Diberinya anak-anak muda itu petunjuk-petunjuk bagaimana mereka harus membuat lingkaran-lingkaran dengan kapur ditengah-tengah lapangan kecil itu. Bagaimana mereka membuat garis batas bagi sodoran yang akan diselenggarakan pula.
Semuanya dibuat dengan tergesa-gesa. Namun justru karena itu anak-anak muda Sangkal Putung menjadi sangat gembira. Sehari-harian mereka bekerja tampa mengenal lelah. Apalagi mereka yang besok akan ikut bertanding. Tetapi justru karena itu pula beberapa anak buah Widura yang ditugaskan membantu penyelenggaraan itu mengumpat tak habis-habisnya. Mereka lebih senang bertempur daripada merentang-rentang tali dipanas yang terik, membuat pagar dan garis-garis batas, membuat orang-orangan untuk lomba memanah. Dan masih terlalu banyak yang harus mereka kerjakan.
Namun betapa sibuknya mereka, Sidanti sama sekali tidak mau turun dari pendapa. Apalagi membantu mereka. Bahkan hampir sehari-harian ia berbaring. Kadang-kadang ia tersenyum- senyum sendiri sambil bergumam “Alangkah bodohnya orang-orang itu. Mereka bekerja keras mempersiapkan arena. Besok akulah yang akan mendapat tepuk sorak dari penonton”
Meskipun demikian, Sidanti menjadi agak kecewa pula. Setelah ia mendengar bahwa bagi mereka hanya diadakan satu macam perlombaan saja. Memanah. Yang lain tidak.
“Biarlah” katanya dalam hati. “Akupun jemu pada permainan anak-anak itu. Tetapi memanah adalah permainan yang mengasyikkan”
Demikianlah hari itu telah dilampaui oleh anak-anak Sangkal Putung dengan penuh kesibukan. Bahkan sampai pada malam harinyapun mereka hampir tidak dapat tidur. Mereka sibuk dengan berbagai persoalan didalam angan-angannya. Sedangkan mereka yang besok akan turun kearena, masih mencoba untk menambah ketrampilannya.
Meskipun demikian, Widura tidak kehilangan kewaspadaan. Dibiarkannya anak-anak Sangkal Putung sibuk dengan persoalannya. Namun Widura tetap menempatkan orang-orangnya disegenap penjuru. Ia tidak mau dengan tiba-tiba ditelan begitu saja oleh laskar Tohpati. Karena itu, setiap saat ia tetap pada kesiapsiagaan yang sebenarnya. Bukan sekedar bersiap untuk mengadakan perlombaan-perlombaan semacam itu. Karena itu, maka malam itupun Widura telah bersiap untk berkeliling kademangan. Kali ini ia tidak berjalan bersama Sidanti, tetapi kembali ia pergi dengan Agung Sedayu.
Agung Sedayu tidak pernah mengetahui apa yang telah terjadi dengan pamannya. Dan ia tidak tahu pula, mengapa semalam pamannya membawa Sidanti serta, dan kini ia harus ikut pula kembali seperti malam-malam sebelumnya.
Seperti biasanya, setelah mereka berkeliling disemua gardu-gardu perondan, maka mereka berdua pergi ketempat mereka berlatih, gunung Gowok. Disepanjang perjalanan itu, hampir tak ada yang mereka percakapkan. Widura tidak memberitahukan apa saya yang pernah terjadi, dan Sedayu tidak mau menyatakan pertanyaan-pertanyaan yang bergelut didalam dadanya.
Namun kemudian, ketika mereka hampir sampai kepuntuk kecil itu, terdengar Widura berkata “Sedayu, apakah kau tidak ingin ikut serta berlomba?”
Agung Sedayu tidak segera menjawab. terjadilah suatu kesibukan didalam dadanya. Ia merasa, bahwa iapun mampu untuk melepaskan panah hampir dalam keadaan yang tak mungkin dilakukan oleh orang lain. Namun, sekali lagi Sedayu terpaksa menggigit bibirnya. Ia belum berhasil melampaui dinding yan memagari jiwanya. Alangkah kerdilnya. Ia takut, kalau ia tidak dapat melakukan dengan pantas, sehingga orang-orang di Sangkal Putung akan kecewa terhadapnya. Ia takut bahwa orang-orang itu akhirnya mengetahui tentang dirinya. Bahwa ia tidak lebih dari seorang pengecut. Karena kebimbangan dan kecemasan yang bercampur baur didalam dadanya, Sedayu masih tetap berdiam diri.
“Sedayu” akhirnya terdengar pamannya berkata “Aku telah mencegah dilakukannya perlombaan-perlombaan segala macam jenis. Aku mencoba untuk menghindarkan setiap persoalan yang akan mempertajam ketegangan dan prasangka diantara anak buahku. Selain itu, aku telah menghindarkan kemungkinan, bahwa orang-orang Sangkal Putung dan anak buahku mengharap suatu pertandingan yang dahsyat antara Sidanti dan adik Untara yang mereka bangga-banggakan.” Widura terdiam sesaat. Ketika ia berpaling, dilihatnya Agung Sedayu berjalan sambil menekurkan kepalanya. Kata-kata pamannya itu benar-benar telah menampar jantungnya. Kalau benar-benar terjadi, bagaimanakah sikap yang akan diambilnya. Apakah ia akan melawan Sidanti? Alangkah mengerikan. Sidanti adalah seorang anak muda yang perkasa, yang telah mampu melawan Tohpati meskipun tidak sempurna. Karena itu, meskipun dengan rotan sebesar ibu jari kaku, atau dengan tongkat berujung bola rotan, Sidanti itu akan dapat membunuhnya. Dan ia akan mati terkapar ditengah arena, diiringi dengan teriakan dan umpatan-umpatan penuh kekecewaan atas dirinya.
Tiba-tiba bulu kuduk Sedayu berdiri. Dan tiba-tiba pula ia menjawab “aku tidak ikut dalam perlombaan apapun paman”
Widuralah yang kini terdiam. Kalau Agung Sedayu itu sama sekali tidak turut, maka akan timbullah berbagai pertanyaan diantara anak buahnya. Karena itu ia berkata “Sedayu, bukankah kau masih pandai melepaskan panah?”
Mendengar pertanyaan pamannya itu sekali lagi Agung Sedayu terdiam. Sehingga terdengar Widura mendesaknya “Sedayu, bukankah kau masih pandai memanah? Mungkin kau dapat ikut dalam perlombaan itu sehingga kau akan dapat memenangkannya”
Berbagai persoalan kini saling mendesak didalam dada Agung Sedayu. Apakah sebenarnya yang ditakutinya dalam perlombaan memanah? Kalah atau menang, maka ia tak akan menderita sakit karenanya. Namun tiba-tiba Agung Sedayu itu menjadi ngeri membayangkan akibat dari perlombaan itu. Kalau ia kalah, maka orang akan sangat kecewa kepadanya, namun apabila ia memenangkan perlombaan itu dan mengalahkan Sidanti, maka jangan-jangan anak muda yang perkasa itu mendendamnya.
Karena itu akhirnya Agung Sedayu menjawab “Aku tidak ikut paman”
“He” Widura menjadi semakin tidak mengerti. “Perlombaan memanahpun kau tidak berani?”
“Aku sedang berpikir tentang akibatnya. Kalau aku menang atas Sidanti, maka jangan-jangan Sidanti menjadi semakin bersakit hati” jawab Sedayu.
“Hem” terdengar Widura menggeram. Hampir ia tidak dapat menahan kejengkelannya. Seandainya ia tidak mengingat bahwa anak itu adalah anak kakaknya perempuan, maka Sedayu pasti sudah dipukulnya dan dipaksanya untuk berbuat sesuatu. Atau malahan sudah dipaksanya untuk bertempur melawan Sidanti. Atau anak itu telah lama diusirnya dari Sangkal Putung. Tetapi apa boleh buat. Namun anak itu benar-benar telah memusingkan kepalanya, meskipun kali ini alasannya bisa juga dimengerti.
Akhirnya mereka sampai juga digunung Gowok. Dengan penuh kejengkelan Widura membawa Agung Sedayu dalam satu latihan. Karena itu maka apa yang dilakukan Widura, hampir merupakan pertempuran yang sebenarnya.
Tetapi alangkah bodohnya Sedayu. Ia tidak dapat mengerti hati pamannya, sehingga ia tidak menyangka bahwa pamannya kali ini ingin mencobanya, supaya sekali-sekali ia mengalami suatu keadaan seperti yang harus dialami oleh setiap laki-laki. Sedayu hanya menganggap bahwa pamannya telah menuntunnya dalam suatu tingkatan yang lebih maju dari yang biasa dilakukannya. Maka karena ia takut bahwa pamannya akan marah kepadanya, seandainya ilmunya tidak maju-maju juga, maka Agung Sedayu itupun kemudian mencoba melayani pamannya dengan sepenuh tenaga pula.
Demikianlah maka Widura melepaskan kejengkelan hatinya pada latihan itu. Serangannya datang bertubi-tubi. Ia ingin melihat apa yang dilakukan Agung Sedayu, apabila tubuhnya benar-benar terkena oleh serangannya.
Tetapi sekali lagi Widura itu mengumpat tak habis-habisnya didalam hatinya. Demikian ia memperketat serangannya, maka pertahanan Agung Sedayupun mejadi semakin rapat. Bahkan untuk menyenangkan hati pamannya, sekali-sekali Sedayu berhasil menyerangnya pula dengan serangan-serangan yang kadang-kadang membingungkannya. Dalam keadaan yang demikian itu, maka Agung Sedayupun telah memeras hampir segenap kemampuannya. Kemampuan yang pernah dipelajarinya dari kakaknya, dari ayahnya dan dari pamannya itu. Sebenarnyalah Agung Sedayu bukanlah seorang anak yang kerdil dalam ilmunya, seperti kekerdilan jiwanya. Semakin keras serangan-serangan yang dilancarkan oleh pamannya itu, semakin heranlah dada Widura dibuatnya. Betapa serasinya Agung Sedayu memadukan unsur-unsur gerak yang diwarisi dari Ki Sadewa lewat kakaknya, lewat ayahnya itu sendiri atau lewat dirinya dengan unsur-unsur gerak yang pernah dilihatnya dan dihayatinya dalam latihan-latihan melawan Kiai Gringsing di gunung Gowok itu.
“Aneh” berkata Widura didalam hatinya. “Kalau hati anak ini sebesar hati kakaknya, bukankah ilmunya tidak terpaut banyak dari ilmu yang aku miliki?”
Namun Widura itu tidak berkata apapun. Dipercepatnya setiap geraknya dan bahkan kini Widura telah sampai kepada puncak ilmunya. Namun Sedayu itu masih melawannya dengan gigih. Bahkan kadang-kadang anak muda itu mampu melakukan hal-hal yang tak pernah dimengertinya sebelumnya.
Selain dari geraknya yang cepat dan cekatan, ternyata tenaga Agung Sedayupun cukup kuat pula. Apabila sekali-sekali terjadi benturan diantaranya, maka terasa juga tubuh pamannya itu bergetar. Bahkan apabila serangan-serangan Widura itu berhasil mengenainya, maka Sedayu itupun hanya berdesis, namun kemudian seakan-akan anak muda itu tak merasakan sesuatu.
Dan ia mampu untuk bergerak kembali dengan lincahnya, selincah burung seriti menangkap mangsanya diudara.
Namun betapa Agung Sedayu berjuang mempertahankan dirinya, tetapi Widura memiliki pengalaman yang jauh lebih besar daripadanya. Sehingga lambat laun, terasa juga tekanan-tekanan Widura menjadi semakin mendesak. Tangan Widura itu semakin lama menjadi semakin sering menyentuh tubuhnya. Meskipun tidak ditempat-tempat yang berbahaya, namun sentuhan-sentuhan itu terasa sakit-sakit juga.
Widura melihat keadaan itu. Justru Karena itu ia memperkuat serangannya. Ia ingin tahu, batas tertinggi dari ilmu kemenakannya.
Tiba-tiba latihan yang keras itupun terganggu. Dari atas puntuk kecil itu, Widura dan Agung Sedayu mendengar suara tertawa dengan nada yang tinggi. Segera mereka mengenal suara itu, suara Kiai Gringsing. Bahkan kemudian Kiai Gringsing itu tidak saja tertawa, tetapi ia kini bertepuk tangan sambil memuji “Bagus Sedayu, ternyata muridmu itu menjadi bertambah terampil juga akhirnya”
Gerak Widura itupun kemudian terganggu. Karena itu maka kemudian ia melontar mundur sambil berkata “Sudahlah Sedayu, kita hentikan dahulu latihan ini”
Mendengar kata-kata pamannya itu, Agung Sedayu menjadi bergembira. Sebenarnya telah agak lama ia menahan diri supaya ia tidak mengecewakan pamannya itu.
Dengan demikian latihan yang berlangsung dengan serunya itu terhenti. Dengan menganggukkan kepalanya Widura berkata kepada Kiai Gringsing “Selamat malam Kiai”
“Kenapa latihan ini berhenti?” kata Kiai Gringsing tanpa menghiraukan sapa Widura.
Widura menarik nafas. Jawabnya “Latihan ini telah berlangsung lama. Kami telah sama-sama lelah”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya “Syukurlah kalau kau selalu tekun dengan latihan-latihan itu Widura. Mudah-mudahan pada suatu saat kau dapat menandingi Topati”
“Mudah-mudahan Kiai” sahut Widura. Tetapi Widura itu kemudian terkejut bukan buatan ketika Kiai Gringsing itu berkata “Ternyata Tohpati itu benar-benar seperti hantu. Baru saja aku melihat ia berjalan mendekat tikungan disebelah”
“He” bertanya Widura tersentak “Adakah Kiai melihatnya ditikungan itu?”
Kiai Gringsing mengangguk “Ya” jawabnya. “Ia berjalan bersama dua orang pengawalnya”
“Jadi apakah mereka melihat kita berlatih disini?” bertanya Widura pula.
“Aku kita tidak” sahut Kiai Gringsing “Kalau demikian barangkali kalian telah menjadi mayat dibawah gunung Gowok ini”
“Hem” Widura menarik nafas dalam-dalam. “Setan itu benar-benar berbahaya’
Dalam pada itu Widura menjadi gelisah karenanya. Kedatangan Tohpati benar-benar berbahaya. Ia akan dapat mendatangi setiap gardu dan membunuh segenap isinya. Namun apabila demikian, maka pasti telah didengarnya tanda bahaya. Tetapi agaknya Tohpati itu hanya sekedar lewat, dan ingin mengetahui keadaan Sangkal Putung. Tiba-tiba ia menjadi berdebar-debar karenanya. Mungkin Tohpati telah mendengar tentang perlombaan yang akan diadakan besok “Gila” Widura mengumpat didalam hatinya. “Aku telah melakukan hal-hal yang aku sangka baik sekali. Aku hanya memberi waktu persiapan penyelenggaraan satu hari saja, supaya kabar ini tidak tersiar jauh. Namun agaknya hantu itu telah mendengarnya pula”. Kembali berbagai persoalan telah menyesakkan dada Widura. persoalan antara laskarnya dengan laskar Tohpati, persoalan antara orang-orangnya sendiri, persoalan Sidanti dan gurunya Ki Tambak Wedi, hubungan yang menyedihkan antara Sidanti dan Sedayu. Dan segala macam persoalan itu setiap kali memukul-mukul otaknya sehingga kepalanya itu akan pecah karenanya. Dan kini Tohpati itu telah siap untuk menerkamnya.
Dalam kegelisahannya itu Widura hampir tak dapat menahan diri ketika ia mendengar Sedayu berkata dengan gemetar “Paman, marilah kita kembali kekademangan”
“Kenapa?” bentak Widura.
Ketika ia berpaling, ia melihat betapa sikap Agung Sedayu menjadi sangat gelisah. Tetapi Widura itu tahu benar, bahwa anak itu sama sekali tidak gelisah memikirkan Sangkal Putung seperti dirinya, namun anak itu menjadi gelisah karena ketakutan. Widura itu menjadi marah ketika ia mendengar Agung Sedayu berkata dengan jujur “Paman, apakah yang akan terjadi dengan kita kalau Macan Kepatihan itu nanti mengetahui kehadiran kita disini?”
“Persetan dengan Macan Kepatihan” sahut Widura. Namun kata-kata Widura itu terputus oleh kata-kata Kiai Gringsing “Widura, jangan terlalu sombong. Gurumu itu tahu benar tingkatan ilmumu. Kau belum waktunya melawan Tohpati seorang lawan seorang, kalau kau tidak mau membunuh diri. Nasehatnya itu harus kau turut. Sikap berhati-hati itulah yang akan membawamu kejalan keselamatan”
“Aku bukan pengecut” teriak Widura. “Aku akan berkeliling kademangan sekali lagi. Aku akan memeringatkan setiap gardu peronda, bahwa bahaya berada diujung hidung mereka”
Dada Sedayu itu menjadi semakin bergetar. Pamannya akan mengadakan pengamatan sekali lagi atas gardu-gardu peronda. Bukankah dengan demikian kemungkinannya untuk bertemu dengan Tohpati itu semakin besar. Disudut-sudut desa, di prapatan-prapatan ditengah sawah, atau ditikungan-tikungan yang sepi. Namun ia melihat bahwa pamannya menjadi marah kepadanya. Karena itu betapa Agung Sedayu mengeluh didalam hatinya.
Yang kemudian terdengar adalah kata-kata Kiai Gringsing sambil tertawa “He kau benar-benar berani Widura, seperti kau berani menentang maut melawan Ki Tambak Wedi”
Tiba-tiba pandangan mata Widura itupun terbanting diatas rerumputan liar dibawah kakinya. Teringatlah ia kepada pertolongan yang pernah diberikan oleh Kiai Gringsing malam kemarin. Kini orang yang menolongnya itu memeringatkannya, supaya ia tidak melawan Tohpati itu seorang lawan seorang. Karena itu ia menyesal atas kekasarannya. Maka katanya ke sambil menganggukkan kepalanya “Maafkan aku Kiai”
“He” sahut Kiai Gringsing. “Kenapa kepadaku. Seharusnya kau minta maaf kepada gurumu itu”
Sekali lagi Widura mengumpat didalam hatinya. Namun katanya “Ya ya. Aku akan minta maaf kepadanya”
“Bagus” berkata Kiai Gringsing. “Kau harus selalu menuruti nasehat gurumu. Dirumah, gurumu pasti akan memberimu beberapa petunjuk, mungkin tentang persiapan Tohpati itu. Mungkin tentang hal yang lain. Namun adalah perlu kau dengar seandainya gurumu itu memerintahkan kepadamu untuk mempersiapkan diri. Seluruh pasukan. Bukan seorang Widura yang sombong. Serangan itu tidak terlalu lama akan terjadi. Tetapi Tohpati itu tak akan berbuat apa-apa malam ini. Nah, selamat malam. Aku tidak sempat bermain-main malam ini. Besok aku akan nonton perlombaan yang kau adakan”
Dada Widura berdesir mendengar kata-kata Kiai Gringsing. Namun ia tidak mendapat kesempatan lagi untuk menanyakan sesuatu. Karena Kiai Gringsing itu kemudian melangkah pergi dengan langkah seenaknya meninggalkan Widura dan Agung Sedayu yang terpaku ditempatnya.
Tetapi, tergoreslah didalam jantungnya, peristiwa-peristiwa yang pasti akan menggoncangkan lagi kehidupan Sangkal Putung. Besok atau lusa Tohpati akan menyerangnya kembali. Apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu tidak lebih dan tidak kurang dari suatu peringatan kepadanya dan pemberitahuan tentang persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Tohpati. Namun ia tidak perlu mencemaskan hari besok. Kata-kata orang bertopeng itu, bahwa besok ia akan menonton perlombaan yang akan diadakannya, telah agak memberinya ketenangan, meskipun ia tidak dapat menggantungkan nasibnya kepada orang itu. Mudah-mudahn ia masih berhasil menghimpun kekuatan Sangkal Putung, yang setidak-tidaknya masih seperti pada saat perlawanannya dahulu ketika Tohpati menyerangnya. Mudah-mudahn tenaga Sidanti masih dapat dipergunakannya sebaik-baiknya. Tetapi bagaimana dengan besok lusa, tiga hari, empat hari dan lebih-lebih lima hari lagi? Bagaimanakah nasib Sangkal Putung apabila Tohpati menyerang tepat pada saat Ki Tambak Wedi memuntutnya? Widura menggeleng-gelengkan kepalanya ketika terlintas didalam benaknya, harapan bahwa Kiai Gringsing akan menolongnya kembali apabila Ki Tambak Wedi akan membunuhnya. “Tidak” katanya dalam hati. “Aku tidak akan memperhitungkan setiap pertolongan yang belum pasti akan datang. Aku harus memperhitungkan kekuatan sendiri” katanya pula. Bahkan kemudian timbullah didalam benaknya suatu pikiran untuk mengirimkan utusan ke Pajang. Keadaan Sangkal Putung benar-benar gawat. Biarlah salah seorang perwira yang terpercaya akan datang untuk melawan Tohpati lebih-lebih Ki Tambak Wedi. “Hem” gumamnya “Apabila besok aku belum menemukan cara lain, biarlah seseorang mengharap kedatangan Ki Gede Pemanahan sendiri menyelesaikan persoalan Ki Tambak Wedi, atau bekas perwira nara manggala Demak, guru loring pasar.”
Widura menarik nafas dalam-dalam. Itulah keputusannya untuk sementara. Ketika ia memandang wajah Sedayu, timbullah kembali kejengkelannya terhadap anak itu. Apabila anak itu memiliki keberanian, mereka berdua pasti akan dapat membunuh Tohpati meskipun dengan perjuangan yang berat. Sebab ilmu Tohpati itu sendiri tidak terpaut banyak diatas ilmunya. Namun Sedayu itu hanya pandai mengeluh, gemetar dan ia pasti akan mati ketakutan sebelum tangannya mampu menarik pedang dari sarungnya.
Karena itu Widura tidak berkata sepatahpun kepada kemenakannya itu. Langsung ia memutar tubuhnya dan melangkah kembali kekademangan.
Sedayupun kemudian cepat-cepat mengikutinya. Namun kini terasa olehnya bahwa pamannya itu benar-benar marah kepadanya. Karena itu maka Sedayupun benar-benar menjadi bersedih hati. Ia tidak berani berkata apapun kepada pamannya selain berjalan saja dibelakangnya.
Disepanjang jalan itu Widura sempat juga memikirkan kemenakannya itu. Bagaimana caranya, sehingga ia dapat menguasai berbagai unsur gerak dan dapat menyusunnya dalam satu gabungan yang serasi. Anak itu tidak pernah berbuat sesuatu selain duduk terpekur dan bermain-main dengan rontal dan pensil. Tak pernah dilihatnya Agung Sedayu berlatih didalam pringgitan yang tak begitu luas itu. Dan tak pernah dilihatnya Agung Sedayu meninggalkan pringgitan selain apabila ia pergi mandi dan sesuci diri. Namun ia tidak mau menanyakannya. Ia hanya ingin mencari pemecahan dengan caranya sendiri atas teka teki itu.
Demikian mereka sampai dikademangan, Widura langsung melepaskan pakaiannya dan merebahkan dirinya dipembaringannya. Tak sepatah katapun yang diucapkan kepada Agung Sedayu sehingga Agung Sedayu itupun menjadi semakin bersedih. Sekali-sekali ia sempat juga untuk menilai diri. Dan kadang-kadang timbul juga pikiran dikepalanya untuk besok mengikuti pertandingan memanah. “Paman marah karena aku tak ikut serta” katanya dalam hati. “atau karena hal-hal yang lain, atau karena keseluruhannya”. Namun ia kembali menjadi ngeri membayangkan akibat dari perlombaan itu. “Ah” katanya dalam hati pula “Biarlah paman marah kepadaku. Ia tidak akan berbuat apa-apa selain berdiam diri. Tetapi akan berbedalah sikap Sidanti itu”
Sedayupun kemudian mencoba melupakan semua itu. Karena kelelahan akhirnya iapun tertidur pula dengan nyenyaknya.
Sebenarnya Widura belum juga tertidur. Ia berdiam diri, dan memang ia munggu kemenakannya tertidur. Ia ingin tahu apa saja yang ditulis oleh Sedayu dalam rontal-rontalnya. Apakah ada hubungannya dengan kemajuan ilmunya yang pesat itu. Perlahan-lahan Widura itu bangun, dan perlahan-lahan pula ia membuka beberapa pakaian Sedayu yang diberikannya olehnya. Didalam lipatan-lipatan pakaian itu ditemuinya beberapa helai rontal yang pernah diminta oleh anak itu daripadanya.
Demikian Widura membuka halaman pertama dari rontal itu, demikian dadanya bergetar “Inilah sebabnya” gumamnya seorang diri. Kini ia tahu benar, mengapa Agung Sedayu dapat maju dengan cepatnya. Otak anak itu ternyata cerdas pula dalam penelaahan ilmu tata bela diri. Didalam tubuhnya ternyata tersimpan pula darah ayahnya yang menyalakan keteguhan dan ketrampilan jasmaniah. Namun, sayang betapa sayangnya. Hati anak itu belum terbuka. Dinding yang mencengkam dirinya dalam bilik ketakutan belum dapat dipecahkannya.
Jadi apa yang dilakukan oleh Sedayu selama ini, sama sekali tidak menulis cerita-cerita atau tembang dan kidung. Tetapi ia telah melukiskan beberapa unsur gerak. Mencobanya menggabungkan unsur yang satu dengan yang lain, dan mencoba melukiskan pula cara-cara untuk mempertahankan diri dan mengelak dari serangan-serangan yang keras.
