Minggu, 23 Maret 2008

Api di Bukit Menoreh 28


Widura itupun kemudian menjadi marah pula. meskipun demikian ia tetap pada pendiriannya, bahwa ia tidak ingin melihat orang-orangnya menjadi hancur karena menikam dada sendiri, sementara Macan Kepatihan sudah soap untuk menerkam mereka. karena itu maka katanya “Simpanlah tenaga kalian. Marilah kita adakan perlombaan yang lain. Kalau kalian tetap pada pendirian kalian ingin melihat siapakah yang lebih unggul diantara kalian, nah perlihatkanlah dalam perlawanan kalian atas Macan Kepatihan. Siapakah yang mampu membunuh Macan Kepatihan, maka ialah yang menang”
“Aku tidak akan menunggu sampai kesempatan itu datang” jawab Sidanti. “Biarlah kita melakukannya sekarang. Yang menanglah yang kelak harus membunuh Macan Kepatihan. Kalau tidak biarlah ia dibunuh saja sama sekali”
“Aku tidak mengijinkan” berkata Widura tegas-tegas.
“Persetan” teriak Sidanti. Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata “Bersiaplah Agung Sedayu. Marilah kita bertempur tanpa senjata. Kita akan sampai pada suatu kepastian, siapakah yang akan mati diantara kita. Jangan berhenti sebelum keputusan itu jatuh”
Dada Agung Sedayu itupun bergelora. Setelah darah tertumpah dari luka dipundaknya itu, tiba-tiba Agung Sedayu kini seolah-olah telah menemukan dirinya sendiri dalam nilai-nilai yang sewajarnya. Karena itu tiba-tiba terdengar anak muda itu menggeram. Dengan tatagnya ia berkata “Kalau itu yang kau kehendaki Sidanti, marilah aku layani”
Kembali suasana menjadi semakin tegang. Widura benar-benar terkejut mendengar jawaban Agung Sedayu. Jawaban yang sama sekali tak disangka-sangka. Dan sebenarnya memang Widura tidak tahu apa yang sudah bergolak didalam dada Agung Sedayu. Setelah ia merasakan luka ditangannya, seakan-akan tumbuhlah kepercayaannya pada diri sendiri, bahwa Sidanti bukanlah seorang yang tak dapat dikalahkan.
Untara tersenyum didalam hati mendengar jawabann Agung Sedayu. Katanya dalam hati “Kalau anak itu selalu ikut saja bersama aku, maka tak akan ditemukannya kepercayaan pada dirinya. Agaknya keadaannya selama ini telah memaksa dirinya untuk mencoba menggantungkan nasibnya kepada diri sendiri”. namun meskipun demikian, Untara tidak menghendaki perkelahian itu berlangsung. Ia dapat mengerti sepenuhnya, apa yang sedang dijaga sebaik-baiknya oleh Widura. karena itu, maka Untara itupun berkata “Agung Sedayu. Tidak seharusnya setiap tantangan kau terima. Kau dapat menolaknya untuk kepentingan yang lebih besar dari kepentingan diri kita sendiri. Pertandingan hari ini sebenarnyalah telah selesai. Laskar Pajang di Sangkal Putung hanya diperkenankan melakukan perlombaan memanah. Lebih daripada itu tidak. Bahkan kalian telah melakukannya melampaui kebiasaan, dimana kalian mempergunakan diri kalian untuk sasaran”
“Jangan ikut campur Untara” teriak Sidanti keras-keras. “Kedatanganmu kemari sama sekali tidak kami harapkan. Pergilah dan kalau ingin menonton, nontonlah. Jangan ribut”
“Sidanti” jawab Untara “aku mencoba melihat jauh seperti yang dikatakan paman Widura. Jangan mempertajam pertentangan diantara kita sendiri”
“Aku tidak perlu mendengar sesorahmu” bentak Sidanti. “Jangan gurui aku. Aku tahu apa yang akan terjadi di Sangkal Putung. Kau sangka tanpa Agung Sedayu pekerjaan di Sangkal Putung ini tidak akan selesai?”
Untara menarik alisnya. Sebelum ia menjawab, didengarnya Agung Sedayu berkata “Kakang, berilah aku kesempatan”
Untara menjadi heran pula mendengar tekad adiknya. Bahkan kemudian Agung Sedayu itu berkata pula kepada Widura “Paman, biarlah aku mencobanya”
“Tidak Sedayu” jawab Widura dan Untara hampir bersamaan.
Rupanya Agung Sedayu itupun menjadi kecewa. Ledakan yang meronta-ronta didalam dadanya setelah selama ini terkekang dalam suatu himpitan ketakutan, seakan-akan sedang mencari salurannya. karena itu betapa tak terduga arus yang melanda dada Agung Sedayu itu. Meskipun demikian, Agung Sedayu adalah seorang anak yang patuh kepada kakaknya sejak masa kecilnya. Karena itu, maka ia tidak akan dapat memaksa seandainya kakaknya mencegahnya.
Tetapi Sidanti tidak menjadi reda karenanya. Seperti orang gila ia berteriak-teriak “Jangan halangi aku. Siapa yang menghalangi aku itulah lawanku. Aku bunuh ia tanpa sebab”
Widura mengangkat wajahnya memandang wajah Sidanti yang telah benar-benar menjadi buas. Sekali lagi ia ingin mencoba melunakkannya.
Dengan hati-hati Widura melangkah maju sambil berkata “Sidanti, sadarilah keadaanmu. Keadaan kita bersama di Sangkal Putung ini. Jangan memandang keadaan dalam suatu lingkungan yang sempit. Tetapi pandanglah seluruh persoalan yang kita hadapi”
Namun agaknya kata-kata Widura itu sia-sia saja. Sidanti telah menjadi seakan-akan wuru. Yang ada didalam benaknya hanyalah kekerasan, perkelahian, dan membunun atau dibunuh. karena itu ia menjawab “Jangan halangi aku”
Untarapun melihat, bahwa sama sekali tak ada kemungkinan untuk dapat mengekang Sidanti. Karena itu maka ia akan berusaha untuk menyingkirkan adiknya. Apabila Agung Sedayu dapat dijauhkannya, dan perkelahian iu dapat ditunda, maka nanti apabila kepala Sidanti telah bertambah dingin, segala sesuatu akan dapat diselesaikannya dengan baik.
