namun ia mempunyai perasaan yang aneh terhadap Agung Sedayu yang mengecewakannya itu. Perasaan yang tak dimilikinya terhadap Sidanti.
“Alangkah mengagumkan seorang anak muda, seandainya berwadag Agung Sedayu namun memiliki sifat-sifat kejantanan Sidanti” gumamnya didalam hati “Sayang Sidanti tidak terlalu menarik, dan lebih-lebih sayang lagi, Sidanti telah mengkhianati kawan sendiri”
Ketika Sekar Mirah masih saja termeung, maka berkatalah Agung Sedayu “Kenapa kau termenung Mirah?”
“Oh” Sekar Mirah tergagap seperti baru terbangun dari tidurnya “Tidak apa-apa”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ternyata Sekar Mirah tidak saja masih jengkel kepadanya hanya karena lebah itu. Maka itu ia bertanya “Kenapa kau termenung? Apakah kau masih marah kepadaku tentang lebah itu, atau tentang hal yang lain?”
“Tidak kakang” jawab Sekar Mirah sekenanya, bahkan kemudian diteruskannya “Aku masih cemas tentang laskar Tohpati itu”
Tiba-tiba Agung Sedayu tertawa “Jangan cemas. Tohpati tidak berbahaya bagi Sangkal Putung. Laskarnya tidak melampaui laskar Pajang di Sangkal Putung, ditambah dengan anak-anak muda yang berani dan bertanggung jawab”
“Tetapi Tohpati sendiri?” bertanya Sekar Mirah.
“Bukankah disini ada kakang Untara atau paman Widura?”
Sekar Mirah menggigit bibirnya “Kalau kakang Untara atau paman Widura tidak ada?”
“Mereka akan tetap disini Mirah”
“Ya. Seandainya tidak ada. Atau ada halangan apapun”
Agung Sedayu menarik nafas panjang, namun ia tersenyum “Salah seorang dari mereka pasti berada disini. Kalau ada keperluan yang sangat penting sekalipun, pasti mereka tidak akan pergi berdua”
“Seandainya mereka berdua sakit? Sakit panas, sakit perut atau sakit apapun yang berat dan bersamaan?”
“Itu adalah suatu halangan diluar kemampuan manusia. Namun disini ada seorang dukun yang pandai yang akan dapat mengobatinya”
“Oh” Sekar Mirah menjadi tidak sabar. Katanya hampir berteriak “Keduanya tidak dapat maju berperang. Apapun alasannya. Lalu bagaimana, apakah Sangkal Putung akan menyerah?”
Meskipun Agung Sedayu tidak tahu maksud Sekar Mirah namun ia menjawab “Tentu tidak Mirah. Disini ada paman Citra Gati dan paman Hudaya. Ada juga paman Sonya dan kakang Sendawa. Mereka dapat menggabungkan kekuatan mereka dalam satu lingkaran untuk melawan Tohpati”
Mendengar jawaban Agung Sedayu itu Sekar Mirah terhenyak duduk diatas setumpuk kayu bakar. Ditekankan tangannya pada dadanya yang seakan-akan menjadi sesak. Jawaban Agung Sedayu benar-benar tidak diharapkannya. Meskipun ia terduduk diatas seonggok kayu bakar namun hatinya berteriak “Oh, Agung Sedayu yang bodoh, kenapa jawabanmu demikian mengecewakan aku? Kenapa kau tidak menjawab sambil mengangkat kepalamu “Seandainya mereka sakit, atau berhalangan apapun Sekar Mirah, ak, Agung Sedayulah yang akan melawan Tohpati. Aku akan bunuh orang itu, aku penggal kepalanya, dan aku berikan sebagai alas kakimu”
“Oh” tiba-tiba Sekar Mirah mengeluh.
Agung Sedayu benar-benar tidak mengerti maksud Sekar Mirah. Ia melihat gadis itu menjadi kecewa. Tetapi ia tidak tahu kenapa ia menjadi kecewa.
Terdorong oleh kegelisahannya karena ia tidak tahu apa yang dikehendaki oleh Sekar Mirah, maka dengan jujur Agung Sedayu itu bertanya “Mirah, apakah sebenarnya yang kau kehendaki dengan segala macam pertanyaanmu?”
“Kakang Agung Sedayu” berkata Sekar Mirah menahan jengkel “Apakah kau tidak akan ikut bertempur?”
“Tentu Mirah”
“Kenapa kakang hanya menyebut nama-nama orang lain? Kakang tidak pernah menyebut nama kakang sendiri. Apakah dengan demikian berarti bahwa kakang tidak banyak mempunyai kepentingan dengan laskar Tohpati itu? Atau barangkali kakang tidak mempedulikan mereka. Atau tidak memperdulikan Sangkal Putung?”
“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu semakin tidak mengerti.
“Baiklah aku bertanya terus kakang, tetapi aku ingin segera mendengar jawabanmu yang terakhir. Aku ingin kau menyebut namamu sendiri. Kakang, bagaimanakah seandainya tidak ada orang lain yang dapat lagi maju melawan Tohpati? Apakah yang akan kakang lakukan?”
Agung Sedayu tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini tahulah arah pertanyaan Sekar Mirah. Karena itu, tiba-tiba Agung Sedayu tersenyum sambil menjawab “Oh, itukah yang ingin kau ketahui Mirah”
“Ya, aku ingin mendengar jawabmu. Aku ingin mendengar apakah yang dapat kau berikan kepada Sangkal Putung. Apakah yang dapat kau sumbangkan kepada tanah kelahiranku ini? Bukan kakang Untara, bukan paman Widura, bukan paman Hudaya, paman Citra Gati, paman Sonya. Bukan kakang Swandaru, bukan ayah, bukan orang lain. Tetapi kakang Agung Sedayu”
“Hem” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku sendiri? Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu Sekar Mirah. Kalau tidak ada orang lain yang akan melawan Tohpati, maka sudah tentu aku akan melawannya”
“Hanya itu?” Sekar Mirah masih kecewa.
“Lalu apa laig?”
“Apakah kau biarkan Tohpati mengalahkanmu? Membunuhmu?”
“Kau aneh Mirah”
“Apa yang aneh padaku? Kaulah yang aneh”
“Kenapa kau bertanya demikian?”
“Habis. Kau tidak berkata, apa yang akan kau lakukan atas Tohpati itu”
Perlahan-lahan Agung Sedayu kemudian dapat meraba pertanyaan-pertanyaan Sekar Mirah yang membanjiri dirinya itu. Sekar Mirah ingin mendengar jawaban yang dapat memberinya kepuasan. Yang dapat menentramkan dirinya dan mungkin dapat memberinya kebanggaan. Namun tidak terpikir oleh Agung Sedayu bahwa keinginan Sekar Mirah bukan saja jawaban-jawaban yang dapat menentramkan hatinya, dan memberinya kebanggaan, tetapi Sekar Mirah ingin mendapat seorang pahlawan yang dapat mengimbangi Sidanti.
Karena itu bagaimanapun juga Agung Sedayu masih juga tidak memberinya kepuasan seperti yang dikehendakinya, ketika ia mendengar Agung Sedayu itu menjawab “Sekar Mirah, sudah tentu aku akan melawan Tohpati dengan segenap tenaga dan kemampuan yang ada padaku. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi, Mirah. Karena itu maka aku tidak akan membiarkan Tohpati berbuat sekehendak hatinya. Aku akan melawannya. Tetapi takdir berada ditangan Tuhan. Itulah sebabnya maka aku tidak dapat berkata lebih jauh daripada itu tentang diriku. Aku berwenang berusaha, namun akhir daripada semua peristiwa berada ditanganNya”
Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia sama sekali tidak puas dengan sifat-sifat Agung Sedayu itu, namun ia tidak akan mendesaknya lagi.
Sekar Mirah semakin melihat perbedaan-perbedaan yang ada pada Agung Sedayu dan Sidanti. Ia pernah juga dahulu mendengar Agung Sedayu itu berkata tentang dirinya. Bahkan dahulu Agung Sedayu lebih banyak menyebut-nyebut dirinya dan membanggakan tugas-tugas yang telah diselesaikannya. Tetapi sekarang, sungguh mengherankan, Agung Sedayu seakan-akan telah kehilangan gairah atas kemenangan-kemenangan yang pernah dicapainya.
Tetapi bagaimanapun juga, Agung Sedayu itu selalu membayanginya. Wajahnya hampir tidak pernah lenyap dari matanya. Bahkan didalam tidur sekalipun. Namun justru karena itulah maka Sekar Mirah menjadi semakin kecewa. Ia ingin melibatkan dirinya dalam hubungan yang semakin dalam. Namun Agung Sedayu tidak bersikap seperti yang diinginkannya.
Sekar Mirah yang duduk diatas seonggok kayu bakar itu mengangkat wajahnya. Ia mendengar langkah orang disudut rumahnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya seorang prajurit berjalan keperigi. Dilambungnya tergantung pedang yang panjang.
“Kenapa senjata itu disandangnya?” tiba-tiba ia bertanya.
Agung Sedayu berpaling. Ia melihat prajurit itu. Karena itu ia menjawab “Sangkal Putung berada dalam kesiap-siagaan penuh. Prajurit itu aku kira baru saja nganglang kademangan”
“Apakah Tohpati akan segera menyerang?”
“Aku tidak tahu. Tetapi kemungkinan itu setiap saat memang dapat terjadi”
Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Ia memang melihat pada saat-saat terakhir kesibukan yang meningkat. Ia melihat ayahnya semakin jarang-jarang berada dirumah, dan kakaknya tidak pernah berpisah dengan pedangnya.
“Apakah sudah ada berita tentang penyerbuan yang bakal datang?”
Agung Sedayu ragu-ragu sejenak. Ia tidak dapat berkata berterus terang. Agaknya Ki Demang dan Swandarupun belum berkata kepada gadis itu. Karena itu jawabnya “Meskipun tidak ada berita apapun dan dari siapapun Mirah, memang kita wajib selalu berwaspada. Ketegangan memang meningkat akhir-akhir ini. Tohpati mempercepat gelombang kegiatannya pula”
Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Kadang-kadang ia menjadi cemas membayangkan apa yang bakal terjadi seandainya Macan Kepatihan itu benar-benar akan menggulung Sangkal Putung. Tetapi kadang-kadang ia mengharap serbuan itu datang. Ia mengharap kakaknya, Swandaru berhasil membunuh orang-orang penting dari laskar Tohpati itu. Dan ian mengharap Agung Sedayu berhasil lebih banyak lagi. Bahkan ia mengharap bahwa Agung Sedayulah yang akan membunuh Tohpati, bukan Untara dan bukan Widura.
Tetapi apabila ia melihat sikap Agung Sedayu, kembali ia menjadi kecewa “Hem” desahnya didalam hati “Orang ini lebih pantas menjadi seorang penulis kitab-kitab tembang daripada seorang prajurit. Seorang yang hampir setiap hari duduk diatas tikar pandan, menggurat-gurat rontal dengan pensilnya. Kemudian membaca kisah-kisah yang menawan hati. Kisah kasih antara Pandu dan Kirana, atau kisah petikan-petikan dari Mahabharata.
Ketika Sekar Mirah sejenak berdiam diri sambil memandangi noktah-noktah dikejauhan, maka berkatalah Agung Sedayu “Betapapun kuatnya laskar Macan Kepatihan, Mirah, tetapi kau jangan cemas. Sangkal Putungpun semakin lama menjadi semakin kuat. Anak-anak muda yang kini menjadi semakin kaya akan pengalaman dan semakin kaya akan tekad mempertahankan tanahnya, menjadi perlambang kemenangan-kemenangan yang akan dicapai oleh daerah ini”
“Mudah-mudahan” gumam Sekar Mirah “Mudah-mudahan kademangan ini dapat diselamatkan. Tohpati dapat terpenggal lehernya dan orang-orang Jipang itu dapat dimusnahkan”
“Kemungkinan yang kita harapkan akan terjadi Mirah. Jangan takut”
Sekar Mirah itu kemudian bangkit dan berjalan perlahan-lahan keperigi. Katanya “Mudah-mudahan itu akan segera terjadi dan kakang akan datang kepadaku sambil bercerita, bahwa pedang kakang telah menghisap darah lebih dari seratus orang”
Agung Sedayu tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya Sekar Mirah untuk beberapa saat, kemudian ia bertanya “Apakah kau akan mengambil air?”
“Tidak”
“Lalu mengapa?”
“Tidak apa-apa”
Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ia melihat Sekar Mirah mengambil sebuah belanga dan menjiningnya kedapur.
Agung Sedayu tidak mengikutinya terus. Ia melihat Sekar Mirah berpaling dan tersenyum kepadanya. Senyum seorang gadis yang lincah dan manis. Namun bagaimanapun juga, Agung Sedayu melihat sesuatu dibelakang senyum yang manis itu. Sekar Mirah adalah seorang gadis yang keras hati. Seperti kakaknya, gadis itupun ingin melihat dan mendengar peristiwa-peristiwa yang dahsyat. Seandainya sama sekali itupun seorang pemuda seperti Swandaru, maka keduanya akan menjadi pasangan kakak-beradik yang dahsyat pula.
Ketika Agung Sedayu kemudian kembali kepringgitan, dilihatnya seseorang yang datang memasuki pringgitan itu pula besama-sama dengan kakaknya. Sesaat kemudian orang itu bersama dengan Untara telah duduk berhadapan sambil berbicara perlahan-lahan.
“Baiklah” berkata Untara kemudian “Aku akan mempersilakan paman Widura dan bapak Demang kemari”
Untara itupun kemudian menyuruh seseorang memanggil Widura dan Ki Demang Sangkal Putung. Agung Sedayupun diperkenankan pula ikut hadir didalam pertemuan kecil itu besama dengan Swandaru Geni.
Ketika orang-orang yang penting itu telah berkumpul, maka mulailah orang itu berkata “Kakang Untara, hampir pasti bahwa Tohpati akan menyerbu besok pagi-pagi. Agaknya mereka tidak akan mengulangi serangan malamnya yang gagal. Mereka akan mencoba memecahkan pertahanan Sangkal Putung pada siang hari. Mereka akan menempuh arah yang lurus dari barat. Mereka kali ini akan datang dalam gelar perang yang sempurna”
“Apakah laskar mereka bertambah kuat sehingga Tohpati mengambil keputusan datang dengan gelar perang?”
“Sanakeling berhasil menghimpun tenaga cukup banyak. Meskipun ia tidak berhasil menghubungi laskar yang tersebar dipantai utara, namun yang ada benar-benar telah cukup untuk mengimbangi kekuatan laskar Pajang di Sangkal Putung ini”
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang dipelupuk matanya sepasukan yang kuat datang dari arah barat dipagi-pagi buat dalam gelar yang sempurna. Sembil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Tohpati telah kehabisan kesabaran”
“Ya” jawab orang itu. “Mereka menganggap bahwa serangan kali ini haruslah serangan yang terakhir. Mereka sudah jemu menunggu kesempatan untuk memasuki Sangkal Putung. Beberapa bagian laskar dari utara telah terlalu lama berada didaerah ini. Bahkan Tohpati sendiri, sudah ingin melepaskan beberapa kepentingan diselatan. Namun sesudah Sangkal Putung jatuh. Sesudah mereka mendapat bekal yang cukup untuk perjalanan mereka kembali kedaerah yang bertebaran”
Yang mendengarkan keterangan orang itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari apa yang sedang mereka hadapi sekarang. Agaknya bahaya kali ini benar-benar telah menggoncangkan dada mereka.
Keadaan ini benar-benar menegangkan “Desis Ki Demang Sangkal Putung.
Untara berpaling. Sambil tersenyum senapati yang masih muda itu berkata “Tidak banyak bedanya dengan serangan-serangannya yang lampau Ki Demang”
Ki Demang mengerutkan keningnya. Sahutnya “Ah, angger hanya ingin membesarkan hatiku. Tetapi aku mempunyai gambaran yang lain. Macan Kepatihan benar-benar telah mengerahkan kekuatan yang luar biasa”
“Tetapi kekuatannya sangat terbatas. Laskar Pajang dimana-mana telah berusaha memotong perhubungan mereka, sehingga yang dapat mereka kumpulkan itupun pasti belum merupakan bahaya yang sebenarnya bagi Sangkal Putung” jawab Untara
Ki Demang tidak segera menjawab. Sekali disambarnya wajah Widura yang tegang. Kemudian wajah Agung Sedayu dan akhirnya wajah anaknya sendiri. Dilihatnya Swandaru Geni tersenyum. Wajahnya menjadi amat cerah, dan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Bagus, lebih besar kekuatan Tohpati, akan lebih baik bagi kita. Kita akan dapat menimbang, bsenerapa sebenarnya kekuatan kita di Sangkal Putung. Ayah sebenarnya tidak perlu cemas. Anak-anak Sangkal Putung semakin banyak yang bersedia ikut memegang senjata. Sedang merekapun menjadi semakin banyak memiliki pengalaman. Nah, aku mengharap Tohpati mengerahkan seluruh sisa laskar Jipang”
”Huh” sahut Ki Demang Sangkal Putung “Kau hanya pandai membual Swandaru. Kau tidak memperhitungkan kecakapan laskar Jipang dibandingkan dengan anak-anak muda Sangkal Putung”
“Ayah memperkecil arti anak-anak kita sendiri” jawab Swandaru sambil mengerutkan keningnya. Ia tidak senang mendengar keluhan itu, sebab ia sendirilah yang memimpin anak-anak muda Sangkal Putung.