Didalam rontal-rotal itu Widura melihat beberapa gambar dengan garis-garis arah dari setiap gerakan. Digambarnya beberapa macam unsur gerak, kemudian digambarnya dibelakang gambar-gambar itu, sebuah gambar yang lain dengan garis-garis arah untuk menggabungkan gambar-gambar yang terdahulu.
“Hem” Widura menarik nafas dalam-dalam “Ternyata anak ini melatih diri dengan angan-angannya selain latihan-latihan yang kami adakan di gunung Gowok. Itulah sebabnya aku sering melihat unsur-unsur gerak yang tak aku ketahui darimana dipelajarinya”
Dan Widura itu tak jemu-jemunya melihat gambar-gambar yang dibuat oleh Agung Sedayu. Suatu cara memperdalam ilmu yang jarang ditemuinya. Namun ternyata Agung Sedayu pandai juga menggambar. Gambar-gambar yang dibuatnya ternyata sedemikian jelas. Sikap, gerak dan tujuan-tujuan dari setiap gerakan sekaligus cara-cara untuk menghindarkannya.
Tetapi suatu hal yang tak dapat dilakukan oleh Agung Sedayu. Yaitu melatih untuk percaya pada kekuatan dan ilmunya. Betapapun Agung Sedayu mengalami kemajuan yang pesat, namun ilmu itu seakan-akan pohon yang subur namun tak berbuah.
Tiba-tiba timbullah pikiran didalam benak Widura. katanya dalam hati “Ah, biarlah pada suatu kali, anak ini mengalami pertentangan yang tak dapat dihindari dengan Sidanti. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukan. Tetapi apabila sekali Agung Sedayu sempat mengayunkan tangan atau kakinya, maka untuk melawan Sidanti itupun Agung Sedayu akan dapat bertahan beberapa lama sampai saatnya aku memisahkannya. Namun dengan demikian, setidak-tidaknya perkelahian itu akan berkesan bahwa keduanya memiliki ilmu yang seimbang. Ternyata gerak dan cara bertahan anak ini mengagumkan juga. Apabila demikian, seterusnya Agung Sedayu akan menjadi seorang yang jantan dan berani”
Kemudian dengan hati-hati pula rontal-rontal itu dimasukkannya kembali ketempatnya. Dan dengan hati-hati pula Widura itu berdiri dan berjalan kepembaringannya, dan sesaat kemudian pemimpin laskar Pajang yang sedang kebingungan itu tertidur pula.
Malam yang tinggal sepotong itu berjalan dengan tenangnya. Tohpati yang benar-benar telah menyusup kedalam dinding perondan laskar Pajang, sebenarnyalah tidak berbuat sesuatu selain keinginannya untuk mengetahui keadaan. Namun Macan Kepatihan itupun mengumpat di dalam hatinya seperti Widura mengumpatinya. Katanya kepada kedua pengawalnya “Paman Widura benar-benar seperti setan. Dalam keadaan apapun peronda-perondanya tak pernah berlengah hati. Apakah mereka tidak terpengaruh oleh perlombaan yang akan diadakan besok? Sayang, aku baru mendengar rencana perlombaan itu senja tadi, sehingga aku tak sempat menyiapkan anak buahku. Seandainya aku mendapat waktu dua tiga hari saja, maka pada saat-saat perlombaan itu aku akan dapat menggulungnya lumat-lumat.
Kedua pengawalnya tak dapat menjawab lain daripada menganggukkan kepala mereka. Sebab dengan mata kepala mereka sendiri melihat dari kejauhan kesiagaan laskar Pajang yang sedang bertugas di gardu-gardu peronda. Mereka melihat beberapa orang dari mereka berjalan hilir mudik dimuka gardu sambil memegang tombak atau pedang-pedang mereka yang sudah telanjang.
“Tetapi” berkata Tohpati kemudian kepada pengawalnya “mudah-mudahan setelah perlombaan itu berakhir, laskar Sangkal Putung masih tenggelam dalam suasana itu, sehingga meskipun sedikit mereka melupakan tugas-tugas mereka sehari-hari. Mudah-mudahan mereka tidak mencium gerakanku kali ini seperti beberapa waktu yang lalu sehingga aku menjumpai kegagalan yang menyedihkan.
“Persiapan kita akan sangat mudah sekali diketahui orang, sehingga petugas-petugas sandi Pajang segera menciumnya” berkata salah seorang pengawalnya.
“Kita akan meninggalkan cara-cara yang pernah kita lakukan “ jawab Tohpati “aku akan membawa kalian dan orang-orang kita masuk ke dalam hutan. Semua kekuatan yang terpencar harus kita tarik. Semuanya akan berkumpul di dalam hutan yang akan aku tentukan. Dari sana kita akan bergerak. Mudah-mudahan tak seorangpun yang mengetahuinya, kecuali diantara kita ada pengkhianat atau justru orang-orang dari petugas-petugas sandi Pajang yang berhasil masuk kedalam lingkungan kita.”
“Kemungkinan itu kecil sekali” sahut pengawalnya.
“Kau benar” berkata Tohpati pula. “Alu mengenal anak buahku satu per satu dengan baiknya. Nah, kalau demikian, aku akan berbuat seperti paman Widura. Secepat-cepatnya sebelum laskarnya terpencar kesegenap penjuru”
“Kapan kita adakan sergapan itu?” bertanya pengawalnya.
“Secepatnya” sahut Tohpati.
Kemudian mereka tidak bercakap-cakap lagi. Dengan hati-hati mereka berjalan didaerah perondan laskar Pajang. Bahkan kadang-kadang mereka berhasil menyusup halaman-halaman yang gelap dan mendekati tempat-tempat yang penting serta gardu-gardu perondan. Dengan otak yang cemerlang, Tohpati dapat mengingat-ingat daerah-daerah yang sepi, yang dapat dilaluinya untuk langsung mencapai jantung Sangkal Putung, meskipun masih diragukan apabila Tohpati berjalan bersama dengan orang-orangnya dalam jumlah yang besar.Namun Tohpati itu selalu mengulang-ulang rencananya. Dan ini adalah kesalahan yang terbesar yang dibuatnya. (bersambung)
Rabu, 13 Februari 2008
Jumat, 08 Februari 2008
Api di Bukit Menoreh 20

Widura benar-benar menjadi kecewa ketika tiba-tiba Kiai Gringsing itu tertawa. Katanya “Kau benar bodoh Widura. Bukankah di Sangkal Putung ada gurumu. Nah katakan kepadanya kesulitan-kesulitanmu itu. Jangan kau katakan kepadaku”
“Tetapi bukankah Kiai bertanya?” potong Widura.
“Marilah kita tidak mempersoalkan lagi tentang hal-hal yang mengerikan. Aku takut mendengar perkara-perkara pembunuhan. Sekarang coba, apakah kau dapat membunyikan cambuk itu”
Sekali lagi Widura menarik nafas panjang. Panjang sekali. Ditatapnya wajah yang bersembunyi dibalik topeng itu. Namun yang tampak baginya tidak lebih dari wajah mayat dari kayu yang menyelubungi wajah Kiai Gringsing itu.
Widura mengangkat alisnya ketika iapun mendengar orang bertopeng itu menarik nafas dalam-dalam. Namun hanya sesaat. Yang kemudian terdengar adalah kata-kata orang bertopeng itu pula “Nah, cobalah”
Widura tidak dapat berbuat lain daripada mencoba membunyikan cambuk itu. Dengan satu gerakan menyentak sendal pancing ia mencobanya. Dan terdengarlah sebuah lecutan yang keras, namun hanya sekeras para penggembala membunyikan pecut-pecut mereka.
“Ternyata kau tidak sepandai aku” berkata Kiai Gringsing “Berikan cambuk itu” mintanya.
Dengan hati yang kosong Widura menyerahkan cambuk bambu itu. Dan tiba-tiba sekali lagi menggeletar suara cambuk yang dahsyat. Dan sekali lagi getaran yang dahsyat pula menghantam dada Widura. Untunglah ia segera berhasil memusatkan kekuatan batinnya, sehingga dadanya tidak meledak karenanya. Dengan penuh ketekunan Widura kemudian mencoba menenangkan hatinya. Mencoba meredakan getaran-getaran yang menghentak-hentak jantungnya.
Ketika ia hampir berhasil terdengarlah suara Kiai Gringsing tertawa. Katanya “Jangan marah Widura. Aku hanya bermain-main. Agaknya kau terkejut karenanya”.
Widura yang menjadi jengkel itu tiba-tiba teringat pada besi yang dibawanya. Besi yang hampir menjadi sebuah lingkaran. Karena itu tiba-tiba ia berkata “Kiai, aku juga mempunyai permainan. Apakah Kiai pernah bermain-main dengan lingkaran ini?”
Suara tertawa Kiai Gringsing itupun terputus. Diperhatikannya potongan besi ditangan Widura itu dengan seksama.
Dilihatnya sepotong besi yang melengkung, sehingga kedua ujung dan pangkalnya hampir bertemu.
“Permainan apakah ini?” bertanya Kiai Gringsing.
Widura kemudian memberikan potongan besi itu kepada Kiai Gringsing sambil berkata “Permainan yang dibawa oleh Ki Tambak Wedi”
Kiai Gringsing menerima sepotong besi itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya “Permainan aneh. Bagaimanakah Ki Tambak Wedi itu bermain? Dilemparkan atau diguling-gulingkan?”
Sekali lagi Widura mengumpat didalam hati. Namun Widura pun menyadari, bahwa ada sesuatu yang tersembunyi dibalik sikap Kiai Gringsing yang dibuat-buat itu. Meskipun demikian, ia menjawab “Tidakkah Kiai pernah bermain-main dengan benda-benda yang demikian? Aku sangka orang-orang tua suka bermain-main dengan potongan-potongan besi demikian seperti Ki Tambak Wedi. aku sendiri tidak tahu, apakah yang menyenangkan Ki Tambak Wedi namun ia membuat lingkaran-lingkaran semacam itu”
Kiai Gringsing itupun menggeleng. Jawabnya “Aku tidak pernah bermain-main dengan benda-benda semacam itu. Inilah”
Sekali lagi Widura menjadi kecewa. Ia ingin mengatakan kepada Kiai Gringsing bahwa kekuatan Ki Tambak Wedi itu telah berhasil melengkungkan besi itu. Namun sebelum ia berkata apaun, dilihatnya Kiai Gringsing melemparkan besi itu kearahnya sambil berkata “Terimalah”
Dengan gerak naluriah Widura melangkah kesamping. Potongan besi itu tepat mengarah kemata kakinya. Karena itu ia harus menghindarinya. Namun ketika kemudian ditatapnya potongan besi yang kini tergeletak disampingnya, kembali dadanya bergoncang dahsyat sekali. Ia menjadi lebih terkejut lagi dari pada saat ia melihat besi melengkung itu dilemparkan dibawah kakinya, oleh Ki Tambak Wedi. dengan dada yang bergolak, tanpa sesadarnya Widura memungut potongan besi itu. Dan dengan tangan gemetar ia memeganginya. Namun potongan besi itu kini telah lurus kembali. “Alangkah dahsyatnya!” katanya didalam hati. “Meluruskan potongan besi ini dengan tangan jauh lebih sulit daripada melengkungkannya. Tetapi orang bertopeng itu telah melakukannya”
Sebelum getaran didalam dadanya itu mereda, terdengarlah Kiai Gringsing itu berkata “Nah Widura, kalau kau bertemu sekali lagi dengan Ki Tambak Wedi, tanyakanlah kepadanya. Apakah yang menarik hatinya untuk bermain-main dengan besi-besi semacam itu. Apakah besi-besi semacam itu pulalah yang dipakainya sebagai gelang ditangan atau kakinya? Aku sendiri tidak senang bergelang dan berbinggel dikaki. Apakah bergelang akar atau besi sekalipun”
Kini Widura telah berhasil menenangkan dirinya dari ketakjubannya. Meskipun demikian, kekagumannya kepada orang bertopeng itu menjadi bertambah-tambah. Katanya “Kiai, ternyata Kiai lebih pandai bermain dengan potongan-potongan besi daripada Ki Tambak Wedi”
“He?” orang bertopeng itu terkejut “Apakah aku bermain-main dengan besi itu?”
“Kiai telah berhasil meluruskannya “sahut Widura. “Aku menjadi takjub ketika aku melihat Ki Tambak Wedi dengan tangannya berhasil melengkungkan potongan besi itu. Aku kagum akan kekuatan yang tersimpan didalam tangannya. Tetapi kini, ternyata Kiai dapat pula berbuat demikian. bahkan lebih mentakjubkan lagi. Bukankah meluruskan besi itu lebih sulit dari melengkungkannya?”
Terdengarlah kemudian Kiai Gringsing itu tertawa terkekeh-kekeh. Diantara derai tawanya itu terdengar ia berkata “Kau memuji aku Widura. Aku menjadi senang sekali karenanya. Apakah kau sudah kawin?”
Pertanyaan itu benar-benar tak diduganya. Karena itu Widura menjadi bingung, sehingga Kiai Gringsing itu mendesaknya “He Widura, apakah kau sudah kawin?”
“Sudah Kiai” jawab Widura.
“Sudah punya anak?”
“Sudah Kiai, seorang”
“Sayang” berkata orang bertopeng itu masih dalam derai tertawanya “Kalau belum, kau akan aku ambil untuk menantu meskipun aku tidak punya anak perempuan”
Kembali Widura menarik nafas dalam-dalam sambil mengumpat didalam hati. Namun ia berdiam diri. Dibiarkannya Kiai Gringsing berkata sekehendak hatinya. Namun ia masih dicengkam oleh kekaguman pada orang itu. Orang yang dengan suara lecutan yang dahsyat telah memperpanjang umurnya, dan dengan kedua tangannya, tanpa dilihatnya telah berhasil meluruskan besi yang melengkung itu. “Kalau demikian” katanya dalam hati, “Apakah dugaan Ki Tambak Wedi tidak keliru? Ki Tambak Wedi menanggap bahwa tidak ada orang sakti selain dirinya didaerah ini. Bagaimanakah dengan orang bertopeng ini? Orang yang namanya sama sekali tak dikenal selain olehku dan Agung Sedayu”
Tetapi Widura kemudian terkejut ketika dikejauhan terdengar suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Ketika ia memandang ketimur, membayanglah warna-warna semburat merah diatas garis cakrawala.
“Hampir fajar” desisnya.
Kiai Gringsing itupun menengadahkan wajahnya. kemudian katanya “Ya, hampir fajar. Aku harus segera kembali sebelum terang tanah. Orang akan menyangka aku sebagai penari topeng yang kesiangan”
“Kenapa Kiai pakai topeng?” tiba-tiba saja terluncur pertanyaan itu dari mulut Widura.
Kiai Gringsing tiba-tiba terpaku pula ditempatnya. Diawasinya wajah Widura dengan tajamnya. Namun tanpa menjawab pertanyaan itu, Kiai Gringsing melangkah meninggalkan Widura seorang diri.
Widura mengawasi langkah Kiai Gringsing dengan hati yang berdebar-debar. Tiba-tiba saja keinginannya untuk mengetahui siapakah sebenarnya orang bertopeng itu melonjak-lonjak didalam dadanya. Sehingga tiba-tiba ia meloncat sambil berteriak “Kiai, berhentilah”
Kiai Gringsing itupun berhenti. Ketika ia berpaling, dilihatnya Widura meloncati parit dan berlari kearahnya “Aku ingin tahu, siapakah Kiai sebenarnya”
“Jangan” jawab Kiai Gringsing. “Kelak akan sampai saatnya, kau tahu siapakah aku, sekarang belum”
“Tidak” jawab Widura. “Aku ingin tahu sekarang”
“Jangan” berkata Kiai Gringsing seperti orang yang ketakutan. Ketika ia melihat Widura menjadi semakin dekat, tiba-tiba Kiai Gringsing itupun berlari pula, sambil berkata “Jangan Widura. Kenapa kau masih saja akan menangkap aku?”
Namun Widura tidak memperdulikannya. Bahkan ia semakin mempercepat larinya. Ia benar-benar berusaha untuk dapat menangkap Kiai Gringsing.
Demikianlah maka mereka berdua berlari berkejar-kejaran. Kiai Gringsing itu berlari-lari disepanjang pematang, melingkari gunung Gowok dan berputar-putar. Meskipun demikian, Widura belum berhasil menangkapnya. Bahkan jarak mereka semakin lama menjadi semakin jauh.
Akhirnya, Widura itupun tertegun sendiri. Kiai Gringsing itu seakan-akan lenyap begitu saja, seperti asap dihembus angin. Widura yang terengah-engah itu berdiri tegak seperti patung diatas pematang yang basah. Ketika kemudian disapukannya pandangan matanya berkeliling, dilihatnya dikejauhan, Kiai Gringsing melambaikan cambuknya. Hanya lamat-lamat terdengar suaranya “Besok kita bermain-main lagi digunung kecil itu Widura”
Widura menarik nafas. Tiba-tiba saja ia menjadi geli sendiri atas kelakuannya. Bahkan ia menjadi malu pula. Gumamnya “Gila. Apakah aku telah kejangkitan penyakit Kiai Gringsing itu pula? Untunglah tak seorangpun yang melihatnya”
Widura yang kemudian menyadari keadaannya itu, kini melangkah diatas pematang menuju jalan kembali kekademangan Sangkal Putung. Kadang-kadang ia tersenyum sendiri. Dan berkali-kali iam merasa, bahwa hampir-hampir saja ia kejangkitan penyakit Kiai Gringsing yang aneh itu.
Widura itupun kemudian mempercepat langkahnya. Ia tidak mau kesiangan sampai dikademangan.
Warna-warna merah diujung timur semakin lama menjadi semakin tegas. Ketika Widura menjadi semakin dekat dengan induk desa Sangkal Putung, semakin riuhlah suara kokok ayam jantan yang seakan-akan menyambutnya. Namun Sangkal Putung tampaknya masih lelap dibalik kabut malam yang seakan-akan awan yang keabu-abuan menyelimuti raksasa yang kedinginan.
Widura itupun mempercepat langkahnya. Ia masih harus sembahyang subuh, sebelum melakukan pekerjaannya yang lain. Karena itu, ia harus sampai dikademangan sebelum hari menjadi terang.
Ketika Widura itu hampir sampai diregol halaman kademangan, ia menjadi terkejut. Dalam keremangan embun menjelang fajar, dilihatnya beberapa orang bergerombol dimuka regol itu, lebih banyak dari yang seharusnya.
Dan Widura menjadi berdebar-debar pula, ketika tiba-tiba ia mendengar salah seorang yang melihatnya berteriak “Itulah Ki Widura telah datang”
Widura itupun berjalan semakin cepat pula. Dimuka regol itu dilihatnya Hudaya, Citra Gati, Sonya, Sendawa dan beberapa orang lainnya. Hampir semua dari mereka itu, memegang senjata mereka masing-masing.
“Apa yang terjadi?” bertanya Widura serta-merta.
Citra Gati ituppun kemudian melangkah maju. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia menjawab “Ternyata kami hanya berprasangka”
“Tentang apa” bertanya Widura pula.
Citra Gati berpaling kearah Hudaya. Seakan-akan ia minta pertimbangan sahabatnya itu. Namun Hudaya segera memalingkan wajah kearah lain.
Tampaklah mulut Citra Gati berkumat kamit mengumpati Hudaya. Namun yang kemudian dikatakannya adalah “Kami berprasangka atas Sidanti “
“Kenapa dengan Sidanti?” bertanya Widura pula
Sekali lagi Citra Gati berpaling kearah Hudaya, namun Hudaya masih memandang ke bintang-bintang yang masih bergemerlapan dilangit. Karena itu ia menjawab sendiri “Kami mengetahui bahwa kakang pergi bersama Sidanti, namun kemudian Sidanti itu kembali seorang diri. Ketika ada diantara kami yang menanyakan kepadanya, ia menjawab namun sangat meragukan kami”
Widura itupun menarik nafas dalam-dalam. Dadanya benar-benar berguncang mendengar kata-kata Citra Gati. Ia menjadi berbangga bahwa anak buahnya itu demikian setia kepadanya. Namun ia melihat bahaya yang besar pula yang ada diantara mereka. Bahaya yang setiap saat dapat meledak. Ternyata kawan-kawan Sidanti sudah demikian muaknya kepada anak muda yang sombong itu, sehingga setiap kesempatan, benturan-benturan diantara mereka agaknya sulit untuk dihindarkan. Namun betapapun juga Widura harus memperhitungkan kekuatan dibelakang Sidanti. Ki Tambak Wedi. Kalau sampau terjadi sesuatu atas muridnya itu, maka tidak mustahil Ki Tambak Wedi akan melakukan pembalasan dendam yang mengerikan. Bahkan tidak mustahil bahwa Ki Tambak Wedi dapat meminjam tangan Tohpati untuk melakukannya. Kalau Ki Tambak Wedi kehilangan Sidanti, maka Tohpati dapat diambilnya menjadi gantinya. Dan keadaannya akan menjadi semakin kalut. Karena itu, selagi ia belum menemukan cara penyelesaian yang sebaik-baiknya, maka ia harus menghindarkan setiap bentrokan yang mungkin terjadi.
Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang kawan-kawannya itu masih berdiri diseputar Widura. Sehingga dengan demikian Widura itu terpaksa membubarkannya “Nah, kembalilah kalian ketempat kalian masing-masing. Kalian jangan terlalu berprasangka kepada seseorang. Untunglah belum terjadi sesuatu atas kalian. Ternyata aku sekarang aku kembali utuh”. Namun didalam hatinya Widura itu berkata “Hampir saja aku tidak kembali. Kalau terjadi demikian, maka apakah kira-kira yang dapat timbul dikademangan ini? Apakah anak-anak ini percaya bahwa aku terbunuh oleh Tohpati?
Tetapi Widura itu tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung berjalan menyibak orang-orang yang berdiri dimuka regol itu masuk kepringgitan.
Demikian ia membuka pintu pringgitan, ia melihat Agung Sedayu masih duduk terpekur. Anak muda itu terkejut ketika mendengar pintu bergerit, dan ketika berpaling, dan dilihatnya pamannya kembali, tiba-tiba wajahnya menjadi cerah. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menarik nafas dalam-dalam.
Widura itupun segera pergi kepembaringannya, melepaskan ikat pinggangnya dan meletakkan pedangnya.
“Apakah kau sudah bersembahyang?” terdengar ia bertanya.
“Sudah paman” jawab Agung Sedayu.
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa berkata sepatahpun ia melangkah keluar kembali, pergi ke perigi. Ketika sekali lagi ia menengadahkan wajahnya kelangit, terdengar ia bergumam “Hampir fajar”
Baru setelah Widura itu selesai bersembahyang, maka iapun segera duduk pula bersama-sama Sedayu. Widura itu menggigit bibirnya ketika dilihatnya Sekar Mirah membawa minuman hangat untuk mereka. Bukanlah kebiasaannya uantuk menyuguhkan makan dan minum itu dahulu. Tetapi sejak Agung Sedayu berada di kademangan itu, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pembantu-pembantunya, kini telah diambil alih olehnya.
“Marilah paman” katanya “Mumpung masih hangat”
“Terima kasih Mirah” sahut Widura.
“Apakah kakang Sedayu tidak ingin berjalan-jalan?” terdengar gadis itu bertanya pula kepada Agung Sedayu.
Agung Sedayu menggeleng lemah. Jawabnya singkat “Tidak, Mirah”
“Ah, hari cerah. Apakah kakang dapat mengantarkan aku kewarung sebentar?” ajak gadis itu.
Sekali lagi Sedayu menggeleng.meskipun sebenarnya ingin juga ia pergi, namun ia tidak berani melakukannya. Karena itu jawabnya “Tidak Mirah. Aku sedang sibuk disini”
Sekar Mirah menjadi kecewa. Ditatapnya wadah Widura seakan-akan ia minta ijin untuk Sedayu. Namun Widura itu menundukkan wajahnya, merenungi air jahe panas dihadapannya. Meskipun demikian Sekar Mirah itu masih mencoba memaksanya, katanya “Aku harus berbelanja untuk kalian, namun aku takut seandainya aku bertemu dengan Sidanti dijalan”
Widura kini mengangkat wajahnya. Dilihatnya Agung Sedayu menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan Sekar Mirah itu. Maka Widura itupun berkata “Mirah, jangan takut kepada Sidanti. Anak itu bukanlah anak yang jahat. Namun kadang-kadang ia menjadi kecewa karena sikap Sedayu. Nah, pergilah tanpa Sedayu. Aku menjadi jaminan, bahwa tak akan terjadi sesuatu. Apabila kau pergi bersama Sedayu, maka anak muda itu akan bertambah kecewa, dan ia akan dapat berbuat aneh-aneh di Sangkal Putung ini.”
Wajah Sekar Mirah itu menjadi merah. Betapa ia menjadi sangat kecewa mendengar kata-katanya Widura itu. Ternyata menurut penilaiannya, Widura berpihak kepada Sidanti. “Aneh” katanya dalam hati. “Bukankah Sedayu itu kemenakannya sendiri?” Meskipun demikian ia tidak berkata apapun lagi. Ketika sekali ia memandang wajah Sedayu, dilihatnya wajah itu menunduk dalam-dalam. “Anak muda itu menjadi kecewa pula” pikir gadis itu.
Perlahan-lahan Sekar Mirah pergi meninggalkan pringgitan. Sekali-sekali ia berpaling. Namun baik Widura maupun Agung Sedayu tidak lagi memandanginya. Meskipun demikian, Sekar Mirah itu masih dapat menghibur dirinya “Sedayu tidak marah kepadaku” katanya dalam hati. “Ia hanya takut kepada pamannya”
Pagi itu, Sekar Mirah pergi kewarung seorang diri. Sebenarnya iapun sama sekali tidak takut seandainya Sidanti berbuat sesuatu atasnya. Apalagi hari telah berangsur terang, dan disepanjang jalan telah menjadi riuh oleh orang-orang yang pergi datang kewarung diujung desa.