Karena itu, betapa kecewanya Agung Sedayu, namun ia tidak dapat berbuat apapun ketika kakaknya menarik tangannya dan membawanya meninggalkan tempat itu.
Tetapi sebelum Agung Sedayu dan Untara berhasil menerobos lingkaran yang pepat itu terdengar Sidanti berteriak “Jangan pergi pengecut. Tak ada gunanya. Aku akan mengejarmu sampai keujung bukit Merapi itu sekalipun”
Namun Untara tak menghiraukannya. Didorongnya adiknya dan disibakkannya orang-orang yang mengerumuninya. Meskipun demikian Sidanti yang gila itu meloncat maju sambil berteriak lebih keras lagi “Berhenti pengecut”
Widuralah yang kemudian kehabisan kesabaran. Ia sudah menjadi sedemikian bingungnya mencegah perkelahian itu. karena itu, tiba-tiba iapun berteriak nyaring “Sidanti, berhenti ditempatmu. Aku adalah pimpinan laskar Pajang di Sangkal Putung. Aku mempunyai wewenang untuk melakukan segala kebijaksanaan disini. Aku perintahkan kau tetap ditempatmu”
Kata-kata itu menggelegar ditelinga Sidanti. Dengan cepatnya ia memutar tubuhnya menghadapi Widura. namun Widura benar-benar telah siap. Dan bahkan tiba-tiba Sidanti itupun melihat Hudaya, Citra Gati, Sendawa dan bahkan Swandaru meloncat maju. Tanpa berjanji mereka seakan-akan telah mengpung Sidanti yang hampir menjadi gila itu.
Sidanti menggeram. Matanya yang buas menjadi semakin buas. Ditatapnya orang-orang yang berdiri disekitarnya seolah-olah hendak ditelannya bulat-bulat. Dengan kemarahan yang seakan-akan hendak meledakkan dadanya Sidanti berteriak “ayo, ayo. Majulah bersama-sama. Inilah Sidanti, murid Ki Tambak Wedi”
Widura menatap wajah Sidanti yang menyala itu dengan mata menyala pula. tiba-tiba saja ia berkata “Sidanti, apakah kau sedang menunggu bantuan gurumu? Jangan kau harapkan itu, sebab disini hadir pula orang yang dahulu pernah mencegah gurumu membunuh aku itu. Kau lihat cemeti kuda yang terjatuh disamping tanda yang dilemparkan gurumu itu?”
Kata-kata itu terasa berdentangan didada Sidanti. Namun tidak hanya Sidanti yang terkejut karenanya. Semua orang menjadi terkejut pula. ternyata lingkaran besi dan cemeti kuda itu adalah permulaan dari pertentangan-pertentangan yang akan menjadi semakin memuncak dari dua orang sakti yang tak mereka ketahui dan belum pernah mereka lihat pula orangnya.
Sesaat Sidanti berdiam diri. Memang ia mengharap gurunya akan membantunya, melawan kelinci-kelinci yang tak berarti itu dihadapan Ki Tambak Wedi. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa ternyata dilapangan itu hadir pula, orang lain yang pernah mencegah langkah gurunya ditegalan kemarin malam. karena itu maka Sidanti itu berbimbang untuk sesaat. Tetapi kemarahannya telah benar-benar menguasai otaknya. Sehingga betapapun yang akan dihadapinya, namun ia sama sekali tidak dapat memperhitungkannya.
Dengan demikian, maka Sidanti itu sama sekali tidak menjadi surut. Bahkan dengan lantangnya ia menjawab “Apakah kau sangka Sidanti hanya dapat menggantungkan dirinya kepada orang lain? Ki Tambak Wedi telah menempa Sidanti untuk menjadi seorang laki-laki jantan. Ayo. Siapakah yang pertama-tama. Agung Sedayu atau kakaknya yang bernama Untara itu.”
Untara mencoba untuk tidak menghiraukannya. Tetapi Agung Sedayu tiba-tiba berhenti ditempatnya. Tiba-tiba ia merasa, bahwa sebenarnya ia tidak mau pula dihinakan. Apalagi setelah ia menemukan penilaian yang wajar atas dirinya, justru setelah sebatang anak panah menyobek pundaknya.
“Menyingkirlah Sedayu “ desah Untara.
“Ia menghinaku kakang.” Jawab Sedayu.
Tetapi Untara berbisik “Sidanti adalah seorang anak muda yang tangguh. Sedangkan kau, agaknya baru saja menyadari kelaki-lakianmu. Kau tidak akan dapat melawannya.”
Tetapi ledakan-ledakan yang dasyat didada Agung Sedayu itupun telah membakar hatinya pula. karena itu ia menjawab “berilah aku kesempatan.”
Untara menjadi jengkel karenanya. Maka dibentaknya adiknya “Pergi. Biar paman Widura mengurus Sidanti”
Tiba-tiba Untara terkejut ketika ia mendengar Sidanti berteriak “Untara. Jangan kau sembunyikan adikmu. Atau kau sendiri yang hendak bersembunyi?”
Terasa sesuatu berdesir didalam dada Untara. Ia dapat mencegah orang lain untuk tidak menghiraukan maki dan cerca, namun ketika kata-kata itu ditujukan kepada dirinya, terasa dadanya itu bergetar. Meskipun demikian, Untara itu tidak berpaling. Yang didengarnya kemudian adalah suara pamannya, Widura “Sidanti, kalau kau tetap dalam pendirianmu, maka perintah untuk menangkapmu segera akan aku jatuhkan”
Ternyata Sidanti benar-benar telah kehilangan segenap pertimbangannya. Ia seolah-olah tidak mendengar kata-kata Widura. bahkan kemudian ia berkata kepada Untara “Untara, kalau kau sembunyikan adikmu maka kaulah lawanku”
Kini Untara terpaksa berhenti. Terasa dadanya bergetar semakin cepat. Namun ketika dilihatnyan luka dipundak Sedayu, Untara menarik nafas. Sedayu, betapapun tinggi ilmunya, namun ia sama sekali belum berpengalaman dalam satu perkelahian yang benar-benar menentukan hidup dan mati. Apalagi kini pundaknya itu telah terluka, dan darah mengalir dari luka itu. karena itu maka kekuatannyapun pasti berkurang.