“Swandaru benar kakang Demang” potong Widura “Kakang harus mencoba membuat hati mereka menjadi besar. Anak-anak Sangkal Putung hampir setingkat dengan laskar Pajang sendiri dan sudah tentu laskar Jipang pula. Beberapa orang bekas prajurit yang ada di Sangkal Putung telah menguntungkan keadaan meskipun pada umumnya usia mereka telah cukup tinggi. Namun pengalaman mereka menggerakkan senjata dan olah peperangan masih cukup baik”
Ki Demang Sangkal Putung tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Tetapi sebagai seorang yang bertanggung-jawab atas Sangkal Putung, atas semua isi dan penghuninya, maka mau tidak mau Demang Sangkal Putung itu menjadi prihatin. Bagaimana nasib orang-orangnya apabila laskar Tohpati benar-benar dapat menmbus pertahanan Untara. Bagaimana akan jadinya dengan kademangan ini? Tetapi apabila dipandanginya wajah Widura, wajah Untara, Agung Sedayu dan apalagi anaknya sendiri, terasa ketenangan merayapi dadanya. Wajah-wajah itu tampak teguh dan meyakinkan bahwa mereka akan mencoba sekuat-kuat tenaga mereka melindungi kademangan yang subur dan kaya ini.
“Kakang Untara” terdengar prajurit sandi itu berkata “Aku akan segera kembali ketempat tugasku. Mudah-mudahan aku akan mendapat keterangan-keterangan yang lebih jelas. Malam ini kami akan mencoba untuk membuat hubungan terus-menerus dengan kakang disini”
Untara mengangguk “Baik, lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya. Keadaan kami disini sebagian tergantung kepada keterangan-keterangan yang akan kau berikan kemudian”
“Baik kakang” sahut orang itu.
Dan sesaat kemudian orang itupun minta diri untuk kembali ketempatnya.
Sepeninggal orang itu, maka Widura dan Untara segera menentukan keadaan. Apa yang harus mereka lakukan untuk melawan kedatangan laskar Macan Kepatihan itu.
“Jangan dilupakan, bahwa kita akan minta Kiai Gringsing untuk ikut serta” desis Widura.
Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sahutnya “Baik paman, aku akan minta kepadanya. Tetapi dimana Ki Tanu Metir itu sekarang?”
“Berjalan-jalan” sahut Agung Sedayu “Namun aku sangka bahwa guru tidak akan berkeberatan”
Untara dan Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun yakin akan kesediaan itu “Nanti kalau Ki Tanu Metir kembali, sampaikan sekali lagi permohonan kami itu Sedayu” minta Untara kepada adiknya.
“Baik kakang” jawab Agung Sedayu.
Widurapun kemudian memanggil beberapa orang pemimpin kelompok untuk datang keringgitan. Kini mereka tidak lagi harus merahasiakan kedatangan Tohpati besok. Perlahan-lahan namun jelas, Widura menguraikan apa yang kira-kira akan mereka hadapi.
Hudaya yang duduk disamping Sonya tersenyum mendengar penjelasan itu. Ketika kemudian pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Citra Gati, yang duduk dibelakang Untara, merekapun mengangguk-angguk sambil tersenyum pula.
“Kakang Hudaya” bisik Sonya “Cepat-cepatlah mencukur janggut dan kumismu malam ini”
“Sst” desis Hudaya “Jangan ribut. Lihat kakang Citra Gati sedang menghitung, berapa sisa hutangnya yang tidak perlu dibayarnya”
Sonya menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika ia hampir tidak dapat menahan tawanya. Namun ia tidak tertawa lagi ketika kemudian ia melihat beberapa orang kawan-kawannya menjadi tegang. Hanya Sendawa agaknya tidak banyak menaruh perhatian. Sekali-sekali ia memandang lampu yang menggapai-gapai tiang. Dan haripun segera memasuki ujung malam.
Malam yang pasti akan sangat menegangkan seluruh Sangkal Putung. Sebab besok pagi-pagi mereka akan dihadapkan pada suatu bahaya yang benar-benar tidak dapat diabaikan.
Dengan cermatnya Widura dan Untara mulai mengatur laskar mereka. Mereka mempertimbangkan ketiap kemungkinan dan setiap keadaan dengan pemimpin-pemimpin kelompok didalam laskar Pajang itu. Dengan penuh kesungguhan mereka mengurai kekuatan yang ada pada mereka dan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada lawan mereka.
Setapak demi setapak malampun memasuki daerah kelamnya semakin dalam. Pembicaraan diantara para pemimpin Pajang itupun menjadi semakin meningkat. Gelar-gelar yang harus mereka persiapkan untuk menghadapi kemungkinan dari setiap gelar yang akan dipergunakan oleh Macan Kepatihan.
“Tohpati pasti akan berada dipusat pimpinan gelarnya” berkata Untara “Ia adalah seorang senapati yang bertanggung-jawab atas tugas-tugasnya”
“Ya” Widura menjawab. “Itu dapat kita pastikan. Seandainya mereka mempergunakan gelar Dirada Meta, maka Tohpati akan menjadi ujung belalainya”
“Kemungkinan yang paling banyak terjadi. Gelar Dirada Meta pasti akan sesuai dengan sifat-sifat Macan Kepatihan itu.
“Lalu bagaimanakah gelar kita, dan siapakah yang akan berada dipusat pimpinan?” bertanya Swandaru.
Semua orang berpaling kepadanya. Pertanyaan itu sebenarnya sudah mereka ketahui jawabnya. Pastilah Untara yang akan berada dipusat pimpinan. Seandainya mereka harus melawan dalam gelar yang lebih luas karena jumlah mereka lebih banyak, meskipun nilainya belum pasti melampaui laskar Jipang, karena diantara mereka terdapat anak-anak muda Sangkal Putung, misalnya gelar Garuda Nglayang, maka Untara pasti akan menjadi ujung paruhnya.
Untara sendiri tersenyum mendengar pertanyaan itu. Jawabnya “Siapakah menurut penilaianmu yang paling tepat untuk melawan Tohpati itu Swandaru?”
Swandaru kemudian tersenyum pula. Ia ingin berkata “Swandarulah yang paling mungkin untuk melawan Macan Kepatihan yang garang itu, seandainya diberi kesempatan”. Tetapi Swandaru kemudian bahkan menundukkan wajahnya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Untara “Biarlah aku mencoba sekali lagi melawan Macan Kepatihan itu. Mudah-mudahan kali ini aku dapat pula mengimbanginya”
“Siapakah senapati-senapati pengapitnya kakang?” bertanya Swandaru pula.
Untara mengerutkan keningnya. Ia melihat Swandaru mempunyai keinginan yang besar untuk mendapat tanggung-jawab yang cukup dalam pertempuran itu. Tetapi pertempuran kali ini bukanlah semacam sebuah permainan yang menggembirakan. Laskar Jipang pasti akan menempatkan orang-orangna yang paling terpilih diantara mereka. Sedang Swandaru masih terlalu muda dalam pengalaman dan dalam kematangan berpikir. Untara lebih condong untuk memilih Agung Sedayu meskipun anak itu ternyata dalam bertindak terlalu banyak pertimbangan-pertimbangan. Namun bekal yang dimiliki Agung Sedayu ternyata lebih banyak dari Swandaru.

Api di Bukit Menoreh 55

Tetapi dengan berita itu, maka Sangkal Putung harus lebih berhati-hati lagi. Lawan mereka kini bukan saja Tohpati dan Sumangkar yang setiap saat dapat menyusup kedalam lingkungan mereka, tetapi juga Sidanti dan Ki Tambak Wedi yang apabila mereka kehendaki mereka akan dapat berjalan-jalan didaerah kademangan Sangkal Putung yang mereka kenal dengan baik. Karena itu maka mereka harus lebih berwaspada apabila malam-malam yang akan datang salah seorang atau dua tiga orang dari mereka nganglang kademangan.
Sehari itu, cerita tentang Sidanti dan Ki Tambak Wedi yang bertempur melawan Tohpati dan Sumangkar telah tersebar luas diantara laskar Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung. Sengaja berita itu disebarkan sejauh-jauh mungkin supaya mereka menjadi semakin berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan. Gardu-gardu dengan demikian menjadi semakin cermat mengawasi keadaan. Penjaga-penjaga menjadi lebih hati-hati dan penghubung-penghubungpun selalu berwaspada apabila tiba-tiba mereka bertemu dengan orang-orang yang mereka anggap sebagai hantu-hantu yang berkeliaran, siang maupun malam.
Tetapi malam berikutnya, bukan saja berita tentang Sidanti dan Tohpati yang ternyata berkeliaran, dan yang suatu saat mereka saling bertemu dan bertempur, tetapi datang pula seorang pengawas menghadap Untara. Seorang prajurit dalam jabatan sandi.
Untara, Widura, Kiai Gringsing, Ki Demang Sangkal Putung, Agung Sedayu dan Swandaru, dengan dada yang berdebar-debar menerima orang itu.
“Apakah yang kau ketahui tentang Tohpati?” bertanya Untara.
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian katanya “Kami, para pengawas melihat kesibukan diantara mereka. Bahkan salah seorang dari kami telah berhasil menghubungi orang-orang kami yang dekat dengan lingkungan laskar Tohpati. mereka kini sedang menyiapkan diri untuk menyerbu Sangkal Putung kembali”
Mereka yang mendengar laporan itu sama sekali tidak terkejut. Mereka selalu menunggu, siang maupun malam, serbuan yang serupa itu dapat terjadi. Tetapi adalah lebih baik apabila hal itu telah mereka ketahui sebelumnya seperti pada saat-saat yang lewat.
“Kapan rencana itu akan mereka lakukan?” bertanya Widura.
“Secepatnya, mungin dalam dua tiga hari ini”
Ki Demang Sangkal Putung tersenyum, katanya “Beberapa hari yang lalu, mereka telah menyiapkan diri pula. Bahkan sampai dua tiga kali, namun serangan itu tidak juga datang”
“Tetapi kali ini agaknya serangan itu tidak akan ditunda-tunda lagi”Sahut pengawas itu.
“Mereka hanya ingin menakut-nakuti kita” gumam Swandaru.
“Itu salah satu dari siasat Tohpati yang cerdik” berkata Untara “Beberapa kali ia menggagalkan serangannya, supaya untuk seterusnya kita selalu menganggap bahwa serangan-serangannya akan tertunda-tunda pula. Tetapi apabila kita telah lengah, maka sergapan itu benar-benar datang”
Yang mendengar penjelasan Untara itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Untara yang berpandangan luas itu sangat berhati-hati menanggapi setiap persoalan.
“Ya, angger Untara benar” sahut Ki Demang Sangkal Putung “Ternyata aku telah termakan oleh siasat itu”
“Belum terlambat” sahut Widura
“Kalau mereka tidak datang” sambung Swandaru “Kitalah yang datang kepada mereka”
Serentak, mereka yang duduk dipringgitan, berpaling kepada Swandaru. Mereka merasakan getaran kata-kata itu. Getaran kata-kata seorang anak muda yang sedang dibakar oleh darah mudanya.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti sedalam-dalamnya perasaan yang sedah membakar hati Swandaru Geni. Sebagai seorang anak Demang Sangkal Putung, ia merasa bahwa tanah kelahirannya itu selalu dalam keadaan kecut dan suram. Ketakutan, kegelisahan dan kecemasan membayangi setiap wajah. Bahkan setiap orang di Sangkal Putung menjadi ngeri apabila senja datang, apabila matahari mendekati punggung pegunungan diujung barat. Namun mereka menjadi gelisah apabila mereka mendengar ayam jantan berkokok menjelang fajar.
Mereka selalu diganggu oleh bayangan-bayangan yang menakutkan. Apabila malam datang, maka seolah-olah orang-orang Jipang merayap-rayap dihalaman rumah-rumah mereka. Merangkak-rangkat mendekati pintu dan setiap saat mereka akan dapat dikejutkan oleh ketokan yang keras dan kasar pada pintu-pintu rumah mereka.
Tetapi apabila matahari mulai membayang diujung timur, mereka membayangkan sepasukan laskar Jipang dalam gelar Sapit Urang, atau dalam gelar Wilan Punanggal, bahkan mungkin dalam gelar Samodra Rob datang melanda kademangan itu.
Karena itulah maka setiap laki-laki di Sangkal Putung disetiap malam selalu menggantungkan senjata diatas pembaringan mereka, kecuali mereka yang berada di gardu-gardu. Bahkan lebih banyak dari mereka yang tidak berada didalam rumah mereka, tetapi digardu-gardu, disimpang-simpang empat dan di bajar desa, dengan pedang ditangan, atau keris dilambung.
Namun hati mereka menjadi agak tentram apabila mereka melihat laskar Pajang yang tampaknya selalu tenang dan teguh hati. Mereka berbangga apabila mereka melihat pedang yang berjuntai diikat pinggang mereka, atau tombak dipundak mereka. Bukan saja laskar Pajang, namun anak-anak muda mereka sendiri telah memberi kepada mereka sekedar ketentraman dan keberanian.
Tetapi bagaimanapun juga, Sangkal Putung selalu dibayangi oleh ancaman-ancaman yang menegangkan. Seperti bumbung yang dipanggang diatas api. Setiap saat akan meledak dengan dahsyatnya.
Bukan saja Kiai Gringsing, tetapi hampir setiap orang, bahkan Agung Sedayu yang sebaya dengan Swandaru itupun dapat melihat perasaan itu. Namun selain perasaan itu, Kiai Gringsing melihat perasaan yang lain yang mendorong Swandaru kedalam gelora yang lebih dahsyat lagi. Seperti yang pernah dilihatnya, Swandaru tidak segera dapat mengerti, mengapa mereka harus menghindari Tohpati dan Sidanti pada saat mereka bertemu dipadang rumput malam yang lampau. Kiai Gringsing menyadari bahwa anak muda itu sukar mengendalikan perasaannya yang sedang berkobar. Apalagi setelah ia merasa mendapatkan bekal yang lebih banyak dari masa-masa sebelumnya. Karena itu maka Kiai Gringsing merasa bahwa tugasnya membentuk Swandaru jauh lebih berat daripada Agung Sedayu. Baik dalam ilmu tata bela diri maupun dalam pembinaan watak dan sifatnya.
Dalam pada itu, maka terdengarlah Untara menyahut sambil tersenyum “Pendapatmu sangat baik Swandaru. Kalau mereka tidak datang, kita akan menjemput mereka. Namun sayang, bahwa kita masih harus melihat jalan-jalan manakah yang dapat kita lalui untuk sampai kepesangrahan Macan Kepatihan itu”
“Nah, bukankah orang yang dapat mengetahui bahwa mereka akan menyerang kita itu dapat menunjukkan dimana tempat tinggal mereka?”
Untara masih tersenyum. Jawabnya “Mudah-mudahan. Tetapi orang-orang itu pasti hanya mengetahui letak dan sekedar keadaan mereka. Namun mereka tidak akan mengenal tempat itu sebaik Tohpati mengenal Sangkal Putung. Mereka tidak atau belum dapat mengenal bahaya dan rintangan yang mungkin dipasang oleh orang-orang Macan Kepatihan. Tempat-tempat yang berbahaya sebagai tempat yang sengaja dipersiapkan untuk menergap dan menghancurkan kita. Sebab mereka tahu pasti, bahwa daerah mereka tidak akan dilewati orang lain selain orang-orang mereka. Dan suatu ketika orang-orang Pajang. Berbeda dengan Sangkal Putung. Bagaimanapun juga, Sangkal Putung adalah daerah terbuka”
Swandaru mengerutkan keningnya. Ia mengerti keterangan itu. Tetapi ia berkata didalam hatinya “Kenapa kita tidak menyergapnya dari arah-arah yang berbeda? Kalau dari satu arah dipasang rintangan-rintangan maka dari arah yang lain kita akan dapat mencapainya”. Tetapi Swandaru tidak mengatakannya. Ia mengerti betul bahwa didalam perbendaharaan pengalaman Untara, semuanya itu telah diperhitungkan dengan seksama.
Sepeninggal orang yang menyampaikan kabar kepada Untara tentang persiapan orang-orang Jipang itu, maka segera Untara mempersiapkan laskarnya. Kepada petugas sandi itu Untara berpesan, bahwa pada saatnya ia harus menerima berita kelanjutan dari berita itu. Sedangkan kepada Swandaru dan Agung Sedayu, Untara berpesan untuk sementara merahasiakan berita itu, supaya rakyat Sangkal Putung tidak menjadi gelisah dan supaya Tohpati tidak menyadari bahwa rencananya sudah diketahui.
Namun yang diketahui oleh rakyat Sangkal Putung dan bahkan laskar Pajang sendiri, mereka diwajibkan meningkatkan kewaspadaan dan latihan-latihan mereka, supaya mereka tidak menjadi lengah dan bahkan melupakan bahaya yang setiap saat dapat datang. Meskipun demikian, orang-orang yang telah penuh dengan pengalaman seperti Hudaya, Citra Gati, Sonya dan beberapa orang lain, segera dapat merasakan kesibukan para pemimpin mereka, dan dengan tersenyum Citra Gati pada suatu senja berbisik kepada Hudaya “Adi, apakah aku masih akan sempat mencukur rambut yang tumbuh diwajahku ini besok?”