Widura dan Agung Sedayu yang duduk dipringgitan itu terkejut ketika mereka mendengar gerit pintu terbuka. Mereka menggeser duduk mereka, ketika dari pintu itu muncul Ki Demang Sangkal Putung. Wajahnya yang sudah mulai ditumbuhi oleh garis-garis umur itu tampak tersenyum. sambil duduk disamping Widura terdengar ia berkata “Hampir semalam suntuk adi berkeliling malam ini”
Widura tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya kakang”
“Bukankah tidak ada sesuatu yang mencurigakan?” bertanya ki Demang itu pula.
Widura menggeleng “Tidak kakang”
Ki Demang Sangkal Putung itupun kini mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Anak-anak sudah siap untuk mengadakan perlombaan-perlombaan yang dapat menarik hati mereka dan menghilangkan kejemuan. Apakah anak-anak adi Widura berminat pula?”
“Ya” sahut Widura “Aku senang dengan rencana itu”
“Kita dapat segera menyelenggarakannya” berkata Ki Demang itu pula.
Widura itupun tiba-tiba termenung. Apakah perlombaan-perlombaan itu akan dapat menggembirakan anak buahnya dalam keadaan seperti kini. Ia pasti bahwa perlombaan apapun Sidantilah yang akan memenangkannya. Namun akhirnya ia menjawab “Baiklah kakang, meskipun kami semuanya sudah tahu, siapakah yang akan menjadi pemenangnya. Namun akan menyenangkan pula bagi mereka yang akan menjadi pemenang kedua, ketiga dan seterusnya”
Mendengar keputusan Widura itu, Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa itu pasti akan menyenangkan anak-anak muda Sangkal Putung. Perlombaan-perlombaan yang demikian akan menghilangkan kejemuan, dan mereka merasa bahwa dengan perlombaan-perlombaan itu, mereka mendapatkan beberapa kebanggaan.
“Kapan perlombaan itu akan kita adakan?” bertanya ki Demang.
Widura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terngiang ditelinganya kata-katanya Ki Tambak Wedi bahwa waktu yang diberikan kepadanya hanyalah sepasar. Karena itu, maka apapun yang akan dilakukan harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinannya dengan ancaman itu. Widura percaya bahwa orang semacam Ki Tambak Wedi itu pasti akan mampu melakukan apa saja yang dikatakannya.
Karena itu maka katanya “Adakah anak-anak Sangkal Putung telah bersiap untuk melakukan perlombaan ini?”
“Sudah lama mereka mempersiapkan diri“ jawab Ki Demang. “Mereka telah berlatih menggunakan panah, tombak dan bermacam-macam alat untuk berlomba. Sodoran diatas kuda dan bermacam-macam lagi”
“Bagus” sahut Widura. namun kemudian terlintas didalam angan-angannya setiap sikap dan prasangka pada anak buahnya. Apakah perlombaan-perlombaan yang demikian tidak akan menimbulkan persoalan baru? Pedang, tombak dan semacam itu akan sangat berbahaya bagi anak buahnya yang sedang dibakar oleh ketidak puasan atas sikap satu dengan yang lain. Karena itu, maka kemudian jawabnya ”Kakang. Kita memilih segi-segi yang paling tidak berbahaya dalam perlombaan ini. Terutama bagi anak buahku sendiri. Mereka adalah prajurit-prajurit yang telah mengalami pertempuran, sebenarnya pertempuran, beberapa puluh kali. Karena itu perlombaan-perlombaan dengan pedang dan tombak tidak akan menyenangkan mereka. Sekali pedang dan tombak mereka terayun, maka tujuan mereka adalah melepaskan nyawa lawan-lawan mereka. Sehingga dengan demikian pedang-pedang rotan dan tombak yang berujung bola hanya akan menimbulkan kekecewaan saja. Meskipun demikian, biarlah mereka diberi kesempatan untuk bermain-main. Yang paling baik adalah lomba mempergunakan panah. Sedang bagi anak-anak Sangkal Putung biarlah mereka mendapat kesempatan untuk mempergunakan segala macam senjata”
Ki Demang Sangkal Putung itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak langsung menangani anak-anak Widura, namun terasa pula olehnya, sikap-sikap yang amat menyulitkan bagi Widura untuk mengatasinya. Karena itu maka jawabnya “Baiklah adi. Aku sependapat. Jadi kapan kita adakan perlombaan ini?”
Sekali lagi Widura merenung. Harus sebelum waktu yang sepasar itu tiba. Maka jawabnya “Secepatnya kakang”
“Besok?” bertanya Ki Demang.
“Apakah hal itu mungkin?” sahut Widura.
“Mungkin sekali bagi anak-anak Sangkal Putung” jawab Ki Demang. “Tetapi bagaimana dengan anak buah adi?”
“Anak buahku bersiap setiap saat” sahut Widura, “Jangankan perlombaan, bertempurpun siap”
Ki Demang tersenyum mendengar jawaban Widura. katanya “Tentu. Hampir aku lupa, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit”
Widura pun kemudian tersenyum pula.
Ketika kemudian Ki Demang itu keluar dari pringgitan, Swandaru telah berdiri tegak bertolak pinggang di pendapa. Terdengar ia tertawa riuh sambil berkata “He paman Hudaya, kenapa paman tidur disitu?”
Hudaya yang terkantuk-kantuk bersandar pohon sawo terkejut mendengar sapa Swandaru. Kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepala seakan-akan hendak mengusir kantuknya ia menjawab “Hem, semalam aku hampir tidak tidur sekejappun”
“Kenapa? Apa paman sedang bertugas?”
Hudaya menggeleng “Tidak. Tetapi aku bermimpi buruk”
Swandaru tertawa pula “Mimpi apa?”
“Aku mimpi kau digigit anjing” jawab Hudaya.
Sekali lagi Swandaru tertawa terkekeh-kekeh. Tubuhnya yang bulat itu terguncang-guncang. Beberapa orang yang mendengar suara tertawanya berpaling kearahnya. Ketika mereka melihat Swandaru, maka mereka tidak memperdulikannya lagi. Anak itu selalu saja tertawa, seakan-akan ia tidak mempunyai pekerjaan lain, selain tertawa. Tetapi sekali lagi orang-orang itu berpaling ketika suara Swandaru itu tiba-tiba saja terputus. Dan orang-orang itulah yang kemudian tertawa didalam hatinya. Menggelikan sekali. Swandaru itu tiba-tiba saja menjadi tegang ketika melihat Sidanti lewat dimukanya. Namun Sidanti itu berpalingpun tidak.
“Apa kerjamu disini Swandaru?” terdengar Ki Demang bertanya.
Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan lantang ia menjawab seakan-akan sengaja supaya Sidanti mendengarnya “Apapun yang aku lakukan, bukankah aku berada dirumahku sendiri?”
“Hus” bentak ayahnya. “Jangan ngelindur. Pergi ke kawan-kawanmu. Katakan, perlombaan diadakan besok ditanah lapang dimuka bajar desa”
“He” Swandaru menjadi sangat gembira “Besok ayah?”
“Ya”
Swandaru itupun segera berlari menghambur. Langsung ia berlari kebanjar desa dimana kawan-kawannya sering berkumpul.
Tetapi selain Swandaru, anak buah Widurapun mendengar kata-kata ki Demang itu. Mereka sudah mendengar pula sebelumnya bahwa akan diadakan perlombaan bagi mereka. Meskipun mereka senang juga menyelenggarakannya, namun mereka tidak segembira anak-anak muda Sangkal Putung itu.
Sidantipun mendengar kabar itu. Disudut pendapa, ditempatnya, ia tersenyum. Katanya dalam hati “Hem, siapa yang akan mencoba melawan Sidanti? Dengan rotanpun aku akan mampu membunuh, setidak-tidaknya melumpuhkan orang-orang macam Hudaya, Citra Gati dan tikus-tikus bodoh itu. Apalagi dengan tombak berujung bola. Atau barangkali anak muda yang bernama Agung Sedayu itu?”
Hari itu Sangkal Putung benar-benar menjadi sibuk. Seakan-akan di Sangkal Putung akan diselenggarakan suatu peralatan yang maha besar. Anak-anak muda berjalan hilir mudik simpang siur dengan tergesa-gesa.
Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang lagi terpaksa ikut sibuk dengan anak-anak muda itu. Mereka terpaksa memberi mereka beberapa petunjuk tentang penyelenggaraan perlombaan besok dimuka banjar kademangan. (bersambung)
“Tetapi bukankah Kiai bertanya?” potong Widura.
“Marilah kita tidak mempersoalkan lagi tentang hal-hal yang mengerikan. Aku takut mendengar perkara-perkara pembunuhan. Sekarang coba, apakah kau dapat membunyikan cambuk itu”
Sekali lagi Widura menarik nafas panjang. Panjang sekali. Ditatapnya wajah yang bersembunyi dibalik topeng itu. Namun yang tampak baginya tidak lebih dari wajah mayat dari kayu yang menyelubungi wajah Kiai Gringsing itu.
Widura mengangkat alisnya ketika iapun mendengar orang bertopeng itu menarik nafas dalam-dalam. Namun hanya sesaat. Yang kemudian terdengar adalah kata-kata orang bertopeng itu pula “Nah, cobalah”
Widura tidak dapat berbuat lain daripada mencoba membunyikan cambuk itu. Dengan satu gerakan menyentak sendal pancing ia mencobanya. Dan terdengarlah sebuah lecutan yang keras, namun hanya sekeras para penggembala membunyikan pecut-pecut mereka.
“Ternyata kau tidak sepandai aku” berkata Kiai Gringsing “Berikan cambuk itu” mintanya.
Dengan hati yang kosong Widura menyerahkan cambuk bambu itu. Dan tiba-tiba sekali lagi menggeletar suara cambuk yang dahsyat. Dan sekali lagi getaran yang dahsyat pula menghantam dada Widura. Untunglah ia segera berhasil memusatkan kekuatan batinnya, sehingga dadanya tidak meledak karenanya. Dengan penuh ketekunan Widura kemudian mencoba menenangkan hatinya. Mencoba meredakan getaran-getaran yang menghentak-hentak jantungnya.
Ketika ia hampir berhasil terdengarlah suara Kiai Gringsing tertawa. Katanya “Jangan marah Widura. Aku hanya bermain-main. Agaknya kau terkejut karenanya”.
Widura yang menjadi jengkel itu tiba-tiba teringat pada besi yang dibawanya. Besi yang hampir menjadi sebuah lingkaran. Karena itu tiba-tiba ia berkata “Kiai, aku juga mempunyai permainan. Apakah Kiai pernah bermain-main dengan lingkaran ini?”
Suara tertawa Kiai Gringsing itupun terputus. Diperhatikannya potongan besi ditangan Widura itu dengan seksama.
Dilihatnya sepotong besi yang melengkung, sehingga kedua ujung dan pangkalnya hampir bertemu.
“Permainan apakah ini?” bertanya Kiai Gringsing.
Widura kemudian memberikan potongan besi itu kepada Kiai Gringsing sambil berkata “Permainan yang dibawa oleh Ki Tambak Wedi”
Kiai Gringsing menerima sepotong besi itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya “Permainan aneh. Bagaimanakah Ki Tambak Wedi itu bermain? Dilemparkan atau diguling-gulingkan?”
Sekali lagi Widura mengumpat didalam hati. Namun Widura pun menyadari, bahwa ada sesuatu yang tersembunyi dibalik sikap Kiai Gringsing yang dibuat-buat itu. Meskipun demikian, ia menjawab “Tidakkah Kiai pernah bermain-main dengan benda-benda yang demikian? Aku sangka orang-orang tua suka bermain-main dengan potongan-potongan besi demikian seperti Ki Tambak Wedi. aku sendiri tidak tahu, apakah yang menyenangkan Ki Tambak Wedi namun ia membuat lingkaran-lingkaran semacam itu”
Kiai Gringsing itupun menggeleng. Jawabnya “Aku tidak pernah bermain-main dengan benda-benda semacam itu. Inilah”
Sekali lagi Widura menjadi kecewa. Ia ingin mengatakan kepada Kiai Gringsing bahwa kekuatan Ki Tambak Wedi itu telah berhasil melengkungkan besi itu. Namun sebelum ia berkata apaun, dilihatnya Kiai Gringsing melemparkan besi itu kearahnya sambil berkata “Terimalah”
Dengan gerak naluriah Widura melangkah kesamping. Potongan besi itu tepat mengarah kemata kakinya. Karena itu ia harus menghindarinya. Namun ketika kemudian ditatapnya potongan besi yang kini tergeletak disampingnya, kembali dadanya bergoncang dahsyat sekali. Ia menjadi lebih terkejut lagi dari pada saat ia melihat besi melengkung itu dilemparkan dibawah kakinya, oleh Ki Tambak Wedi. dengan dada yang bergolak, tanpa sesadarnya Widura memungut potongan besi itu. Dan dengan tangan gemetar ia memeganginya. Namun potongan besi itu kini telah lurus kembali. “Alangkah dahsyatnya!” katanya didalam hati. “Meluruskan potongan besi ini dengan tangan jauh lebih sulit daripada melengkungkannya. Tetapi orang bertopeng itu telah melakukannya”
Sebelum getaran didalam dadanya itu mereda, terdengarlah Kiai Gringsing itu berkata “Nah Widura, kalau kau bertemu sekali lagi dengan Ki Tambak Wedi, tanyakanlah kepadanya. Apakah yang menarik hatinya untuk bermain-main dengan besi-besi semacam itu. Apakah besi-besi semacam itu pulalah yang dipakainya sebagai gelang ditangan atau kakinya? Aku sendiri tidak senang bergelang dan berbinggel dikaki. Apakah bergelang akar atau besi sekalipun”
Kini Widura telah berhasil menenangkan dirinya dari ketakjubannya. Meskipun demikian, kekagumannya kepada orang bertopeng itu menjadi bertambah-tambah. Katanya “Kiai, ternyata Kiai lebih pandai bermain dengan potongan-potongan besi daripada Ki Tambak Wedi”
“He?” orang bertopeng itu terkejut “Apakah aku bermain-main dengan besi itu?”
“Kiai telah berhasil meluruskannya “sahut Widura. “Aku menjadi takjub ketika aku melihat Ki Tambak Wedi dengan tangannya berhasil melengkungkan potongan besi itu. Aku kagum akan kekuatan yang tersimpan didalam tangannya. Tetapi kini, ternyata Kiai dapat pula berbuat demikian. bahkan lebih mentakjubkan lagi. Bukankah meluruskan besi itu lebih sulit dari melengkungkannya?”
Terdengarlah kemudian Kiai Gringsing itu tertawa terkekeh-kekeh. Diantara derai tawanya itu terdengar ia berkata “Kau memuji aku Widura. Aku menjadi senang sekali karenanya. Apakah kau sudah kawin?”
Pertanyaan itu benar-benar tak diduganya. Karena itu Widura menjadi bingung, sehingga Kiai Gringsing itu mendesaknya “He Widura, apakah kau sudah kawin?”
“Sudah Kiai” jawab Widura.
“Sudah punya anak?”
“Sudah Kiai, seorang”
“Sayang” berkata orang bertopeng itu masih dalam derai tertawanya “Kalau belum, kau akan aku ambil untuk menantu meskipun aku tidak punya anak perempuan”
Kembali Widura menarik nafas dalam-dalam sambil mengumpat didalam hati. Namun ia berdiam diri. Dibiarkannya Kiai Gringsing berkata sekehendak hatinya. Namun ia masih dicengkam oleh kekaguman pada orang itu. Orang yang dengan suara lecutan yang dahsyat telah memperpanjang umurnya, dan dengan kedua tangannya, tanpa dilihatnya telah berhasil meluruskan besi yang melengkung itu. “Kalau demikian” katanya dalam hati, “Apakah dugaan Ki Tambak Wedi tidak keliru? Ki Tambak Wedi menanggap bahwa tidak ada orang sakti selain dirinya didaerah ini. Bagaimanakah dengan orang bertopeng ini? Orang yang namanya sama sekali tak dikenal selain olehku dan Agung Sedayu”
Tetapi Widura kemudian terkejut ketika dikejauhan terdengar suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Ketika ia memandang ketimur, membayanglah warna-warna semburat merah diatas garis cakrawala.
“Hampir fajar” desisnya.
Kiai Gringsing itupun menengadahkan wajahnya. kemudian katanya “Ya, hampir fajar. Aku harus segera kembali sebelum terang tanah. Orang akan menyangka aku sebagai penari topeng yang kesiangan”
“Kenapa Kiai pakai topeng?” tiba-tiba saja terluncur pertanyaan itu dari mulut Widura.
Kiai Gringsing tiba-tiba terpaku pula ditempatnya. Diawasinya wajah Widura dengan tajamnya. Namun tanpa menjawab pertanyaan itu, Kiai Gringsing melangkah meninggalkan Widura seorang diri.
Widura mengawasi langkah Kiai Gringsing dengan hati yang berdebar-debar. Tiba-tiba saja keinginannya untuk mengetahui siapakah sebenarnya orang bertopeng itu melonjak-lonjak didalam dadanya. Sehingga tiba-tiba ia meloncat sambil berteriak “Kiai, berhentilah”
Kiai Gringsing itupun berhenti. Ketika ia berpaling, dilihatnya Widura meloncati parit dan berlari kearahnya “Aku ingin tahu, siapakah Kiai sebenarnya”
“Jangan” jawab Kiai Gringsing. “Kelak akan sampai saatnya, kau tahu siapakah aku, sekarang belum”
“Tidak” jawab Widura. “Aku ingin tahu sekarang”
“Jangan” berkata Kiai Gringsing seperti orang yang ketakutan. Ketika ia melihat Widura menjadi semakin dekat, tiba-tiba Kiai Gringsing itupun berlari pula, sambil berkata “Jangan Widura. Kenapa kau masih saja akan menangkap aku?”
Namun Widura tidak memperdulikannya. Bahkan ia semakin mempercepat larinya. Ia benar-benar berusaha untuk dapat menangkap Kiai Gringsing.
Demikianlah maka mereka berdua berlari berkejar-kejaran. Kiai Gringsing itu berlari-lari disepanjang pematang, melingkari gunung Gowok dan berputar-putar. Meskipun demikian, Widura belum berhasil menangkapnya. Bahkan jarak mereka semakin lama menjadi semakin jauh.
Akhirnya, Widura itupun tertegun sendiri. Kiai Gringsing itu seakan-akan lenyap begitu saja, seperti asap dihembus angin. Widura yang terengah-engah itu berdiri tegak seperti patung diatas pematang yang basah. Ketika kemudian disapukannya pandangan matanya berkeliling, dilihatnya dikejauhan, Kiai Gringsing melambaikan cambuknya. Hanya lamat-lamat terdengar suaranya “Besok kita bermain-main lagi digunung kecil itu Widura”
Widura menarik nafas. Tiba-tiba saja ia menjadi geli sendiri atas kelakuannya. Bahkan ia menjadi malu pula. Gumamnya “Gila. Apakah aku telah kejangkitan penyakit Kiai Gringsing itu pula? Untunglah tak seorangpun yang melihatnya”
Widura yang kemudian menyadari keadaannya itu, kini melangkah diatas pematang menuju jalan kembali kekademangan Sangkal Putung. Kadang-kadang ia tersenyum sendiri. Dan berkali-kali iam merasa, bahwa hampir-hampir saja ia kejangkitan penyakit Kiai Gringsing yang aneh itu.
Widura itupun kemudian mempercepat langkahnya. Ia tidak mau kesiangan sampai dikademangan.
Warna-warna merah diujung timur semakin lama menjadi semakin tegas. Ketika Widura menjadi semakin dekat dengan induk desa Sangkal Putung, semakin riuhlah suara kokok ayam jantan yang seakan-akan menyambutnya. Namun Sangkal Putung tampaknya masih lelap dibalik kabut malam yang seakan-akan awan yang keabu-abuan menyelimuti raksasa yang kedinginan.
Widura itupun mempercepat langkahnya. Ia masih harus sembahyang subuh, sebelum melakukan pekerjaannya yang lain. Karena itu, ia harus sampai dikademangan sebelum hari menjadi terang.
Ketika Widura itu hampir sampai diregol halaman kademangan, ia menjadi terkejut. Dalam keremangan embun menjelang fajar, dilihatnya beberapa orang bergerombol dimuka regol itu, lebih banyak dari yang seharusnya.
Dan Widura menjadi berdebar-debar pula, ketika tiba-tiba ia mendengar salah seorang yang melihatnya berteriak “Itulah Ki Widura telah datang”
Widura itupun berjalan semakin cepat pula. Dimuka regol itu dilihatnya Hudaya, Citra Gati, Sonya, Sendawa dan beberapa orang lainnya. Hampir semua dari mereka itu, memegang senjata mereka masing-masing.
“Apa yang terjadi?” bertanya Widura serta-merta.
Citra Gati ituppun kemudian melangkah maju. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia menjawab “Ternyata kami hanya berprasangka”
“Tentang apa” bertanya Widura pula.
Citra Gati berpaling kearah Hudaya. Seakan-akan ia minta pertimbangan sahabatnya itu. Namun Hudaya segera memalingkan wajah kearah lain.
Tampaklah mulut Citra Gati berkumat kamit mengumpati Hudaya. Namun yang kemudian dikatakannya adalah “Kami berprasangka atas Sidanti “
“Kenapa dengan Sidanti?” bertanya Widura pula
Sekali lagi Citra Gati berpaling kearah Hudaya, namun Hudaya masih memandang ke bintang-bintang yang masih bergemerlapan dilangit. Karena itu ia menjawab sendiri “Kami mengetahui bahwa kakang pergi bersama Sidanti, namun kemudian Sidanti itu kembali seorang diri. Ketika ada diantara kami yang menanyakan kepadanya, ia menjawab namun sangat meragukan kami”
Widura itupun menarik nafas dalam-dalam. Dadanya benar-benar berguncang mendengar kata-kata Citra Gati. Ia menjadi berbangga bahwa anak buahnya itu demikian setia kepadanya. Namun ia melihat bahaya yang besar pula yang ada diantara mereka. Bahaya yang setiap saat dapat meledak. Ternyata kawan-kawan Sidanti sudah demikian muaknya kepada anak muda yang sombong itu, sehingga setiap kesempatan, benturan-benturan diantara mereka agaknya sulit untuk dihindarkan. Namun betapapun juga Widura harus memperhitungkan kekuatan dibelakang Sidanti. Ki Tambak Wedi. Kalau sampau terjadi sesuatu atas muridnya itu, maka tidak mustahil Ki Tambak Wedi akan melakukan pembalasan dendam yang mengerikan. Bahkan tidak mustahil bahwa Ki Tambak Wedi dapat meminjam tangan Tohpati untuk melakukannya. Kalau Ki Tambak Wedi kehilangan Sidanti, maka Tohpati dapat diambilnya menjadi gantinya. Dan keadaannya akan menjadi semakin kalut. Karena itu, selagi ia belum menemukan cara penyelesaian yang sebaik-baiknya, maka ia harus menghindarkan setiap bentrokan yang mungkin terjadi.
Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang kawan-kawannya itu masih berdiri diseputar Widura. Sehingga dengan demikian Widura itu terpaksa membubarkannya “Nah, kembalilah kalian ketempat kalian masing-masing. Kalian jangan terlalu berprasangka kepada seseorang. Untunglah belum terjadi sesuatu atas kalian. Ternyata aku sekarang aku kembali utuh”. Namun didalam hatinya Widura itu berkata “Hampir saja aku tidak kembali. Kalau terjadi demikian, maka apakah kira-kira yang dapat timbul dikademangan ini? Apakah anak-anak ini percaya bahwa aku terbunuh oleh Tohpati?
Tetapi Widura itu tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung berjalan menyibak orang-orang yang berdiri dimuka regol itu masuk kepringgitan.
Demikian ia membuka pintu pringgitan, ia melihat Agung Sedayu masih duduk terpekur. Anak muda itu terkejut ketika mendengar pintu bergerit, dan ketika berpaling, dan dilihatnya pamannya kembali, tiba-tiba wajahnya menjadi cerah. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menarik nafas dalam-dalam.
Widura itupun segera pergi kepembaringannya, melepaskan ikat pinggangnya dan meletakkan pedangnya.
“Apakah kau sudah bersembahyang?” terdengar ia bertanya.
“Sudah paman” jawab Agung Sedayu.
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa berkata sepatahpun ia melangkah keluar kembali, pergi ke perigi. Ketika sekali lagi ia menengadahkan wajahnya kelangit, terdengar ia bergumam “Hampir fajar”
Baru setelah Widura itu selesai bersembahyang, maka iapun segera duduk pula bersama-sama Sedayu. Widura itu menggigit bibirnya ketika dilihatnya Sekar Mirah membawa minuman hangat untuk mereka. Bukanlah kebiasaannya uantuk menyuguhkan makan dan minum itu dahulu. Tetapi sejak Agung Sedayu berada di kademangan itu, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pembantu-pembantunya, kini telah diambil alih olehnya.
“Marilah paman” katanya “Mumpung masih hangat”
“Terima kasih Mirah” sahut Widura.
“Apakah kakang Sedayu tidak ingin berjalan-jalan?” terdengar gadis itu bertanya pula kepada Agung Sedayu.
Agung Sedayu menggeleng lemah. Jawabnya singkat “Tidak, Mirah”
“Ah, hari cerah. Apakah kakang dapat mengantarkan aku kewarung sebentar?” ajak gadis itu.