Untara terkejut ketika Agung Sedayu mendesaknya “Kakang, apakah kakang akan membiarkan Sidanti menghina kita?”
“Jangan Sedayu” sahut Untara “Sadarilah keadaanmu. Pundakmu telah terluka. Mungkin pundak itu tidak terganggu pada saat kau menarik busur, tetapi dalam pertempuran jarak dekat, maka luka itu akan sangat berpengaruh”
Agung Sedayu meraba lukanya. Terasa luka itu memang pedih. Tetapi serasa sama sekali tidak berpengaruh baginya. Namun Untara itupun dapat memperitungkannya dengan tepat, maka sambungnya “Kalau kau bergerak, maka darah akan semakin banyak mengalir dari luka itu. Kau akan menjadi lemas, dan lehermu akan dipilin sampat patah oleh iblis itu”
Tetapi seperti bendungan yang baru saja pecah oleh banjir, maka Agung Sedayu benar-benar sedang mencari saluran untuk menumpahkan ledakan-ledakan yang terjadi didadanya. Namun ia tidak berani melawan kehendak kakaknya. karena itu hanya dadanya sajalah yang bergelora.
Sementara itu terdengar Sidanti berkata pula “Untara. Jangan kau sembunyikan anak itu. Atau kau sendiri terpaksa aku bunuh dilapangan ini”
Sekali lagi dada Untara bergetar. Ketika ia berpaling, ia melihat Widura mengangkat tangannya. Hampir saja Widura menjatuhkan perintah untuk menangkap Sidanti. Tetapi segera Untara mencegahnya “Jangan paman”
Widura tertegun. Tangannya itupun terkulai kembali. Dengan tegangnya ia memandang wajah Untara. Tetapi untara itu kemudian berkata “Paman, biarlah Agung Sedayu aku bawa kembali kekademangan. Aku harap Sidanti dapat menenangkan hatinya sehingga kemudian ia mendapat pertimbangan-pertimbangan yang wajar”
Tetapi kata-kata Untara itu justru semakin menyakitkan telinga Sidanti. Hatinya yang marah itu menjadi semakin parah. Dengan serta-merta ia melontarkan dirinya, langsung menyerang Untara yang sekali lagi tidak bersiaga.
Tetapi Untara bukanlah anak-anak yang menangis melihat barongan-ndadi. Ketika ia melihat Sidanti itu dengan satu loncatan panjang menyerangnya, segera ia menarik satu kakinya kesamping dan dengan merendahkan dirinya, Untara berhasil menghindari tangan Sidanti yang menyambar kepalanya.
Agung Sedayu yang berdiri dimuka Untarapun terpaksa menghindar pula. tidak kalah tangkasnya, iapun meloncat surut.
Sementara itu terdengar Widura berteriak nyaring “Sidanti. Apakah kau telah benar-benar menjadi gila. Hai Citra Gati, bersiaplah”
Citra Gatipun segera meloncat maju diikuti oleh beberapa orang yang lain. Tetapi segera Untara berteriak pula “Jangan maju bersama-sama”
“Aku berhak menangkapnya” sahut Widura.
“Jangan” berkata Untara.
“Aku adalah senapati Pajang di Sangkal Putung” desak Widura.
“Aku adalah pememgang kuasa dari panglima Wiratamtama, Ki Gede Pemanahan untuk daerah disekitar gunung Merapi. Mengamati dan mengamankan segala kebijaksanaan panglima, termasuk daerah Sangkal Putung” potong Untara.
“Oh” Widura itupun terdiam. Kini benar-benar disadarinya akan kedudukan kemenakannya itu. karena itu, maka kemudian dibiarkannya kemenakannya itu membuat kebijaksanaan sendiri.
Sidantipun mendengar kata-kata Untara itu. Sesaat kata-kata itu berpengaruh juga didalam benaknya. Namun sesaat kemudian ia sudah tidak memperdulikannya lagi. Pertimbangan-pertimbangannya sudah tidak dapat mempengaruhi kemarahannya. Dihadapan sekian banyak orang, Sidanti yang merasa dirinya pahlawan yang tak terkalahkan itu, harus menunjukkan bahwa sebenarnyalah ia tak dapat dikalahkan. Karena itu, bahkan Sidanti itu berkata “Apa yang akan kau lakukan Untara, pemegang kuasa penglima Wiratamtama untuk daerah ini?”
“Sidanti” berkata Untara. “Atas nama kekuasaan yang ada padaku, jangan berbuat hal-hal yang dapat merugikan nama baik Wiratamtama”
“Ini adalah kesempatan bagiku” berkata Sidanti “Seharusnya akulah yang memegang jabatan itu. Sebenarnya Sidanti lebih tangguh daripada Untara”
“Jangan mengigau Sidanti” potong Untara. Betapapun ia mencoba menyabarkan dirinya, namun darahnyapun adalah darah seorang prajurit muda. Ketika ia melihat Agung Sedayu melangkah maju, didorongnya adiknya itu kesamping sambil berkata pula “Sadari kedudukanmu. Atau aku harus menempuh kebijaksanaan lain seperti paman Widura”
“Terserah padamu Untara” sahut Sidanti “Tetapi aku ingin menantangmu kini. Apakah kau benar-benar berhak memakai pangkatmu itu. Atau ternyata akulah yang sebenarnya berhak”
Untara menggigit bibirnya. Sidanti benar-benar keras kepala. Pengaruh kehadiran gurunyalah yang telah memaksanya untuk berbuat gila itu.
Sementara itu, matahari telah temggelam dibawah garis cakrawala. Lapangan itupun menjadi semakin lama menjadi semakin gelap. Hanya bintang-bintang dilangit sajalah yang kemudian gemerlapan, seolah-olah ikut serta berdesak-desakan menyaksikan apa yang akan terjadi dilapangan itu.