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan malam nanti aku belum mati”
Hudaya tersenyum, katanya “Pasti belum malam nanti”
Sonya yang ada didekat mereka menyahut “aku sudah menyiapkan pisau itu sekarang kakang Citra Gati, mumpung kau masih sempat”
Citra Gati mengerutkan keningnya, kemudian tangannya meraba kumisnya yang jarang “Hem” desahnya “Jangan sekarang. Aku belum sempat”
Sonyapun kemudian tersenyum. Katanya “Aku sudah pemgasah pedang. Kapan kira-kira kita bermain-main lagi?”
Citra Gati mengerutkan keningnya, jawabnya “Pasti sudah mendesak. Dua tiga hari lagi”
“Kenapa perintah itu tidak dijelaskan saja kepada kita? Supaya kita menjadi semakin gairah berlatih dan memersiapkan diri”
Citra Gati menggeleng “Entahlah. Pasti ada pertimbangan-pertimbangan lain. Mungkin untuk membuat kesan seolah-olah kita belum menyadari bahaya yang akan mengancam. Dengan demikian kewaspadaan orang-orang Jipang akan berkurang, seperti pada saat-saat yang lampau. Terutama pada saat serangannya yang pertama”
Sonya mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi Hudaya terawa pendek “Sebenarnya kita sudah siap menerima mereka, atau datang ketempat mereka”
“Kemana?” bertanya Citra Gati.
“Kesarang mereka” sahut Hudaya.
“Ya, dimana sarang itu?”
Hudaya menggeleng “Kalau aku tahu, aku sudah pergi kesana”
“Uh, jangan membual. Belum samapi kau kejarak seribu langkah, kepalamu telah retak oleh tongkat baja putih itu”
Hudaya tersenyum. Dikenangnya pada saat ia harus membantu Sidanti bersama Citra Gati untuk melawan Tohpati. Senjata tongkat baja putih itu terasa seperti seekor nyamuk yang beterbangan disekeliling telinganya. “Ngeri” gumamnya tiba-tiba.
“Apa yang ngeri?” bertanya Citra Gati dan Sonya hampir bersamaan.
“Tongkat baja putih itu. Ketika Tohpati datang untuk pertama kali, kepala tongkat itu hampir menyambar kepalaku”
“Oh” sahut Sonya “aku tidak sempat ikut bertempur saat itu. Aku hanya boleh berlari. Tetapi lusa, kalau Macan Kepatihan itu datang kembali, akulah lawannya”
Mereka bertiga tertawa, seakan-akan mereka mempercakapkan suatu peristiwa yang lucu. Namun percakapan itu adalah suatu pengakuan, betapa besarnya perbawa Macan Kepatihan pada lawan-lawannya.
Mereka berhenti tertawa ketika mereka melihat Swandaru dan Agung Sedayu berjalan melintasi pendapa turun kehalaman. Mereka kemudian berjalan berdua kehalaman belakang kademangan.
“Sudah mendesak” terdengar Agung Sedayu berbisik. Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku tidak sabar. Apa kata orang itu tadi?”
“Laskar Tohpati kini telah siap seluruhnya”
“Aku berani bertaruh, serangan itu pasti akan ditunda lagi”
“Menurut persiapan yang diketahui oleh prajurit sandi itu, agaknya mereka benar-benar akan segera menyerang”
Swandaru menggeleng lemah “Seperti beberapa waktu yang lalu. Persiapan itu telah sempurna, namun mereka tidak datang. Kali inipun agaknya demikian”
“Kita tunggu saja tengah malam nanti. Orang itu berjanji akan datang, atau orang lain yang ditugaskannya”
“Aku tidak sabar. Sarang Macan Kepatihan itu pasti disekitar tempat mereka bertempur melawan Sidanti itu. Kita aduk saja seluruh hutan itu, maka kita pasti akan menjumpai sarangnya” gerutu Swandaru.
Agung Sedayu tidak menjawab. Ia tahu benar tabiat saudara seperguruannya. Meskipun demikian, terasa suasana yang berbeda pada kademangan itu. Firasatnya mengatakan bahwa Tohpati benar-benar akan datang.
Swandaru kemudian pergi berbelok memasuki dapur. Dilihatnya ibunya dan Sekar Mirah sedang menunggui beberapa orang yang sedang masak. Ketika Swandaru melihat gumpalan daging rebus, maka segera disambarnya sepotong.
“He, Swandaru. Daging itu baru direbus. Belum lagi dibumbui. Digaramipun belum”
Swandaru tidak menjawab. Tangannya menyambar sejumput garam. Kemudian dilumurkannya garam itu pada gumpalan dagingnya.
“Huh” Sekar Mirah mencibirkan bibirnya. “Anak muda ketuk”
Swandaru berhenti. Ia berpaling sambil bertanya “apa itu?”
“Anak muda yang suka masuk kedapur, adalah anak muda yang ketuk”
Swandaru tertawa terbahak-bahak. Sambil berteriak ia bertanya “He, kakang Agung Sedayu, kau mau daging?”
Agung Sedayu yang berjalan keperigi mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia tidak menjawab. Langsung diraihnya senggot timba, dan dengan tersenyum ia menarik senggot itu turun.
Sekar Mirah yang mendengar gerit timba segera mengetahui bahwa Agung Sedayu berada diperigi. Tetapi ketika ia beranjak, Swandaru membentaknya “Mau apa kau?”
“Apa pedulimu?”
“Yang mengambil air itu bukan Sidanti”
Tiba-tiba Sekar Mirah itu meloncat mengambil sepotong kayu dan dilemparkannya kepada kakaknya. Swandaru bergeser setapak sambil tertawa “Jangan marh, aku berkata sebenarnya”
Ketika lemparannya tidak mengenai sasarannya, Sekar Mirah langsung mengambil segayung air.
“Mirah” cegah ibunya “Jangan membuat dapur menjadi becek”
Sekar Mirah bersungut-sungut sambil berjalan keluar. Gerutunya “Awas kakang Swandaru”
Tetapi bukan saja Swandaru yang bermain-main mengejek adiknya, namun sebenarnya ibunyapun kadang-kadang heran melihat sifat anak perempuannya itu. Ibunya itu tahu benar, hubungan yang tampaknya bersungguh-sungguh antara Sekar Mirah dan Sidanti beberapa waktu yang lampau.
Ibunya itupun mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi kemudian. Sejak Agung Sedayu datang kekademangan ini. Agaknya Sekar Mirah adalah seorang pengagum atas sifat-sifat kejantanan, kepahlawanan. Dan terpengaruh oleh kedudukan ayahnya, ia adalah seorang gadis yang selalu berangan-angan tentang kepemimpinan dan kedudukan. Ketika setiap orang di Sangkal Putung membicarakan keberanian anak muda yang bernama Sidanti disetiap medan pertempuran, maka Sekar Mirahpun mengaguminya berlebih-lebihan. Dimatanya pada saat itu tak ada seorang laki-laki yang melampaui Sidanti diseluruh Sangkal Putung. Itulah sebabnya maka hubungannya dengan anak muda itu tampak bersungguh-sungguh.
Tetapi pada suatu ketika hadirlah Agung Sedayu diantara mereka. Setiap mulut menyebut namanya sebagai seorang anak muda yang telah membebaskan Sangkal Putung dari bencana. Seorang anak muda yang pemalu dan pendiam, tetapi menyimpan kesaktian yang tiada taranya. Namun Sekar Mirah kadang-kadang menjadi ragu-ragu menghadapi Agung Sedayu. Anak itu terlalu lembut. Bahkan anak itu selalu menghindarkan diri dari bentrokan yang akan terjadi atas dirinya dan Sidanti. Bahkan Agung Sedayu membiarkan dirinya dihinakan dan direndahkan dimuka Sekar Mirah dan pamannya Widura. Sekar Mirah hampir-hampir kehilangan kepercayaan tentang kesaktian Agung Sedayu, ketika anak muda itu tidak mau mengikuti sayembara memanah beberapa saat yang lalu.
Namun Sekar Mirah tidak dapat mengerti, kenapa Agung Sedayu ternyata benar-benar memiliki kelebihan dari orang lain. Kenapa Agung Sedayu menyembunyikan kelebihannya itu. Seandainya Swandaru tidak melihatnya, maka kemampuan Agung Sedayu tetap akan terpendam untuk seterusnya.
“Anak muda itu terlampau rendah hati” desisnya didalam hati ketika ia melihat kemenangan Agung Sedayu atas Sidanti dilapangan pada saat-saat mereka sedang berlomba. Kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh Agung Sedayu benar-benar membuat hati Sekar Mirah meledak-ledak.
Sepeninggal Sidanti, maka hubungannya dengan Agung Sedayu menjadi semakin dalam. Sekar Mirah semakin lama menjadi semakin mengagumi Agung Sedayu. Dari kakaknya ia mendengar bahwa Agung Sedayu mampu mengalahkan Alap-alap Jalatunda digaris peperangan. Tetapi Sekar Mirah tidak dapat mengerti kenapa Alap-alap Jalatunda itu tidak dibinasakan seperti Sidanti membinasakan Plasa Ireng. Bukankah dengan demikian namanya akan menjadi semakin ditakuti oleh lawan dan disegani oleh kawan? Bukankah dengan demikian kejantanannya akan menjadi semakin mengagumkan setiap orang di Sangkal Putung seperti Sidanti disaat-saat yang lampau. Sidanti selalu membanggakan diri kepadanya bahwa ia telah lebih dari sepuluh kali membinasakan lawan-lawannya dipeperangan. Kemudian angka itu dengan cepatnya naik. Duapuluh dan yang terakhir sebelum Tohpati sendiri datang ke Sangkal Putung, Sidanti berkata “Nanggala ini telah menghisap darah lebih dari limapuluh orang”
Tetapi Agung Sedayu tak pernah berkata tentang peperangan. Agung Sedayu tidak pernah bercerita, berapa orang telah pernah dipenggal lehernya, atau berapa orang pernah ditumpahkan darahnya.
Namun disamping kekecewaan-kekecewaan itu, Agung Sedayu telah benar-benar memikat hati Sekar Mirah. Ada kekuatan-kekuatan lain yang telah menariknya. Bukan karean kekaguman-kekaguman yang berlebih-lebihan. Bukan karena Agung Sedayu banyak menceritakan kemenangan-kemenangannya seperti Sidanti. Bukan karena sifat-sifatnya yang keras dan tegas. Tetapi ujud wadag Agung Sedayulah yang telah mempesona Sekar Mirah. Meskipun Sekar Mirah kadang-kadang kecewa atas sifat dan sikap Agung Sedayu yang menurut anggapannya telalu lemah dan menyia-nyiakan kekuatan-kekuatan yang tersimpan didalam tubuhnya, namun wajah Agung Sedayu selalu membayang dirongga matanya.
Ketika Sekar Mirah melangkahi pintu dapur, ia masih mendengar suara tertawa Swandaru didalam rumahnya. Tetapi Sekar Mirah tidak memperdulikannya. Bahkan kemudian gadis itu melangkahkan kakinya keperigi, menghampiri Agung Sedayu yang sedang menimba air.
“Untuk apa kakang menimba air?” bertanya Sekar Mirah.
“Mandi” jawab Agung Sedayu. Jawaban itu terlalu singkat bagi Sekar Mirah, sehingga karena itu maka sambil mencibirkan bibirnya Sekar Mirah menirukan jawaban itu “Mandi”
Agung Sedayu berpaling. Ketika dilihatnya wajah Sekar Mirah yang memberengut, Agung Sedayu tersenyum “Kenapa?”
“Kenapa?” Kembali Sekar Mirah menirukan.
Agung Sedayu kini tertawa. Tangannya masih sibuk melayani senggot timba. Ketika air didalam upih telah dituangkannya kedalam jambangan, maka dilepaskannya senggot timba itu. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati Sekar Mirah sambil bertanya “Apakah jawabanku salah?”
“Tidak” sahut Sekar Mirah pendek.
Kini suara tertawa Agung Sedayu menjadi semakin keras. Katanya “Ah, agaknya aku telah berbuat suatu kesalahan diluar sadarku. Maafkan aku Mirah”
“Tidak ada yang harus dimaafkan” sahut Sekar Mirah sambil berjalan menjauh.
Agung Sedayu mengikuti dibelakangnya beberapa langkah. Kemudian diambilnya sebutir batu, dan dilemparkannya kearah sarang lebah disebuah cabang yang tinggi.
Begitu sarang lebah itu terkena lemparan Agung Sedayu, maka berbondong-bondong lebah-lebah itu beterbangan.
Sekar Mirah terkejut. Ketika dilihatnya segerombol lebah beterbangan diudara, maka ia menjadi ketakutan. Dengan serta-merta ia berlari dan bersembunyi dibelakang Agung Sedayu sambil berkata cemas “Kakang, lebah itu akan menyengat kita”
Agung Sedayu tertawa. Jawabnya “Biarlah kita menjadi bengkak-bengkak karenanya”
“Kakang, aku takut”
Agung Sedayu masih tertawa. Dilihatnya lebah itu semakin banyak beterbangan mengitari sarangnya yang baru saja disentuh oleh batu Agung Sedayu. Tetapi lebah itu adalah lebah gula yang jarang sama sekali tidak berbahaya dan tidak buas.
Tetapi Sekar Mirah menjadi semakin ketakutan melihat lebah beterbangan mengitari sarangnya “Kakang” katanya “Bagaimana kalau lebah-lebah itu menyerang kita?”
“Kulitku kebal” sahut Agung Sedayu “Tak ada lebah yang dapat menyengat kulitku”
“Tetapi aku tidak” berkata Sekar Mirah sambil mengguncang-guncang tubuh Agung Sedayu.
“Lihat” berkata Agung Sedayu “Lebah itu akan menurut segala perinntahku. Sebentar lagi mereka pasti akan kembali kedalam sarang-sarang mereka setelah diketahuinya bahwa aku yang berdiri disini”
Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi ia masih berpegangan pada lengan Agung Sedayu.
Dan sebenarnyalah lebah-lebah yang beterbangan itu satu demi satu hinggap kembali kedalam sarangnya. Sehingga semakin lama gerombolan lebah yang mirip dengan gumpalan asap tiu menjadi semakin tipis.
Sekar Mirah memandangi lebah-lebah itu dengan mulut ternganga. Namun ketika dilihatnya lebah itu menjadi semakin berkurang, hatinyapun menjadi semakin tenang.
“Apakah mereka tidak akan menyerang kita kakang?” gumamnya.
“Kalau lebah-lebah itu akan menyerangmu, biarlah aku lawan mereka. Bukankah aku wajib melindungimu?”
“Kenapa? Siapa yang mewajibkan melindungi aku?”
“Oh, jadi bukan begitu?”
“Tidak ada kewajiban itu” jawab Sekar Mirah sambil bersungut.
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kembali ia meraih sebutir batu.
“Untuk apa?” bertanya Sekar Mirah terkejut.
“Sekehendakkulah” sahut Agung Sedayu sambil membidik sarang itu kembali “Kali ini aku akan menjatuhkan sarangnya. Dengan demikian lebah itu akan menjadi liar. Aku tidak takut sebab kulitku kebal. Dan aku tidak perlu melindungi seseorang disini”
“Jangan. Jangan kakang” minta Sekar Mirah
“Sekehendakku” jawab Agung Sedayu.
“Aku takut”
“Sekehendakku”
“Kakang, jangan”
Agung Sedayu telah menarik tangannya siap mengayunkan lemparan batunya. Tetapi Sekar Mirah memegangi tangannya sambil meminta “Jangan. Kalau kakang melempar juga, aku akan berteriak-teriak”
Agung Sedayu tertawa. Batu ditangannya dilemparkannya dan kemudian katanya “Kanapa kau melarang?”
“Aku takut disengat lebah”
“Lebah itu sama sekali tidak berbahaya. Lihatlah sarangnya yang melekat pada pohon itu. Bukankah itu sarang lebah gula? Bahkan sebaiknya besok aku bikin gelodok. Kalau lebah it mau bersarang kedalam gelodok, maka kita akan mendapatkan madu”
Sekar Mirah menekan dadanya sambil bersungut-sungut “Kakang menakut-nakuti aku”
“Seharusnya kau tidak takut Mirah. Lebah itu sama sekali tidak berbahaya, seandainya lebah yang paling buas sekalipun. Lebih berbahaya daripada itu adalah laskar Jipang yang dipimpin Tohpati. Kalau Tohpati itu menyerang kita, dan berhasil memasuki kademangan ini, nah barulah kau boleh merasa takut atau barangkali kau akan berbangga atas kedatangannya”
“Kenapa aku berbangga?”
“Tohpati berwajah tampan, bertubuh tegap kekar dan seorang yang sangat sakti”
“Huh” Sekar Mirah mencibirkan bibirnya, kemudian katanya “Apakah peduliku?” Tetapi tiba-tiba ia bertanya “Tetapi apakah benar-benar Tohpati mungkin sampai kerumah ini?”
Agung Sedayu memandangi wajah gadis itu dengan seksama, kemudian jawabnya “Bagaimana kalau hal itu terjadi?”
“Jangan, jangan biarkan hal itu terjadi kakang” sahut Sekar Mirah
Kali ini Agung Sedayu tidak mengganggunya lagi ketika dilihatnya wajah Sekar Mirah menjadi bersungguh-sungguh. Seakan-akan dari matanya memancar kecemasan yang sangat. Sekali lagi ia bertanya “Apakah laskar Jipang itu masih cukup kuat untuk mematahkan pertahanan Sangkal Putung?”
Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ia takut kalau jawabannya akan menambah kegelisahan gadis itu. Dan karena Agung Sedayu tidak menjawab, Sekar Mirah mendesaknya lagi “Kakang, apakah dengan kepergian Sidanti, kekuatan Sangkal Putung menjadi sangat jauh berkurang?”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir didalam dadanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam Agung Sedayu bertanya “Siapa yang mengatakannya Mirah?”
Sekar Mirah menggeleng “Tidak ada. Tetapi aku menyangka demikian. Sebab kakang Sidanti adalah seorang yang sangat sakti. Bukankah kakang Sidanti telah berhasil membunuh orang yang bernama Plasa Ireng sebelum ia meninggalkan Sangkal Putung?”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Jawabnya “Mungkin Sidanti sangat sakti. Tetapi apakah tidak ada orang lain yang menyamai kesaktiannya?”
“Ya, ya, ada” sahut Sekar Mirah cepat-cepat “Kau, kakang”
Agung Sedayu menggeleng “Bukan, bukan aku”

Rabu, 25 Juni 2008

Api di Bukit Menoreh 54

“Hem” Sumangkar berdesah “Angger Macan Kepatihan, meskipun angger bernyawa rangkap berkadang dewa-dewa dilangit, namun kau tidak akan mampu melawan Sumangkar”
“Persetan dengan kesombonganmu itu tetapi kau telah berbuat kesalahan terhadap pemimpinmu disini”
“Apa salahku?Aku mencoba mengatakan apa yang baik bagiku. Bagi pendirianku. Apakah itu salah? Kalau kau tidak mau mendengarkan nasehatku, jangan kau dengar. Berbuatlah sesuka hatimu. Kau bukan anakku, bukan cucuku. Kau bagiku tidak lebih dari murid saudara seperguruanku. Apakah kau akan mati pancang, ataukah mati digilas guntur dari lagit, aku tidak akan kehilangan. Tetapi sebagai orang tua aku ingin melihat, kalau kau mati, matilah dengan hormat. Kalau kau jemu melihat penderitaan, jangan kau jerumuskan anak buahmu dalam penderitaan. Kalau kau jemu melihat pepati, jangan kau bawa anak buahmu kedalam lembah kematian. Kau dapat berbuat banyak, namun orang akan menilai apa yang telah kau lakukan. Apalagi kalau kau sudah memutuskan untuk pergi ke Sangkal Putung yang terakhir kalinya. Maka nilaimu sebagai seorang pemimpin akan terletak pada saat-saat yang demikian itu”
Tohpati menjadi seolah-olah terbungkam. Ia tidak mampu menjawab kata-kata Sumangkar itu. Dan bahkan kepalanyapun terkulai tunduk menghunjam ketanah dimuka kakinya. Tongkatnyapun kemudian tertunduk dengan lemahnya.
Terdengar Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Maafkan aku paman”
Sesaat mereka terhentak kedalam kesenyapan. Angin malam yang lembut mengusap mahkota dedaunan. Suaranya yang gemerisik seolah-olah suara tembang yang sangat rawan dikejauhan.
Dalam keheningan malam itu terdengar suara Tohpati berat “Maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan akal”
“Jangan menyesal ngger” sahut Sumangkar sambil mendekati Tohpati yang masih berdiri ditempatnya. “Aku hanya ingin memberimu peringatan. Rupa-rupanya dengan cara yang wajar, kau tidak dapat mendengar kata-kataku. Mungkin dinding hatimu yang kisruh itu hampir-hampir telah tertutup rapat oleh kebingungan dan kekecewaan, sehingga aku harus menjebolnya dengan sedikit permainan yang agak kasar”
“Tidak paman” sahut Tohpati “Aku berterima kasih kepada paman. Paman telah menarik aku kembali pada tempat yang sewajarnya bagiku. Aku akan dapat tegak kembali sebagai seorang kesatria dari Kepatihan Jipang. Aku bukan sebangsa cecurut yang kerdil menghadapi kesulitan. Terima kasih paman. Akan aku pikirkan nasehat paman. Aku akan kembali ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya, tetapi tidak besok. Aku akan berbicara dengan Sanakeling”
Sementara itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Bagus. Angger adalah seorang pemimpin. Angger tidak boleh kehilangan kebeningan pikiran. Kepadamu tergantung beratus-ratus nyawa anak buahmu. Sedang pada beratus-ratus nyawa itu tergantung beribu-ribu jiwa keluarnganya”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata “Marilah kita kembali keperkemahan”
Sumangkar mengangguk kecil “Marilah” katanya.
Sepanjang jalan kembali itu mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka terbenam dalam kesibukan pikiran masing-masing.
Begitu sampai kebaraknya, segera Tohpati berteriak kepada seseorang yang berada disamping barak itu untuk berjaga-jaga “He, panggil Sanakeling kemari”
Orang itu mengangguk hormat sambil menjawab “Baik Raden”
Sepeninggal orang itu maka berkatalah Sumangkar “Aku akan kembali kebarakku Raden. Silakan Raden membicarakan persoalan ini dengan para pemimpin laskar Jipang”
“Tidak paman” sahut Tohpati “Paman tetap disini”
Sumangkar menggeleng lemah “Aku hanya akan mengganggu saja ngger. Mungkin aku akan menambah persoalan yang akan angger bicarakan. Mungkin aku tidak dapat menahan mulutku, apabila aku mendengar persoalan-persoalan yang aku tidak sependapat. Karena itu, aku tidak akan mencampuri persoalan-persoalan para pemimpin. Aku hanya akan tunduk pada setiap perintah. Mudah-mudahan angger tetap pada kejernihan hati”
“Nasehat paman sangat kami perlukan”
“Tetapi aku adalah orang tua ngger. Aku sudah tidak dapat menyesuaikan diri lagi dengan anak-anak muda seperti angger Sanakeling, angger Alap-alap Jalatunda dan beberapa orang yang lain. Tetapi aku akan menjalankan setiap perintah”
Sumangkar benar-benar tidak mau lagi tinggal dibarak Tohpati. Karena itu maka Macan Kepatihan terpaksa membiarkannya pergi meninggalkannya dan berjalan tersuruk-suruk diantara beberapa barak kembali menuju kebaraknya sendiri. Sebuah barak doyong beratap daun-daun ilalang, bertiang bambu muda dan berdinding anyaman bambu pula.
Didalam barak itu ditemuinya beberapa orang tidur mendengkur diatas tumpukan ilalang kering. Ketika salah seorang membuka matanya terdengar suaranya parau “Dari mana kau, paman Sumangkar?”
“Berjalan-jalan” sahut Sumangkar
“Tidurlah, hari telah jauh malam, bahkan hampir menjelang pagi. Besok Kau terlambat bangun. Kenapa golok itu kau bawa kemari?”
“golokku rusak”
“Kenapa?”
“Tulang-tulang harimau yang keras telah memecahkan dibagian tajamnya”
Orang yang terbangun itu menguap sekali, lalu sahutnya “Apakah kau mendapat seekor harimau?”
“Hanya tulang-tulangnya” sahut Sumangkar.
“Huh” orang itu mencibirkan bibirnya. “Jangan membual, sekarang tidurlah”
“Aku belum mengantuk”
Orang itu, yang mengenal Sumangkar tidak lebih dari seorang juru masak yang malas mengumpat. Katanya “Pemalas tua. Besok kau pasti akan terlambat bangun. Kalau kau tidak dapat menyiapkan makan kami, maka kepalamu akan aku gunduli”
“Bukankah tidak aku sendiri juru masak diperkemahan ini?” Bantah Sumangkar.
“Tetapi kaulah yang paling malas diantara mereka. Dan kemalasanmu akan dapat menjalar kesegenap orang.”
“Bukankah itu bukan salahku.”
“Diam. Sekarang kau tidur. Kalau tidak aku sumbat mulutmu dengan ilalang.”
Sumangkar tidak menjawab. Segera ia merebahkan dirinya diatas tumpukan ilalang itu pula.
“Nah. Begitulah.” Gumam orang yang membentak-bentaknya.
Sumangkar hanya tersenyum “Biarlah ia mendapat kepuasan” katanya dalam hati “kasian orang itu. Jarang-jarang ia menemukan kepuasan seperti ini. Apa salahnya aku menyenangkan hatinya?”
Lamat-lamat masih terdengar orang itu berkata “Kalau kau tidak mau menuruti perintahku, maka kau benar-benar akan menyesal seumur hidupmu.”
Sumangkar masih saja berdiam diri. Dan orang itupun masih saja bergumam untuk melepaskan kepuasannya. Ia mengumpat Sumangkar sepuas-puasnya. Akhirnya orang itupun terdiam. Ketika Sumangkar mengangkat kepalanya, dilihatnya orang itu tidur mendekur menikmati mimpi yang indah.
“Kasihan” desis Sumangkar “Anak itu tidak pernah mendapat kesempatan untuk membentak-bentak orang lain kecuali aku dan para juru masak. Para pemimpin lebih banyak membentak-bentaknya daripada memberinya hati.”
Tetapi sejenak kemudian Sumangkar itupun benar-benar merasa sangat penat. Matanya mulai diganggu oleh kantuk yang amat sangat, sehingga sejenak kemudian orang tua itupun tertidur pula diatas batang-batang ilalang kering.
Dalam pada itu, penjaga yang mendapat perintah dari Tohpati untuk memanggil Sanakeling telah melakukan pekerjaannya. Betapa Sanakeling mengumpat tidak habis-habisnya. Matanya yang seolah-olah melekat itu benar-benar mengganggunya.
“Kenapa tidak menunggu sampai esok” keluhnya. Tetapi ia tidak dapat membantah panggilan itu. Sanakeling tahu, bahwa agaknya Macan Kepatihan sedang diganggu oleh perasaan yang tidak menyenangkannya. Sehingga Alap-alap Jalatunda mengalami perlakuan yang sedemikian buruknya. Karena itu, maka betapapun juga, Sanakeling berjalan pula kebarak Tohpati.
Sedangkan Tohpati hampir tidak sabar menunggu kedatangan Sanakeling. Mondar-mandir ia berjalan didalam ruang yang sempit itu. Ketika itu ia mendengar langkah seorang diluar pintu, maka segera ia menyapa “Kau Sanakeling”
“Ya Raden”
“Duduklah”
Sanakeling melangkah memasuki ruangan yang diterangi oleh pelita yang samar. Meskipun demikian, betapa terkejutnya Sanakeling melihat tubuh Tohpati. Dibeberapa tempat dilihatnya goresan-goresan dan darah yang telah kering.
“Kenapa luka itu?” bertanya Sanakeling dengan serta-merta.
Macan Kepatihan menggeram. Dipandanginya goresan-goresan itu. Tetapi sama sekali luka-luka itu tak terasa lagi.
“Kakang bertempur?” bertanya Sanakeling.
“Ya” sahut Tohpati pendek.
“Dengan orang-orang Sangkal Putung?”
Tohpati menggeleng, “Tidak” sahutnya “Dengan Sidanti”
“Sidanti?” ulang Sanakeling. “Jadi benar dengan orang Sangkal Putung”
“Tidak” Macan Kepatihan mencoba menjelaskan “Sidanti sudah tidak lagi di Sangkal Putung. Agaknya ada pertentangan diantara mereka”
“Oh” Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi kenapa kakang bertempur melawan Sidanti itu? Apakah dengan demikian kakang tidak dapat mengambil keuntungan dari pertentangan itu?”
“Sidanti telah berkhianat atas kesatuan dan kesetiaannya. Dimanapun ia berada maka ia akan berbuat hal yang serupa. Anak itu memang ingin menggabungkan kekuatannya dengan kita. Namun aku menolaknya”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tersirat pula kekecewaan hatinya. Segera ia mengetahui apa yang agaknya terjadi. Tohpati dan Sidanti pasti telah bertempur. Tetapi luka-luka itu benar-benar mengherankannya, sehingga ia bertanya “Apakah Sidanti seorang diri?”
“Tidak, bersama gurunya”
“Oh” Sanakeling mengangguk-angguk kembali. Ia kini dapat membayangkan semakin jelas perkelahian yang terjadi antara Tohpati dan Sumangkar melawan Sidanti dan Ki Tambak Wedi.
Namun ia masih juga diliputi oleh perasaan kecewa. Kalau saja Sidanti dapat berada dipihaknya, maka orang itu akan dapat menambah banyak kekuatan pada kesatuan Jipang. Sudah pasti bahwa Ki Tambak Wedi akan membantunya pula. Mungkin pengaruh yang dimilikinya atas orang-orang dilereng Merapi akan menambah jumlah kekuatan mereka. Tetapi ia tidak berani menanyakannya kepada Tohpati. Besok atau kapan saja apabila ada kesempatan ia ingin menemui Sidanti dan membawanya dalam lingkungan mereka. Namun diantara kekecewaan yang merayapi hatinya, Sanakeling menjadi heran pula. Agaknya Sumangkar yang tua itu masih saja memiliki ketangguhan yang dapat dibanggakan, meskipun selama ini ia lebih senang berada dimuka perapian menanak nasi.
Sanakeling itupun kemudian duduk disebuah bale-bale bambu. Ia masih memandangi tubuh Tohpati yang tergores oleh ujung pedang di beberapa tempat.
“Sidanti menjadi semakin maju” desisnya “Agaknya gurunya selalu mengolahnya”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau demikian maka Sidanti akan lebih baik baginya.
Namun seolah-olah Tohpati mengetahui apa yang tersirat didalam kepala Sanakeling itu. Maka katanya “Tetapi betapapun baiknya anak itu, namun ia tidak dapat kita jadikan kawan. Suatu ketika ia pasti akan menerkam kita sendiri”
Sanakeling tidak menjawab. Ia mengangguk lemah.
“Nah, lupakanlah Sidanti dan Ki Tambak Wedi itu” berkata Tohpati tiba-tiba. “Kewajiban kita adalah menyerang Sangkal Putung. Bagaimanamun juga kepergian Sidanti pasti akan mengurangi kekuatan Sangkal Putung. Aku tidak tahu, apakah laskar Sangkal Putung terpecah atau tidak. Syukurlah kalau ada sebagian dari mereka pergi mengikuti Sidanti, tetapi ukuran kita laskar Sangkal Putung masih utuh”
“Ya” sahut Sanakeling. Ia menjadi gembira mendengar pendapat Macan Kepatihan itu. Laskarnya sudah terlalu lama menunggu sehingga ia takut apabila akan timbul kejemuan dikalangan mereka. Kejemuan itu sudah pasti akan sangat membahayakan. Mereka akan dapat berbuat aneh-aneh untuk mengisi kekosongan waktu mereka. Dan kadang-kadang akan sangat merugikan. Kadang-kadang mereka berpencaran kedesa-desa dan dengan demikian maka kadang-kadang ada diantara mereka yang dapat ditangkap oleh laskar Pajang.
“Bagaimana pendapatmu?” bertanya Macan Kepatihan itu kemudian.
“Sangat menarik. Aku sudah lama mengharap keputusan itu. Agaknya kakang selalu ragu-ragu. Sekarang apabila kakang telah menemukan keputusan, maka keputusan itu harus segera dilaksanakan. Tidak ditunda-tunda lagi. Aku juga sudah membuat perintah untuk bersiap. Tetapi karena aku ragu-ragu bahwa kakang akan menundanya lagi, maka perintahku belum perintah terakhir, belum perintah kepastian”
“Sekarang aku sudah pasti. Kita harus secepatna pergi ke Sangkal Putung, bagaimana kalau besok?”
“He?” mata Sanakeling terbelak. Namun kemudian ia tersenyum “Tidak mungkin. Besok aku baru mengambil keputusan tentang perintah yang akan aku berikan. Besok perintah itu pula baru akan dijalankan. Besok malam secepat-cepatnya laskar itu baru siap. Sedang kalau ada beberapa kelambatan maka laskar itu baru akan siap lusa. Sehingga sehari sesudah itu kita baru akan dapat mulai dengan setiap rencana penyerangan yang baik. Bukankah kakang telah beberapa kali mengalami kegagalan? Apakah kakang Raden Tohpati, harus gagal lagi nanti?”
“Tidak. Kali ini harus kali yang terakhir”
Sanakeling tertawa. Sahutnya “Bagus. Karena itu persiapan kita harus benar-benar masak. Bukankah kita harus mendapatkan Sangkal Putung sebagai tempat perbekalan? Kalau kita menduduki Sangkal Putung, maka kita harus dapat memanfaatkannya. Lumbung kademangan itu harus dapat segera kita singkirkan. Kita duduki tempat itu sejauh dapat kita pertahankan. Meskipun kakang akan melepaskan beberapa kepentingan didaerah selatan ini kelak, namun apa yang ada didaerah yang subur dan kaya itu harus benar-benar bermanfaat bagi kita. Korban telah banyak jatuh untuk merebut daerah itu”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayanglahh apa saja yang pernah dilakukan untuk merebut daerah ini. Bahkan akhirnya dirinya sendirlilah yang memimpin pasukan Jipang untuk menguasai daerah yang kaya. Kaya akan hasil bumi, sehingga lumbung-lumbung Sangkal Putung penuh dengan padi. Dan kaya akan berbagai macam benda-benda berharga. Penduduk Sangkal Putung terkenal sebagai penduduk yang senang sekali menyimpan barang-barang berharga. Perhiasan, ternak dan benda-benda lainnya.