Sekali lagi Sedayu menggeleng.meskipun sebenarnya ingin juga ia pergi, namun ia tidak berani melakukannya. Karena itu jawabnya “Tidak Mirah. Aku sedang sibuk disini”
Sekar Mirah menjadi kecewa. Ditatapnya wadah Widura seakan-akan ia minta ijin untuk Sedayu. Namun Widura itu menundukkan wajahnya, merenungi air jahe panas dihadapannya. Meskipun demikian Sekar Mirah itu masih mencoba memaksanya, katanya “Aku harus berbelanja untuk kalian, namun aku takut seandainya aku bertemu dengan Sidanti dijalan”
Widura kini mengangkat wajahnya. Dilihatnya Agung Sedayu menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan Sekar Mirah itu. Maka Widura itupun berkata “Mirah, jangan takut kepada Sidanti. Anak itu bukanlah anak yang jahat. Namun kadang-kadang ia menjadi kecewa karena sikap Sedayu. Nah, pergilah tanpa Sedayu. Aku menjadi jaminan, bahwa tak akan terjadi sesuatu. Apabila kau pergi bersama Sedayu, maka anak muda itu akan bertambah kecewa, dan ia akan dapat berbuat aneh-aneh di Sangkal Putung ini.”
Wajah Sekar Mirah itu menjadi merah. Betapa ia menjadi sangat kecewa mendengar kata-katanya Widura itu. Ternyata menurut penilaiannya, Widura berpihak kepada Sidanti. “Aneh” katanya dalam hati. “Bukankah Sedayu itu kemenakannya sendiri?” Meskipun demikian ia tidak berkata apapun lagi. Ketika sekali ia memandang wajah Sedayu, dilihatnya wajah itu menunduk dalam-dalam. “Anak muda itu menjadi kecewa pula” pikir gadis itu.
Perlahan-lahan Sekar Mirah pergi meninggalkan pringgitan. Sekali-sekali ia berpaling. Namun baik Widura maupun Agung Sedayu tidak lagi memandanginya. Meskipun demikian, Sekar Mirah itu masih dapat menghibur dirinya “Sedayu tidak marah kepadaku” katanya dalam hati. “Ia hanya takut kepada pamannya”
Pagi itu, Sekar Mirah pergi kewarung seorang diri. Sebenarnya iapun sama sekali tidak takut seandainya Sidanti berbuat sesuatu atasnya. Apalagi hari telah berangsur terang, dan disepanjang jalan telah menjadi riuh oleh orang-orang yang pergi datang kewarung diujung desa.
Widura dan Agung Sedayu yang duduk dipringgitan itu terkejut ketika mereka mendengar gerit pintu terbuka. Mereka menggeser duduk mereka, ketika dari pintu itu muncul Ki Demang Sangkal Putung. Wajahnya yang sudah mulai ditumbuhi oleh garis-garis umur itu tampak tersenyum. sambil duduk disamping Widura terdengar ia berkata “Hampir semalam suntuk adi berkeliling malam ini”
Widura tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya kakang”
“Bukankah tidak ada sesuatu yang mencurigakan?” bertanya ki Demang itu pula.
Widura menggeleng “Tidak kakang”
Ki Demang Sangkal Putung itupun kini mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Anak-anak sudah siap untuk mengadakan perlombaan-perlombaan yang dapat menarik hati mereka dan menghilangkan kejemuan. Apakah anak-anak adi Widura berminat pula?”
“Ya” sahut Widura “Aku senang dengan rencana itu”
“Kita dapat segera menyelenggarakannya” berkata Ki Demang itu pula.
Widura itupun tiba-tiba termenung. Apakah perlombaan-perlombaan itu akan dapat menggembirakan anak buahnya dalam keadaan seperti kini. Ia pasti bahwa perlombaan apapun Sidantilah yang akan memenangkannya. Namun akhirnya ia menjawab “Baiklah kakang, meskipun kami semuanya sudah tahu, siapakah yang akan menjadi pemenangnya. Namun akan menyenangkan pula bagi mereka yang akan menjadi pemenang kedua, ketiga dan seterusnya”
Mendengar keputusan Widura itu, Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa itu pasti akan menyenangkan anak-anak muda Sangkal Putung. Perlombaan-perlombaan yang demikian akan menghilangkan kejemuan, dan mereka merasa bahwa dengan perlombaan-perlombaan itu, mereka mendapatkan beberapa kebanggaan.
“Kapan perlombaan itu akan kita adakan?” bertanya ki Demang.
Widura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terngiang ditelinganya kata-katanya Ki Tambak Wedi bahwa waktu yang diberikan kepadanya hanyalah sepasar. Karena itu, maka apapun yang akan dilakukan harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinannya dengan ancaman itu. Widura percaya bahwa orang semacam Ki Tambak Wedi itu pasti akan mampu melakukan apa saja yang dikatakannya.
Karena itu maka katanya “Adakah anak-anak Sangkal Putung telah bersiap untuk melakukan perlombaan ini?”
“Sudah lama mereka mempersiapkan diri“ jawab Ki Demang. “Mereka telah berlatih menggunakan panah, tombak dan bermacam-macam alat untuk berlomba. Sodoran diatas kuda dan bermacam-macam lagi”
“Bagus” sahut Widura. namun kemudian terlintas didalam angan-angannya setiap sikap dan prasangka pada anak buahnya. Apakah perlombaan-perlombaan yang demikian tidak akan menimbulkan persoalan baru? Pedang, tombak dan semacam itu akan sangat berbahaya bagi anak buahnya yang sedang dibakar oleh ketidak puasan atas sikap satu dengan yang lain. Karena itu, maka kemudian jawabnya ”Kakang. Kita memilih segi-segi yang paling tidak berbahaya dalam perlombaan ini. Terutama bagi anak buahku sendiri. Mereka adalah prajurit-prajurit yang telah mengalami pertempuran, sebenarnya pertempuran, beberapa puluh kali. Karena itu perlombaan-perlombaan dengan pedang dan tombak tidak akan menyenangkan mereka. Sekali pedang dan tombak mereka terayun, maka tujuan mereka adalah melepaskan nyawa lawan-lawan mereka. Sehingga dengan demikian pedang-pedang rotan dan tombak yang berujung bola hanya akan menimbulkan kekecewaan saja. Meskipun demikian, biarlah mereka diberi kesempatan untuk bermain-main. Yang paling baik adalah lomba mempergunakan panah. Sedang bagi anak-anak Sangkal Putung biarlah mereka mendapat kesempatan untuk mempergunakan segala macam senjata”
Ki Demang Sangkal Putung itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak langsung menangani anak-anak Widura, namun terasa pula olehnya, sikap-sikap yang amat menyulitkan bagi Widura untuk mengatasinya. Karena itu maka jawabnya “Baiklah adi. Aku sependapat. Jadi kapan kita adakan perlombaan ini?”
Sekali lagi Widura merenung. Harus sebelum waktu yang sepasar itu tiba. Maka jawabnya “Secepatnya kakang”
“Besok?” bertanya Ki Demang.
“Apakah hal itu mungkin?” sahut Widura.
“Mungkin sekali bagi anak-anak Sangkal Putung” jawab Ki Demang. “Tetapi bagaimana dengan anak buah adi?”
“Anak buahku bersiap setiap saat” sahut Widura, “Jangankan perlombaan, bertempurpun siap”
Ki Demang tersenyum mendengar jawaban Widura. katanya “Tentu. Hampir aku lupa, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit”
Widura pun kemudian tersenyum pula.
Ketika kemudian Ki Demang itu keluar dari pringgitan, Swandaru telah berdiri tegak bertolak pinggang di pendapa. Terdengar ia tertawa riuh sambil berkata “He paman Hudaya, kenapa paman tidur disitu?”
Hudaya yang terkantuk-kantuk bersandar pohon sawo terkejut mendengar sapa Swandaru. Kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepala seakan-akan hendak mengusir kantuknya ia menjawab “Hem, semalam aku hampir tidak tidur sekejappun”
“Kenapa? Apa paman sedang bertugas?”
Hudaya menggeleng “Tidak. Tetapi aku bermimpi buruk”
Swandaru tertawa pula “Mimpi apa?”
“Aku mimpi kau digigit anjing” jawab Hudaya.
Sekali lagi Swandaru tertawa terkekeh-kekeh. Tubuhnya yang bulat itu terguncang-guncang. Beberapa orang yang mendengar suara tertawanya berpaling kearahnya. Ketika mereka melihat Swandaru, maka mereka tidak memperdulikannya lagi. Anak itu selalu saja tertawa, seakan-akan ia tidak mempunyai pekerjaan lain, selain tertawa. Tetapi sekali lagi orang-orang itu berpaling ketika suara Swandaru itu tiba-tiba saja terputus. Dan orang-orang itulah yang kemudian tertawa didalam hatinya. Menggelikan sekali. Swandaru itu tiba-tiba saja menjadi tegang ketika melihat Sidanti lewat dimukanya. Namun Sidanti itu berpalingpun tidak.
“Apa kerjamu disini Swandaru?” terdengar Ki Demang bertanya.
Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan lantang ia menjawab seakan-akan sengaja supaya Sidanti mendengarnya “Apapun yang aku lakukan, bukankah aku berada dirumahku sendiri?”
“Hus” bentak ayahnya. “Jangan ngelindur. Pergi ke kawan-kawanmu. Katakan, perlombaan diadakan besok ditanah lapang dimuka bajar desa”
“He” Swandaru menjadi sangat gembira “Besok ayah?”
“Ya”
Swandaru itupun segera berlari menghambur. Langsung ia berlari kebanjar desa dimana kawan-kawannya sering berkumpul.
Tetapi selain Swandaru, anak buah Widurapun mendengar kata-kata ki Demang itu. Mereka sudah mendengar pula sebelumnya bahwa akan diadakan perlombaan bagi mereka. Meskipun mereka senang juga menyelenggarakannya, namun mereka tidak segembira anak-anak muda Sangkal Putung itu.
Sidantipun mendengar kabar itu. Disudut pendapa, ditempatnya, ia tersenyum. Katanya dalam hati “Hem, siapa yang akan mencoba melawan Sidanti? Dengan rotanpun aku akan mampu membunuh, setidak-tidaknya melumpuhkan orang-orang macam Hudaya, Citra Gati dan tikus-tikus bodoh itu. Apalagi dengan tombak berujung bola. Atau barangkali anak muda yang bernama Agung Sedayu itu?”
Hari itu Sangkal Putung benar-benar menjadi sibuk. Seakan-akan di Sangkal Putung akan diselenggarakan suatu peralatan yang maha besar. Anak-anak muda berjalan hilir mudik simpang siur dengan tergesa-gesa.
Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang lagi terpaksa ikut sibuk dengan anak-anak muda itu. Mereka terpaksa memberi mereka beberapa petunjuk tentang penyelenggaraan perlombaan besok dimuka banjar kademangan. (bersambung)
Selasa, 05 Februari 2008
Api di Bukit Menoreh 19

Apalagi apabila mereka berhadapan. Namun agaknya Widura sama sekali tidak bersikap demikian. Karena itu, maka sekali lagi Ki Tambak Wedi itu berkata “Widura, orang-orang seperti kau ini benar-benar merupakan mutiara-mutiara yang tersimpan dalam perbendaharaan keprajuritan Pajang. Aku ingin agar mutiara-mutiara demikian itu tidak akan hilang tertimbun oleh lumpur. Karena itu Widura, aku minta kau membantu Sidanti dalam usahanya mendapatkan tempat yang baik dalam hidupnya yang penuh dengan cita-cita itu. Aku sendiri pasti akan merupakan kekuatan yang mengalasinya”
Sekali lagi Widura menjadi muak. Bahkan ia menjadi muak melihat wajah yang panjang bermata seperti mata burung hantu dan berhidung terlalu runcing itu. Meskipun demikian, tak ada suatupun yang dapat dilakukannya. Dan ia masih mendengar Ki Tambak Wedi meneruskan “Apabila kelak Sidanti akan sampai ditempat itu, maka kaupun akan ikut serta mukti pula bersamanya”
Widura menggeleng tegas. Jawabnya “Biarlah aku ditempatku. Apapun yang akan aku alami”
Dada Ki Tambak Wedi itupun sudah mulai dirayapi oleh kemarahan yang semakin lama semakin menyala. Agaknya Widura sudah tidak mungkin dapat dibujuknya. Karena itu katanya “Widura, apakah kau benar-benar menunggu aku marah?”
Widura yang berdiri seperti pucang kanginan itu menjawab “Sudah aku katakan Kiai. Namun aku tetap pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Bukan orang lain”
“Widura” sahut Ki Tambak Wedi yang mulai tidak dapat mengendalikan kemarahannya. “Kau tetap pemimpin laskar di Sangkal Putung. Tetapi kau harus menurut perintah-perintah Sidanti yang akan diberikan erus menerus kepadamu. Perintah-perintahmu hanyalah saluran dari perintah-perintahnya. Tetapi dimata par prajurit itu, kau tetap seorang pemimpin yang berwibawa. Bersedia?”
Sekali lagi Widura menggeleng tegas “Tidak” jawabnya.
Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku sudah menduga bahwa kau akan tetap pada pendirianmu. Nah, bagaimanakah kalau aku membunuhmu sekarang?”
Widura menyadari keadaannya. Ia tidak lebih dari seorang yang kecil dihadapan Ki Tambak Wedi. Tetapi ia tidak mau mengorbankan kewibawaan, saluran kewajiban prajurit. Sedang orang seperti Ki Tambak Wedi itu pasti akan dapat melakukan apa saja yang dikatakannya. Meskipun demikian Widura menjawab “Kiai pasti akan mampu melakukannya. Terserahlah kepada Kiai. Tetapi Kiai harus menyadari keadaan Sidanti . Anak itu keluar bersama aku. Apakah kata mereka kalau anak itu kembali seorang diri, dan besok mayatku diketemukan disini?”
Mendengar jawaban itu Ki Tambak Wedi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Katanya diantara derai tawanya “He Widura, ternyata kau tidak sejantan yang aku sangka. Ternyata kau mulai ketakutan dan mencari jalan untuk menolong dirimu sendiri”
Mendengar suara tertawa dan kata-kata Ki Tambak Wedi itu, telinga Widura seperti terjilat api. Sehingga ia lupa, dengan siapa ia berhadapan. hampir berteriak ia membentak “Cukup!”
Ki Tambak Wedi terkejut mendengar bentakan itu, sehingga dengan serta-merta derai tertawanya itu terputus. Dengan tajamnya ia memandang wajah Widura yang masih berkata terus “Apakah kau sangka bahwa setiap mahluk akan menyerahkan hidupnya demikian saja tanpa usaha untuk menyelamatkan diri. Bukankah hak setiap hidup untuk mempertahankan hidupnya?”
“Tetapi caramu adalah cara yang licik” sahut Ki Tambak Wedi.
“Tidak” bantah Widura. “Tetapi aku hanya ingin mengatakan, kalau kau bunuh aku, maka pekerjaanmu itu tidak akan bermanfaat. Setiap orang dapat segera mengambil kesimpulan apa yang sudah terjadi”
“Seandainya mereka mengetahui sekalipun, apa yang akan mereka lakukan terhadap Sidanti? Apakah mereka berani melakukan tindakan apapun terhadap anak itu?”
“Tentu”
“Aku akan dapat membunuh mereka semua”
“Mereka adalah prajurit-prajurit. Kalau mereka tak dapat mengatasi seseorang, maka atasannyalah yang akan melakukan. Bagaimana anggapan Kiai tentang seorang perwira tamtama yang bernama Pemanahan? Juru Mertani atau adipati Pajang sendiri?”
Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Jawabnya “Persetan dengan mereka. Tetapi aku tidak sebodoh yang kau sangka. Aku sudah bersedia alat untuk membunuhmu. Semua orang mengenal bahwa senjata Sidanti adalah senjata tajam. Sekarang aku akan membunuhmu dengan senjata pemukul”
Dada Widura menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi ketika tiba-tiba ia melihat, Ki Tambak Wedi itu menarik sebuah tongkat besi dari pinggangnya dibawah kain panjangnya. Besi itu tidak terlalu panjang. Hanya dua jengkal, sebesar ibu jari kaki. Diamat-amatinya senjata sambil bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri “Hem, bukankah orang yang bersenjata pemukul itu seorang senapati Jipang yang bernama Tohpati? Dan bukankah mulut Sidanti juga dapat berkata demikian kepada kawan-kawannya? Lihatlah wajah Sidanti itu sendiri, dan hampir diseluruh tubuhnya menjadi merah biru. Itu akan bagus sekali untuk melengkapi ceritanya. Kau berdua berjumpa dengan Tohpati dan beberapa orangnya. Kalian bertempur mati-matian, dan kau terbunuh dalam perkelahian itu”
Getar didalam dada Widura menjadi semakin cepat. Kini ia benar-benar berhadapan dengan maut. Dan ia tidak akan dapat menemukan jalan untuk menyelamatkan diri. Meskipun demikian sama sekali tak terlintas didalam otaknya untuk memenuhi permintaan Sidanti, menebus nyawanya dengan menjual kewibawaan Pajang.
Demikianlah maka sesaat mereka berada dalam keadaan yang tegang. Widura, Sidanti dan Ki Tambak Wedi seperti tonggak-tonggak yang kaku. Yang mula-mula menyobek kesepian adalah Ki Tambak Wedi. katanya “Bagaimana Widura. Apakah kau masih ingin bertahan pada pendirianmu? Memang keadaanmu masih cukup baik. Kalau kau mati, maka kau akan dihormati sebagai pahlawan. Namun bukankah lebih baik apabila kita dapat melihat dan merasakan dalam hidup kita ini kehormatan itu daripada sesudah kita mati?”
Widura tidak menjawab sepatah katapun. Ia sedang mempersiapkan dirinya menghadapi maut.
“Bagaimana Widura?” bentak Ki Tambak Wedi yang sudah mulai kehilangan kesabaran. “Kalau kau mati, aku akan berusaha Sidanti lah yang akan mengganti kedudukanmu. Aku akan pancing Tohpati, aku akan bunuh pula dia atas nama Sidanti”
Widura menggeram mendengar rencana gila-gilaan itu. Namun kali inipun ia ti menjawab. baginya, sudah tidak ada gunanya lagi untuk berbicara apapun. Maka yang dapat dilakukan adalah menunggu apa saja yang akan terjadi.
Ki Tambak Wedi ternyata benar-benar telah kehilangan kesabaran. Dengan sepotong besi itu ia berjalan mendekati Widura sambil berkata “Aku tidak biasa mempergunakan senjata semacam ini. Tetapi untuk kepentingan Sidanti, aku akan memecah batok kepalamu, sehingga orang benar-benar menyangka kau mati karena pukulan tongkat baja putih milik Tohpati itu”
Sekali lagi Widura menggeram. Tanpa disengaja ia mengangkat pedangnya. Melihat gerak pedang itu Ki Tambak Wedi tertawa terbahak-bahak. Katanya “Gila. Apakah kau akan melawan aku? Dengan satu sentuhan dari anak kecil, kau pasti sudah akan roboh. Jangan gila. Kau hanya tinggal mempersiapkan kepalamu saja. Manakah yang sebaiknya aku pukul supaya kau segera mati. Dengan demikian aku sudah bermurah hati kepadamu”
Mulut Widura benar-benar telah terkunci. Sesaat ia ingat kepada kemenakannya, Sedayu. Namun ia tidak menyalahkannya. Saat yang lain dikenangnya kemenakannya yang satu lagi, Untara. Katanya dalam hati “mudah-mudahan anak itu masih hidup, dan mudah-mudahan suatu ketika dijumpainya adiknya itu dan diselamatkannya dari kerakusan Sidanti yang gila ini”
Widura kini melihat Ki Tambak Wedi itu semakin lama semakin dekat. Suara tertawanya masih saja terdengar berkepanjangan.
Tetapi tiba-tiba suara tertawa itupun terputus. Mereka semua terkejut bukan buatan. Apalagi Widura dan Sidanti . Dalam sepi malam itu terdengar tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat. Sehingga getarannya telah menggerakkan daun-daun pepohonan dan menggugurkan daun-daun kuning yang tidak mampu berpegangan dahan-dahannya lagi. Bahkan ledakan itu telah menggetarkan dada mereka yang mendengarnya. Lebih-lebih Widura dan Sidanti .
Ki Tambak Wedi itu kini tegak seperti patung. Namun tampaklah ia memusatkan perhatiannya memandang segenap arah. Matanya yang tajam setajam mata burung hantu itupun menjadi liar.
Dalam ketegangan itupun sekali lagi terdengar suara ledakan itu. Lebih keras dan getarannya semakin dalam menusuk dada. Widura dan Sidanti terpaksa memejamkan mata mereka dan memusatkan perlawanan mereka dengan kekuatan batin melawan getaran yang aneh itu.
Mata Ki Tambak Wedi itupun menjadi semakin liar. Bahkan tiba-tiba ia berteriak “Dahsyat. Kekuatan orang itu pasti sama dengan kekuatan raksasa. Tetapi jangan seperti seorang pengecut. Mari, datanglah kemari. Aku bersedia menyambutmu”
Namun tak ada jawaban. Yang terdengar sekali lagi suara ledakan itu. Lebih keras pula dari yang terdahulu.
Ki Tambak Wedi itupun kemudian menjadi marah bukan kepalang. Seperti orang gila ia berteriak-teriak “Ayo, kemarilah. Jangan bersembunyi. Inilah Tambak Wedi”
Tetapi kemudian tegal itu menjadi sepi. Suara ledakan itupun tak terdengar lagi. Mengerutkan keningnya Ki Tambak Wedi itu masih tegak seperti patung. Ia masih mencoba mengetahui dari manakah arah suara ledakan-ledakan itu. Namun suara itu tak terdengar lagi.
Dalam pada itu, tumbuhlah suatu persoalan didalam dirinya. Dalam diri Ki Tambak Wedi yang perkasa itu. Ia tidak akan takut berhadapan dengan seitap orang bagaimanapun saktinya. Ki Tambak Wedi itu merasa, bahwa dirinya pasti akan mampu menghadapi siapa saja dalam pertempuran seorang lawan seorang. Biarpun orang itu Adiwijaya, yang terkenal memiliki aji Lembu sekilan, Rog-rog Asem, Sapu Angin sejak masa kanak-kanaknya, sejak ia masih bernama Mas Karebet. Setidak-tidaknya ia pasti akan dapat menyelamatkan dirinya dari lawannya. Namun orang yang meledakkan lecutan-lecutan itupun bukan orang kebanyakan, sehingga apabila ia mengejarnya, maka ada kemungkinan orang itu berhasil melarikan diri.
Yang kemudian mengganggunya adalah, apabila Widura itu dibunuhnya, maka ternyata akan hadir sedikit-dikitnya seorang saksi. Orang yan menyuarakan lecutan-lecutan dahsyat itu. Dengan demikian maka cerita Sidanti lambat atau cepat, pasti akan diketahui kebohongannya. Karena itu, tiba-tiba Ki Tambak Wedi itupun mengumpat tak habis-habisnya. Katanya “Setan itu ternyata berhasil menolong memperpanjang nyawamu Widura. Ia akan merupakan saksi yang mengganggu jalan Sidanti . meskipun demikian, ingatlah, Sidanti tak akan pernah melepaskan tuntutannya. Abiarlah kali ini lau tetap hidup. Aku beri waktu kau sepasar. Kalau dalam sepasar kau tidak merubah pendirianmu, dalam setiap kesempatan aku akan dengan mudah membunuhmu. Mungkin dengan cara-cara yang sangat mengerikan”
Widura masih berdiam diri. Apalagi kini, dadanya masih dipengaruhi oleh getaran-getaran leacutan yang dahsyat itu. Karena itu ia sama sekali tidak menjawab kata-kata Ki Tambak Wedi.
“Pulanglah berdua. Jangan membuat persoalan supaya aku mempunyai pertimbangan- pertimbangan lain”
Widura masih tetap tegak seperti tiang-tiang yang beku. Ia mendengar kata-kata Ki Tambak Wedi itu, namun seakan-akan ia tidak mengerti maknanya. Setelah ia kehilangan harapan untuk dapat menyelesaikan tugasnya, membersihkan sisa-sisa laskar Jipang, karena keinginan Sidanti yang melonjak-lonjak, maka tiba-tiba dadanya digetarkan oleh suara lecutan yang hampir menggugurkan isi dadanya, kini ia mendengar Ki Tambak Wedi itu mengurungkan niatnya.
Untuk sesaat Sidanti pun menjadi seolah-olah kehilangan kesadarannya. Namun seperti orang yang tersentak bangun dari tidurnya ia mendengar gurunya itu berkata, bahwa Widura akan dibebaskannya. Karena itu, maka timbullah berbagai pertanyaan didalam dirinya. Keadaan itu sudah terlanjur sedemikian buruknya. Apabila Widura itu masih tetap hidup, apakah keadaannya tidak menjadi semakin sulit.
Maka dengan terbata-bata terdengarlah Sidanti itu bertanya “Guru, apakah guru akan memaafkan kakang Widura?”
“Tidak” sahut gurunya. “Aku hanya memberinya waktu sepasar”
“Kenapa guru masih memberinya waktu?”
“ada bermacam-macam pertimbangan. Aku masih berusaha untuk mencari jalan yang baik bagimu. Kecuali apabila dalam sepasar Widura masih tetap keras kepala. Selain yang sudah akua katakan, setan yang memperdengarkan suara lecutan itupun dapat mengganggu jalanmu Sidanti “
“Kenapa guru tidak menangkapnya saja, dan membunuhnya pula?”
“Kau dengar suara lecutannya?” bertanya gurunya. “Kau merasakan getaran didadamu? Nah, itu pertanda bahwa orang itupun bukan orang kebanyakan. Mungkin ia dapat melepaskan diri dari tanganku meskipun ia tidak berani langsung melawan aku dalam satu perkelahian”
Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun masih tampak diwajahnya, bahwa ia menyesal akan keadaan itu. Seandainya Widura itu terbunuh dan orang mempercayainya, bahwa yang membunuh Widura itu Tohpati, menilik dari bekasnya, maka tak seorangpun yang berani menyatakan dirinya, mengganti kedudukan Widura. Semua orang di Sangkal Putung menyadari, bahwa tak seorangpun yang dapat melampaui Sidanti. kecuali kalau Pajang menunjuk orang lain yang dikirim langsung dari Pajang. Namun siapapun orang itu, nasibnya tidak akan lebih baik dari Widura.