Untara masih berdiri sambil menggigit bibirnya. Getar didalam dadanya terasa menjadi semakin bergelora. Kalau ia bertindak atas nama jabatannya, serta mengerahkan anak buah Widura untuk menangkap Sidanti, maka dendam yang membakar hati anak muda itu masih akan menyala untuk selama-lamanya. Sidanti akan mungkin sekali kelak mencari kesempatan untuk membalas dendam terhadap orang-orang Widura itu satu per satu. Dengan demikian maka keadaan Sangkal Putung akan menjadi bertambah sulit.
Namun tiba-tiba Untara itupun melangkah maju. Dengan lantang ia berkata “Aku terima tantangan Sidanti”
“Untara” terdengar Widura memotong kata-kata kemenakannya.
“Paman” sahut Untara. “Persoalan ini biarlah aku jadikan persoalan antara aku dan Sidanti. Persoalan perseorangan yang sama sekali tidak menyangkut kedudukan kami masing-masing. Persoalan perseorangan yang akan kami selesaikan secara perseorangan pula. Bukankah begitu Sidanti?”
Sidanti benar-benar sudah tidak dapat membedakan antara persoalan perseorangan dan peroalannya dalam ikatan kelaskaran. Tiba-tiba saja ia berteriak menjawab “Ya. Aku tidak perduli persoalan apapun yang kau pilih. Namun biarlah kita bertakar darah, melihat siapa yang lebih keras tulangnya dan siapakah yang lebih liat kulitnya”
Widura sudah tidak mungkin lagi untuk mencegah perkelahian itu. Kini Sidanti dan Untara telah maju dan orang-orang disekitarnya dengan sendirinya, berdesakan mundur. Meskipun lapangan itu menjadi semakin gelap, dan sebagian dari mereka sudah tidak dapat lagi melihat apa yang terjadi ditengah-tengah lingkaran manusia itu, namun mereka masih belum mau meninggalkan lapangan itu. Mereka masih hendak menunggu, apakah yang terjadi dengan Untara dan Sidanti.
Ternyata Sidanti benar-benar tak dapat mengekang dirinya. Dengan penuh nafsu ia meloncat menghadapi Untara. Sedang Untara itupun segera bersiaga pula. Untara itupun sadar sesadar-sadarnya bahwa lawannya kali ini adalah murid Ki Tambak Wedi. seorang sakti yang namanya telah dikenal oleh setiap orang hampir dari segala penjuru.
Sidanti itu ternyata tak mau banyak bicara lagi. Dengan suatu peringatan pendek ia menggeram “Untara, aku mulai”
Sebelum Untara sempat menjawab, Sidanti telah meloncat menyerangnya. Sebuah pukulan mendatar mengarah kepelipis lawannya. Namun Untara telah bersiaga sepenuhnya. Betapapun cepatnya gerak Sidanti, namun Untara masih sempat dengan tangkasnya menghindari. Dengan satu gerakan yang cepat, Untara menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak membiarkan tangan Sidanti yang masih terjulur itu. Dengan cepatnya disambarnya tangan itu dengan sebuah ketukan dipergelangan. Tetapi Sidanti cukup cekatan pula. dengan kecepatan yang sama Sidanti berhasil menarik tangannya dan membebaskannya dari ketukan tangan Untara.
Untara menarik nafas dalam-dalam melihat kecepatan Sidanti. Nama Ki Tambak Wedi benar-benar bukan sekedar cerita yang berlebih-lebihan. Kini ternyata Untara mengalami sendiri, betapa cekatannya murid Ki Tambak Wedi.
Ternyata pula, sesaat kemudian Sidanti telah mulai menyerangnya kembali. Dengan garangnya Sidanti melontarkan sebuah serangan dengan kakinya kearah lambung lawannya. Namun sekali lagi Untara berhasil menarik satu kakinya, dan dengan memiringkan tubuhnya ia telah terhindar dari serangan Sidanti. Tetapi Sidanti tidak mau membiarkan lawannya, dengan sebuah putaran pada satu kakinya, Sidanti melepaskan serangan kaki berganda. Demikian cepatnya, sehingga Untara terpaksa meloncat selangkah mundur.
Ketika Sidanti akan mencoba mengejarnya dengan serangan pula, maka Untaralah yang kini mendahului lawannya. Dengan tangkasnya ia melontar menyambar dada Sidanti yang masih mencoba menyergapnya. Sidanti terkejut melihat serang yang tiba-tiba itu. Dengan cepat ia merendahkan dirinya dan bahkan kemudian ketika tangan Untara yang lain menyambar kepalanya, Sidanti terpaksa melontar kesamping.
Demikianlah maka mereka sesaat kemudian tenggelam dalam satu pertempuran yang sengit. Sidanti yang tangkas dan lincah melawan Untara yang tangguh-tanggon. Betapa ilmu Ki Tambak Wedi terpaksa berbenturan dengan ilmu dari Jati Anom,
Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Hudaya, Citra Gati, Swandaru dan bahkan Agung Sedayu yang berdiri disekitar arena itu, melihat perkelahian itu dengan wajah yang tegang. Mereka mengenal Sidanti sebagai seorang anak muda yang telah berhasil mempertahankan diri, meskipun tidak sepenuhnya, terhadap serangan-serangan Tohpati. karena itu, maka mereka menjadi berdebar-debar. Seandainya Untara tak berhasil mempertahankan dirinya, maka Sidanti yang gila itu pasti dapat berbuat hal-hal diluar kemungkinan yang wajar. Namun sebenarnya Widura tidak menjadi cemas atas nasib Untara. Ia ahu betul bahwa kemenakannya yang besar itu, setidak-tidaknya pasti akan dapat menyamai Sidanti. Tetapi apakah selama ini lukanya telah benar-benar sembuh, sehingga segenap kekuatannya telah pulih kembali. Namun melihat kecepatannya bergerak Widura menduga untara telah mencapai keadaan dan kemantapan ilmu seperti sediakala. Sehingga dengan demikian, maka perkelahian itu pasti akan berlangsung dahsyat sekali.