Tetapi meskipun ia sendiri yang memimpin laskar Jipang didaerah Sangkal Putung, namun ia belum berhasil untuk merebutnya. Belum berhasil untuk menguasai kekayaan yang tersimpan didalamnya. Dan Pajangpun agaknya tidak mau melepaskan daerah itu, sehingga ditempatkannya Untara untuk mencoba melindunginya.
Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Sejak Arya Jipang dan kemudian Patih Mantahun terbunuh dipeperangan, maka korban masih saja berjatuhan. Satu demi satu dan bahkan sepuluh dua puluh sekaligus. Peperangan masih saja terjadi dimana-mana. Gerombolan kecil-kecil dari sisa-sisa laskar Jipang masih bergerak terus, meskipun demikian mereka tidak lebih dari gerombolan-gerombolan perampok dan penyamun. Tetapi karena mereka masih merasa terikat oleh seorang pemimpin yang mereka segani, maka mereka masih belum melepaskan diri dari kelaskaran mereka. Kesetiaan mereka kepada pemimpin mereka masih mengikat mereka untuk merasa wajib melakukan perang untuk seterusnya. Dan karena itulah maka dimana-mana masih timbul pepati.
Sedang pemimpin itu adalah dirinya sendiri, Tohpati
Tohpati menggigit bibirnya. Ia berterima kasih kepada kesetiaan itu. Ia merasa betapa dirinya mendapat kehormatan untuk mengikat sekian banyak manusia dalam satu ikatan. Tetapi ia merasa bahwa dirinyalah sumber dari setiap akibat dari kesetiaan itu. Akibat yang kadang-kadang tidak dikehendakinya.
Ruangan itu untuk sejenak dikuasai oleh kesepian. Masing-masing terbenam dalam angan-angan sendiri. Angan-angan yang bertolak dari gejolak perasaan yang berbeda-beda. Sanakeling masih dikuasai oleh nafsu untuk memiliki segenap kekayaan yang ada di Sangkal Putung. Kekayaan yang mungkin masih akan dapat membantu gerakan-gerakan yang mereka lakukan. Dan kekayaan yang mungkin dapat dimilikinya. Bahkan mungkin untuk dirinya sendiri. Mungkin akan ditemuinya perhiasan-perhiasan yang sangat berharga. Gelang, kalung atau pendok emas tretes berlian. Atau apa saja yang dapat dimilikinya sendiri.
Sesaat mereka masih tetap membisu. Sanakeling masih saja berangan-angan tentang kekayaan yang akan dapat dirampasnya dari Sangkal Putung, sedang Tohpati berjejak pada pendapat yang berbeda. Pendapat seorang pemimpin yang melihat kenyataan-kenyataan dari laskar yang dipimpinnya, perkembangan keadaan dan perhitungan-perhitungan atas masa-masa yang akan datang.
Malam yang hening itu kemudian dipecahkan oleh suara Sanakeling penuh nafsu “Kakang, baiklah aku kembali kebarakku. Aku berjanji bahwa orang-orangku dan orang-orang baru yang telah aku panggil dari daerah utara akan merupakan kekuatan yang dapat dibanggakan. Sangkal Putung kini ternyata telah berkurang kekuatan, sedang kekuatan kita bertambah. Menurut perhitunganku maka kekuatan yang telah ada disini ditambah dengan kekuatan-keuatan baru, akan dapat melanda Sangkal Putung dan menghancurkannya. Laskar dari utara itu kelak akan kembali dengan perbekalan untuk mereka, sedang laskar didaerah inipun akan dapat memperkuat diri dengan semua yang akan kita dapatkan dari Sangkal Putung”
Tohpati mengerutkan keningnya. Ia tidak menanggapi angan-angan Sanakeling itu, tetapi ia berkata “Kembalilah. Aku tidak dapat menunggu lebih lama dari waktu yang kau katakan”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi timbullah keheranannya atas sikap Tohpati itu. Beberapa kali ia menunda penyerangan sehingga laskarnya tercerai berai kembali, namun tiba-tiba kini Macan Kepatihan itu menjadi sangat tergesa-gesa.
“Mungkin Raden Tohpati melihat kelemahan Sangkal Putung kini” pikirnya.
Sanakeling itu kemudian berdiri. Dilihatnya halaman barak itu. Gelapnya masih menghitam.
“Aku akan kembali” katanya.
“Kembalilah. Ingat-ingat perintahku”
“Baik” sahut Sanakeling sambil melangkah meninggalkan ruangan itu. Disepanjang jarak yang ditempuhnya, bahkan sampai ketempatnya dan ketika ia telah membaringkan dirinya, dirasakannya beberapa keanehan pada pemimpinnya itu. Ia melihat wajahnya yang murung, dan kadang-kadang perbuatan-perbuatan yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Dalam keseluruhannya, tampaklah Tohpati menjadi sangat gelisah. Tetapi Sanakeling tidak mempedulikannya. Mungkin Tohpati sedang diganggu oleh beberapa persoalan yang bersifat pribadi. Mungkin ia kesal pada kegagalan-kegagalan yang dialaminya, atau mungkin Tohpati sedang membuat rencana-rencana baru yang belum dimengertinya.
Pada hari berikutnya, maka tampaklah kesibukan diperkemahan itu. Beberapa orang berjalan hilir mudik dari satu barak kebarak yang lain, sedang beberapa orang lagi pergi meninggalkan perkemahan itu diatas punggung-punggung kuda. Mereka harus pergi berpencaran mencari tempat-tempat yang tersebar dari kawan-kawan mereka. Gerombolan-gerombolan yang seolah-olah liar dan melakukan berbagai perbuatan yang kadang-kadang benar-benar kasar dan menakutkan. Perampokan, perampasan dan sebagainya. Kadang-kadang hanya sekedar untuk memberikan kesan bahwa keadaan sedemikian buruknya, tetapi kadang-kadang mereka benar-benar melakukannya untuk memperpanjang hidup mereka.
Dalam pada itu Sangkal Putungpun telah disibukkan pula oleh persoalan yang dibawa Kiai Gringsing beserta murid-muridnya. Untara dan Widura yang mendengarkan cerita Ki Tanu Metir menjadi berlega hati, bahwa kekuatan Sidanti pada saat yang pendek masih belum mungkin bergabung dengan kekuatan Tohpati. Meskipun demikian disaat-saat yang akan datang, mereka merasa, bahwa pekerjaan mereka akan menjadi semakin berat. Apakah Sidanti dan Tohpati menemukan titik-titik persamaan dan kemudian dapat bekerja sama, apakah Sidanti dengan Ki Tambak Wedi akan menyusun kekuatan baru untuk menggagalkan semua rencananya. Kalau demikian, maka Sidanti pasti hanya akan sekedar membalas dendam, dan mungkin setelah usaha Untara dan Widura gagal di Sangkal Putung, Sidanti akan menjual jasa melenyapkan Tohpati.
“Tetapi kedudukan Tohpati cukup kuat ngger” berkata Ki Tanu Metir kemudian.
Untara, Widura dan bahkan Ki Demang Sangkal Putung yang ikut pula mendengarkan segenap cerita itu mengerutkan kening-kening mereka. Terdengarlah kemudian Untara bertanya “Bukankah kita sudah mengetahui kekuatan mereka?”
“Ternyata ada yang belum angger ketahui”
“Apakah itu?” bertanya Widura.
Ki Tanu Metir memandang mereka satu demi satu. Kemudian katanya “Murid kedua dari Kedung Jati ternyata ada diantara mereka”
“Siapa?” desak Untara
“Angger pasti sudah pernah dengar namanya, Sumangkar”
“Sumangkar” Untara dan Widura hampir bersamaan mengulang nama itu.
“Ya” berkata Untara seterusnya “Aku pernah mendengar nama itu, dan pernah pula melihat dan bertemu dengan orang itu di kepatihan Jipang. Bukankah paman Sumangkar itu adik seperguruan paman Mantahun?”
“Ya” sahut Kiai Gringsing.
Untara menarik nafas dalam-dalam. Yang terdengar kemudian adalah suara Widura “Nama itu cukup mengejutkan hampir seperti nama patih Matahun sendiri. Tetapi kenapa selama ini orang itu tidak pernah hadir didalam setiap pertempuran? Bukankah dengan tenaganya maka Sangkal Putung pasti sudah dapat dipatahkan sejak serangan yang pertama?”
Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. “Entahlah. Aku tidak tahu. Apakah Sumangkar belum lama berada diantara mereka, apakah ada sebab-sebab lain”
Namun ternyata berita itu benar-benar telah menyebabkan Untara dan Widura berpikir keras. Kalau pada saat-saat mendatang orang itu hadir pula dalam pertempuran, maka keadaan Sangkal Putung pasti akan sangat berbahaya. Tetapi tiba-tiba Untara tersenyum, katanya “Sumangkar benar-benar berbahaya bagi kita disini seandainya ia ikut bertempur bersama Tohpati, kecuali Kiai Gringsing bersedia menolong kami”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Untara itu. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab “Hem, apakah aku harus melibatkan diriku langsung dalam pertengkaran antara Pajang dan Jipang?”
“Adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk berbuat demikian Kiai” sahut Untara “Seperti Sumangkar merasa wajib pula untuk melindungi Tohpati”
“Ya, angger benar. Angger tahu pasti pendirian Sumangkar dalam pertentangan antara Jipang dan Pajang. Sumangkar adalah orang kedua setelah Mantahun dalam perguruannya, sedang orang kedua setelah Mantahun dalam tata kelaskaran Jipang adalah Tohpati itu sendiri. Sehingga mau tidak mau, maka Sumangkar adalah orang yang langsung berkepentingan atas Tohpati itu. Baik Tohpati sebagai pemimpinnya maupun Tohpati sebagai murid saudara seperguruannya”
Mendengar jawaban itu, Untara mengerutkan keningnya. Widura yang duduk disamping Untara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memijit-mijit betisnya.
“Ya” desah Untara “Kiai benar. Seharusnya aku tidak melibatkan Kiai dalam pertentangan yang belum pasti Kiai setujui. Sebenarnyalah bahwa aku belum tahu pasti pendirian Kiai dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang”
Kiai Gringsing itupun tertawa. Sahutnya “Jangan menangkap kata-kataku itu terlalu tajam ngger. Meskipun aku termasuk orang yang menjadi bersedih hati melihat pertentangan yang berlarut-larut antara orang-orang Pajang dan orang-orang Jipang, namun aku melihat kenyataan-kenyataan yang kini berlangsung. Akupun tidak akan dapat melihat kelaliman dan kekerasan berlangsung terus-menerus. Aku tidak menutup mata, bahwa laskar Jipang yang putus asa itu menjadi liar dan berbuat banyak hal yang terkutuk. Karena itu akupun tidak akan mengingkari tugasku untuk membantu mencegah perbuatan-perbuatan itu”
Tiba-tiba wajah Untara dan Widura menjadi cerah. Meskipun Kiai Gringsing tidak menjanjikan sesuatu dengan jelas, namun apa yang dikatakannya adalah jaminan, bahwa apabila Sumangkar turut campur pula dalam pertempuran yang akan datang, dalam setiap pertempuran yang pasti akan berlangsung lagi, maka Kiai Gringsing akan dapat menjadi lawannya yang cukup berbahaya bagi murid kedua setelah Mantahun dari perguruan Kedung Jati itu.

Sabtu, 14 Juni 2008

Api di Bukit Menoreh 53

Namun Swandaru masih belum dapat disejajarkan dengan salah seorang dari mereka. Apalagi kalau kekuatan mereka digabung, maka Sumangkar dan Ki Tambak Wedi akan menjadi lawan yang amat berat meskipun kekuatan mereka telah menunjukkan tanda-tanda menurun karena perjuangan yang berat diantara mereka.
Tetapi Swandaru yang sedang berkembang itu tidak dapat menimbang berat ringan orang-orang yang dihadapinya. Ia masih dalam tingkatan ingin mencoba segala kemampuan yangada dididalam dirinya. Apalagi kini dihadapannya berdiri Sidanti dan Tohpati. Ia ingin menakar diri. Apakah kekuatannya sudah seimbang dengan Tohpati atau Sidanti?
Dalam kesibukan berpikir itu, Kiai Gringsing mendengar Sumangkar menjawab tawaran Ki Tambak Wedi sebelum Tohpati mengambil keputusan “Ki Tambak Wedi, dihadapan kami berdiri Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kini datang Kiai Gringsing dengan kedua muridnya, anak-anak Sangkal Putung. Adakah itu suatu kebetulan? Apakah Ki Tambak Wedi sudah menyediakan perangkap untuk menjebak kami berdua?”
Ingatan Tohpati benar-benar seperti tersengat lebah mendengar kata-kata itu. Alangkah mengejutkan meskipun seharusnya kemungkinan itu telah dipertimbangkannya. Ya, seandainya mereka telah merencanakan itu, alangkah bodohnya. Kalau ia menerima tawaran Ki Tambak Wedi, kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti mengkhianatinya dalam perkelahian itu, maka membunuh Tohpati akan sama mudahnya dengan memijat bji ranti. Karena itu tiba-tiba Tohpati menggeram dengan marahnya. Katanya “Hem. Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat licik. Kalian berpura-pura saling bertentangan antara kedua pihak guru dan murid sekali. Tetapi ternyata kalian telah menjebak kami. Tetapi jangan kalian sangka Tohpati akan menyerah. Tohpati hanya menyerah apabila Tohpati telah menjadi mayat”
Ki Tambak Wedi mengumpat didalam hatinya. Sumangkar benar-benar gila. Beberapa kali ia merusak usahanya. Kini orang itu telah menempatkannya pada kesulitan pula. Karena itu ia berteriak “Sumangkar, kau adalah biang keladi dari kehancuran Macan Kepatihan. Kini kau menolak tawaranku. Baiklah marilah kita teruskan perkelahian ini. Siapa yang menang, biarlah ia menjadi korban berikutnya dari kebodohanmu. Dan kita berempat akan mati dilapangan rumput ini. Apa katamu?”
“Lebih baik demikian Ki Tambak Wedi” sehut Sumangkar “Lebih baik kita mati berempat disini daripada hanya kami saja berdua. Setuju”
Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram. Rupanya kesempatan untuk bersama-sama menghancurkan Kiai Gringsing telah benar-benar tertutup baginya, sehingga tidak ada pilihan lain daripada meneruskan perkelahian itu mati-matian.
Tetapi sejak saat itu Tohpati selalu dihantui oleh kemungkinan yang sangat pahit. Terjebak oleh perangkap Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing bersama-sama. Karena itu maka otaknya bekerja dengan sibuknya, disamping tenaganya yang berjuang melawan lawan-lawannya, ia harus menemukan jalan untuk melepaskan diri seandainya Kiai Gringsing dan kedua anak muda Sangkal Putung itu mulai menyerangnya pula dengan cara apapun.
Karena itulah maka Tohpati harus menemukan suatu cara untuk mengusir mereka dari padang rumput ini. Bukan karena ia takut untuk bertempur sampai mati, tetapi ia tidak mau mati meringkuk dalam perangkap lawannya.
Tiba-tiba dalam kesibukan pertempuran itu Tohpati memasukkan jari-jari tangan kirinya kedalam mulutnya, dan sesaat kemudian terdengarlah ia bersuit nyaring membelah sepi malam.
Sekali suaranya seolah-olah meluncur memenuhi padang rumput, bahkan terpantul oleh bukit dikejauhan melengking berkali-kali.
Ki Tambak Wedi terkejut mendengar suara itu. Bahkan semua orang yang mendengarnya, termasuk Sumangkar. Namun sebelum mereka menyadari keadaan mereka, terdengar kembali suitan Tohpati untuk kedua kalinya dan sesaat kemudian untuk ketiga kalinya.
“Gila!” teriak Sidanti “Apakah yang kau lakukan pengecut?”
“Mari, mari Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, majulah bersama-sama. Cobalah tangkap Tohpati dan Sumangkar malam ini”
“Kau panggil anak buahmu?” bertanya Sidanti
“Itu adalah hakku”
“Pengecut, kau tidak berani berkelahi sebagai seorang laki-laki”
“Aku adalah pemimpin pasukan Jipang. Aku tdiak mau masuk kedalam perangkap kalian. Apakah aku harus membiarkan kalian berbuat licik, berusaha memasukkan kami berdua kedalam perangkap? Sedang aku, Macan Kepatihan sebagai pemimpin pasukan tidak boleh memanggil pasukannya?”
“Gila” desis Ki Tambak Wedi.
Namun sebelum mereka sempat berkata lagi, kembali terdengar Tohpati bersuit. Kali ini berkepanjangan.
“Apa arinya?” gumam Ki Tambak Wedi.
Macan Kepatihan tertawa, katanya “Orang-orangku harus menangkap kalian hidup-hidup”
“Kau benar-benar licik seperti setan” geram Ki Tambak Wedi.
Tohpati tidak menjawab, namun tongkatnya berputar semakin cepat menyambar lawan-lawannya.
Dalam pada itu timbullah pikiran baru didalam benak Ki Tambak Wedi. Kalau pasukan Tohpati segera datang dan membantu, maka keseimbangan akan segera berubah. Betapapun lemahna orang seorang dalam pasukan Tohpati, namun mereka pasti akan mampu menambah kekuatan kedua orang yang tak dapat mereka kalahkan bersama dengan Sidanti. Karena itu, maka tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu menggeram “Bagus Tohpati, karena kau tidak menepati kejantananmu, maka biarlah aku melepaskan kesempatan kali ini memenggal lehermu, memenggal leher adik gurumu. Tetapi ingatlah, aku pasti akan datang untuk kedua kalinya”
“Pengecut” terdengar suara Tohpati “Kau akan lari?”