Kemudian terdengarlah kembali suara Ki Tambak Wedi, kali ini kepada Widura. “Nah Widura. Aku masih akan membiarkan kau hidup sepasar lagi. Kembalilah kalian berdua. Sekali lagi aku memperingatkan kau Widura. Jangan membuat persoalan atas Sidanti , supaya aku tidak datang kepadamu bersama-sama dengan Tohpati, untuk memengal lehermu dan seluruh laskarmu”
Kini Widura telah menyadari keadaannya seluruhnya. Ia mendengar semua kata-kata Ki Tambak Wedi. ternyata orang itu sama sekali tidak mempunyai pendirian berpihak antara Pajang dan Jipang. Ia dapat berada dimana saja yang dapat memberinya keuntunga. Dengan demikian maka Ki Tambak Wedi maupun Sidanti adalah benar-benar orang yang sangat berbahaya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Ki Tambak Wedi pula “Nah Sidanti. Jangan cemas, aku akan terus menerus mengawasi keadaan. Kau dengar pula itu, Widura?”
Sebelum Widura berkata sepatah katapun, dan sebelum Sidanti menjawab terdengarlah Ki Tambak Wedi itu menggeram. Kemudian dengan serta-merta dilemparkan potongan besi yang masih digenggamnya kearah kaki Widura. Kemudian dengan satu loncatan yang cepat, Ki Tambak Wedi itu menghilang dibalik pepohonan. Ia masih akan mencoba mencari, siapakah yang telah memperdengarkan suara lecutan yang dahsyat, yang telah mengganggu pekerjaannya. Namun karena suara itu sudah tidak terdengar lagi, serta Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa belum pasti ia kan dapat menangkapnya, akhirnya Ki Tambak Wedi itupun melepaskan maksudnya.
Sidanti dan Widura masih tegak ditempat masing-masing. Ketika tanpa sesadarnya Widura memandang potongan besi yang tergeletak beberapa jengkal dimuka kakinya ia terkejut bukan buatan. Besi itu kini melengkung sehingga kedua ujung-ujungnya hampir bertemu. Adalah kekuatan yang luar biasa yang dapat melakukannya. Sepotong besi sebesar ibu jari kaki, yang panjangnya tidak lebih dari dua jengkal itu dapat dilengkungkannya sedemikian, sehingga hanpir menjadi sebuah lingkaran.
Widura menarik nafas dalam-dalam. Ki Tambak Wedi benar-benar luar biasa. Namanya yang menakutkan itu, tidak saja karena kesombongannya, namun ia benar-benar memiliki kekuatan yang tidak ada taranya.
Sidanti yang melihat wajah Widura dalam keremangan malam, serta sikapnya yang gelisah, dan kemudian dengan serta-merta memungut besi yang hampir menjadi lingkaran itu, tertawa pendek. Desisnya “Apa kau heran kakang, bahwa Ki Tambak Wedi dapat melakukannya? Melengkungkan besi sebesar itu dengan tangannya?”
“Tidak” jawab Widura. “Orang yang sakti seperti Ki Tambak Wedi itu pasti akan dapat berbuat lebih banyak dari permainan ini, meskipun permainan ini telah menggoncangkan dadaku”
Sekali lagi Sidanti tertawa. Dengan bibir yang ditarik kesisi ia berkata “Sejak saat ini kau jangan terlalu sombong dan berkeras kepala supaya umurmu tidak hanya terbatas pada lima hari ini saja”
Widura menggeleng. Sahutnya “Aku tidak senang orang lain mencampuri persoalan dalam tata kelaskaran Pajang. Sudah aku katakan, hidup matiku akan aku pertaruhkan untuk kewibawaan Pajang”
Sidanti mengangkat alisnya. Namun kemudian ia tertawa pula. Katanya “Marilah kita pulang. Setelah kakang Widura beristirahatn mungkin kakang mempunyai pertimbangan lain”
“Pulanglah dahulu” sahu Widura “Aku masih mempunyai pekerjaan”
Sidanti menjadi heran. Apakah yang akan dilakukan oleh Widura itu. Tetapi Sidanti yang sombong itu tak mau merajuk. Karena itu ia menjawab “Baiklah aku pulang dahulu”
Sidanti kemudian tidak menungu jawaban Widura. Segera ia melangkah meninggalkan tempat itu, kembali ke kademangan Sangkal Putung. Kini ia merasa dapat berbuat sekehendaknya. Sedang Widura pasti tak akan berani menghalanginya lagi.
“Widura itu hanya malu-malu saja mengakui kekuasaanku sekarang” katanya dalam hati. “Namun aku yakin bahwa ia tidak akan berani mengganggu aku lagi”
Sidanti itu tersenyum sendiri. Akan datang gilirannya Sedayu ditundukkannya. Kalau ia tak mampu melakukan sendiri, maka cara yang sama seperti yang dilakukan atas Widura itu akan ditempuhnya “Anak itu akan jauh lebih mudah diselesaikan”. Katanya pula “Kalau ia terbunuh, tak akan ada yang mempersoalkannya selain Widura. Dan aku yakin Widura pun kini akan berdiam diri”
Sidanti itu kemudian berjalan dengan wajah yang terang, seakan-akan Sangkal Putung itu benar-benar telah dikuasainya. Seluruhnya. Dan terbayanglah diwajahnya, seorang gadis yang manis dan lincah, yang pernah mengaguminya pula, Sekar Mirah. Dengan modal pimpinan atas Sangkal Putung dan kemudian apabila ia berhasil membinasakan Tohpati atas namanya, maka pasti ia akan cepat menanjak. Seterusnya, ia harus pandai memanfaatkan setiap kesempatan.
Widura yang masih tegak ditempatnya, memandang Sidanti itu sampai hilang dalam gelapnya malam. Ia tersadar ketika kemudian didengarnya ayam hutan berkokok dikejauhan. Ternyata malam telah jauh melampaui pusatnya. Dan sebentar lagi akan terdengar kokok ayam jantan yang terakhir kalinya menjelang fajar.
Perlahan-lahan Widura itupun menyarungkan pedangnya. Pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai persoalan yang menekan. Ternyata tugasnya menjadi sangat berat dan berbahaya. Tidak saja Tohpati dan sisa-sisa laskar Jipang yang lain yang memusingkan kepalanya, namun Sidanti, bagian dari tubuh sendiri, itupun benar-benar hampir mencabut nyawanya. Berturut-turut beterbanganlah angan-angannya atas pekerjaannya yang berat itu. Tohpati, Sidanti, Ki Tambak Wedi, Agung Sedayu, dan tak dapat diabaikan pula, usaha untuk menemukan Untara.
Widura menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia bergumam “Aku tidak dapat menghindarkan diri dari kewajiban-kewajiban itu. Meskipun tubuhku akan menjadi lumat karenanya.”
Perlahan-lahan Widura itupun melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja ia merasa muak untuk berjalan bersama-sama dengan Sidanti . Karena itu dibiarkannya anak muda itu berjalan dahulu. Dan kini iapun berjalan meninggalkan tegal yang sepi, sesepi taman pekuburan. Ketika sekali ia menoleh, dilihatnya pohon jambu mete itu seperti hantu raksasa yang mengembangkan tangan-tangannya yang banyak sekali jumlahnya untuk menyergapnya. Namun Widura bukan seorang penakut. Karena itu ia sama sekali tidak menjadi ngeri melihatnya. Dan ia masih tetap berjalan perlahan-lahan sambil menghirup udara malam yang segar.
Meskipun tubuhnya menjadi bertambah segar, namun hatinya tidak dapat menjadi sesegar tubuhnya. Berbagai-bagai persoalan, satu demi satu membelit dihatinya. Dan ia tidak mempunyai seorang kawanpun yang dapat diajaknya untuk membicarakan kelusitan-kesulitannya. Ki Demang Sangkal Putung pun tidak. Sebab dengan demikian demang Sangkal Putung itu akan mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda arah penelaahannya. Hudaya, Citra Gati dan orang lainpun pasti akan menuruti perasaannya saja, tanpa mempertimbangkan dengan pikiran, serta tanpa memandang kepentingan yang lebih besar dan jauh. Karena itu pikiran Widura itupun menjadi suram. Namun betapapun juga, dicobanya untuk mengatasi kesulitan itu dengan sebaik-baiknya.
Ketika Widura telah keluar dari daerah pategalan itu, tiba-tiba saja ia membelok kekiri. Ia terkejut sendiri atas langkahnya “Hem” gumamnya “Akan kemanakah aku ini?” Tetapi ia meneruskan langkahnya. Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk pergi ke gunung Gowok. Ia tidak menyadari sepenuhnya, apakah kepergiannya itu akan bermanfaat baginya. Namun, karena pikiran yang suram itu, inginlah ia berbuat sesuatu. Kiai Gringsing yang hampir setiap malam ditemuinya di gunung Gowok, kemudian ternyata mendapat tempat tersendiri didalam hatinya. Orang yang berbuat dan berbicara seenaknya, seakan-akan hidup ini hanyalah sebuah permainan yang menyenangkan saja.
“Apakah aku dapat berbicara dengan orang itu?” gumamnya. Tetapi kemudian iapun sadar, bahwa ia pasti akan menjadi kecewa karenanya. Orang bertopeng itu pasti akan mentertawakannya, ,dan menyuruhnya supaya membicarakan dengan orang yang disebutnya gurunya, Sedayu. Karena itu pulalah Widura itu sering mengumpat didalam hati. Namun kali ini ia benar-benar ingin menemuinya.
Tetapi Widura itu menjadi ragu-ragu. Apakah Kiai Gringsing masih berada disana? Hampir setiap malam ia datang bersama Sedayu, tetapi sebelum tengah malam. Dan kali ini tengah malam itu telah jauh lampau. Meskipun demikian Widura itu berjalan terus.
Diperjalanan itu, kadang-kadang pikirannya diganggu juga oleh suara lecutan yang dahsyat yang telah menyelamatkannya. Bahkan kemudian timbul juga berbagai pertanyaan didalam dirinya, siapakah orang yang telah berbuat itu? Apakah ada orang aneh lagi selain Kiai Gringsing? Apakah mungkin Kiai Gringsing pula yang melakukannya?
Widura menjadi ragu-ragu. Ia mengagumi kesaktian Kiai Gringsing, namun apakah orang itu mampu menggetarkan dadanya dengan suara lecutan itu, dan memaksa Ki Tambak Wedi merubah rencananya?
Gunung Gowok itu kini sudah tidak jauh lagi berada dihadapannya. Dalam keremangan malam, telah dilihatnya pohon kelapa sawit tegak diatas puntuk kecil itu. Namun sebelum ia meloncati parit dan berjalan diatas pematang, tiba-tiba Widura itu terkejut bukan kepalang, sehingga ia terlonjak karenanya. Dekat dibelakangnya, didengarnya sebuah letusan yang dahsyat, yang hampir saja menggugurkan isi dadanya.
Secepat-cepatnya Widura berusaha untuk memutar tubuhnya. Dan dengan gerak naluriah tangannya meraba hulu pedangnya. Namun tenaganya yang memang belum pulih itu, seakan-akan tidak mampu untuk melakukan sesuatu. Apalagi getaran didalam dadanya masih terasa memukul-mukul tak henti-hentinya.
Namun Widura tak melihat seorangpun. Dengan sekuat-kuat tenaganya ia memusatkan kekuatan batinnya melawan getaran-getaran yang masih saja melanda jantungnya. Sehingga lambat laun ia berhasil pula menenangkan dirinya.
Tetapi ia masih belum melihat seorangpun disekitarnya. Karena itu Widura menjadi gelisah. Tangan kanannya masih melekat dihulu oedangnya. Dan bahkan setelah getaran-getaran didialam dadanya mereda, Widura itupun telah siap untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi, meskipun ia sadar, bahwa tenaganya masih belum separo pulih kembali.
Tetapi sekali lagi Widura terkejut. Bukan oleh suara lecutan yang dahsyat. Tetapi kali ini terdengarlah suara tertawa. Suara yang bernada tinggi dan nyaring.
Dengan serta-merta Widura itupun berpaling. Hampir ia mengumpat ketika dilihatnya seseorang duduk diatas pematang diantara batang-batang padi muda. Dan Widura itupun segera mengenalnya. Orang itulah yang dicarinya, Kiai Gringsing.
“Ah” desis Widura. “Kiai benar-benar mengejutkan aku”
“Oh” sahut Kiai Gringsing “Maafkan aku. Aku kira kau senang mendengar lecutan-lecutan itu. Coba Widura apakah kau bisa berbuat seperti aku?”
Sebelum Widura menjawab, Kiai Gringsing itu sudah berdiri dan diberikannya kepada Widura sebuah cambuk lembu yang sederhana. Bertangkai bambu cendani dan ujungnyapun dibuatnya dari anyaman bambu siladan pula.
Dada Widura bergetar karena itu. Ternyata orang yang membunyikan lecutan-lecutan itu adalah Kiai Gringsing dengan cambuk bambu yang sangat sederhana pula. Karena itu, maka betapa kagumnya pemimpin laskar Pajang itu. Bahkan dengan serta-merta terloncatlah pertanyaannya “Jadi adakah Kiai tadi yang membunyikan cambuk itu berturut-turut tiga kali?”
Kiai Gringsing itu tertawa. Jawabnya “Aku sedang bermain-main”
“Tetapi perbuatan Kiai itu ternyata telah menolong jiwaku” sahut Widura.
“He” Kiai Gringsing terkejut. Katanya “Bagaimana itu terjadi. Apa hubungannya bunyi lecutan itu dengan jiwamu?”
Widura telah mengenal Kiai Gringsing beberapa lama. Karena itu maka iapun telah dapat mengerti seba sedikit tentang sifat orang bertopeng itu. Maka jawabnya “Suara lecutan itu telah menakut-nakuti orang yang akan membunuhku”
“Kau akan dibunuh orang?” bertanya Kiai Gringsing itu.
Widura kini benar-benar mengumpat didalam hati. Ia tahu benar bahwa Kiai Gringsing telah berbuat dengan sadar untuk menolongnya. Namun terpaksa ia menjawab pula “Ya Kiai”
“Apakah persoalannya, sehingga seseorang berbuat demikian jahatnya?” orang bertopeng itu bertanya
Widura menjadi ragu-ragu sejenak. Ingin ia mengutarakan semua persoalan-persoalan yang menyumbat dadanya, namun setelah ia bertemu dengan orang aneh itu, ia menjadi ragu-ragu. Karena itu ia ingin menjajaginya, apakah pintu terbuka baginya untuk menyatakan kesulitan-kesulitannya. “Kiai” katanya “Aku ternyata mempunyai banyak persoalan-persoalan disini. Persoalan didalam lingkungan sendiri dan persoalan yang aku hadapi atas sisa-sisa laskar Jipang” (bersambung)
Sekali lagi Widura menjadi muak. Bahkan ia menjadi muak melihat wajah yang panjang bermata seperti mata burung hantu dan berhidung terlalu runcing itu. Meskipun demikian, tak ada suatupun yang dapat dilakukannya. Dan ia masih mendengar Ki Tambak Wedi meneruskan “Apabila kelak Sidanti akan sampai ditempat itu, maka kaupun akan ikut serta mukti pula bersamanya”
Widura menggeleng tegas. Jawabnya “Biarlah aku ditempatku. Apapun yang akan aku alami”
Dada Ki Tambak Wedi itupun sudah mulai dirayapi oleh kemarahan yang semakin lama semakin menyala. Agaknya Widura sudah tidak mungkin dapat dibujuknya. Karena itu katanya “Widura, apakah kau benar-benar menunggu aku marah?”
Widura yang berdiri seperti pucang kanginan itu menjawab “Sudah aku katakan Kiai. Namun aku tetap pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Bukan orang lain”
“Widura” sahut Ki Tambak Wedi yang mulai tidak dapat mengendalikan kemarahannya. “Kau tetap pemimpin laskar di Sangkal Putung. Tetapi kau harus menurut perintah-perintah Sidanti yang akan diberikan erus menerus kepadamu. Perintah-perintahmu hanyalah saluran dari perintah-perintahnya. Tetapi dimata par prajurit itu, kau tetap seorang pemimpin yang berwibawa. Bersedia?”
Sekali lagi Widura menggeleng tegas “Tidak” jawabnya.
Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku sudah menduga bahwa kau akan tetap pada pendirianmu. Nah, bagaimanakah kalau aku membunuhmu sekarang?”
Widura menyadari keadaannya. Ia tidak lebih dari seorang yang kecil dihadapan Ki Tambak Wedi. Tetapi ia tidak mau mengorbankan kewibawaan, saluran kewajiban prajurit. Sedang orang seperti Ki Tambak Wedi itu pasti akan dapat melakukan apa saja yang dikatakannya. Meskipun demikian Widura menjawab “Kiai pasti akan mampu melakukannya. Terserahlah kepada Kiai. Tetapi Kiai harus menyadari keadaan Sidanti . Anak itu keluar bersama aku. Apakah kata mereka kalau anak itu kembali seorang diri, dan besok mayatku diketemukan disini?”
Mendengar jawaban itu Ki Tambak Wedi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Katanya diantara derai tawanya “He Widura, ternyata kau tidak sejantan yang aku sangka. Ternyata kau mulai ketakutan dan mencari jalan untuk menolong dirimu sendiri”
Mendengar suara tertawa dan kata-kata Ki Tambak Wedi itu, telinga Widura seperti terjilat api. Sehingga ia lupa, dengan siapa ia berhadapan. hampir berteriak ia membentak “Cukup!”
Ki Tambak Wedi terkejut mendengar bentakan itu, sehingga dengan serta-merta derai tertawanya itu terputus. Dengan tajamnya ia memandang wajah Widura yang masih berkata terus “Apakah kau sangka bahwa setiap mahluk akan menyerahkan hidupnya demikian saja tanpa usaha untuk menyelamatkan diri. Bukankah hak setiap hidup untuk mempertahankan hidupnya?”
“Tetapi caramu adalah cara yang licik” sahut Ki Tambak Wedi.
“Tidak” bantah Widura. “Tetapi aku hanya ingin mengatakan, kalau kau bunuh aku, maka pekerjaanmu itu tidak akan bermanfaat. Setiap orang dapat segera mengambil kesimpulan apa yang sudah terjadi”
“Seandainya mereka mengetahui sekalipun, apa yang akan mereka lakukan terhadap Sidanti? Apakah mereka berani melakukan tindakan apapun terhadap anak itu?”
“Tentu”
“Aku akan dapat membunuh mereka semua”
“Mereka adalah prajurit-prajurit. Kalau mereka tak dapat mengatasi seseorang, maka atasannyalah yang akan melakukan. Bagaimana anggapan Kiai tentang seorang perwira tamtama yang bernama Pemanahan? Juru Mertani atau adipati Pajang sendiri?”
Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Jawabnya “Persetan dengan mereka. Tetapi aku tidak sebodoh yang kau sangka. Aku sudah bersedia alat untuk membunuhmu. Semua orang mengenal bahwa senjata Sidanti adalah senjata tajam. Sekarang aku akan membunuhmu dengan senjata pemukul”
Dada Widura menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi ketika tiba-tiba ia melihat, Ki Tambak Wedi itu menarik sebuah tongkat besi dari pinggangnya dibawah kain panjangnya. Besi itu tidak terlalu panjang. Hanya dua jengkal, sebesar ibu jari kaki. Diamat-amatinya senjata sambil bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri “Hem, bukankah orang yang bersenjata pemukul itu seorang senapati Jipang yang bernama Tohpati? Dan bukankah mulut Sidanti juga dapat berkata demikian kepada kawan-kawannya? Lihatlah wajah Sidanti itu sendiri, dan hampir diseluruh tubuhnya menjadi merah biru. Itu akan bagus sekali untuk melengkapi ceritanya. Kau berdua berjumpa dengan Tohpati dan beberapa orangnya. Kalian bertempur mati-matian, dan kau terbunuh dalam perkelahian itu”
Getar didalam dada Widura menjadi semakin cepat. Kini ia benar-benar berhadapan dengan maut. Dan ia tidak akan dapat menemukan jalan untuk menyelamatkan diri. Meskipun demikian sama sekali tak terlintas didalam otaknya untuk memenuhi permintaan Sidanti, menebus nyawanya dengan menjual kewibawaan Pajang.
Demikianlah maka sesaat mereka berada dalam keadaan yang tegang. Widura, Sidanti dan Ki Tambak Wedi seperti tonggak-tonggak yang kaku. Yang mula-mula menyobek kesepian adalah Ki Tambak Wedi. katanya “Bagaimana Widura. Apakah kau masih ingin bertahan pada pendirianmu? Memang keadaanmu masih cukup baik. Kalau kau mati, maka kau akan dihormati sebagai pahlawan. Namun bukankah lebih baik apabila kita dapat melihat dan merasakan dalam hidup kita ini kehormatan itu daripada sesudah kita mati?”
Widura tidak menjawab sepatah katapun. Ia sedang mempersiapkan dirinya menghadapi maut.
“Bagaimana Widura?” bentak Ki Tambak Wedi yang sudah mulai kehilangan kesabaran. “Kalau kau mati, aku akan berusaha Sidanti lah yang akan mengganti kedudukanmu. Aku akan pancing Tohpati, aku akan bunuh pula dia atas nama Sidanti”
Widura menggeram mendengar rencana gila-gilaan itu. Namun kali inipun ia ti menjawab. baginya, sudah tidak ada gunanya lagi untuk berbicara apapun. Maka yang dapat dilakukan adalah menunggu apa saja yang akan terjadi.
Ki Tambak Wedi ternyata benar-benar telah kehilangan kesabaran. Dengan sepotong besi itu ia berjalan mendekati Widura sambil berkata “Aku tidak biasa mempergunakan senjata semacam ini. Tetapi untuk kepentingan Sidanti, aku akan memecah batok kepalamu, sehingga orang benar-benar menyangka kau mati karena pukulan tongkat baja putih milik Tohpati itu”
Sekali lagi Widura menggeram. Tanpa disengaja ia mengangkat pedangnya. Melihat gerak pedang itu Ki Tambak Wedi tertawa terbahak-bahak. Katanya “Gila. Apakah kau akan melawan aku? Dengan satu sentuhan dari anak kecil, kau pasti sudah akan roboh. Jangan gila. Kau hanya tinggal mempersiapkan kepalamu saja. Manakah yang sebaiknya aku pukul supaya kau segera mati. Dengan demikian aku sudah bermurah hati kepadamu”
Mulut Widura benar-benar telah terkunci. Sesaat ia ingat kepada kemenakannya, Sedayu. Namun ia tidak menyalahkannya. Saat yang lain dikenangnya kemenakannya yang satu lagi, Untara. Katanya dalam hati “mudah-mudahan anak itu masih hidup, dan mudah-mudahan suatu ketika dijumpainya adiknya itu dan diselamatkannya dari kerakusan Sidanti yang gila ini”
Widura kini melihat Ki Tambak Wedi itu semakin lama semakin dekat. Suara tertawanya masih saja terdengar berkepanjangan.
Tetapi tiba-tiba suara tertawa itupun terputus. Mereka semua terkejut bukan buatan. Apalagi Widura dan Sidanti . Dalam sepi malam itu terdengar tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat. Sehingga getarannya telah menggerakkan daun-daun pepohonan dan menggugurkan daun-daun kuning yang tidak mampu berpegangan dahan-dahannya lagi. Bahkan ledakan itu telah menggetarkan dada mereka yang mendengarnya. Lebih-lebih Widura dan Sidanti .
Ki Tambak Wedi itu kini tegak seperti patung. Namun tampaklah ia memusatkan perhatiannya memandang segenap arah. Matanya yang tajam setajam mata burung hantu itupun menjadi liar.
Dalam ketegangan itupun sekali lagi terdengar suara ledakan itu. Lebih keras dan getarannya semakin dalam menusuk dada. Widura dan Sidanti terpaksa memejamkan mata mereka dan memusatkan perlawanan mereka dengan kekuatan batin melawan getaran yang aneh itu.
Mata Ki Tambak Wedi itupun menjadi semakin liar. Bahkan tiba-tiba ia berteriak “Dahsyat. Kekuatan orang itu pasti sama dengan kekuatan raksasa. Tetapi jangan seperti seorang pengecut. Mari, datanglah kemari. Aku bersedia menyambutmu”
Namun tak ada jawaban. Yang terdengar sekali lagi suara ledakan itu. Lebih keras pula dari yang terdahulu.
Ki Tambak Wedi itupun kemudian menjadi marah bukan kepalang. Seperti orang gila ia berteriak-teriak “Ayo, kemarilah. Jangan bersembunyi. Inilah Tambak Wedi”
Tetapi kemudian tegal itu menjadi sepi. Suara ledakan itupun tak terdengar lagi. Mengerutkan keningnya Ki Tambak Wedi itu masih tegak seperti patung. Ia masih mencoba mengetahui dari manakah arah suara ledakan-ledakan itu. Namun suara itu tak terdengar lagi.
Dalam pada itu, tumbuhlah suatu persoalan didalam dirinya. Dalam diri Ki Tambak Wedi yang perkasa itu. Ia tidak akan takut berhadapan dengan seitap orang bagaimanapun saktinya. Ki Tambak Wedi itu merasa, bahwa dirinya pasti akan mampu menghadapi siapa saja dalam pertempuran seorang lawan seorang. Biarpun orang itu Adiwijaya, yang terkenal memiliki aji Lembu sekilan, Rog-rog Asem, Sapu Angin sejak masa kanak-kanaknya, sejak ia masih bernama Mas Karebet. Setidak-tidaknya ia pasti akan dapat menyelamatkan dirinya dari lawannya. Namun orang yang meledakkan lecutan-lecutan itupun bukan orang kebanyakan, sehingga apabila ia mengejarnya, maka ada kemungkinan orang itu berhasil melarikan diri.