Sebenarnyalah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Sidanti yang dengan penuh nafsu bertempur itu, segera mengerahkan segenap kemampuannya. Semakin cepat ia dapat menjatuhkan lawannya, semakin tinggi pula nilai dirinya. Bahkan apabila kelak Agung Sedayu tidak puas melihat kekalahan kakaknya, biarlah ia sendiri mencobanya.
karena itulah maka serangan-serangan Sidanti menjadi semakin seru seperti angin ribut yang menghantam pepohonan. Berputar-putar dengan dahsyatnya. Namun Untara itupun tangguh setangguh batu karang pantai. Tegak dengan kokohnya, seakan-akan berakar menghunjam bumi. Tetapi apabila serangannya melanda lawannya, beruntun seperti batu-batu yang berguguran dilereng Merapi.
Dengan demikian maka pertempuran dilapangan dimuka banjar desa itu semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya adalah anak-anak muda yang sedang berkembang. Mereka meiliki bekal ilmu yang tak dimiliki oleh kebanyakan orang. Maka perkelahian diantara mereka benar-benar menjadi sedemikian sengitnya seperti petir yang sedang bersabung diudara. Sambar menyambar dalam kecepatan yang hampir tak dapat diikuti oleh mata.
Sehingga karena itu, maka mereka berdua kemudian, seakan-akan telah berubah menjadi bayangan-bayangan yang terbang berputaran, bahkan kemudian mereka seakan-akan telah berubah menjadi gumpalan asap hitam dimalam yang gelap.
Tetapi semakin lama menjadi semakin terang bagi Untara. Selah ia bertempur dengan segenap tenaga pada taraf permulaan, akhirnya berhasil menemukan dan mengetahui letak kekuatan dan kelemahan ;awannya. Meskipun Sidantipun mampu pula mengamati kelemahan lawannya, namun ternyata Untara menang seulas dari Sidanti. Untara, yang memegang kekuasaan dari Panglima Wiratamtama didaerah itu, ternyata buka nseorang yang hanya mempunyai nama mengagumkan. Tetapi Untara benar-benar seorang yang dapat dipercaya. Lahir dan batinnya. Dengan demikian, maka kemudian Untara dapat menempatkan dirinya pada keadaan yang tepat.
Tetapi justru karena ia telah dapat melihat nilai dari dirinya sendiri dihadapan lawannya itu, maka ia menjadi semakin tenang. Dengan demikian sambil bertempur ia kini sempat mencari kemungkinan-kemungkinan yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan persoalan yang disebutnya dengan persoalan pribadi.
Namun ternyata Sidanti masih memeras tenaganya habis-habisan. Ia telah benar-benar waringuten. Otaknya seakan-akan telah berhenti bekerja kecuali mencari kemungkinan-kemungkinan untuk membinasakan lawannya dalam perkelahian itu. Mula-mula memang ia merasakan tekanan Untara menjadi semakin bertambah tajam. Namun kemudian tekanan-tekanan itu seolah-olah menjadi terurai kembali. Dan dalam penilaian Sidanti, keadan mereka menjadi seimbang kembali.
Sebenarnyalah, kini Untara telah menemukan suatu cara untuk menyelesaikan persengketaan ini tampa menimbulkan dendam. Meskipun kemudian terasa olehnya, bahwa meskipun berat, namun ia akan dapat menguasai lawannya, tetapi Untara tidak mau berbuat demikian. Sebab, apabila ia menekan Sidanti, sehingga anak muda yang keras hati itu dilumpuhkan, maka dendam akan tetap membara didadanya. Dendam itu akan dapat berbahaya bagi Sangkal Putung. Apabila dendam itu meledak pada saat kedatangan laskar Jipang, maka akibatnya akan mengerikan sekali.
Dengan demikian, terbesitlah kebijaksanaan didalam diri Senapati muda dari Jati Anom itu. Ai kini tidak benar-benar ingin menundukkan Sidanti. Meskipun ia tetap memberi kesan, bahwa ia bertempur mati-matian, namun sebenarnya Untara kin seakan-akan tinggal melayani segala solah lawannya. Sekali-sekali ia menghindar, dan sekali-sekali ia menyerang pula. Tetapi serangannya tidak benar-benar mengarah ketempat-tempat yang berbahaya.
Demikian cakapnya Untara membawakan dirinya, serta karena kelebihan ilmunya yang kemudian meyakinkannya, maka Sidanti selama ini masih belum tahu apa yang dilakukan oleh Untara. Itulah sebabnya ia masih berjuang sekuat-kuat tenaganya. Dan memang demikianlah yang dikehendaki oleh Untara. Sekali-sekali ia menekan lawannya, kemudian melepaskannya dalam keadaan yang menguntungkan. Dengan demikian maka nafsu bertempur Sidanti itu menjadi melonjak-lonjak tak terkendali. Sebab sekali-sekali ia menjadi cemas, namun tiba-tiba ia melihat kesempatan terbuka. Sehingga mau tidak mau ia ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
Tetapi bagi mereka yang tidak mengalami pertempuran itu, mempunyai kesempatan untuk menilai apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi tidak semua orang dapat berbuat demikian. Yang pertama-tama melihat permainan Untara itu adalah Widura, dan kemudian Agung Sedayu. Mereka dengan dada yang berdebar-debar menanti, bagaimana akhir dari pertempuran itu. Sebab dengan permainannya maka Untara tidak akan mau melumpuhkan lawannya.
Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang laskar Pajangpun melihat sesuatu yang aneh. Tetapi mereka tidak dapat mengerti, apakah sebabnya maka pertempuran itu kadang-kadang menjadi sangat berat sebelah, namun kemudian menjadi seimbang kembali.
Sedang orang-orang lain yang berdiri melingkari arena itu, sama sekali tidak tahu, bagaimana mereka harus menilai perkelahian itu. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi pening, dan ada pula yang bahkan tidak melihat sesuatu karena malam yang menjadi semakin kelam.