“Bukan aku yang licik”
“Tidak ada kesempatan. Perintahku, mengepung tempat ini dan merapat dari jarak yang agak jauh, supaya setiap usaha untuk lari dapat digagalkan”
“Persetan, laskarmu akan aku tumpas kalau berani menghalangi aku”
Macan Kepatihan itu tertawa berkepanjangan. Katanya “Jangan mengigau. Umurmu tidak akan lebih dari umur bintang pagi yang baru terbit itu”
Ki Tambak Wedi menggeram sekali lagi. Tiba-tiba ia berkata kepada muridnya “Musuh kita kali ini licik seperti demit. Tak ada gunanya kita menjual kejantanan diri, menghadapi setan-setan pengecut itu. Marilah kita tinggalkan padang rumput ini, kita mencari kesempatan dilain kali”
“Tunggulah sebentar” cegah Sumangkar “Aku belum selesai”
“Persetan” sahut Ki Tambak Wedi yang menyangka bahwa Sumangkar ingin memperlambatnya, sehingga laskar Jipang cukup waktu untuk mengepung mereka.
Sesaat kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu berloncatan menarik diri masing-masing, kemudian segera mereka berlari meninggalkan gelanggang sebelum mereka terjebak dalam kepungan laskar Macan Kepatihan.
Kegelisahan itu sebenarnya tidak saja melanda Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kiai Gringsingpun ternyata terpaksa berpikir menghadapi keadaan itu. Seandainya laskar Jipang yang sarangnya mungkin tidak jauh dari tempat ini benar-benar datang, maka mereka benar-benar berada dalam kesulitan. Sebab Kiai Gringsing seperti juga Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa didalam laskar Tohpati itu ada orang-orang seperti Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang tidak jauh tingkatnya dari mereka itu. Disamping Sumangkar dan Tohpati, maka mereka pasti akan menjadi orang-orang yang sangat berbahaya.
Sekali dua kali Kiai Gringsing menimbang-nimbang. Diamat-amatinya muridnya. Ia menjadi cemas apabila ia menatap Swandaru yang gemuk itu. Anak itu kurang perhitungan. Ia merasa tenaganya terlampau kuat, sehingga ia tidak pernah mempertimbangkan kekuatan lawan-lawannya.
Karena itu maka ketika dilihatnya Ki Tambak Wedi melarikan dirinya, tiba-tiba Kiai Gringsing berteriak “angger Macan Kepatihan dan Sumangkar yang perkasa. Aku kali ini lebih berkepentingan dengan Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Karena itu biarlah aku mengejar mereka. Mudah-mudahan lain kali aku dan murid-muridku dapat menjumpai kalian berdia dalam kesempatan seperti ini”
“Kau juga mau lari?” teriak Macan Kepatihan.
Kiai Gringsing tertawa, tetapi ia sudah meloncat sambil berkata kepada murid-muridnya “Jangan lepaskan Sidanti”
Swandaru dan Agung Sedayu tidak sempat bertanya lebih banyak. Segera mpun berloncatan mengikuti Ki Tanu Metir mengejar Ki Tambak Wedi dan Sidanti.
Tohpati dan Sumangkar melihat mereka berlari-larian meninggalkan lapangan rumput sambil tertawa “Hem” geramnya “Aku sudah hampir kehabisan akal”
Sumangkar tidak segera menyahut. Ia masih memandang kedalam malam yang semakin gelap, karena bulan yang terbelah telah lenyap dibalik pepohonan.
Baru setelah mereka lenyap dari pandangan mata Sumangkar, maka berkatalah orang tua itu kepada Tohpati “Semula aku tidak tahu, apakah maksud angger sebenarnya”
Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya “Kita tidak akan dapat melawan mereka semuanya apabila mereka benar-benar ingin menjebak kita”
“Ya, dan angger telah membuat permainan yang baik sekali. Ternyata mereka semuanya pergi meninggalkan kita. Mereka menyangka bahwa angger benar-benar memanggil anak buah angger”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata bersungguh-sungguh “Tetapi ada sesuatu yang tidak wajar paman. Aku sangka, Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing benar-benar tidak akan bekerja bersama-sama, meskipun kita harus berhati-hati terhadap dugaan itu”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya “Aku juga menyangka demikian. Bahkan aku menyangka diantara mereka benar-benar ada persoalan yang telah membawa mereka dalam suatu keadaan permusuhan”
“Nah, bukankah kalau demikian kita akan dapat mempergunakan salah satu pihak untuk keuntungan kita? Sidanti misalnya?”
“Belum pasti ngger. Belum pasti kalau Sidanti dan Ki Tambak Wedi akan dapat memberi keuntungan kepada angger. Kalau sekali ia telah meninggalkan kesetiannya kepada kesatuannya dan berpihak kepada lawannya, maka orang yang demikian adalah orang yang benar-benar tidak dapat dipercaya. Mungkin ia akan memperalat kita untuk kepentingannya, kemudian menhancurkan kita sendiri. Gurunya, Ki Tambak Wedi, bukankah contoh yang sangat baik bagi sifat Sidanti itu?”
“Aku akan dapat mempergunakannya dimana perlu paman, jangan sebaliknya”
Sumangkar mengerutkan keningnya. Kembali dadanya dirayapi oleh kecemasan. Mungkin Tohpati akan dapat mempergunakan Sidanti tanpa mencelakakan dirinya. Mungkin kemudian Sidanti akan dapat dibinasakan oleh Tohpati apabila ada tanda-tanda ia akan mengkhianatinya. Namun dengan demikian, maka keadaan akan menjadi semakin parah. Peperangan akan menjadi semakin berlarut-larut. Karena itu, maka diberanikan dirinya berkata “Raden, apakah Raden dapat bekerja sama dengan anak muda itu? Setiap kali angger malahan akan kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Angger setiap kali hanya akan mengawasinya saja. Pekerjaan itu pasti akan menjemukan sekali. Dan bukankah dengan demikian angger akan memperluas kesulitan rakyat Jipang dan Pajang sendiri?”
Tohpati menundukkan wajahnya. Tiba-tiba hatinya bergetar cepat sekali. Teringatlah ia kini, akan apa yang mengganggunya akhir-akhir ini. Kesadaran diri atas segala yang telah berlaku dan akan dilakukan benar-benar mengganggunya siang dan malam. Perang, kebencian, kekerasan dan permusuhan merajalela.
Sesaat kemudian terdorong dalam suatu kesepian yang pekat. Malam menjadi sangat gelapnya. Dilangit bintang-bintang masih bercanda dengan awan yang mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut.
Sementara itu Ki Tambak Wedi dan Sidanti berlari kencang-kencang meninggalkan padang rumput itu. Mereka benar-benar menyangka bahwa Tohpati sedang memanggil anak buahnya. Apabila demikian, maka mereka pasti akan dibinasakan. Binasa dalam keadaan yang benar-benar mengecewakan.
Apalagi ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga buah bayangan mengejarnya, maka segera mereka mempercepat langkah mereka. Sesaat kemudian mereka telah menyelinap kedalam gerumbul-gerumbul liar dan hilang didalamnya.
Kiai Gringsing yang berlari sambil menunggu murid-muridnya ternyata kehilangan jejak. Karena itu, maka segera mereka berhenti diantara gerumbul-gerumbul perdu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Kiai Gringsing bergumam “Hilang, mereka hilang disini”
“Marilah kita cari Kiai” ajak Swandaru.
Swandaru benar-benar tidak melihat bahaya yang dapat menyergapnya apabila mereka mencari. Ki Tambak Wedi akan dapat menerkam muridnya satu persatu. Bagi Kiai Gringsing sendiri, maka bahaya itu tidak akan sampai membinasakannya. Namun bagaimana dengan Swandaru dan Agung Sedayu? Ki Tambak Wedi dan Sidanti dapat berada disetiap kegelapan dibalik gerumbul-gerumbul itu. Dengan ujung-ujung pedangnya Sidanti dapat mendahuluinya. Apalagi Ki Tambak Wedi.
Karena itu, maka Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya sambil bergumam “Sangat berbahaya Swandaru, terutama bagimu dan bagi Agung Sedayu”
“Kalau demikian, lalu apa yang harus kita lakukan Kiai?”
Kiai Gringsing berdiam diri untuk sejenak. Ia tahu pasti bahwa Swandaru menjadi kecewa. Jauh lebih kecewa dari Agung Sedayu, sebab ia kehilangan kesempatan untuk mencoba ilmunya. Sehingga Ki Tanu Metir dengan sangat hati-hati mencoba melunakkan hatinya “Kita kehilangan lawan Swandaru”
“Tetapi kita tidak mencarinya”
“Disetiap ujung daun-daun perdu itu mungkin sekali kau temukan ujung pedang Sidanti atau ujung-ujung jari Ki Tambak Wedi”
“Tetapi dengan demikian mereka tidak berlaku jantan”
“Mungkin demikian, namun apakah yang dapat kita katakan dengan kejantanan itu apabila lambung kita telah tembus oleh pedangnya. Dan bukankah sangat sulit untuk mencari dua orang saja diantara gerumbul-gerumbul liar itu?. Mungkin mereka tidak menunggu kita dengan ujung pedang, tetapi mereka kini telah hilang menyusur gerumbul-gerulbul itu masuk kedalam hutan. Nah, apakah dengan demikian kita tidak hanya akan membuang waktu?”
“Apakah kita akan kembali ketempat Tohpati?”
Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Setiap kemungkinan untuk dapat bertemu semua pihak telah hilang. Seandainya Tohpati benar-benar memanggil anak buahnya, maka kita akan masuk kedalam perangkapnya. Seandainya Macan Kepatihan hanya menakut-nakuti Ki Tambak Wedi dan muridnya, maka kini ia pasti sudah pergi”
“Ternyata bukan Ki Tambak Wedi dan Sidanti saja yang menjadi ketakutan Kiai, kita juga menjadi ketakutan dan lari terbirit-birit”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia tahu benar perasaan muridnya yang seorang itu. Swandaru menjadi sangat kecewa, bahwa ia tidak berhasil mendapat tempat untuk mencoba segala macam ilmu yang selama ini dipelajarinya.
Maka berkatalah dukun tua itu “Swandaru, kita harus mempertimbangkan segala ekmungkinan yang dapat terjadi atas perbuatan kita. Kita bukan orang-orang yang memiliki kekhususan yang berlebih-lebihan. Bukan orang yang tak pernah melihat kelemahan diri. Apabila demikian ngger, maka kita telah mulai dengan langkah yang sangat berbahaya”
“Tetapi kita bukan pengecut-pengecut Kiai. Bukankah kita anak-anak jantan yang pantang menghindari kesulitan?”
Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya “Ya, apabila kesulitan itu berada dijalan kita, maka kita tidak boleh menghindar. Kita harus mencoba mengatasinya. Tetapi bukan kita mencari kesulitan apabila kesulitan itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi kita”
“Kiai, baik Sidanti maupun Tohpati adalah orang-orang yang sangat berbahaya bagi Sangkal Putung. Kenapa mereka kita lepaskan setelah mereka berada diujung hidung kita? Apakah dengan demikian kita tidak hanya malas mengatasi kesulitan yang bakal datang?”
Ki Tanu Metir tersenyum. Muridnya yang seorang ini memang keras hati. Dalam kekerasan itu maka apabila mendapat menyaluran yang tepat, maka Swandaru akan dapat menjadi seorang prajurit yang nggegirisi. Tetapi ternyata bahwa akalnya masih belum mampu mempertimbangkan setiap kemungkinan dari tindakannya.
“Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Sebaiknya mulai saat ini belajarlah menilai diri sendiri secara wajar. Jangan erlalu menghargai kekuatan sendiri berlebih-lebihan. Dengan demikian kita akan mudah terjerumus kedalam tindak yang kurang bijaksana. Coba hitunglah, apa yang dapat kita lakukan bertiga dan apa yang dilakukan oleh Tohpati berdua ditambah dengan laskarnya yang bakal datang. Kita tidak tahu berapa orang, tiga, enam, sepuluh atau lebih. Diantaranya akan datang Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang cukup berbahaya bagi kita. Nah, kita harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kalau kita bertempur melawan mereka”
“Jadi kita tidak berani menghadapi mereka itu?”
“Ada bedanya Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Ada perbedaan antara seorang pengecut dan seorang yang memperhitungkan kekuatan diri. Seseorang dapat saja meninggalkan perkelahian dan pertempuran dalam keadaan tertentu. Kalau kita meninggalkan Tohpati yang memanggil laskarnya, maka kita sama sekali bukan pengecut. Tohpatilah yang mulai. Sebab ia memanggil orang banyak untuk menghadapi kita bertiga. Dan kita tidak mau membunuh diri kita. Seorang pemberani bukanlah seorang yang membabi buta dan membunuh diri sendiri”
Swandaru terdiam sesaat. Ia dapat mengerti keterangan gurunya itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berguman “Ya, aku mengerti Kiai”
“Bagus, ingatlah untuk seterusnya” sahut Kiai Gringsing.
Swandaru tidak menjawab. Ia dapat mengerti keterangan gurunya, namun dihati kecilnya tumbuhlah perasaan yang aneh. Seolah-olah ia sedang melarikan diri dari suatu tugas yang harus diselelsaikan.
Ketika malam yang hening merambat makin jauh, maka bergumamlah ktim “Kita kembali ke kademangan. Ada sesuatu yang harus kita sampaikan kepada angger Widura dan angger Untara. Perjalanan kita kali ini menangkap suatu peristiwa yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Sidanti dan Tohpati berdiri berhadapan langsung sebagai lawan”
“Apakah yang penting dari peristiwa ini Kiai?” bertanya Agung Sedayu.
“Mereka tidak bekerja bersama” sahut Kiai Gringsing. “Mungkin hal ini baik bagi Sangkal Putung. Tetapi mungkin buruk pula. Sidanti dapat membentuk suatu gerombolan baru yang akan mempersulit keadaan. Ki Tambak Wedi mempunyai pengaruh yang kuat dilereng Merapi ini”
Kedua murid Ki Tanu Metir itu terdiam. Berbagai persoalan hilir mudik didalam kepala mereka. Swandaru masih merasa aneh tentang dirinya, sedang Agung Sedayu dapat berpikir lebih tenang dan memandang lebih jauh. Sifat-sifatnya dimasa anak-anaknya ternyata ikut membantu mengekangnya menghindari bentrokan-bentrokan yang sama sekali tidak perlu. Untunglah bahwa setelah ia berhasil memecahkan dinding yang mengungkungnya dalam dunia ketakutan, ia tidak kehilangan keseimbangan. Untunglah bahwa ia berada didekat kakaknya yang dapat memberinya petunjuk-petunjuk, untunglah bahwa gurunya adalah seorang dukun yang banyak sekali berusaha menyembuhkan orang-orang sakit, bukan sebaliknya membuat orang menjadi sakit.
Sejenak kemudian maka merekapun meninggalkan padang rumput itu, dan kembali ke kademangan Sangkal Putung.
Pada saat itu Tohpati dan Sumangkar telah pula melangkah pergi. Mereka tidak meneruskan perjalanan mereka ke Sangkal Putung. Tetapi mereka bermaksud kembali kesarang mereka. Tohpati berjalan dengan wajah tertunduk, sedang disampingnya Sumangkar berjalan sambil mengamat-amati goloknya. Perlahan-lahan ia bergumam “Besok aku akan mengalami kesulitan”
“Apa?” Tohpati terkejut mendengar keluhan itu.
Sambil menunjukkan goloknya Sumangkar berkata “Mata golokku menjadi pecah-pecah. Aku tidak dapat lagi mempergunakannya untuk membelah kayu”
“Oh” Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kalau bukan Sumangkar yang berkata demikian, maka orang itu pasti sudah ditamparnya. Namun tiba-tiba untuk melepaskan kejengkelannya Tohpati itu berkata lantang “Besok aku akan pergi ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya”
Sumangkarlah kini yang terkejut “Besok? Apakah angger sudah cukup siap?”
Tohpati tidak segera menjawab. Ia melangkah semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin panjang, sehingga Sumangkar terpaksa berkali-kali mempercepat langkahnya pula.
Ketika Tohpati tidak segera menjawab pertanyaannya maka sekali lagi Sumangkar bertanya “Angger, apakah angger besok dapat menyiapkan laskar Jipang untuk menyerang Sangkal Putung?”
“Aku telah siap sejak pecah perang Jipang dan Pajang” geram Tohpati tanpa berpaling.
Sumangkar mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terasa sesuatu pada dinding Tohpati itu. Meskipun demikian Sumangkar mencemaskan nasib Macan Kepatihan itu pula sehingga ia berkata “Mungkin angger Tohpati sendiri telah siap sejak lama. Tetapi apakah laskar angger, dan pimpinan-pimpinan yang lain telah siap pula?”
“Aku tidak peduli apakah mereka sudah siap atau belum. Besok aku akan menyerbu Sangkal Putung. Untuk yang terakhir kalinya”
“Kenapa yang terakhir kalinya ngger?”