Yang kemudian mengganggunya adalah, apabila Widura itu dibunuhnya, maka ternyata akan hadir sedikit-dikitnya seorang saksi. Orang yan menyuarakan lecutan-lecutan dahsyat itu. Dengan demikian maka cerita Sidanti lambat atau cepat, pasti akan diketahui kebohongannya. Karena itu, tiba-tiba Ki Tambak Wedi itupun mengumpat tak habis-habisnya. Katanya “Setan itu ternyata berhasil menolong memperpanjang nyawamu Widura. Ia akan merupakan saksi yang mengganggu jalan Sidanti . meskipun demikian, ingatlah, Sidanti tak akan pernah melepaskan tuntutannya. Abiarlah kali ini lau tetap hidup. Aku beri waktu kau sepasar. Kalau dalam sepasar kau tidak merubah pendirianmu, dalam setiap kesempatan aku akan dengan mudah membunuhmu. Mungkin dengan cara-cara yang sangat mengerikan”
Widura masih berdiam diri. Apalagi kini, dadanya masih dipengaruhi oleh getaran-getaran leacutan yang dahsyat itu. Karena itu ia sama sekali tidak menjawab kata-kata Ki Tambak Wedi.
“Pulanglah berdua. Jangan membuat persoalan supaya aku mempunyai pertimbangan- pertimbangan lain”
Widura masih tetap tegak seperti tiang-tiang yang beku. Ia mendengar kata-kata Ki Tambak Wedi itu, namun seakan-akan ia tidak mengerti maknanya. Setelah ia kehilangan harapan untuk dapat menyelesaikan tugasnya, membersihkan sisa-sisa laskar Jipang, karena keinginan Sidanti yang melonjak-lonjak, maka tiba-tiba dadanya digetarkan oleh suara lecutan yang hampir menggugurkan isi dadanya, kini ia mendengar Ki Tambak Wedi itu mengurungkan niatnya.
Untuk sesaat Sidanti pun menjadi seolah-olah kehilangan kesadarannya. Namun seperti orang yang tersentak bangun dari tidurnya ia mendengar gurunya itu berkata, bahwa Widura akan dibebaskannya. Karena itu, maka timbullah berbagai pertanyaan didalam dirinya. Keadaan itu sudah terlanjur sedemikian buruknya. Apabila Widura itu masih tetap hidup, apakah keadaannya tidak menjadi semakin sulit.
Maka dengan terbata-bata terdengarlah Sidanti itu bertanya “Guru, apakah guru akan memaafkan kakang Widura?”
“Tidak” sahut gurunya. “Aku hanya memberinya waktu sepasar”
“Kenapa guru masih memberinya waktu?”
“ada bermacam-macam pertimbangan. Aku masih berusaha untuk mencari jalan yang baik bagimu. Kecuali apabila dalam sepasar Widura masih tetap keras kepala. Selain yang sudah akua katakan, setan yang memperdengarkan suara lecutan itupun dapat mengganggu jalanmu Sidanti “
“Kenapa guru tidak menangkapnya saja, dan membunuhnya pula?”
“Kau dengar suara lecutannya?” bertanya gurunya. “Kau merasakan getaran didadamu? Nah, itu pertanda bahwa orang itupun bukan orang kebanyakan. Mungkin ia dapat melepaskan diri dari tanganku meskipun ia tidak berani langsung melawan aku dalam satu perkelahian”
Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun masih tampak diwajahnya, bahwa ia menyesal akan keadaan itu. Seandainya Widura itu terbunuh dan orang mempercayainya, bahwa yang membunuh Widura itu Tohpati, menilik dari bekasnya, maka tak seorangpun yang berani menyatakan dirinya, mengganti kedudukan Widura. Semua orang di Sangkal Putung menyadari, bahwa tak seorangpun yang dapat melampaui Sidanti. kecuali kalau Pajang menunjuk orang lain yang dikirim langsung dari Pajang. Namun siapapun orang itu, nasibnya tidak akan lebih baik dari Widura.
Kemudian terdengarlah kembali suara Ki Tambak Wedi, kali ini kepada Widura. “Nah Widura. Aku masih akan membiarkan kau hidup sepasar lagi. Kembalilah kalian berdua. Sekali lagi aku memperingatkan kau Widura. Jangan membuat persoalan atas Sidanti , supaya aku tidak datang kepadamu bersama-sama dengan Tohpati, untuk memengal lehermu dan seluruh laskarmu”
Kini Widura telah menyadari keadaannya seluruhnya. Ia mendengar semua kata-kata Ki Tambak Wedi. ternyata orang itu sama sekali tidak mempunyai pendirian berpihak antara Pajang dan Jipang. Ia dapat berada dimana saja yang dapat memberinya keuntunga. Dengan demikian maka Ki Tambak Wedi maupun Sidanti adalah benar-benar orang yang sangat berbahaya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Ki Tambak Wedi pula “Nah Sidanti. Jangan cemas, aku akan terus menerus mengawasi keadaan. Kau dengar pula itu, Widura?”
Sebelum Widura berkata sepatah katapun, dan sebelum Sidanti menjawab terdengarlah Ki Tambak Wedi itu menggeram. Kemudian dengan serta-merta dilemparkan potongan besi yang masih digenggamnya kearah kaki Widura. Kemudian dengan satu loncatan yang cepat, Ki Tambak Wedi itu menghilang dibalik pepohonan. Ia masih akan mencoba mencari, siapakah yang telah memperdengarkan suara lecutan yang dahsyat, yang telah mengganggu pekerjaannya. Namun karena suara itu sudah tidak terdengar lagi, serta Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa belum pasti ia kan dapat menangkapnya, akhirnya Ki Tambak Wedi itupun melepaskan maksudnya.
Sidanti dan Widura masih tegak ditempat masing-masing. Ketika tanpa sesadarnya Widura memandang potongan besi yang tergeletak beberapa jengkal dimuka kakinya ia terkejut bukan buatan. Besi itu kini melengkung sehingga kedua ujung-ujungnya hampir bertemu. Adalah kekuatan yang luar biasa yang dapat melakukannya. Sepotong besi sebesar ibu jari kaki, yang panjangnya tidak lebih dari dua jengkal itu dapat dilengkungkannya sedemikian, sehingga hanpir menjadi sebuah lingkaran.
Widura menarik nafas dalam-dalam. Ki Tambak Wedi benar-benar luar biasa. Namanya yang menakutkan itu, tidak saja karena kesombongannya, namun ia benar-benar memiliki kekuatan yang tidak ada taranya.
Sidanti yang melihat wajah Widura dalam keremangan malam, serta sikapnya yang gelisah, dan kemudian dengan serta-merta memungut besi yang hampir menjadi lingkaran itu, tertawa pendek. Desisnya “Apa kau heran kakang, bahwa Ki Tambak Wedi dapat melakukannya? Melengkungkan besi sebesar itu dengan tangannya?”
“Tidak” jawab Widura. “Orang yang sakti seperti Ki Tambak Wedi itu pasti akan dapat berbuat lebih banyak dari permainan ini, meskipun permainan ini telah menggoncangkan dadaku”
Sekali lagi Sidanti tertawa. Dengan bibir yang ditarik kesisi ia berkata “Sejak saat ini kau jangan terlalu sombong dan berkeras kepala supaya umurmu tidak hanya terbatas pada lima hari ini saja”
Widura menggeleng. Sahutnya “Aku tidak senang orang lain mencampuri persoalan dalam tata kelaskaran Pajang. Sudah aku katakan, hidup matiku akan aku pertaruhkan untuk kewibawaan Pajang”
Sidanti mengangkat alisnya. Namun kemudian ia tertawa pula. Katanya “Marilah kita pulang. Setelah kakang Widura beristirahatn mungkin kakang mempunyai pertimbangan lain”
“Pulanglah dahulu” sahu Widura “Aku masih mempunyai pekerjaan”
Sidanti menjadi heran. Apakah yang akan dilakukan oleh Widura itu. Tetapi Sidanti yang sombong itu tak mau merajuk. Karena itu ia menjawab “Baiklah aku pulang dahulu”
Sidanti kemudian tidak menungu jawaban Widura. Segera ia melangkah meninggalkan tempat itu, kembali ke kademangan Sangkal Putung. Kini ia merasa dapat berbuat sekehendaknya. Sedang Widura pasti tak akan berani menghalanginya lagi.
“Widura itu hanya malu-malu saja mengakui kekuasaanku sekarang” katanya dalam hati. “Namun aku yakin bahwa ia tidak akan berani mengganggu aku lagi”
Sidanti itu tersenyum sendiri. Akan datang gilirannya Sedayu ditundukkannya. Kalau ia tak mampu melakukan sendiri, maka cara yang sama seperti yang dilakukan atas Widura itu akan ditempuhnya “Anak itu akan jauh lebih mudah diselesaikan”. Katanya pula “Kalau ia terbunuh, tak akan ada yang mempersoalkannya selain Widura. Dan aku yakin Widura pun kini akan berdiam diri”
Sidanti itu kemudian berjalan dengan wajah yang terang, seakan-akan Sangkal Putung itu benar-benar telah dikuasainya. Seluruhnya. Dan terbayanglah diwajahnya, seorang gadis yang manis dan lincah, yang pernah mengaguminya pula, Sekar Mirah. Dengan modal pimpinan atas Sangkal Putung dan kemudian apabila ia berhasil membinasakan Tohpati atas namanya, maka pasti ia akan cepat menanjak. Seterusnya, ia harus pandai memanfaatkan setiap kesempatan.
Widura yang masih tegak ditempatnya, memandang Sidanti itu sampai hilang dalam gelapnya malam. Ia tersadar ketika kemudian didengarnya ayam hutan berkokok dikejauhan. Ternyata malam telah jauh melampaui pusatnya. Dan sebentar lagi akan terdengar kokok ayam jantan yang terakhir kalinya menjelang fajar.
Perlahan-lahan Widura itupun menyarungkan pedangnya. Pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai persoalan yang menekan. Ternyata tugasnya menjadi sangat berat dan berbahaya. Tidak saja Tohpati dan sisa-sisa laskar Jipang yang lain yang memusingkan kepalanya, namun Sidanti, bagian dari tubuh sendiri, itupun benar-benar hampir mencabut nyawanya. Berturut-turut beterbanganlah angan-angannya atas pekerjaannya yang berat itu. Tohpati, Sidanti, Ki Tambak Wedi, Agung Sedayu, dan tak dapat diabaikan pula, usaha untuk menemukan Untara.
Widura menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia bergumam “Aku tidak dapat menghindarkan diri dari kewajiban-kewajiban itu. Meskipun tubuhku akan menjadi lumat karenanya.”
Perlahan-lahan Widura itupun melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja ia merasa muak untuk berjalan bersama-sama dengan Sidanti . Karena itu dibiarkannya anak muda itu berjalan dahulu. Dan kini iapun berjalan meninggalkan tegal yang sepi, sesepi taman pekuburan. Ketika sekali ia menoleh, dilihatnya pohon jambu mete itu seperti hantu raksasa yang mengembangkan tangan-tangannya yang banyak sekali jumlahnya untuk menyergapnya. Namun Widura bukan seorang penakut. Karena itu ia sama sekali tidak menjadi ngeri melihatnya. Dan ia masih tetap berjalan perlahan-lahan sambil menghirup udara malam yang segar.
Meskipun tubuhnya menjadi bertambah segar, namun hatinya tidak dapat menjadi sesegar tubuhnya. Berbagai-bagai persoalan, satu demi satu membelit dihatinya. Dan ia tidak mempunyai seorang kawanpun yang dapat diajaknya untuk membicarakan kelusitan-kesulitannya. Ki Demang Sangkal Putung pun tidak. Sebab dengan demikian demang Sangkal Putung itu akan mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda arah penelaahannya. Hudaya, Citra Gati dan orang lainpun pasti akan menuruti perasaannya saja, tanpa mempertimbangkan dengan pikiran, serta tanpa memandang kepentingan yang lebih besar dan jauh. Karena itu pikiran Widura itupun menjadi suram. Namun betapapun juga, dicobanya untuk mengatasi kesulitan itu dengan sebaik-baiknya.
Ketika Widura telah keluar dari daerah pategalan itu, tiba-tiba saja ia membelok kekiri. Ia terkejut sendiri atas langkahnya “Hem” gumamnya “Akan kemanakah aku ini?” Tetapi ia meneruskan langkahnya. Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk pergi ke gunung Gowok. Ia tidak menyadari sepenuhnya, apakah kepergiannya itu akan bermanfaat baginya. Namun, karena pikiran yang suram itu, inginlah ia berbuat sesuatu. Kiai Gringsing yang hampir setiap malam ditemuinya di gunung Gowok, kemudian ternyata mendapat tempat tersendiri didalam hatinya. Orang yang berbuat dan berbicara seenaknya, seakan-akan hidup ini hanyalah sebuah permainan yang menyenangkan saja.
“Apakah aku dapat berbicara dengan orang itu?” gumamnya. Tetapi kemudian iapun sadar, bahwa ia pasti akan menjadi kecewa karenanya. Orang bertopeng itu pasti akan mentertawakannya, ,dan menyuruhnya supaya membicarakan dengan orang yang disebutnya gurunya, Sedayu. Karena itu pulalah Widura itu sering mengumpat didalam hati. Namun kali ini ia benar-benar ingin menemuinya.
Tetapi Widura itu menjadi ragu-ragu. Apakah Kiai Gringsing masih berada disana? Hampir setiap malam ia datang bersama Sedayu, tetapi sebelum tengah malam. Dan kali ini tengah malam itu telah jauh lampau. Meskipun demikian Widura itu berjalan terus.
Diperjalanan itu, kadang-kadang pikirannya diganggu juga oleh suara lecutan yang dahsyat yang telah menyelamatkannya. Bahkan kemudian timbul juga berbagai pertanyaan didalam dirinya, siapakah orang yang telah berbuat itu? Apakah ada orang aneh lagi selain Kiai Gringsing? Apakah mungkin Kiai Gringsing pula yang melakukannya?
Widura menjadi ragu-ragu. Ia mengagumi kesaktian Kiai Gringsing, namun apakah orang itu mampu menggetarkan dadanya dengan suara lecutan itu, dan memaksa Ki Tambak Wedi merubah rencananya?
Gunung Gowok itu kini sudah tidak jauh lagi berada dihadapannya. Dalam keremangan malam, telah dilihatnya pohon kelapa sawit tegak diatas puntuk kecil itu. Namun sebelum ia meloncati parit dan berjalan diatas pematang, tiba-tiba Widura itu terkejut bukan kepalang, sehingga ia terlonjak karenanya. Dekat dibelakangnya, didengarnya sebuah letusan yang dahsyat, yang hampir saja menggugurkan isi dadanya.
Secepat-cepatnya Widura berusaha untuk memutar tubuhnya. Dan dengan gerak naluriah tangannya meraba hulu pedangnya. Namun tenaganya yang memang belum pulih itu, seakan-akan tidak mampu untuk melakukan sesuatu. Apalagi getaran didalam dadanya masih terasa memukul-mukul tak henti-hentinya.
Namun Widura tak melihat seorangpun. Dengan sekuat-kuat tenaganya ia memusatkan kekuatan batinnya melawan getaran-getaran yang masih saja melanda jantungnya. Sehingga lambat laun ia berhasil pula menenangkan dirinya.
Tetapi ia masih belum melihat seorangpun disekitarnya. Karena itu Widura menjadi gelisah. Tangan kanannya masih melekat dihulu oedangnya. Dan bahkan setelah getaran-getaran didialam dadanya mereda, Widura itupun telah siap untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi, meskipun ia sadar, bahwa tenaganya masih belum separo pulih kembali.
Tetapi sekali lagi Widura terkejut. Bukan oleh suara lecutan yang dahsyat. Tetapi kali ini terdengarlah suara tertawa. Suara yang bernada tinggi dan nyaring.
Dengan serta-merta Widura itupun berpaling. Hampir ia mengumpat ketika dilihatnya seseorang duduk diatas pematang diantara batang-batang padi muda. Dan Widura itupun segera mengenalnya. Orang itulah yang dicarinya, Kiai Gringsing.
“Ah” desis Widura. “Kiai benar-benar mengejutkan aku”
“Oh” sahut Kiai Gringsing “Maafkan aku. Aku kira kau senang mendengar lecutan-lecutan itu. Coba Widura apakah kau bisa berbuat seperti aku?”
Sebelum Widura menjawab, Kiai Gringsing itu sudah berdiri dan diberikannya kepada Widura sebuah cambuk lembu yang sederhana. Bertangkai bambu cendani dan ujungnyapun dibuatnya dari anyaman bambu siladan pula.
Dada Widura bergetar karena itu. Ternyata orang yang membunyikan lecutan-lecutan itu adalah Kiai Gringsing dengan cambuk bambu yang sangat sederhana pula. Karena itu, maka betapa kagumnya pemimpin laskar Pajang itu. Bahkan dengan serta-merta terloncatlah pertanyaannya “Jadi adakah Kiai tadi yang membunyikan cambuk itu berturut-turut tiga kali?”
Kiai Gringsing itu tertawa. Jawabnya “Aku sedang bermain-main”
“Tetapi perbuatan Kiai itu ternyata telah menolong jiwaku” sahut Widura.
“He” Kiai Gringsing terkejut. Katanya “Bagaimana itu terjadi. Apa hubungannya bunyi lecutan itu dengan jiwamu?”
Widura telah mengenal Kiai Gringsing beberapa lama. Karena itu maka iapun telah dapat mengerti seba sedikit tentang sifat orang bertopeng itu. Maka jawabnya “Suara lecutan itu telah menakut-nakuti orang yang akan membunuhku”
“Kau akan dibunuh orang?” bertanya Kiai Gringsing itu.
Widura kini benar-benar mengumpat didalam hati. Ia tahu benar bahwa Kiai Gringsing telah berbuat dengan sadar untuk menolongnya. Namun terpaksa ia menjawab pula “Ya Kiai”
“Apakah persoalannya, sehingga seseorang berbuat demikian jahatnya?” orang bertopeng itu bertanya
Widura menjadi ragu-ragu sejenak. Ingin ia mengutarakan semua persoalan-persoalan yang menyumbat dadanya, namun setelah ia bertemu dengan orang aneh itu, ia menjadi ragu-ragu. Karena itu ia ingin menjajaginya, apakah pintu terbuka baginya untuk menyatakan kesulitan-kesulitannya. “Kiai” katanya “Aku ternyata mempunyai banyak persoalan-persoalan disini. Persoalan didalam lingkungan sendiri dan persoalan yang aku hadapi atas sisa-sisa laskar Jipang” (bersambung)
Jumat, 25 Januari 2008
Api di Bukit Menoreh 18

Sebenarnyalah Sidanti dapat bergerak selincah burung walet yang menari-nari diudara pada senja hari diatas pantai. Geraknya cepat dan cekatan. Sekali-sekali ia mampu menyambar seperti burung elang, namun kadang-kadang ia menukik seperti merpati jantan.
Tetapi Widura sendiri mirip seekor burung rajawali yang tangguh. Dengan kedua tangannya yang kokoh kuat, sekuat sayap-sayap rajawali, ia selalu berhasil melindungi tubuhnya dari sergapan yang tiba-tiba. Bahkan sepasang kakinya itupun sangat mendebarkan jantung. Dengan putaran-putaran yang berbahaya kaki Widura itu merupakan sebuah perlawanan tersendiri disamping gerak tangannya yang cepat cekatan. Sehingga Widura itu seakan-akan memiliki sepasang otak yang masing-masing dapat mengatur kaki dan tangan dalam gerak pasangan yang tersendiri.
Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Sidanti yang lincah menjadi semakin lincah, dan Widura yang kokoh itupun menjadi semakin tangguh.
Kini mereka seakan-akan telah luluh dalam satu lingkaran yang berputar-putar. Bayangan mereka melontar-lontar seakan-akan tak terjendali lagi. Saling menyerang dan saling melibat dalam gerakan-gerakan yang aneh dan membingungkan. Tetapi Sidanti dan Widura tidak menjadi bingung karenanya. Mereka memiliki daya pengamatan yang cukup kuat. Meskipun tangan Sidanti yang cepat itu bisa berubah menjadi berpasang-pasang dan menyerang dari segenap penjuru, namun kaki Widura itupun seolah-olah menjadi berpuluh-puluh jumlahnya, melontar-lontarkan tubuhnya dari satu titik ketitik yang lain. Sekali-sekali terjadi benturan antara keduanya. Namun ternyata bahwa kekuatan mereka pun berimbang.
Sekali-sekali Widura terdorong surut, namun kali yang lain Sidanti terlempar beberapa langkah. Kalau mereka dalam kesiagaan yang sama, maka setiap benturan akan memaksa keduanya surut beberapa langkah mundur.
Ketika peluh telah membasahi tubuh-tubuh mereka, maka perkelahian itupun menjadi bertambah sengit. Sekali-sekali Sidanti harus merasakan, betapa wajahnya menjadi panas oleh sengatan tangan Widura yang berat dan mantap. Sekali ia terdorong surut, dan sebelum ia berhasil memperbaiki keseimbangannya, tangan Widura telah menyusulnya. Kembali wajah Sidanti terangkat. Namun ketika sekali lagi tangan Widura menyambar wajah itu, Sidanti berhasil mengelakkannya.
Kali ini, Widura sendiri terseret oleh tenaga tangannya sehingga hampir-hampir saja ia tidak mampu melepaskan diri dari serangan Sidanti yang tiba-tiba. Untunglah kemampuan Widura cukup tinggi, sehingga ketika sebuah pukulan mengarah kepelipisnya, Widura sempat merendahkan dirinya. Tetapi ternyata Sidantipun cukup lincah. Ketika disadarinya bahwa serangan tak menyentuh tubuh Widura, cepat-cepat ia menggerakkan kakinya langsung menyerang dada. Widura yang sedang merendahkan dirinya itu terkejut. Ia tidak sempat mengelak, yang dapat dilakukannya adalah, memukul kaki Sidanti dengan kedua sisi telapak tangannya.
Benturan kekuatan itupun telah mendorong mereka masing-masing beberapa langkah surut. Dan sesaat kemudian mereka telah berloncatan kembali, saling menyerang dan saling bertahan.
Sidanti yang lebih muda dari lawannya memiliki nafsu dan tenaga yang lebih baik dari lawannya, namun Widura memiliki ketenangan dan pengalaman melampaui Sidanti . Karena itu , maka dengan pengalamannya itu, Widura selalu dapat menempatkan dirinya, sehingga meskipun Sidanti lebih banyak menyerangnya, namun keadaan Widura tidak mencemaskan.
Yang menjadi cemas kemudian adalah Sidanti . Menurut gurunya, Widura itu pasti akan dapat dikalahkan setelah ia mendapat tempaan yang khusus untuk kepentingan itu. Namun ternyata setelah ia berkelahi beberapa lama, Widura itu masih dapat melawannya dengan baik, sebaik pada saat mereka baru mulai. Meskipun Sidanti yakin, bahwa Widura itupun tak akan dapat memenangkan perkelahian itu, tetapi ia menjadi gelisah, apabila ia tak pula dapat menang daripadanya.
Bahkan Widura sendiri kadang-kadang menjadi kagum pada geraknya sendiri. Tiba-tiba saja ia berhasil melepaskan serangan yang seolah-olah dengan sendirinya meluncur dari kedua tangan dan kaki-kakinya. Sebagai seorang yang cukup mempunyai pengalaman dalam pertempuran bersama dan seorang-seorang, maka Widura merasakan, bahwa ada sisipan ilmu pada ilmunya yang telah dimilikinya dari kakak iparnya, Ki Sadewa. Namun ilmu itu terasa sama sekali tidak mengganggunya, bahkan terasa keserasian dan nafas yang sama pula dengan ilmunya. Tiba-tiba teringatlah ia kepada seorang aneh yang selalu datang melihat latihan-latihan Agung Sedayu di gunung Gowok. Orang yang memakai ciri kain gringsing dan juga menamakan dirinya Kiai Gringsing.
“Hem” gumam Widura dalam hati. “Agaknya ilmu orang aneh itupun telah menyusup masuk kedalam perbendaharaan ilmu yang telah aku miliki. Dan ternyata sikapnya yang aneh-aneh itu menolong aku pula kali ini”
Dan teringatlah oeh Widura kata-katanya orang bertopeng itu “Sidantipun selalu melatih diri bersama gurunya”
Tangkapannya atas kata-kata itu ternyata benar. Pada suatu saat ia harus bertempur melawan anak muda yang sombong itu. Dan hal itu kini telah terjadi.
Demikianlah dengan nafsu yang bergejolak didalam dadanya, Sidanti berusaha untuk dapat mengalahkan Widura, dan memaksakan kehendak-kehendaknya atas pimpinannya itu. Tidak saja dalam persoalannya dengan Agung Sedayu, tetapi jauh dari itu. Ia ingin memaksakan kehendaknya dalam setiap persoalan.
Tetapi ternyata bahwa ia tidak segera dapat menundukkann Widura. Betapapun ia telah berjuang. Diperasnya segenap kemampuan yang telah diterimanya dari gurunya, namun Widura itu masih saja dengan gigihnya melakukan perlawanan. Tetapi, baik Sidanti sendiri maupun Ki Tambak Wedi, sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa hampir setiap malam, seperti juga Sidanti yang mendapat tempaan terus-menerus, Widura pun selalu berkelahi melawan orang aneh yang menamakan dirinya Kiai Gringsing. Bahkan orang aneh itu berkelahi tidak saja dengan tangan dan kakinya, tetapi dengan mulutnya juga. Orang itu ternyata sempat melihat kekurangan Widura dan bahkan kesalahan-kesalahan kecil sekalipun.