Dalam pada itu, semakin lama, maka usaha Untara untuk mencapai penyelesaian menurut rencananya, tampaknya akan berhasil. Tenaga Sidanti yang terperas itu semakin lama menjadi semakin susut. Sedang Untara, yangmemiliki bekal serta pengalaman yang lebih banyak, masih tetap pada kesegarannya semula. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kelebihannya itu. Ia ingin Sidanti menyelesaikan pertempuran tanpa menjadi kecewa, malu atau dendam. Untara ingin memberi kesan, bahwa perkelahian itu akan berhenti dengan sendirinya tanpa ada yang kalah tanpa ada yang menang. (bersambung)

Api di Bukit Menoreh 27


Namun ia tahu pasti, demikian ia melangkah, maka anak panah Sidanti pasti akan hinggap dipunggungnya. karena itu Agung Sedayu tidak berani melarikan diri.
Sedayupun terkejut ketika terdengar suara Sidanti menggelegar ditelinganya “Ayo Sedayu. Siapkan busurmu”
Sedayu mengangkat wajahnya. dan tiba-tiba terdengar ia berkata dengan suaranya yang bergetar “Swandaru, berilah aku anak panah”
Semua yang mendengar kata-kata itu terkejut. Dan keteganganpun menjadi semakin memuncak. Mereka segera akan menyaksikan suatu perang tanding antara dua anak muda yang mereka angap memiliki kekuatan-kekuatan diluar kekuatan kebanyakan orang, sehingga dengan demikian maka perang tanding ini pasti akan menjadi sangat dahsyatnya.
Widurapun terkejut mendengar jawaban Sedayu. Namun tiba-tiba dadanyapun bergelora. Ia menjadi terharu melihat Agung Sedayu berusaha untuk mempertahankan hidupnya.
Tetapi meskipun demikian, perasaan khawatir merayap-rayap didalam dada Widura. meskipun Agung Sedayu kemudian berusaha untuk menyelamatkan dirinya, namun betapapun juga, hatinya yang kerdil pasti masih akan mengganggunya. Dengan demikian, Widura kembali menjadi ragu-ragu apakah Agung Sedayu akan berhasil menyelamatkan dirinya. Tetapi seandainya terjadi sesuatu, maka lebih baik apabila Agung Sedayu itu menghadapinya secara jantan daripada mati seperti kelinci betina.
Swandarupun dengan tangan yang gemetar pula menyerahkan sebatang anak panah kepada Agung Sedayu. Betapa ia menyesal. Namun semuanya telah terjadi, dan kini ia tinggal menunggu akibat dari perbuatannya.
Sementara itu Sidantipun telah memegang sebatang anak panah pula. kini ia maju lagi beberapa langkah. Kemudian ia berkata dengan lantang “Siapakah yang akan mengucapkan hitungan sampai sepuluh?”
Lapangan itu menjadi hening seketika. Tak seorangpun yang menjawab. karena itu Sidanti mengulangi lebih keras lagi “Ayo, siapakah yang akan mengucapkan hitungan?”
Kembali lapangan itu tenggelam dalam kesepian. Gema suara Sidanti itupun kemudian lenyap pula. sehingga dengan demikian Sidanti menjadi semakin marah karenanya. Ia merasa seakan-akan semua orang dilapangan itu sama sekali tidak menghargainya. Karena itu tiba-tiba ia berkata “Ayo adi Sedayu. Suapaya aku tidak disangka curang, kaulah yang mengucapkan hitungan itu”
Agung Sedayu tidak dapat menjawab kata-kata itu. Ia sedang sibuk berjuang melawan perasaannya sendiri yang saling berbenturan. Namun Sidanti tidak menunggu Agung Sedayu menjawab. ia langsung berjalan mendekati anak muda itu dan berdiri dibelakangnya beradu punggung.
Sementara itu, sepasang mata yang tajam diatara para penonton, memperhatika nperkembangan keadaan dengan seksama. Ia tersenyum ketika melihat Sedayu menerima sebatang anak panah dari Swandaru. ia tersenyum pula ketika melihat Sedayu menempatkan anak panah ditali busurnya. Namun meskipun demikian, orang yang bermata tajam itu dapat menilai apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu. Seandainya Agung Sedayu itu berhati jantan, maka kekalahannya tak usah dikhawatirkan. Namun didalam dada orang itu bergolaklah perasaan seperti perasaan yang tersimpan didalam dada Widura. dan karena itu pula ia menjadi cemas akan nasib anak muda itu.
Dalam pada itu, Sidanti sudah tidak sabar lagi. Ia sudah berdiri tegak dibelakang Agung Sedayu beradu punggung. Namun Agung Sedayu masih belum mulai dengan hitungannya. Sehingga Sidanti sekali lagi berteriak “Mulailah adi Sedayu. Kalau tidak akulah yang akan menghitung, dan aku akan melangkah menurut irama hitungan itu. Aku tidak peduli apa yang akan kau kalukan, namun sesudah hitungan kesepuluh aku akan melepaskan anak panahku ini”
Debar didada Agung Sedayu menjadi semakin cepat dan cepat saja. Sedang mulutnya masih saja terbungkam. Ia sengaja tidak mau mulai dengan mengucapkan hitungan. Dibiarkannya Sidanti menghitungnya. Ia ingin dapat memusatkan segenap kekuatan yang ada padanya untuk menindas perasaannya. Perasaan yang selalu mengganggunya. Bahkan kemudian dicobanya untuk membulatkan tekadnya. “ Kalau aku ingin menghindari kematian, aku harus melawan. Menghentikan sumber gerak dari terkaman kematian itu.”
Ssidanti kemudian benar-benar tidak sabar lagi. Apalagi ketika dilihatnya matahari telah semakin rendah diatas cakrawala. Dengan agak silau Sidanti memandang punggung-punggung bukit disebelah barat, sebagaimana ia menghadap. Kemudian katanya “Lihat, matahari hampir terbenam.”
Tetapi Agung Sedayu masih berdiam diri, sehingga Sidanti yang telah kehabisan kesabaran itu berteriak “Aku akan mulai dengan hitungan itu.”
Anak muda yang sedang dibakar oleh nyala kemarahan itu tidak menunggu lebih lama lagi. Maka terdengarlah suaranya lantang “Satu” kemudian “Dua” dan sejalan dengan itu, kakinyapun terayun maju, selangkah demi selangkah. Pada saat yang bersamaan Agung Sedayupun bergerak pula, setapak demi setapak.