“Aku sudah jemu pada peperangan ini. Aku sudah jemu melihat pepati. Aku sudah jemu melihat darah dan penderitaan”
Dada Sumangkar berdesir mendengar jawaban itu. Ia sendiri adalah orang yang jemu menghadapi persoalan yang seakan-akan tidak berpangkal dan tidak berujung. Tetapi ia melihat pada dada Tohpati itu membayang keputus-asaan dan kekecewaan yang meluap-luap. Disamping Widura dan Untara, kini ia mengenal lawan yang baru, yang cukup berbahaya pula laginya. Bukan Sidanti, tetapi Ki Tambak Wedi. Ia tidak akan dapat menggantungkan nasibnya terus menerus kepada Sumangkar, paman gurunya itu. Bahkan kemudian diketahuinya pula bahwa di Sangkal Putung ada orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing yang memiliki ilmu sejajar dengan Ki Tambak Wedi, sehingga orang itu berani menonton perkelahian yang sedang berlangsung diantara mereka. Diantara ilmu yang bersumber dari Kedung Jati melawan ilmu yang bersumber dari lereng Merapi.
Persoalan-persoalan yang tumbuh didalam perkemahannya, persoalan-persoalan yang tumbuh disekitarnya telah mendorong Tohpati dalam keadaan yang sulit. Tetapi semuanyaitu tidak akan menggoncangkan tekadnya, seandainya tidak ada persoalan-persoalan yang tumbuh didalam dadanya sendiri. Beberapa hari ia telah diganggu oleh pertimbangan-pertimbangan yang membingungkannya. Pertimbangan-pertimbangan yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Tak pernah sehelai bulunyapun yang meremang, apabila ia melihat darah, mayat, mendengar pekik rintih dan tangis. Dadanya sama sekali tidak tergetar melihat pedang yang berlumur darah dan bahkan tubuh yang terpisah-pisah. Namun tiba-tiba kini ia merasa ngeri hanya mengenangkan itu semua.Mengenangkan kembali dan tidak sedang menghayatinya.
“Setan” geramnya.
Sumangkar berjalan terloncat-loncat disampingnya. Ketika ia mendengar Tohpati menggeram, maka sekali lagi ia bertanya “Kenapa angger menjadi jemu?”
Sekali lagi Tohpati menggeram, katanya “Kenapa paman bertanya? Paman adalah salah satu sebab dari kejemuan itu. Paman telah membujuk aku. Paman telah memperlemah tekadku. Dan paman pasti akan menyetujui pendapatku. Peperangan ini harus segera berakhir. Pajang atau Jipang yang akan hancur”
Dada Sumangkar benar-benar bergetar mendengar jawaban itu. Sehingga cepat-cepat ia menjawab “Angger telah memilih jalan yang sama sekali tidak tepat”
Langkah Tohpati terhenti mendengar perkataan Sumangkar itu. Dengan tajamnya ia memandang wajah orang tua itu dengan sinar kemarahan yang menyala-nyala “Apakah yang kau katakan paman?”
“Angger mencoba menempuh jalan yang salah”
“Kenapa?”
“Angger telah meninggalkan segenap perhitungan seorang senapati”
“Apa gunanya perhitungan-perhitungan itu lagi? Bukankah paman juga menghendaki supaya kami cepat hancur dan peperangan berhenti?”
“Tidak”
“Paman” geram Tohpati “Paman sudah tua. Dan perkataan paman sama sekali tidak dapat didengar dengan pasti. Apa yang paman kehendaki sebetulnya? Jangan mencla-mencle”
“Tidak, aku tetap pada pendirianku. Aku menghendaki peperangan segera berakhir. Tetapi aku tidak menghendaki laskar Jipang membunuh dirinya”
“Apa pedulimu paman. Hidupku adalah wewenangku. Kalau besok aku menyerbu Sangkal Putung sebagai sulung menjelang api, dan kemudian aku akan binasa karenanya, namun peperangan akan berhenti, bukankah paman akan tertawa pula karenana. Paman akan tertawa melihat mayat Tohpati dipenggal kepalanya dan diseret sepanjang jalan raya Pajang untuk dipertontonkan kepada rakyat. Dan paman akan tertawa melihat Untara mendapat hadiah serupa dengan yang diterima oleh Pemanahan dan Penjawi?”
“Angger salah terka. Aku tidak ingin melihat angger membunuh diri bersama seluruh laskar”
“Apa pedulimu? Apa pedulimu. He? Nyawa ini adalah nyawaku. Hidup ini adalah hidupku sendiri”
“Aku tidak keberatan kalau Raden membunuh diri dengan cara itu. Tetapi jangan membinasakan laskar angger itu. Jangan membawa mereka terjun kedalam lembah kengerian itu”
“Diam, diam kau tua bangka” teriak Tohpati dengan marahnya sehingga tongkatnya terayun-ayun menunjuk keakrah kepala Sumangkar. Tetapi kini Sumangkar tidak meletakkan goloknya, tidak menyerahkan kepalanya sambil ngapurancang. Tetapi orang tua itu tiba-tiba meloncat surut sambil mempersiapkan dirinya. Benar-benar bukan Sumangkar juru masak yang malas, tetapi Sumangkar yang telah berhasil mengimbangi kekuatan hantu lereng Merapi.
Mata Tohpati terbelalak karenanya, seakan-akan ingin meloncat dari pelupuknya. Betapa dadanya menjadi bergelora seolah-olah akan meledak melihat sikap Sumangkar itu. Melihat Sumangkar menyilangkan goloknya dimuka dadanya dan siap menghadapi setiap kemungkinan.
Sejenak kemudian tubuhnya menjadi gemetar karena marahnya. Tongkatnya yang putih berkilauan itupun bergetar dalam genggaman tangannya. Sambil menunjuk si dengan tongkatnya itu Macan Kepatihan menbentak “He, Sumangkar, apakah kau akan berani melawan Macan Kepatihan?”

Senin, 09 Juni 2008

Api di Bukit Menoreh 52

Golok yang kehitam-hitaman ditangannya itu, berputaran, sekali mematuk, sekali menebas menyambar seperti hendak menebang roboh tubuh Ki Tambak Wedi itu. Namun hampir disetiap kesempatan Ki Tambak Wedi dengan beraninya memukul golok lawannya dengan tangannya yang terlindung oleh sepasang gelang baja. Dalam benturan-benturan yang terjadi itu, maka menyalalah bunga api memercik keudara. Setiap kali terjadi benturan, senjata Sumangkar, golok pembelah kayunya mengalami luka dibagian tajamnya, sehingga kemudian mata golok yang memang bukan senjata buatan khusus itu, menjadi semacam mata gergaji. Namun dengan demikian, maka setiap goresan akan mampu menyobek kulit dengan bekas yang tersayat-sayat.
Ki Tambak Wedipun kemudian terpaksa berjuang dengan sengitnya untuk segera mengalahkan Sumangkar. Namun Sumangkar tidak mau menerima keadaan dengan kedua tangan ngapurancang, Tetapi sepasang tangannya berjuang sekuat-kuat tenaganya, tenaga murid kedua perguruan Kedung Jati. Goloknya kadang-kadang menyambar dalam genggaman tangan kanannya, namun kemudian mematuk dalam kelincahan tangan kirinya.
“Demit, tetekan” Ki Tambak Wedi tak habis-habisnya mengumpat. Tetapi lawannya sama sekali tidak takut mendengar umpatan itu, bahkan dengan serunya Sumangkar melawannya tanpa mengenal lelah.
Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding. Keduanya adalah orang-orang tua yang telah hampir merasa dirinya harus beristirahat dan menyerahkan segala persoalan kepada mereka yang masih muda. Namun pada saat-saat terkhir, mereka masih harus melindungi anak-anak muda yang mereka anggap akan dapat meneruskan umur mereka. Ki Tambak Wedi, seorang guru yang terlalu bangga akan muridnya dan terlalu jangkaunya, sedang Sumangkar melihat Tohpati adalah penerus perguruannya, lewat kakak seperguruan. Karena itu maka seandainya anak muda itu lenyap, lenyap pulalah ajaran-ajaran perguruan Kedung Jati yang pernah terkenal karena orang menyangka bahwa murid-murid perguruan Kedung Jati tidak dapat mati, karena memiliki nyawa rangkap. Sedang perguruan lereng Merapi yang terkenal seakan-akan setiap muridnya mampu menangkap angin.
Dipihak lain, Sidanti bertempur dengan sepenuh tekad melawan Macan Kepatihan. Kali ini ia akan menebus kekalahannya pada saat ia berhadapan dengan Macan Kepatihan itu. Seperti juga gurunya, ia benar-benar ingin membunuh Tohpati. Membawa kepalanya ke Pajang dan mengharap hadiah daripadanya, seperti hadiah yang akan diterima oleh mereka yang berhasil membunuh Arya Penangsang, tanah mentaok dan Pati. Kalau ia membunuh Macan Kepatihan, maka setidak-tidaknya ia akan menerima hadiah separo dari mereka yang membunuh Arya Penangsang.
Dengan harapan itu, serta pangkat yang akan melampaui pangkat Untara, maka Sidanti berjuang sekuat-kuat tenaganya.
Namun ternyata Macan Kepatihan tidak menyerahkan lehernya begitu saja. Bahkan semakin lama Tohpati seakan-akan menjadi semakin segar. Tongkatnya menjadi semakin cepat bergerak menyambar-nyambar seperti burung garuda yang bertempur diudara.
Mula-mula Sidanti berbangga dengan kemenangan-kemenangan kecilnya. Ketika sekali dua kali ujung pedangnya mampu meneteskan darah dari tubuh Tohpati. Namun kemudian terasa, bahwa kulitnya pasti menjadi merah biru pula. Setiap sentuhan ujung tongkat Macan Kepatihan yang berbentuk tengkorak itu, seakan-akan benar-benar memecahkan tulangnya. Meskipun ia selalu dapat menghindarkan dirinya dari benturan langsung, atau dengan sepasang senjatanya menghentikan ayunan tongkat lawannya, namun terasa tongkat itu menyengat-nyengat tubuhnya semakin lama semakin sering. Sehingga dengan demikian, maka Sidanti kemudian tidak lagi dapat membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Betapa ia menjadi semakin lincah disaat-saat terkhir, namun lawannyapun ternyata cukup tangguh untuk mengimbanginya.
Karena itulah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Ketika bulan menjadi semakin merendah kegaris cakrawala diujung barat, maka mereka yang bertempur itu semakin ngetok kekuatan. Mereka tidak mau masing-masing menjadi korban dari perkelahian itu, dan mereka masing-masing berusaha untuk mengalahkan lawannya sebelum pasangannya dapat dikalahkan.
Tetapi kemudian, perkelahian itu menjadi terganggu karenanya. Dikejauhan mereka melihat tiga bayangan yang bergerak-gerak dalam keremangan cahaya bulan. Tiga bayangan manusia yang datang mendekat daerah perkelahian itu.
Baik Ki Tambak Wedi maupun Sumangkar bertanya-tanya didalam hati mereka, siapakah mereka, orang-orang yang mendatangi itu. Tohpati dan Sidantipun kemudian melihat mereka pula. Karena itu, maka mereka menjadi berdebar-debar. Tetapi mereka tidak dapat menghentikan perkelahian itu. Perkelahian itu adalah perkelahian antara hidup dan mati. Namun kalau yang datang itu kawan dari salah satu pihak, maka keseimbangan perkelahian itu akan terganggu.
Sesaat Tohpati menggeram keras sekali. Tiba-tiba ia memperketat tekanannya. Ia melihat satu tenaga cadangan yang akan mampu mempercepat penyelesaiannya. Kalau ia mengerahkan tenaganya dan berhasil, maka perkelahian itu akan menjadi semakin cepat selesai. Tetapi kalau tidak, maka akibatnya ia akan menjadi lebih dahulu kelelahan dan mungkin ia akan menjadi korban. Namun ia tidak dapat berbuat lain. Ketiga bayangan yang menjadi semakin dekat itu benar-benar mengganggunya.
Akibatnya terasa pula oleh Sidanti. Serangan Macan Kepatihan menjadi bertambah dahsyat. Sedahsyat angin prahara yang melanda tebing pegunungan, menggetarkan pepohonan dan menggugurkan daun-daunnya. Sekali Sidanti terpaksa meloncat surut, namun Tohpati mengejarnya terus.
Serangan Sidanti itu serasa benar-benar menyusup dari segenap arah, mematuk seluruh bagian tubuhnya. Dengan demikian maka Sidantipun terseret kedalam pencurahan segenap tenaga, segenap kekuatan dan segenap kemampuannya. Namun, meskipun demikian, maka amat sulitlah baginya untuk segera dapat membebaskan diri dari belitan serangan Tohpati yang seperti lesus itu.
Pada saat-saat terakhir, Ki Tambak Wedi sebenarnya telah menemukan segi-segi lawannya. Betapapun saktinya Sumangkar, namun pada orang tua itu masih terdapat beberapa kelemahan. Apalagi ketika pada saat-saat terakhir ia lebih senang tinggal didapur saja, maka nafsunya untuk bertempur tidak sehangat Ki Tambak Wedi lagi. Meskipun Sumangkar mampu mengimmbangi hampir setiap usaha Ki Tambak Wedi untuk menembus pertahanannya, namun lambat laun, terasa bahwa Ki Tambak Wedi masih selapis berada diatas Sumangkar.
Tetapi pada sat yang demikian, pada saat Ki Tambak Wedi memperkuat tekanannya untuk segera mengakhiri perkelahian itu, supaya ia sempat memenggal leher Tohpati, maka pada saat yang demikian itu pula, Sidanti terpaksa beberapa kali beringsut surut.
“Gila” desis Ki Tambak Wedi itu “Macan Kepatihan benar-benar berkelahi seperti seekor harimau jantan yang garang”
Dengan menggeram keras sekali ia mencoba mengakhiri perkelahiannya dengan Sumangkar, ketika dengan tangan kirinya ia memukul golok Sumangkar kesamping, dan dengan tangannya yang lain, Ki Tambak Wedi berusaha memecahkan kepala lawannya itu. Namun usahanya masih belum berhasil, Sumangkar masih mampu menggenggam golok itu ditangannya, dan masih mampu melontar kesamping sambil merendahkan dirinya, sehingga tangan Ki Tambak Wedi yang berlapis baja itu terbang beberapa jari dari kepalanya. Sesaat kemudian ketika Ki Tambak Wedi berusaha menerkamnya, maka Sumangkar sudah mampu mempersiapkan dirinya, dan menjulurkan goloknya dimuka dadanya. Bahkan kemudian ketika Ki Tambak Wedi mengurungkan serangannya, Sumangkarlah yang meloncat maju dengan sebuah ayunan pendek.
Namun kembali Ki Tambak Wedi mengumpat didalam hatinya. Kini ia benar-benar melihat muridnya dalam kesulitan. Karena itu maka mau tidak mau ia harus membagi perhatiannya. Namun karena orang tua itu memiliki pengalaman yang bertimbun-timbun didalam perbendaharaan ilmunya, maka segera ia menemukan jalan untuk menyelamatkan muridnya tanpa mengorbankan kehormatannya. Dengan lantang kemudian ia berkata “Ayo, meskipun Macan Kepatihan bukan muridmu Sumangkar, namun ia adalah murid saudara seperguruanmu, sehingga ilmumu berdua bersumber dari perguruan yang sama. Kalau ternyata kau tidak mampu melawan aku seorang diri, marilah, aku beri kesempatan kalian bertempur berpasangan. Muridku pasti akan senang juga melayanimu dengan cara itu”
“Kau licik” sahut Sumangkar “Agaknya kau telah melihat bahwa muridmu telah hampir sampai pada titik ajalnya”
“Persetan, aku sobek mulutmu itu”
“Silakanlah kakang” jawab Sumangkar.
Ki Tambak Wedi menggeretakkan giginya. Namun ia tidak merubah rencana. Langsung ia melepaskan Sumangkar dan berlari kearah Sidanti yang semakin terdesak. Dengan demikian maka Sumangkar tidak dapat berbuat lain daripada berlari pula mengejar Ki Tambak Wedi itu.
Sesaat kemudian maka mereka terlibat dalam pertempuran berpasangan. Mula-mula Sumangkar dan Tohpati agak canggung juga menyesuaikan diri masing-masing, namun karena mereka bersumber pada ilmu yang sama, maka segera mereka menemukan titik-titik yang dapat membuka kemungkinan-kemungkinan seterusnya.
Dalam pada itu, ketika mereka telah luluh dalam satu lingkaran perkelahian, maka bayangan yang datang mendekati mereka menjadi semakin dekat. Mereka berjalan perlahan-lahan dengan penuh kebimbangan. Setapak mereka maju, dan sesaat mereka berhenti. Sejenak mereka maju lagi, namun dua tiga langkah mereka kembali tegak mengawasi perkelahian yang semakin seru.
“Mereka bertempur berpasangan” berkata salah seorang dari mereka.
“Ya. Salah satu pihak sedang mencari keseimbangan” jawab yang lain.
“Siapakah mereka?”
Tak seorangpun yang dapat menjawab. Namun salah seorang dari mereka berkata “Marilah kita mendekat”
Mereka berjalan maju lagi. Langkah mereka terayun satu-satu diantara rumput-rumput liar. Ragu-ragu dan penuh kewaspadaan, Namun kemudian mereka berhentu pada jarak yang tidak terlalu dekat.
“Dahsyat” terdengar salah seorang bergumam.
“Ya” sahut yang lain.
Dan yang lain lagi berkata “Aku sangak, mereka adalah guru dan murid saling berpasangan. Dua perguruan bertemu dipadang rumput ini”
Namun sesaat kemudian mereka bertiga mengerutkan kening mereka. Hampir bersamaan mereka dapat melihat semakin jelas ketika mereka sudah menjadi lebih dekat lagi.