Perkelahian yang sengit itu masih berlangsung lama. Mereka sudah hampir menumpahkan segenap tenaga mereka. Karena itu maka tenaga masing-masing semakin lama menjadi semakin susut. Bintang-bintang dilangit telah melampaui pertengahannya. Karena itulah maka Sidanti menjadi semakin gelisah karenanya. Kalau ia gagal mengalahkan Widura, maka nasibnya bukan menjadi bertambah baik, tetapi Widura pasti akan semakin bersikap keras kepadanya.
Tiba-tiba Sidanti dan Widura kembali mendengar suara bilalang. Seperti suara yang semula mereka dengar. Karena itu Widura pun menjadi semakin berwaspada. Ia yakin, bahwa suara itu adalah suatu aba-aba yang harus dilakukan oleh Sidanti .
Ternyata dugaan Widura itupun benar. Demikian Sidanti mendengar suara bilalang itu, tiba-tiba saja ia meloncat surut. Kemudian sambil berdiri tegak diatas kedua kakinya yang kokoh, ia berkata lantang “Kakang, perkelahian kita tidak akan ada akhirnya”
Widura tidak segera menyerangnya. Iapun kemudian berdiri beberapa langkah dari Sidanti , katanya “Apakah yang kau inginkan kemudian?”
“Bukankah kita membawa senjata masing-masing?”
Widura menarik nafas dalam-dalam, ditatapnya wajah anak muda itu dengan seksama. Namun dalam malam yang kelam itu tak dilihatnya kesan apapun pada wajah itu, selain kesan kemarahan yang membakar jantung Sidanti. Dalam pada itu terdengar Widura berkata “Apakah kau menyadari perkataanmu itu Sidanti?”
“Tentu” jawab Sidanti “Bukankah maksud kakang Widura mengatakan, bahwa dengan senjata-senjata itu, dada kita masing-masing akan mungkin terbelah karenanya?”
“Ya”
“Aku menyadari kemungkinan itu. Namun bukan maksudku membunuh kakang Widura. Kalau kakang bersedia memenuhi setiap permintaanku, baik dalam hubunganku dengan Sedayu, maupun kedudukanku di Sangkal Putung dan seterusnya sebagai prajurit Pajang, maka aku tak akan menyentuh senjataku dalam perkelahian ini”
Sekali lagi Widura menarik nafas dalam-dalam. Yang terloncat dari mulutnya adalah “Sidanti, aku telah siap mempertahankan keputusanku”
“Bagus” teriak Sidanti sambil meloncat meraih pusakanya. Sesaat Widura masih tegak ditempatnya. Tetapi ketika ia melihat Sidanti telah menggenggam senjatanya, maka perlahan-lahan Widura itupun berjalan mengambil senjatanya. Pedang yang tidak begitu tajam, namun ujungnya runcing melampaui ujung jarum.
“Kita akan bertempur sebagai laki-laki, kakang” berkata Sidanti .
“Tentu” sahut Widura.
“Kita tidak ingin saling membunuh, namun siapa yang mula-mula mengalirkan darah dari lukanya, ialah yang kalah”
“Bagus” sahut Widura.
“Yang kalah harus tunduk pada setiap keputusan dari yang menang”
Tiba-tiba Widura menggeleng “Tidak” katanya segera. “Kekalahan kita masing-masing disini tidak mempengaruhi kedudukan kita. Akulah pimpinan laskar Pajang di Sangkal Putung”
Dada Sidanti serasa menggelegar karenanya. Tiba-tiba ia berteriak “Lalu apakah gunanya kita bertempur disini?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya memenuhi permintaanmu. Sebab bagaimanapun, kau tidak akan dapat mempersoalkan atas Sangkal Putung dan kekuasaan yang ada ditanganku. Aku akan mengambil keputusan menurut keyakinanku, menurut kebenaran yang aku yakini. Tidak dapat seorangpun yang akan mempengaruhi keputusan itu”
“Gila. Apakah kau sangka aku tidak dapat membunuhmu kakang” teriak Sidanti pula.
“Kalau aku mati, maka aku akan mati sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Bukan sebagai kelinci yang sedang melarikan diri dari terkaman anjing hutan”
Tubuh Sidanti tiba-tiba bergetar karena kemarahannya. Matanya yang bulat itu sesaat menjadi redup. Kemudian ditariknya keningnya kesisi, namun kemudian meledaklah kata-katanya “Apakah kau ingin kita bertempur sampai mati?”
“Tidak” sahut Widura. “Aku tidak mempunyai keinginan untuk berkelahi dengan kekuatan dalam lingkunganku sendiri. Apalagi sampai mati. Tetapi aku juga tidak ingin melihat kewibawaanku dikurangi. Sebab aku bertanggung jawab kepada panglima Tamtama di Pajang. Tidak kepadamu dan tidak kepada Agung Sedayu. Sedang panglima di Pajang itu menyalurkan perintah adipati Pajang yang sedang menegakkan kewibawaan Demak. Nah, kewibawaanku adalah sebagian dari kewibawaan adipati pajang itu”
“Persetan” potong Sidanti hampir hangus dibakar kemarahannya “Bersiaplah”
Widura kini benar-benar tak dapat menghindarkan diri dari perkelahian bersenjata. Tiba-tiba saja Sidanti telah meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya yang tajam diujung dan pangkalnya itu berputar seperti baling-baling, kemudian melontar seperti jarum pemintalan. Sekali-sekali menyambar dengan ujungnya namun kemudian mematuk dengan pangkalnya.
Widura menggigit bibirnya. Dengan tangkasnya ia meloncat-loncat menghindari serangan itu. Pedangnyapun kemudian bergerak-gerak datar, kadang-kadang menyilang dan tiba-tiba saja terjulur lurus kedada lawannya.
Kali inipun Sidanti merasakan, bahwa olah pedang Widura itu cukup mampu untuk melawan senjatanya. Namun ia masih akan mencoba menggunakan kelincahannya dan kecepatannya untuk menembus dinding baja dari putaran pedang lawannya.
Perkelahian diantara keduanya kini menjadi bertambah mengerikan. Senjata Sidanti benar-benar merupakan senjata yang berbahaya. Setiap sentuhan dari tajam diujung dan pangkal senjata itu akan menyobek tubuh lawam. Tetapi pedang Widura itupun setiap saat dapat membelah dada lawannya. Dengan kekuatan yang mengagumkan pedang itu menyambar-nyambar seoerti alap-alap diudara.
Tetapi perkelahian inipun tak akan berujung pangkal. Karena kepandaian mereka mempergunakan senjata masing-masing. Maka yang terjadi hanyalah benturan-benturan diantara senjata mereka. Demikian besar kekuatan mereka berdua, maka dalam setiap sentuhan diantara senjata-senjata itu, terperciklah bunga api yang seakan-akan berloncatan dari kedua senjata itu.
Sidantipun telah berjuang memeras segenap ilmunya, dan Widura pun tak kalah sengitnya mempergunakan segenap tenaganya. Demikian dahsyatnya perkelahian itu, sehingga seakan-akan tenaga merekapun segera terhisap habis. Baik Sidanti maupun Widura telah mempergunakan pula setiap tenaga cadangan didalam tubuh mereka. Kekuatan-kekuatan yang dilambari dengan ketekunan latihan-latihan dimasa-masa lampau telah mereka kerahkan. Namun keadan mereka maih tetap berimbang. Bahkan setelah tenaga mereka semakin susutpun, mereka tak dapat melampaui satu dari yang lain.
Kini serangan-serangan mereka sudah tidak secermat pada saa mereka mulai. Kadang-kadang mereka terseret beberapa langkah karena tarikan senjata mereka sendiri. Namun dalam saat yang demikian, lawannyapun tidak segera sempat menyerang. Dengan lemahnya, mereka terpaksa melangkah terhuyung-huyung maju.
Bahkan kadang-kadang, karena sentuhan batu-batu kecil pada kaki mereka, mereka telah kehilangan keseimbangan.
Demikianlah pertempuran itu menjadi aneh. Ketika Sidanti mencoba menembus pertahanan Widura dengan sebuah tusukan pada lambungnya, maka Widura pun berusaha untuk menghindarinya. Ketika ia meloncat kesamping, tiba-tiba kakinya terperosok oleh lubang-lubang yang telah terjadi selama perkelahian itu. Widura yang kelelahan itupun tidak dapat menahan diri, sehingga ia terhuyung-huyung hampir jatuh. Sidanti ingin mempergunakan kesempatan itu, tetapi ketika serangannya gagal, bahkan ia terseret beberapa langkah oleh senjatanya. Dalam keadaan yang demikian, masing-masing ingin mencoba mempergunakan kelemahan-kelemahan lawannya, namun mereka sendiri seakan-akan telah tidak mampu lagi menggerakkan tangan dan kaki mereka. Sehingga dengan demikian, tidak ada keseimbangan antara kehendak dan perhitungan mereka dalam tata perkelahian itu, dengan tenaga-tenaga mereka yang seakan-akan telah terperas habis. Namun tak seorangpun diatara mereka yang mendahului mengakhiri perkelahian yang aneh itu.
Malam semakin lama menjadi semakin dalam, dan bintang-bintangpun menjadi semakin bergeser kebarat. Langit yang biru gelap tersaput leoh mega yang selembar-selembar mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut.
Namun yang berkelahi masih berkelahi juga. Tetapi perkelahian itu kini sama sekali sudah tidak berbahaya lagi bagi kedua belah pihak. Meskipun sekali-sekali Sidanti masih menusukkan senjatanya, namun senjata itu tak akan sampai menyentuh tubh lawannya. Sedang apabila Widura mencoba mengayunkan pedangnya dengan kedua tangannya, maka ia sendirilah yang akan terpelanting jatuh.
Nafas mereka berdua kini satu-satu tersangkut didalam kerongkongan. Peluh mereka mengalir seperti mereka sedang bertempur didalam hujan yang pekat. Bahkan apabila sekali-sekali terjadi juga benturan diantara senjata-senjata mereka, maka mereka berdua itupun terdorong surut dn kemudian terbanting jatuh ditanah. Dengan susah payah mereka berebut dahulu untuk bangkit, dan apabila mungkin menyerang sebelum lawannya menguasai diri sepenuhnya. Namun usaha itu tak akan pernah berhasil. Sebab lutut-lutut mereka seakan-akan sudah tidak berpaut lagi.
Meskipun tenaganya sudah hampir habis terperas, namun Sidanti masih mengumpat-umpat dalam hati. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Widura mampu melawan dengan baiknya. Pada saat mereka berdua bertempur melawan Tohpati berganti-ganti, Widura itu ternyata tidak lebih baik daripadanya. Kini ia telah mendapat tempaan yang padat dari gurunya, dan bahkan gurunya itupun berkata, bahwa ilmunya pasti akan lebih baik meskipun hanya selapis tipin dari Widura. Namun ternyata kini, bahwa ilmunya benar-benar tidak melampaui ilmu Widura itu sendiri. Apakah tempaan selama ini, dihampir setiap malam dengan ilmu-ilmu gurunya yang hampir sempurna itu sama sekali tak berpengaruh atasnya?
Sedang Widura pun benar-benar kagum kepada anak muda murid Kiai Tambak Wedi itu. Namun didalam lekuk-lekuk hatinya, terasa juga bahwa ia sedang mengagumi dirinya sendiri. Ternyata bahwa merah biru diwajah-wajah kulitnya, hampir setiap malam apabila ia berkelahi melawan Kiai Gringsing yang memegang cemetinya ditengah-tengah itu ada juga manfaatnya baginya. Kini ia benar-benar menghadapi senjata Sidanti bukan sekedar cemeti kuda. Apabila senjata yang mengerikan itu benar-benar dapat menyentuhnya, maka akibatnya tidak saja sekedar merah biru diwajah-wajah kulitnya, tetapi luka-luka yang pedih akan menganga. Karena itu pun Widura bersyukur dalam hati. Siapakah sebenarnya orang aneh yang menamakan dri Kiai Gringsing itu?
Tetapi Widura tidak sempat berangan-angan. Kini mereka berdua berhadap-hadapan dengan tubuh gemetar. Bukan karena marah yang membakar dada mereka, namun karena tenaga nr telah terkuras habis.
Sidanti yang dengan susah payah masih mencoba tegak diatas kedua kakinya, menggeram dengan suara parau yang gemetar. Katanya “Mampus kau kakang Widura”
Keadaan Widura pun tidak lebih naik dari keadaan Sidanti . namun otaknyalah yan glebih baik. Meskipun nafasnya telah hampir putus ditenggorokan, namun ia berkata diantara engah nafasnya ”Sidanti, apakah hasil yang kita dapatkan dari perkelahian ini?”
Terdengar Sidanti menggeram. Matanya msih menyalakan kemarahannya yang meluap-luap. Bahkan ia menjadi semakin marah, ketika ia menyadari keadaannya. Ternyata Widura tak dapat ditundukkannya. Apalagi ketika ia mendengar pertanyaan Widura itu. Namun sesaat kemudian pertanyaan itu benar-benar membingungkannya. “Ya, apakah yang sudah didapatnya dari perkelahian itu?”
Namun yang terlontar dari mulutnya adalah sebuah makian yang kasar. “Setan. Bukankah dengan demikian kau tahu bahwa kau bukan orang yang aneh di Sangkal Putung. Bahwa Widura pun manusia juga yang tidak lebih dari Sidanti?”
“Tentu” sahut Widura. “Apakah aku pernah berkata bahwa aku keturunan malaikat?”
“Tetapi kau merasa, seakan-akan dirimu tak terkena salah. Semua orang harus tunduk atas kehendakmu”
“Itu bukan karena aku Widura. Tetapi itu karena wewenang yang aku terima”
“Omong kosong” bentak Sidanti, “Sejak sekarang kau harus merubah sikap itu”
Widura menggeleng “Tidak” jawabnya tegas.
Dada Sidanti benar-benar akan meledak karenanya. Namun ketika ia ingin menyerang lawannya kembali, ia terhuyung-huyung. Dengan susah payah ia mencoba untuk menemukan keseimbangannya kembali. “Gila” anak itu mengumpat lagi. Tetapi kali ini tak ditujukannya kepada siapapun.
Sedang Widura masih tegak ditempatnya. Namun seandainya sebuah angin kencang menyentuhnya maka Widura itupun pasti akan roboh. Karena itu, ia tidak ingin berbuat sesuatu. Otaknya yang telah dipenuhi dengan berpuluh-puluh ribu macam persoalan ternyata masih tetap baik, betapapun tenaganya telah terhisap oleh embun malam. Kini ia yakin bahwa Sidanti itu sama sekali sudah tak berdaya seperti dirinya sendiri.
Dalam pada itu, tiba-tiba mereka berdua terkejut. Namun Sidanti hanya sesaat. Tetapi Widuralah kemudian teruncang dadanya. Meskipun telah disangkanya lebih dahulu, namun kehadiran yang tiba-tiba diantara mereka, benar-benar mengejutkan. Dan dengan wajah cerah Sidanti berkata kepada orang yang baru datang itu “Selamat datang guru”
Kiai Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya yang panjang runcing serta sepasang matanya yang tajam, setajam mata burung hantu merupakan pertanda, bahwa Kiai Tambak Wedi adalah seorang yang tidak dapat mengenal puas atas segenap usaha yang pernah dicapainya.
Widura pun kemudian mengangguk pula. Seperti Sidanti, iapun mencoba memberi salam kepada orang sakti itu “Selamat datang Kiai”
Kiai Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Widura dengan tajamnya, seperti akan ditelannya hidup-hidup. Kemudian sambil mengangguk kecil ia menjawab “Hem, selamat Widura”
Widura pun mencoba untuk mengenal wajah orang yang namanya terkenal didaerah sebelah timur gunung Merapi itu. Semakin jelas ia mengenal wajah itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Diantara sepasang matanya yang tajam itu, tampaklah hidung Kiai Tambak Wedi besar dan melengkung seperti paruh burung. Sayang, malam yang pekat itu tak memberi kesempatan kepada Widura untuk melihat setiap garis yang tergores diwajah itu.
“Widura” berkata Kiai Tambak Wedi itu kemudian. Suaranya besat dan seakan-akan bergetar saja didalam dadanya “Ternyata kau mampu menyamai muridku”
Widura mangguk kecil. Jawabnya “Aku hanya mecoba melayani adi Sidanti bermain-main Kiai”
“Jangan sombong” sahut Kiai Tambak Wedi. “Meskipun kau berhasil mempertahankan namamu, tapi jangan berkeras kepala. Aku tidak senang melihat sikapmu”
Widura tidak segera menjawab. Sekali lagi ia mencoba menatap wajah Kiai Tambak Wedi yang sedemikian saktinya, sehingga orang mengatakan bahwa ia mampu menangkap angin.
“Widura” berkata Kiai Tambak Wedi kemudian. “Aku heran, bahwa kau mampu bertempur dalam tataranmu sekarang. Aku sangka kau tidak akan dapat menyamai muridku. Namun agaknya ilmumupun bertambah. Aku sangka, setelah Sidanti menambah ilmunya akhir-akhir ini kau akan menjadi ketinggalan karenanya”
Kali inipun Widura tidak menjawab. Ia masih tegak seperti patung. Patung yang kurang seimbang, sehingga setiap sentuhan akan dapat merobohkannya.
“Tetapi” berkata Kiai Tambak Wedi itu pula, “Sangkaanku itu keliru” Kiai Tambak Wedi diam untuk sesaat. Kemudian katanya “Meskipun demikian itu bukan berarti bahwa setiap tuntutan Sidanti sudah dilepaskan”
Widura menjadi semakin berdebar-debar. Guru Sidanti itu kini ternyata telah secara langsung turut dalam setiap persoalan di Sangkal Putung. Meskipun demikian dibiarkannya Kiai Tambak Wedi itu berkata “Widura, sebenarnya aku tidak ingin mencampuri persoalanmu sebagai pimpinana laskar Pajan di Sangkal Putung. Apabila kau tidak berbuat banyak kesalahan. Aku bermaksud membiarkan Sidanti melakukannya sendiri, tetapi ternyata karena Sidanti tak dapat mengalahkanmu, maka kau pasti masih akan berkeras kepala. Kini biarlah aku meneruskan permintaan Sidanti itu. Terus terang, tanpa berbelit-belit . Widura, kau harus menyingkirkan Agung Sedayu. Kedua, setiap kau berhalangan maka Sidanti lah pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Kemudian kau harus menyampaikan kemenangan Sidanti atas Tohpati. Seterusnya kau harus mengusulkan kepada atasanmu, panglima wiratamtama. Untuk kedudukan yang lebih baik bagi Sidanti, ingat, masa depan Sidanti harus berbeda dari masa depanmu. Kau sudah puas dengan kedudukanmu sekarang. Tetapi Sidanti tidak. Sidanti melihat jauh kemasa depan. Dengarlah Widura, bukankah dengan menyingkirkan Jipang, maka adipati Pajang sekarang ini, adalah pewaris satu-satunya kerajaan Demak. Aku kira sultan Cirebon, manantu Trenggana pula, tidak akan mempunyai tuntutan apa-apa. nah, apa pula yang kelak akan terjadi dengan janji tanah Mentaok dan Pati bagi mereka yang dapat membunuh adipati Jipang? Bukankah dengan demikian hari depan Pajang sendiri masih akan berbelit-belit. Dalam keadaan yang demikian Sidanti harus tampil kedepan. Kau dengar? Kalau kemudian Sidanti telah menemukan kedudukan yang pantas baginya, kau adalah salah seorang dari panglimanya. Begitu?”
Widura masih berdiam diri. Namun tiba-tiba ia menjadi muak mendengar semua kata-katanya Kiai Tambak Wedi. Tetapi ia harus menjaga dirinya. Kiai Tambak Wedi adalah seorang yang sakti. Bahkan ia terkejut ketika Kiai Tambak Wedi itu berkata “Kau adalah anak tangga yang pertama bagi Sidanti , Widura. Bagaimana?”
Tiba-tiba Widura itupun menggeleng. Kini ia menjawab dengan ketegasan yang sama seperti jawabannya kepada Sidanti. “Sayang Kiai, aku tidak dapat memberikan apa-apa kepada Sidanti”
Kiai Tambak Wedi menarik alisnya. Kemudian ia tersenyum. Katanya “Jangan berkeras kepala Widura. Ingat, nasibmu akan dapat menjadi kurang baik”
Sekali lagi Widura menggeleng. “Kiai, mungkin aku dapat menjanjikannya disini karena aku takut kepada Kiai. Namun aku tidak akan dapat melaksanakannya kelak. Bukankah dengan demikian aku sekedar menipu Kiai. Karena itu lebih baik berkata terus terang”
Sidanti yang mendengar percakapan itupun, wajahnya menjadi semakin membara. Bahkan kemudian ia menggeram “Bukankah guru dapat memaksanya?”
“Tentu Sidanti” sahut Kiai Tambak Wedi. “Aku akan bisa memaksanya. Menangkapnya sekarang dan mengikatnya dibatang jambu mete ini. Kemudian dengan kukuku ini aku dapat menggores kulitnya sehingga terkelupas. Tetapi Widura tidak akan membiarkannya aku berbuat demikian, bukankah begitu?”
Dada Widura pun menjadi semakin berdebar-debar. Meskipun demikian ia menjawab “Benar Kiai, aku mengharap Kiai tidak akan berbuat demikian. Tetapi permintaan Kiai itupun tak akan dapat aku penuhi”
Kiai Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Jangan begitu Widura. Nasibmu, hidup matimu kini ada ditanganku”
“Terserahlah kepada Kiai”
Kiai Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Jawaban itu benar-benar tidak menyenangkan. Katanya “Widura, jangan membuat aku marah. Aku bisa membunuhmu sekarang”
“Terserah kepada Kiai. Aku harus tetap pada perintahku. Hidup atau mati adalah akibat yang sudah aku ketahui sejak aku masuk menjadi seorang prajurit. Adalah sudah seharusnya aku mati sambil menggenggam kewajiban. Bukan mengingkari”Kiai Tambak Wedi, seorang yang sudah kenyang mengenyam pahit manisnya kehidupan itu, mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Widura. Ia kagum pada kejantanannya. Kagum pada tanggung-jawabnya. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak senang mendengar jawaban itu. Dengan demikian seakan-akan Widura itu sama sekali tidak takut kepadanya. Ia ingin agar setiap orang menjadi gemetar dan menggigil ketakutan mendengar namanya. (bersambung)
Tetapi Widura sendiri mirip seekor burung rajawali yang tangguh. Dengan kedua tangannya yang kokoh kuat, sekuat sayap-sayap rajawali, ia selalu berhasil melindungi tubuhnya dari sergapan yang tiba-tiba. Bahkan sepasang kakinya itupun sangat mendebarkan jantung. Dengan putaran-putaran yang berbahaya kaki Widura itu merupakan sebuah perlawanan tersendiri disamping gerak tangannya yang cepat cekatan. Sehingga Widura itu seakan-akan memiliki sepasang otak yang masing-masing dapat mengatur kaki dan tangan dalam gerak pasangan yang tersendiri.
Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Sidanti yang lincah menjadi semakin lincah, dan Widura yang kokoh itupun menjadi semakin tangguh.
Kini mereka seakan-akan telah luluh dalam satu lingkaran yang berputar-putar. Bayangan mereka melontar-lontar seakan-akan tak terjendali lagi. Saling menyerang dan saling melibat dalam gerakan-gerakan yang aneh dan membingungkan. Tetapi Sidanti dan Widura tidak menjadi bingung karenanya. Mereka memiliki daya pengamatan yang cukup kuat. Meskipun tangan Sidanti yang cepat itu bisa berubah menjadi berpasang-pasang dan menyerang dari segenap penjuru, namun kaki Widura itupun seolah-olah menjadi berpuluh-puluh jumlahnya, melontar-lontarkan tubuhnya dari satu titik ketitik yang lain. Sekali-sekali terjadi benturan antara keduanya. Namun ternyata bahwa kekuatan mereka pun berimbang.
Sekali-sekali Widura terdorong surut, namun kali yang lain Sidanti terlempar beberapa langkah. Kalau mereka dalam kesiagaan yang sama, maka setiap benturan akan memaksa keduanya surut beberapa langkah mundur.
Ketika peluh telah membasahi tubuh-tubuh mereka, maka perkelahian itupun menjadi bertambah sengit. Sekali-sekali Sidanti harus merasakan, betapa wajahnya menjadi panas oleh sengatan tangan Widura yang berat dan mantap. Sekali ia terdorong surut, dan sebelum ia berhasil memperbaiki keseimbangannya, tangan Widura telah menyusulnya. Kembali wajah Sidanti terangkat. Namun ketika sekali lagi tangan Widura menyambar wajah itu, Sidanti berhasil mengelakkannya.
Kali ini, Widura sendiri terseret oleh tenaga tangannya sehingga hampir-hampir saja ia tidak mampu melepaskan diri dari serangan Sidanti yang tiba-tiba. Untunglah kemampuan Widura cukup tinggi, sehingga ketika sebuah pukulan mengarah kepelipisnya, Widura sempat merendahkan dirinya. Tetapi ternyata Sidantipun cukup lincah. Ketika disadarinya bahwa serangan tak menyentuh tubuh Widura, cepat-cepat ia menggerakkan kakinya langsung menyerang dada. Widura yang sedang merendahkan dirinya itu terkejut. Ia tidak sempat mengelak, yang dapat dilakukannya adalah, memukul kaki Sidanti dengan kedua sisi telapak tangannya.
Benturan kekuatan itupun telah mendorong mereka masing-masing beberapa langkah surut. Dan sesaat kemudian mereka telah berloncatan kembali, saling menyerang dan saling bertahan.