Tetapi tiba-tiba terdengar sebuah tawa yang lunak bergetar diantara para penonton yang berjejalan itu. Meskipun demikian suara itu telah mengejutkan setiap orang yang berdiri dilapangan. Apalagi ketika diantara derai tertawanya terdengar kata-katanya “Sidanti, ternyata kau curang.”
Langkah dan hitungan Sidantipun terhenti pula. Mendengar kata-kata itu nyala didalam dadanya serasa tersiram minyak. Dengan serta-merta ia berpaling sambil berteriak “tidak. Aku tidak curang” namun Sidanti tidak segera dapat melihat orang itu. Orang yang telah mentertawakannya.
Sementara itu terdengar orang itu berkata pula “Kenapa kau memilih arah itu? Bukankah dengan demikian kau mengharap, bahwa apabila hitunganmu telah sampai hitungan ke sepuluh, dan Agung Sedayu itupun berbalik maka sinar matahari yang silau ini akan melindungimu”
“Gila” teriak Sidanti “Siapakah kau?” Sidanti benar-benar tersinggung mendengar kata-kata itu. Memang, keadaan itupun mendapat perhatiannya pula, dan bahkan diperhitungkannya. Tetapi ketika seseorang menebak dengan tepat, maka kemarahannya menjadi semakin menggelegak.
Bukan saja Sidanti namun Agung Sedayu,Widura, dan bahkan setiap orang menjadi sibuk mencari orang yang berkata demikian itu. Setiap orang dengan menegakkan lehernya memandang kesatu arah, ketempat orang yang telah menghentikan perang tanding yang mendebarkan itu.
Dan akhirnya mereka melihat juga. Melihat orang yang berbicara itu sedang berjalan menyibak orang-orang yang berdiri berjejalan dihadapannya.
Kata-kata orang yang belum diketahui itupun merupakan sebuah singgungan pada perasaan Widura. Kenapa ia tidak melihat ketidakadilan itu? Baru kemudian ia menyadari, bahwa alangkah berbahayanya seandainya pertandingan itu berlangsung. Demikian Agung Sedayu memutar tubuhnya, maka segera ia akan segera menjadi silau karena matahari sudah sedemikian rendahnya. Ternyata kemudian orang lainlah yang memberi peringatan akan hal itu. Bukan dirinya pemimpin laskar Pajang yang bertanggung jawab di Sangkal Putung.
Karena itu Widurapun segera ingin tahu, siapakah orang itu. Dan orang itupun datanglah kepadanya. Semakin lama menjadi semakin dekat menyusup diantara penonton yang sengaja memberi jalan, sehingga akhirnya, muncullah orang itu ditengah-tengah lingkaran.
Demikian yang muncul dari antara para penonton, maka berdesirlah dada Widura. Betapa ia terkejut melihat kehadirannya. Seorang anak muda yang sebaya dengan Sidanti. Bertubuh kekar padat berwajah tenang dan terang. Dengan sebuah senyum yang segar anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi sebelum Widura sempat berkata sesuatu karena getar dadanya, terdengar Agung Sedayu seakan-akan menjerit tinggi “Kakang. Kakang Untara. Kaukah itu?”
Untara, ia sebenarnyalah anak muda itu Untara, berpaling kepada adiknya. Kini ia tertawa. Suara tertawanya masih selunak seperti suaranya yang pertama-tama diperdengarkan. Kemudian terdengar ia berkata “aku datang untuk menyaksikan pertunjukkan yang diselenggarakan oleh paman Widura”
Sekali lagi dada Widura berdesir. Dan yang didengarnya kemudian adalah suara ribut diantara penonton. Ternyata mereka terkejut pula melihat kehadiran anak muda itu, apalagi setelah Agung Sedayu menyebut namanya, Untara. Jadi itulah orangnya yang bernama Untara, kakak Agung Sedayu. Dengan demikian, maka kembali para penonton itu berjejalan mendesak maju. Mereka ingin melihat wajah anak muda yang namanya telah jauh lebih dahulu hadir daripada orangnya.
Dada Widura kini telah menjadi tenang kembali. Dengan sebuah senyum yang tulus ia mendekati kemenakannya. Diulurkannya tangannya sambil berkata lirih “Aku tidak dapat mencegahnya”
Untara menyambut uluran tangan pamannya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “aku senang melihat perang tanding ini. Namun aku ingin melihat perang tanding ini berjalan dengan sempurna”
“Suatu kekhilafan, Untara” sahut Widura.
Sekali lagi Untara tertawa. Wajahnya yang terang itu kemudian memandang berkeliling. Setiap wajah yang dipandangnya, maka tanpa sengaja, wajah itu mengangguk, dan dengan rendah hati Untarapun menganggukkan kepalanya pula.
Sidanti yang melihat kehadiran Untara itu dadanya berdentang pula seperti melihat hantu yang palin dibencinya. Wajahnya yang merah membara itu seakan-akan benar-benar telah menyala. Kini ia melihat Untara itu berdiri dihadapannya. Sedang orang-orang disekitarnya telah mendesak maju sekedar ingin melihat wajah Untara itu. Dengan demikian, maka Sidanti itupun telah kehilangan segenap pertimbangannya.
Maka semua orang yang berada dilapangan itu tiba-tiba terkejut ketika mereka mendengar Sidanti itu berteriak “Minggir. Pertandingan akan tetap berlangsung terus. Jangan hiraukan orang yang tidak tahu menahu persoalannya”
Untara mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada Widura, maka Widura itupun memandangnya, seakan-akan minta pertimbangan kepadanya.
Untara mengangkat bahunya, katanya ”Kekuasaan didaerah ini berada ditangan paman Widura. silahkan. Aku hanya ingin melihat apakah pertandingan ini akan berlangsung dengan jujur”
“Jangan menyindir” teriak Sidanti. “Aku tahu maksudmu. Meskipun semula aku tidak memperdulikan matahari itu, namun seandainya hal-hal yang tak berarti itu harus dipertimbangkan, baiklah kita menghadap arah utara dan selatan”.
Kembali terdengar Untara tertawa, sambil berkata “Jangan marah Sidanti.”