Perlahan-lahan disela deru angin malam terdengar salah seorang berdesis “Macan Kepatihan”
Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tongkat baja putihnya, yang berkilat-kilat dikeremangan cahaya bulan yang hampir tenggelam telah menunjukkan kepada mereka, siapakah salah seorang dari mereka yang sedang bertempur itu.
Namun kemudian timbullah kebimbangan dihati mereka bertiga. Salah seorang berkata “Macan Kepatihan bertempur berpasangan. Siapakah yang seorang itu? Bukankah guru Macan Kepatihan itu Patih Mantahun? Dan Patih Mantahun itu telah mati terbunuh?”
Salah seorang bergumam lirih “Perguruan Kedung Jati terkenal, bahwa murid-muridnya mampu menyimpan nyawa rangkap didalam tubuhnya”
“Aku juga mendengar itu” sahut yang lain.
Tetapi yang seorang lagi tertawa perlahan-lahan. Gumamnya “Sebuah dongeng untuk menidurkan anak-anak disenja hari”
Kedua orang yang lain saling berpandangan sesaat, seolah-olah mereka tidak mengerti, kenapa yang seorang itu sama sekali tidak menaruh perhatian atas berita tentang nyawa yang rangkap itu.
“Apakah kalian percaya bahwa ada seorang yang mampu menyimpan nyawa rangkap didalam dirinya? Aji Pancasonea barangkali? Nah, kalau kalian percaya, atau setidak-tidaknya bimbang akan hal itu, mulailah sejak ini menganggap bahwa itu hanya sebuah dongengan semata-mata. Dan hal itupun terbukti pula, bahwa Patih Mantahun tidak lagi bangkit dari kuburnya”
Kedua orang yang lain kini berdiam diri. Namun mata mereka tajam menatap pasangan-pasangan yang sedang bertempur dengan serunya. Dalam keremangan cahaya bulam, maka mereka seolah-olah hanya melihat bayangan-bayangan hitam yang berputaran dan berbenturan, disela-sela cahaya keputih-putihan yang memantul dari tongkat putih Macan Kepatihan dan sekali-sekali gemerlapnya pedang Sidanti. Golok Sumangkar yang kehitam-hitaman bahkan disana sini tampak berkarat, sama sekali tidak mampu memantulkan cahaya bulan yang semakin rendah.
“Apakah kalian ingin melihat lebih jelas?” terdengar salah seorang bertanya.
“Marilah Kiai” jawab yang lain.
Orang yang mengajak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kainnya yang bercorak gringsing menutupi sebagian tubuhnya sedang kedua orang yang lain, berjalan dibelakangnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka adalah dua orang anak muda yang sebaya. Yang seorang bertubuh sedang dan yang lain pendek gemuk hampir bulat. Dilambung mereka masing-masing tergantung sehelai pedang. Namun dilambung orang yang berjalan dipaling depan dan bahkan kedua anak-anak muda itu, melingkar sebuah cambuk yang bertangkai pendek dan berujung janget.
Ternyata orang yang pertama, yang berkain gringsing itu, telah menuntun mereka untuk mempergunakan senjata, ciri perguruannya, disamping senjata yang disukainya. Cambuk yang bertangkai tidak lebih dari sejengkal dan ujungnya berjuntai agak panjang, terbuat dari tambang kulit yang sangat kuat beranyam rangkap tiga ganda. Lemas namun kuatnya bukan main.
Tiba-tiba orang yang berkain gringsing itu berkata “Kemarilah ngger”
Kedua anak muda yang berjalan dibelakangnya segera berdiri disampingnya sebelah menyebelah.
“Apakah kalian kenal yang seorang lagi?”
Keduanya mengerutkan kening mereka dan mempertajam pandangan mata mereka. Tiba-tiba mereka berdesis “Sidanti”
“Ya, Sidanti” berkata orang yang berkain gringsing “Yang seorang pasti Ki Tambak Wedi”
Dua orang anak muda, Agung Sedayu dan Swandaru, mengangguk-anggukkan kepala mereka. Perlahan-lahan mereka berdesis “Kiai, lalu siapakah yang seorang lagi, pasangan Macan Kepatihan itu?”
Kiai Gringsing, yang oleh murid-muridnya lebih dikenal dengan nama Ki Tanu Metir menjawab “Aku belum tahu, siapakah orang itu. Aku masih belum dapat mengenalnya. Seandainya ia adalah seorang yang telah pernah terkenal didaerah ini, atau daerah Pajang, mungkin aku dapat menyebut namanya”
Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Kini mereka menjadi semakin berani. Apabila salah satu pihak dari mereka adalah Sidanti dan Ki Tambak Wedi, sedang dipihak lain dalam keadaan yang seimbang melayaninya, maka bersama guru mereka, mereka tidak akan menjadi cemas lagi siapapun yang sedang bertempur itu. Karena itu maka Agung Sedayu kemudian berkata “Marilah kita dekati Kiai. Aku ingin melihat dengan pasti siapakah yang tengah bertempur itu”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menjawab “Marilah. Tetapi berhati-hatilah. Siapa tahu bahwa mereka akan memilih lawan. Dan pilihan itu jatuh kepada kita”
Swandaru tersenyum. Selangkah ia maju. Tetapi ia segera berhenti ketika ia melihat perkelahian itu cepat bergeser dari tempatnya.
“Kenapa?” desisnya. “Apakah ada perubahan dari keseimbangan mereka?”
Tetapi ternyata perkelahian itu segera berjalan kembali dengan sengitnya.
Mereka hanya bergerak sekedar menemukan bentuk yang baru dari daerah perkelahian serta letak pasangan dari antara mereka.
Namun waktu yang sesaat itu telah menggoncangkan hati Kiai Gringsing. Pada saat yang demikian itu, ia mengenal, siapakah seorang lagi, yang selama ini menjadi teka-teki diantara murid-muridnya. Namun untuk meyakinkannya, ia dengan serta-merta melangkah maju lagi beberapa langkah, sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat, bahkan terlalu dekat.
Yang sedang bertempur itupun kemudian terkejut melihat kehadiran mereka yang terlalu dekat itu. Apalagi dengan demikian segera mereka mengenal siapakah orang-orang yang datang mendekat. Yang pertama-tama berteriak diantara mereka adalah justru Ki Tambak Wedi “He, orang yang menamakan diri Kiai Gringsing , apakah kerjamu disini?”
Kiai Gringsing tidak menjawab. Matanya sedang menekuni gerak seorang lagi diantara mereka yang selama ini tak pernah disangkanya akan bertemu kembali. Tiba-tiba terdengar ia bergumam “Sumangkar, murid kedua dari perguruan Kedung Jati”
“He, siapakah kau?” sahut Sumangkar yang mendengar namanya disebut-sebut.
“Bertanyalah kepada Ki Tambak Wedi” sahut Kiai Gringsing
“Aku mendengar ia menyebutmu Kiai Gringsing. Siapakah sebenarnya kau ini?”
“Itulah aku sebenarnya”
Sumangkar masih mau berkata lagi. Tetapi tiba-tiba terdengar Tohpati berteriak “He, bukankah kalian orang-orang yang aku temukan ditengah kali itu? Yang gemuk itu, yang satunya dan apakah kau orang tua itu pula?”
“Ya, akulah itu” jawab Kiai Gringsing.
Ternyata dada Tohpati berdesir mendengar pengakuan itu, meskipun hal itu telah diketahuinya atau setidak-tidaknya telah digambarkannya. Sehingga karena itu ia berkata “Aku sudah menyangka. Kalau aku tahu bahwa kalian orang-orang aneh dari Sangkal Putung, maka pada saat itu kalian pasti telah aku bunuh”
“Apa salah kami?” teriak Kiai Gringsing “Dan karena itu pula agaknya waktu itu kami tidak mengaku orang-orang aneh”
“Gila!” teriak Tohpati “Jangan mengigau, nanti akan datang giliran kalian untuk aku bunuh setelah musuh-musuhku ini mati”
Yang terdengar adalah suara tertawa Ki Tambak Wedi. Sementara itu mereka basih bertempur dengan serunya. Dan diantara derai tertawa itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata “Jangan sombong Macan Kepatihan yang gagah perkasa. Mungkin kalian berdua mampu membunuh kami, tetapi orang-orang itu?”
Macan Kepatihan benar-benar terkejut mendengar kata-kata Ki Tambak Wedi yang biasanya terlalu menyombongkan diri. Tetapi ia tidak segera bertanya lagi. Tekanan Ki Tambak Wedi bahkan menjadi semakin mendesak.
Dalam kesibukan perkelahian itu yang terdengar kemudian adalah geram Sidanti penuh kemarahan “Agung Sedayu, musuh bebuyutan, apakah kau sudah jemu hidup sehingga kau berani mendatangi tempat ini, dimana aku dan guruku sedang berpesta? Kedatanganmu akan merupakan hadiah terbesar bagiku sesudah kepala Tohpati malam ini”
Ketika Agung Sedayu hampir membuka mulutnya untuk menjawab maka terasa lengannya digamit oleh gurunya. Dengan serta-merta ia mengurungkan niatnya sambil berpaling kepada gurunya, untuk mendapat penjelasan. Namun Kiai Gringsing itu hanya mengangkat dagunya kearah perkelahian itu. Dalam kebimbangan Agung Sedayu menuruti arah itu. Barulah kemudian ia tahu maksud gurunya, bahwa kata-kata Sidanti itu pasti akan menyinggung perasaan Tohpati pula. Dan Kiai Gringsing mengharap biarlah Macan Kepatihan itulah yang menjawab.
Sebenarnyalah kemudian Macan Kepatihan menggeram “Gila kau Sidanti, kau sangka bahwa Macan Kepatihan sama murahnya dengan kepalamu?”
“Jangan marah ngger” sahut Ki Tambak Wedi “Sidanti hanya berkata sebenarnya”
Betapa marahnya Macan Kepatihan mendengar penghinaan itu. Namun kemudian terdengar Sumangkar berkata tenang “He orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing, kau lihat, bahwa ditempat ini terjadi dua macam perkelahian? Yang pertama perkelahian jasmaniah. Kami masing-masing telah bertempur dengan sekuat-kuat tenaga kami, namun belum ada diantara kami yang dapat dikalahkan oleh pihak yang lain, Sedang perkelahian yang kedua adalah perkelahian mulut. Kami masing-masing mencoba saling menyombongkan diri kami. Kami masing-masing berkata bahwa kami akan membunuh lawan-lawan kami. Kalau itu mampu lakukan, maka sudah pasti kami lakukan. Tetapi ternyata seperti yang kau lihat. Kami masih bertempur mati-matian sehingga kami harus tertawa mendengar suara kami sendiri. Karena itu Kiai, kalau Kiai masih ingin menonton, menontonlah dengan tenang. Waktu masih panjang. Kalau ada diantara kami yang akan memusuhi Kiai, maka itu masih harus melalui waktu yang cukup banyak untuk mengalahkan lawan-lawan kami”
Ki Tambak Wedi dan Sidanti menggeram mendengar kata-kata itu, bahkan Tohpati sendiri menggertakkan giginya. Namun dengan demikian mereka tidak lagi berteriak-teriak dan saling mengancam. Mereka kini memusatkan tenaga mereka dalam pertempuran yang terjadi. Namun meskipun demikian hati mereka telah digelisahkan oleh kehadiran Kiai Gringsing dengan murid-muridnya. Mereka mempunyai persoalan sendiri-sendiri terhadap mereka. Tohpati menyadari bahwa diantara orang-orang itu terdapat orang-orang Sangkal Putung. Namun justru karena itu ia mulai menimbang-nimbang. Kalau tidak ada persoalan diantara mereka dengan Sidanti, maka mereka pasti akan membantu Sidanti. Karena itu maka kehadiran mereka benar-benar mempengaruhi perasaannya. Dalam pada itu, Ki Tambak Wedipun menjadi gelisah. Disadarinya bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu tidak dapat dikalahkan. Ternyata Kiai Gringsing telah mengambil lawan Sidanti menjadi muridnya. Dengan demikian maka apabila terpaksa mereka harus berhadapan saat itu, maka tidak akan dapat memberinya kesempatan apa-apa.
Yang terdengar kemudian adalah suara Kiai Gringsing. Kiai Gringsing senang mendengar kejujuran sikap Sumangkar, sehingga menyahut “Kau benar-benar murid kedua perguruan Kedung Jati yang perkasa. Aku terpaksa tertawa mendengar pengakuanmu. Dan aku akan mencoba memenuhinya. Duduk disini sambil melihat kalian berkelahi”
“Gila!” teriak Ki Tambak Wedi, namun suaranya segera tenggelam dalam kata-kata Sumangkar “Silakan Kiai, silakan. Kiai akan dapat menilai, sampai sejauh mana ekmungkinan yang ada dikedua belah pihak. Dan kira-kira Kiai akan lebih senang melawan pihak yang mana? Bukankah dengan demikian Kiai dapat berbuat sesuatu?”
Kembali Kiai Gringsing tertawa, jawabnya “Tidak, aku tidak berpihak. Aku tidak akan berpihak pada yang lemah untuk nanti mendapatkan lawan yang lemah itu”
Sumangkar tertawa pendek. Sekali ia harus meloncat kesamping untuk menghindari sambaran tangan Ki Tambak Wedi. Namun ia harus segera menggeliat pula, ketika dilihatnya pedang Sidanti menjulur mematuk lambungnya. Namun ketika Ki Tambak Wedi akan menyerangnya kembali, segera Sumangkar meloncat dan memutar golok ditangannya. Ia tidak perlu memperhatikan Sidanti lagi, karena dengan serta-merta, tongkat Macan Kepatihan menyambar lengan anak muda itu, sehingga ia terpaksa meloncat surut.
Namun dalam pada itu, timbullah banyak pertimbangan dikepala Tohpati. Seandainya perkelahian itu dibiarkannya berjalan dalam keseimbangan, maka semalam suntuk mereka pasti tidak akan menemukan penyelesaian. Bahkan mungkin pada saat-saat mereka hampir mati kekelahan, pada saat itulah Kiai Gringsing baru tampil ke gelanggang.
Karena itu, maka segera timbul banyak pertimbangan dikepala Macan Kepatihan. Ia sendiri tidak yakin, apakah yang dapat dilakukan oleh Kiai Gringsing. Apakah ia akan berpihak ataukah ia akan melawan segala pihak. Namun keadaannya pasti akan menjadi paling baik. Seperti tantangan Sumangkar, Kiai Gringsing dapat berpihak yang dianggapnya paling lemah untuk membinasakan yang kuat, supaya apabila kemudian terpaksa bagi Kiai Gringsing untuk bertempur, maka musuhnya adalah pihak yang lemah. Namun agaknya permusuhan telah terjadi antara Kiai Gringsing dan Ki Tambak Wedi seperti halnya murid-muridnya dikedua belah pihak. Apakah permusuhan itulah yang menyebabkan Sidanti meninggalkan Sangkal Putung? Sekali-sekali terlintas juga didalam benaknya untuk melawan saja Kiai Gringsing bersama muridnya itu bersama-sama dengan Sidanti dan gurunya dalam satu gabungan kekuatan, maka pasti Kiai Gringsing dapat dikalahkan. Namun kemudian Tohpati itu menjadi ragu-ragu pula. Meskipun hatinya cenderung berbuat demikian. Sebab apabila yang tinggal adalah mereka berempat, maka kekuatan mereka pasti akan tetap seimbang.
Dalam keragu-raguan itu tiba-tiba Tohpati mendengar tawaran Ki Tambak Wedi yang agaknya mempunyai pikiran yang sama, sehingga tawaran itu benar-benar mengejutkan Macan Kepatihan “He, angger Tohpati yang perwira. Orang baru itu adalah musuhku bebuyutan. Sedangkan apa yang kita lakukan adalah suatu permainan yang tidak berarti apa-apa. karena itu, apakah tidak sebaiknya kita hentikan permainan ini, dan kita binasakan saja lawan kita yang berbahaya itu bersama-sama. Kemudian baiklah permainan ini kita lanjutkan kembali?”
Tohpati mengerutkan keningnya. Semula ia tidak yakin akan tawaran Ki Tambak Wedi, namun kemudian tampaklah serangan-serangan Ki Tambak Wedi mengendor, sehingga Tohpati menjadi ragu-ragu dan bertanya “Apakah pertimbanganmu?”
Ki Tambak Wedi tertawa, jawabnya “Sebenarnyalah kita sudah dapat mengetahui keadaan kita masing-masing. Juga Kiai Gringsing itu pasti tahu, kenapa kita akan menyatukan kekuatan kita. Bukankah dengan demikian kita akan dapat meneruskan permainan ini tanpa terganggu dan tanpa menunggu kemungkinan yang paling buruk? Membiarkan Kiai Gringsing menunggu kita masing-masing mati kelelahan?”
Sekali lagi Tohpati dilanda oleh keragu-raguan. Sementara itu, Swandaru dan Agung Sedayu yang mendengar tawaran Ki Tambak Wedi itu segera meraba hulu pedang masing-masing. Tanpa berpikir akibat yang akan terjadi maka tiba-tiba Swandaru tertawa sambil berkata “Kiai, kita akan mendapat latihan yang baik”Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Swandaru dan Agung Sedayu berganti-ganti. Tiba-tiba ia menjadi cemas. Mungkin Agung Sedayu dapat mempertahankan dirinya melawan Sidanti atau Tohpati sekalipun dalam taraf kekuatannya kini setelah ia maju dengan pesatnya.