Sidanti yang lebih muda dari lawannya memiliki nafsu dan tenaga yang lebih baik dari lawannya, namun Widura memiliki ketenangan dan pengalaman melampaui Sidanti . Karena itu , maka dengan pengalamannya itu, Widura selalu dapat menempatkan dirinya, sehingga meskipun Sidanti lebih banyak menyerangnya, namun keadaan Widura tidak mencemaskan.
Yang menjadi cemas kemudian adalah Sidanti . Menurut gurunya, Widura itu pasti akan dapat dikalahkan setelah ia mendapat tempaan yang khusus untuk kepentingan itu. Namun ternyata setelah ia berkelahi beberapa lama, Widura itu masih dapat melawannya dengan baik, sebaik pada saat mereka baru mulai. Meskipun Sidanti yakin, bahwa Widura itupun tak akan dapat memenangkan perkelahian itu, tetapi ia menjadi gelisah, apabila ia tak pula dapat menang daripadanya.
Bahkan Widura sendiri kadang-kadang menjadi kagum pada geraknya sendiri. Tiba-tiba saja ia berhasil melepaskan serangan yang seolah-olah dengan sendirinya meluncur dari kedua tangan dan kaki-kakinya. Sebagai seorang yang cukup mempunyai pengalaman dalam pertempuran bersama dan seorang-seorang, maka Widura merasakan, bahwa ada sisipan ilmu pada ilmunya yang telah dimilikinya dari kakak iparnya, Ki Sadewa. Namun ilmu itu terasa sama sekali tidak mengganggunya, bahkan terasa keserasian dan nafas yang sama pula dengan ilmunya. Tiba-tiba teringatlah ia kepada seorang aneh yang selalu datang melihat latihan-latihan Agung Sedayu di gunung Gowok. Orang yang memakai ciri kain gringsing dan juga menamakan dirinya Kiai Gringsing.
“Hem” gumam Widura dalam hati. “Agaknya ilmu orang aneh itupun telah menyusup masuk kedalam perbendaharaan ilmu yang telah aku miliki. Dan ternyata sikapnya yang aneh-aneh itu menolong aku pula kali ini”
Dan teringatlah oeh Widura kata-katanya orang bertopeng itu “Sidantipun selalu melatih diri bersama gurunya”
Tangkapannya atas kata-kata itu ternyata benar. Pada suatu saat ia harus bertempur melawan anak muda yang sombong itu. Dan hal itu kini telah terjadi.
Demikianlah dengan nafsu yang bergejolak didalam dadanya, Sidanti berusaha untuk dapat mengalahkan Widura, dan memaksakan kehendak-kehendaknya atas pimpinannya itu. Tidak saja dalam persoalannya dengan Agung Sedayu, tetapi jauh dari itu. Ia ingin memaksakan kehendaknya dalam setiap persoalan.
Tetapi ternyata bahwa ia tidak segera dapat menundukkann Widura. Betapapun ia telah berjuang. Diperasnya segenap kemampuan yang telah diterimanya dari gurunya, namun Widura itu masih saja dengan gigihnya melakukan perlawanan. Tetapi, baik Sidanti sendiri maupun Ki Tambak Wedi, sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa hampir setiap malam, seperti juga Sidanti yang mendapat tempaan terus-menerus, Widura pun selalu berkelahi melawan orang aneh yang menamakan dirinya Kiai Gringsing. Bahkan orang aneh itu berkelahi tidak saja dengan tangan dan kakinya, tetapi dengan mulutnya juga. Orang itu ternyata sempat melihat kekurangan Widura dan bahkan kesalahan-kesalahan kecil sekalipun.
Perkelahian yang sengit itu masih berlangsung lama. Mereka sudah hampir menumpahkan segenap tenaga mereka. Karena itu maka tenaga masing-masing semakin lama menjadi semakin susut. Bintang-bintang dilangit telah melampaui pertengahannya. Karena itulah maka Sidanti menjadi semakin gelisah karenanya. Kalau ia gagal mengalahkan Widura, maka nasibnya bukan menjadi bertambah baik, tetapi Widura pasti akan semakin bersikap keras kepadanya.
Tiba-tiba Sidanti dan Widura kembali mendengar suara bilalang. Seperti suara yang semula mereka dengar. Karena itu Widura pun menjadi semakin berwaspada. Ia yakin, bahwa suara itu adalah suatu aba-aba yang harus dilakukan oleh Sidanti .
Ternyata dugaan Widura itupun benar. Demikian Sidanti mendengar suara bilalang itu, tiba-tiba saja ia meloncat surut. Kemudian sambil berdiri tegak diatas kedua kakinya yang kokoh, ia berkata lantang “Kakang, perkelahian kita tidak akan ada akhirnya”
Widura tidak segera menyerangnya. Iapun kemudian berdiri beberapa langkah dari Sidanti , katanya “Apakah yang kau inginkan kemudian?”
“Bukankah kita membawa senjata masing-masing?”
Widura menarik nafas dalam-dalam, ditatapnya wajah anak muda itu dengan seksama. Namun dalam malam yang kelam itu tak dilihatnya kesan apapun pada wajah itu, selain kesan kemarahan yang membakar jantung Sidanti. Dalam pada itu terdengar Widura berkata “Apakah kau menyadari perkataanmu itu Sidanti?”
“Tentu” jawab Sidanti “Bukankah maksud kakang Widura mengatakan, bahwa dengan senjata-senjata itu, dada kita masing-masing akan mungkin terbelah karenanya?”
“Ya”
“Aku menyadari kemungkinan itu. Namun bukan maksudku membunuh kakang Widura. Kalau kakang bersedia memenuhi setiap permintaanku, baik dalam hubunganku dengan Sedayu, maupun kedudukanku di Sangkal Putung dan seterusnya sebagai prajurit Pajang, maka aku tak akan menyentuh senjataku dalam perkelahian ini”
Sekali lagi Widura menarik nafas dalam-dalam. Yang terloncat dari mulutnya adalah “Sidanti, aku telah siap mempertahankan keputusanku”
“Bagus” teriak Sidanti sambil meloncat meraih pusakanya. Sesaat Widura masih tegak ditempatnya. Tetapi ketika ia melihat Sidanti telah menggenggam senjatanya, maka perlahan-lahan Widura itupun berjalan mengambil senjatanya. Pedang yang tidak begitu tajam, namun ujungnya runcing melampaui ujung jarum.
“Kita akan bertempur sebagai laki-laki, kakang” berkata Sidanti .
“Tentu” sahut Widura.
“Kita tidak ingin saling membunuh, namun siapa yang mula-mula mengalirkan darah dari lukanya, ialah yang kalah”
“Bagus” sahut Widura.
“Yang kalah harus tunduk pada setiap keputusan dari yang menang”
Tiba-tiba Widura menggeleng “Tidak” katanya segera. “Kekalahan kita masing-masing disini tidak mempengaruhi kedudukan kita. Akulah pimpinan laskar Pajang di Sangkal Putung”
Dada Sidanti serasa menggelegar karenanya. Tiba-tiba ia berteriak “Lalu apakah gunanya kita bertempur disini?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya memenuhi permintaanmu. Sebab bagaimanapun, kau tidak akan dapat mempersoalkan atas Sangkal Putung dan kekuasaan yang ada ditanganku. Aku akan mengambil keputusan menurut keyakinanku, menurut kebenaran yang aku yakini. Tidak dapat seorangpun yang akan mempengaruhi keputusan itu”
“Gila. Apakah kau sangka aku tidak dapat membunuhmu kakang” teriak Sidanti pula.
“Kalau aku mati, maka aku akan mati sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Bukan sebagai kelinci yang sedang melarikan diri dari terkaman anjing hutan”
Tubuh Sidanti tiba-tiba bergetar karena kemarahannya. Matanya yang bulat itu sesaat menjadi redup. Kemudian ditariknya keningnya kesisi, namun kemudian meledaklah kata-katanya “Apakah kau ingin kita bertempur sampai mati?”
“Tidak” sahut Widura. “Aku tidak mempunyai keinginan untuk berkelahi dengan kekuatan dalam lingkunganku sendiri. Apalagi sampai mati. Tetapi aku juga tidak ingin melihat kewibawaanku dikurangi. Sebab aku bertanggung jawab kepada panglima Tamtama di Pajang. Tidak kepadamu dan tidak kepada Agung Sedayu. Sedang panglima di Pajang itu menyalurkan perintah adipati Pajang yang sedang menegakkan kewibawaan Demak. Nah, kewibawaanku adalah sebagian dari kewibawaan adipati pajang itu”
“Persetan” potong Sidanti hampir hangus dibakar kemarahannya “Bersiaplah”
Widura kini benar-benar tak dapat menghindarkan diri dari perkelahian bersenjata. Tiba-tiba saja Sidanti telah meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya yang tajam diujung dan pangkalnya itu berputar seperti baling-baling, kemudian melontar seperti jarum pemintalan. Sekali-sekali menyambar dengan ujungnya namun kemudian mematuk dengan pangkalnya.
Widura menggigit bibirnya. Dengan tangkasnya ia meloncat-loncat menghindari serangan itu. Pedangnyapun kemudian bergerak-gerak datar, kadang-kadang menyilang dan tiba-tiba saja terjulur lurus kedada lawannya.
Kali inipun Sidanti merasakan, bahwa olah pedang Widura itu cukup mampu untuk melawan senjatanya. Namun ia masih akan mencoba menggunakan kelincahannya dan kecepatannya untuk menembus dinding baja dari putaran pedang lawannya.
Perkelahian diantara keduanya kini menjadi bertambah mengerikan. Senjata Sidanti benar-benar merupakan senjata yang berbahaya. Setiap sentuhan dari tajam diujung dan pangkal senjata itu akan menyobek tubuh lawam. Tetapi pedang Widura itupun setiap saat dapat membelah dada lawannya. Dengan kekuatan yang mengagumkan pedang itu menyambar-nyambar seoerti alap-alap diudara.
Tetapi perkelahian inipun tak akan berujung pangkal. Karena kepandaian mereka mempergunakan senjata masing-masing. Maka yang terjadi hanyalah benturan-benturan diantara senjata mereka. Demikian besar kekuatan mereka berdua, maka dalam setiap sentuhan diantara senjata-senjata itu, terperciklah bunga api yang seakan-akan berloncatan dari kedua senjata itu.
Sidantipun telah berjuang memeras segenap ilmunya, dan Widura pun tak kalah sengitnya mempergunakan segenap tenaganya. Demikian dahsyatnya perkelahian itu, sehingga seakan-akan tenaga merekapun segera terhisap habis. Baik Sidanti maupun Widura telah mempergunakan pula setiap tenaga cadangan didalam tubuh mereka. Kekuatan-kekuatan yang dilambari dengan ketekunan latihan-latihan dimasa-masa lampau telah mereka kerahkan. Namun keadan mereka maih tetap berimbang. Bahkan setelah tenaga mereka semakin susutpun, mereka tak dapat melampaui satu dari yang lain.
Kini serangan-serangan mereka sudah tidak secermat pada saa mereka mulai. Kadang-kadang mereka terseret beberapa langkah karena tarikan senjata mereka sendiri. Namun dalam saat yang demikian, lawannyapun tidak segera sempat menyerang. Dengan lemahnya, mereka terpaksa melangkah terhuyung-huyung maju.
Bahkan kadang-kadang, karena sentuhan batu-batu kecil pada kaki mereka, mereka telah kehilangan keseimbangan.
Demikianlah pertempuran itu menjadi aneh. Ketika Sidanti mencoba menembus pertahanan Widura dengan sebuah tusukan pada lambungnya, maka Widura pun berusaha untuk menghindarinya. Ketika ia meloncat kesamping, tiba-tiba kakinya terperosok oleh lubang-lubang yang telah terjadi selama perkelahian itu. Widura yang kelelahan itupun tidak dapat menahan diri, sehingga ia terhuyung-huyung hampir jatuh. Sidanti ingin mempergunakan kesempatan itu, tetapi ketika serangannya gagal, bahkan ia terseret beberapa langkah oleh senjatanya. Dalam keadaan yang demikian, masing-masing ingin mencoba mempergunakan kelemahan-kelemahan lawannya, namun mereka sendiri seakan-akan telah tidak mampu lagi menggerakkan tangan dan kaki mereka. Sehingga dengan demikian, tidak ada keseimbangan antara kehendak dan perhitungan mereka dalam tata perkelahian itu, dengan tenaga-tenaga mereka yang seakan-akan telah terperas habis. Namun tak seorangpun diatara mereka yang mendahului mengakhiri perkelahian yang aneh itu.
Malam semakin lama menjadi semakin dalam, dan bintang-bintangpun menjadi semakin bergeser kebarat. Langit yang biru gelap tersaput leoh mega yang selembar-selembar mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut.
Namun yang berkelahi masih berkelahi juga. Tetapi perkelahian itu kini sama sekali sudah tidak berbahaya lagi bagi kedua belah pihak. Meskipun sekali-sekali Sidanti masih menusukkan senjatanya, namun senjata itu tak akan sampai menyentuh tubh lawannya. Sedang apabila Widura mencoba mengayunkan pedangnya dengan kedua tangannya, maka ia sendirilah yang akan terpelanting jatuh.
Nafas mereka berdua kini satu-satu tersangkut didalam kerongkongan. Peluh mereka mengalir seperti mereka sedang bertempur didalam hujan yang pekat. Bahkan apabila sekali-sekali terjadi juga benturan diantara senjata-senjata mereka, maka mereka berdua itupun terdorong surut dn kemudian terbanting jatuh ditanah. Dengan susah payah mereka berebut dahulu untuk bangkit, dan apabila mungkin menyerang sebelum lawannya menguasai diri sepenuhnya. Namun usaha itu tak akan pernah berhasil. Sebab lutut-lutut mereka seakan-akan sudah tidak berpaut lagi.
Meskipun tenaganya sudah hampir habis terperas, namun Sidanti masih mengumpat-umpat dalam hati. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Widura mampu melawan dengan baiknya. Pada saat mereka berdua bertempur melawan Tohpati berganti-ganti, Widura itu ternyata tidak lebih baik daripadanya. Kini ia telah mendapat tempaan yang padat dari gurunya, dan bahkan gurunya itupun berkata, bahwa ilmunya pasti akan lebih baik meskipun hanya selapis tipin dari Widura. Namun ternyata kini, bahwa ilmunya benar-benar tidak melampaui ilmu Widura itu sendiri. Apakah tempaan selama ini, dihampir setiap malam dengan ilmu-ilmu gurunya yang hampir sempurna itu sama sekali tak berpengaruh atasnya?
Sedang Widura pun benar-benar kagum kepada anak muda murid Kiai Tambak Wedi itu. Namun didalam lekuk-lekuk hatinya, terasa juga bahwa ia sedang mengagumi dirinya sendiri. Ternyata bahwa merah biru diwajah-wajah kulitnya, hampir setiap malam apabila ia berkelahi melawan Kiai Gringsing yang memegang cemetinya ditengah-tengah itu ada juga manfaatnya baginya. Kini ia benar-benar menghadapi senjata Sidanti bukan sekedar cemeti kuda. Apabila senjata yang mengerikan itu benar-benar dapat menyentuhnya, maka akibatnya tidak saja sekedar merah biru diwajah-wajah kulitnya, tetapi luka-luka yang pedih akan menganga. Karena itu pun Widura bersyukur dalam hati. Siapakah sebenarnya orang aneh yang menamakan dri Kiai Gringsing itu?
Tetapi Widura tidak sempat berangan-angan. Kini mereka berdua berhadap-hadapan dengan tubuh gemetar. Bukan karena marah yang membakar dada mereka, namun karena tenaga nr telah terkuras habis.
Sidanti yang dengan susah payah masih mencoba tegak diatas kedua kakinya, menggeram dengan suara parau yang gemetar. Katanya “Mampus kau kakang Widura”
Keadaan Widura pun tidak lebih naik dari keadaan Sidanti . namun otaknyalah yan glebih baik. Meskipun nafasnya telah hampir putus ditenggorokan, namun ia berkata diantara engah nafasnya ”Sidanti, apakah hasil yang kita dapatkan dari perkelahian ini?”
Terdengar Sidanti menggeram. Matanya msih menyalakan kemarahannya yang meluap-luap. Bahkan ia menjadi semakin marah, ketika ia menyadari keadaannya. Ternyata Widura tak dapat ditundukkannya. Apalagi ketika ia mendengar pertanyaan Widura itu. Namun sesaat kemudian pertanyaan itu benar-benar membingungkannya. “Ya, apakah yang sudah didapatnya dari perkelahian itu?”
Namun yang terlontar dari mulutnya adalah sebuah makian yang kasar. “Setan. Bukankah dengan demikian kau tahu bahwa kau bukan orang yang aneh di Sangkal Putung. Bahwa Widura pun manusia juga yang tidak lebih dari Sidanti?”
“Tentu” sahut Widura. “Apakah aku pernah berkata bahwa aku keturunan malaikat?”
“Tetapi kau merasa, seakan-akan dirimu tak terkena salah. Semua orang harus tunduk atas kehendakmu”
“Itu bukan karena aku Widura. Tetapi itu karena wewenang yang aku terima”
“Omong kosong” bentak Sidanti, “Sejak sekarang kau harus merubah sikap itu”
Widura menggeleng “Tidak” jawabnya tegas.
Dada Sidanti benar-benar akan meledak karenanya. Namun ketika ia ingin menyerang lawannya kembali, ia terhuyung-huyung. Dengan susah payah ia mencoba untuk menemukan keseimbangannya kembali. “Gila” anak itu mengumpat lagi. Tetapi kali ini tak ditujukannya kepada siapapun.
Sedang Widura masih tegak ditempatnya. Namun seandainya sebuah angin kencang menyentuhnya maka Widura itupun pasti akan roboh. Karena itu, ia tidak ingin berbuat sesuatu. Otaknya yang telah dipenuhi dengan berpuluh-puluh ribu macam persoalan ternyata masih tetap baik, betapapun tenaganya telah terhisap oleh embun malam. Kini ia yakin bahwa Sidanti itu sama sekali sudah tak berdaya seperti dirinya sendiri.
Dalam pada itu, tiba-tiba mereka berdua terkejut. Namun Sidanti hanya sesaat. Tetapi Widuralah kemudian teruncang dadanya. Meskipun telah disangkanya lebih dahulu, namun kehadiran yang tiba-tiba diantara mereka, benar-benar mengejutkan. Dan dengan wajah cerah Sidanti berkata kepada orang yang baru datang itu “Selamat datang guru”
Kiai Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya yang panjang runcing serta sepasang matanya yang tajam, setajam mata burung hantu merupakan pertanda, bahwa Kiai Tambak Wedi adalah seorang yang tidak dapat mengenal puas atas segenap usaha yang pernah dicapainya.
Widura pun kemudian mengangguk pula. Seperti Sidanti, iapun mencoba memberi salam kepada orang sakti itu “Selamat datang Kiai”
Kiai Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Widura dengan tajamnya, seperti akan ditelannya hidup-hidup. Kemudian sambil mengangguk kecil ia menjawab “Hem, selamat Widura”
Widura pun mencoba untuk mengenal wajah orang yang namanya terkenal didaerah sebelah timur gunung Merapi itu. Semakin jelas ia mengenal wajah itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Diantara sepasang matanya yang tajam itu, tampaklah hidung Kiai Tambak Wedi besar dan melengkung seperti paruh burung. Sayang, malam yang pekat itu tak memberi kesempatan kepada Widura untuk melihat setiap garis yang tergores diwajah itu.
“Widura” berkata Kiai Tambak Wedi itu kemudian. Suaranya besat dan seakan-akan bergetar saja didalam dadanya “Ternyata kau mampu menyamai muridku”
Widura mangguk kecil. Jawabnya “Aku hanya mecoba melayani adi Sidanti bermain-main Kiai”
“Jangan sombong” sahut Kiai Tambak Wedi. “Meskipun kau berhasil mempertahankan namamu, tapi jangan berkeras kepala. Aku tidak senang melihat sikapmu”
Widura tidak segera menjawab. Sekali lagi ia mencoba menatap wajah Kiai Tambak Wedi yang sedemikian saktinya, sehingga orang mengatakan bahwa ia mampu menangkap angin.
“Widura” berkata Kiai Tambak Wedi kemudian. “Aku heran, bahwa kau mampu bertempur dalam tataranmu sekarang. Aku sangka kau tidak akan dapat menyamai muridku. Namun agaknya ilmumupun bertambah. Aku sangka, setelah Sidanti menambah ilmunya akhir-akhir ini kau akan menjadi ketinggalan karenanya”
Kali inipun Widura tidak menjawab. Ia masih tegak seperti patung. Patung yang kurang seimbang, sehingga setiap sentuhan akan dapat merobohkannya.
“Tetapi” berkata Kiai Tambak Wedi itu pula, “Sangkaanku itu keliru” Kiai Tambak Wedi diam untuk sesaat. Kemudian katanya “Meskipun demikian itu bukan berarti bahwa setiap tuntutan Sidanti sudah dilepaskan”
Widura menjadi semakin berdebar-debar. Guru Sidanti itu kini ternyata telah secara langsung turut dalam setiap persoalan di Sangkal Putung. Meskipun demikian dibiarkannya Kiai Tambak Wedi itu berkata “Widura, sebenarnya aku tidak ingin mencampuri persoalanmu sebagai pimpinana laskar Pajan di Sangkal Putung. Apabila kau tidak berbuat banyak kesalahan. Aku bermaksud membiarkan Sidanti melakukannya sendiri, tetapi ternyata karena Sidanti tak dapat mengalahkanmu, maka kau pasti masih akan berkeras kepala. Kini biarlah aku meneruskan permintaan Sidanti itu. Terus terang, tanpa berbelit-belit . Widura, kau harus menyingkirkan Agung Sedayu. Kedua, setiap kau berhalangan maka Sidanti lah pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Kemudian kau harus menyampaikan kemenangan Sidanti atas Tohpati. Seterusnya kau harus mengusulkan kepada atasanmu, panglima wiratamtama. Untuk kedudukan yang lebih baik bagi Sidanti, ingat, masa depan Sidanti harus berbeda dari masa depanmu. Kau sudah puas dengan kedudukanmu sekarang. Tetapi Sidanti tidak. Sidanti melihat jauh kemasa depan. Dengarlah Widura, bukankah dengan menyingkirkan Jipang, maka adipati Pajang sekarang ini, adalah pewaris satu-satunya kerajaan Demak. Aku kira sultan Cirebon, manantu Trenggana pula, tidak akan mempunyai tuntutan apa-apa. nah, apa pula yang kelak akan terjadi dengan janji tanah Mentaok dan Pati bagi mereka yang dapat membunuh adipati Jipang? Bukankah dengan demikian hari depan Pajang sendiri masih akan berbelit-belit. Dalam keadaan yang demikian Sidanti harus tampil kedepan. Kau dengar? Kalau kemudian Sidanti telah menemukan kedudukan yang pantas baginya, kau adalah salah seorang dari panglimanya. Begitu?”
Widura masih berdiam diri. Namun tiba-tiba ia menjadi muak mendengar semua kata-katanya Kiai Tambak Wedi. Tetapi ia harus menjaga dirinya. Kiai Tambak Wedi adalah seorang yang sakti. Bahkan ia terkejut ketika Kiai Tambak Wedi itu berkata “Kau adalah anak tangga yang pertama bagi Sidanti , Widura. Bagaimana?”
Tiba-tiba Widura itupun menggeleng. Kini ia menjawab dengan ketegasan yang sama seperti jawabannya kepada Sidanti. “Sayang Kiai, aku tidak dapat memberikan apa-apa kepada Sidanti”
Kiai Tambak Wedi menarik alisnya. Kemudian ia tersenyum. Katanya “Jangan berkeras kepala Widura. Ingat, nasibmu akan dapat menjadi kurang baik”
Sekali lagi Widura menggeleng. “Kiai, mungkin aku dapat menjanjikannya disini karena aku takut kepada Kiai. Namun aku tidak akan dapat melaksanakannya kelak. Bukankah dengan demikian aku sekedar menipu Kiai. Karena itu lebih baik berkata terus terang”
Sidanti yang mendengar percakapan itupun, wajahnya menjadi semakin membara. Bahkan kemudian ia menggeram “Bukankah guru dapat memaksanya?”
“Tentu Sidanti” sahut Kiai Tambak Wedi. “Aku akan bisa memaksanya. Menangkapnya sekarang dan mengikatnya dibatang jambu mete ini. Kemudian dengan kukuku ini aku dapat menggores kulitnya sehingga terkelupas. Tetapi Widura tidak akan membiarkannya aku berbuat demikian, bukankah begitu?”
Dada Widura pun menjadi semakin berdebar-debar. Meskipun demikian ia menjawab “Benar Kiai, aku mengharap Kiai tidak akan berbuat demikian. Tetapi permintaan Kiai itupun tak akan dapat aku penuhi”
Kiai Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Jangan begitu Widura. Nasibmu, hidup matimu kini ada ditanganku”
“Terserahlah kepada Kiai”
Kiai Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Jawaban itu benar-benar tidak menyenangkan. Katanya “Widura, jangan membuat aku marah. Aku bisa membunuhmu sekarang”
“Terserah kepada Kiai. Aku harus tetap pada perintahku. Hidup atau mati adalah akibat yang sudah aku ketahui sejak aku masuk menjadi seorang prajurit. Adalah sudah seharusnya aku mati sambil menggenggam kewajiban. Bukan mengingkari”Kiai Tambak Wedi, seorang yang sudah kenyang mengenyam pahit manisnya kehidupan itu, mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Widura. Ia kagum pada kejantanannya. Kagum pada tanggung-jawabnya. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak senang mendengar jawaban itu. Dengan demikian seakan-akan Widura itu sama sekali tidak takut kepadanya. Ia ingin agar setiap orang menjadi gemetar dan menggigil ketakutan mendengar namanya. (bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)