Terasa kata-kata itu menusuk jantung Sidanti seperti tusukan sembilu. Dengan menggeretakkan gigi ia berkata lantang “Nah Sedayu. Kau dengar?”
Sedayu yang seakan-akan terpesona karena kehadiran kakaknya itu, tiba-tiba seperti terbangun dari mimpinya. Ia terkejut ketika ia merasa Sidanti mendorongnya. Dan didengarnya sekali lagi Sidanti berteriak “Bersiaplah”.
Seperti seorang anak yang mengharapkan sesuatu dari bapaknya Agung Sedayu memandang wajah kakaknya. Dan tiba-tiba dilihatnya kakaknya itu mengangguk kepadanya. Hanya mengangguk, namun anggukan kepala itu seperti telah mengalirkan suatu kekuatan baru didalam hatinya. Kehadiran Untara yang tiba-tiba itu, benar-benar memperbesar hati Agung Sedayu. karena itu, maka dengan gerak yang lebih tenang kini ia berdiri menghadap keutara, sedang Sidanti berdiri dibelakangnya menghadap keselatan.
Dan ketika kemudian Sidanti hampir mengulangi hitungannya, terdengarlah Untara berkata “Biarlah aku menolong kalian. Akulah yang akan menghitung sampai bilangan kesepuluh”
“Bagus” teriak Sidanti. “Mulailah”
Untara berjalan mendekati mereka yang telah berdiri beradu punggung itu. Terdengar ia bergumam “Aku telah melihat pertandingan ini sejak permulaan. Dan aku mengagumi kalian yang telah melakukan permainan yang aneh-aneh. Namun ternyata kalian hanya memanah benda-benda mati. Sekarang kalian akan memanah benda-benda yang hidup, yang mungkin mengelakkan diri dari kejaran anak panah kalian. Benar-benar pekerjaan yang tidak terlalu mudah”
“Mulailah” potong Sidanti tidak sabar. Tetapi kata-kata Untara itu seakan-akan memberikan petunjuk-petunjuk baru bagi Agung Sedayu. Memberikan petunjuk bahwa dalam perang tanding yang demikian, maka mereka diperkenankan untuk mengelakkan serangan lawan.
Demikianlah maka akhirnya Untara itupun mulai dengan hitungannya.
Untara itu kini berdiri tegak. Sesaat ia memandang orang-orang yang melingkari mereka. Kemudian dengan tenang ia berkata kepada para penonton “Mundurlah kalian. Jangan berdiri diujung utara dan selatan. Kalau anak panah itu nanti tidak mengenai sasaran, maka kalianlah yang akan terkena”
Penonton diujung utara dan selatan itupun mendesak mundur. Mereka menjadi takut, kalau justru dada merekalah yang akan tembus oleh anak panah-anak panah itu. Namun setiap kata-kata Untara itu, semakin meyakinkan Agung Sedayu, bahwa ia masih mungkin untuk menyelamatkan dirinya dari maut. Ia masih mungkin mengelak, dan panah-panah itu masih mungkin tidak mengenai sasaran.
Tetapi Sidanti menjadi semakin tidak sabar. Dengan marahnya ia berteriak sekali lagi “He Untara. Apakah kau tidak sanggup menghitung?”
“Baiklah” sahut Untara. “Sekarang bersiaplah”
“Aku sudah siap sejak kau belum menampakkan dirimu” jawab Sidanti.
Untara tersenyum. kemudian selangkah ia maju. Dan kini mulailah ia menghitung “Satu...dua…”
Suasana meningkat menjadi semakin tegang, semakin tegang, sejalan dengan bilangan-bilangan yang disebutkan Untara. Untara sendiri sebenarnya menjadi cemas juga, seperti Widura yang tegang kaku seperti patung batu. Namun baik Untara maupun Widura, bahkan beberapa orang lain, Hudaya, Citra Gati, Swandaru dan beberapa orang lagi, ternyata berdoa didalam hatinya, setidak-tidaknya Sedayu tidak menjadi binasa karenanya.
Kini bilangan-bilangan yan diucapkan Untara sudah semakin tinggi. “Enam…tujuh…” Dan lapangan itu menjadi semakin hening. Tetapi dalam pada itu, tekad didalam dada Agung Sedayu menjadi semakin bulat. Ia tidak mau mati.
Dan akhirnya sampailah hitungan itu pada akhirnya. Seperti bisul yang akan pecah disetiap ubun-ubun penonton, terdegarlah Untara menyebut bilangan terakhir dengan suara gemetar “Sepuluh ….”
Sidanti yan dibakar oleh kemarahan, hampir tidak sabar menunggu bilangan yang kesepuluh. Dan ketidak sabarannya itu sama sekali tidak menguntungkannya. Demikian ia mendengar Untara menyebut bilangan kesepuluh itu, dengan serta-merta ia memutar tubuhnya sekaligus menarik busurnya. Hanya sesaat ia membidikkan panahnya, dan panah itu dengan cepatnya meluncur kedada Agung Sedayu arah kekiri. Arah jantung.
Tetapi Agung Sedayupun telah memutar tubuhnya pula. ia tidak menyangka bahwa lawannya bertindak secepat itu. Ia sama sekali belum pernah melihat, mengatahui dan apalagi mengalami perang tanding semacam itu, sehingga karena itu ia masih ragu-ragu untuk melakukannya meskipun tekadnya untuk menghindari maut telah bulat didalam hatinya. karena itu, ternyata Sidanti berhasil mendahuluinya.
Dan sebenarnya Sidanti adalah pembidik yang bail. Panah itu dengan lajunya menuju kesasarannya dengan tepat. Dada kiri Agung Sedayu.
Tetapi Agung Sedayu itupun sebenarnya bukan sebuah patung. Didalam tubuhnya tersimpan berbagai macam ilmu yang tidak dapat diabaikan. Namun ilmi-ilmu itu seakan-akan tersimpan dalam kotak yang tertutup.
Kini ia melihat sebuah anak panah meluncur dengan cepatnya, menuju kedadanya. karena itu, dengan gerak naulriah maka Sedayu yang memiliki ketangkasan yang tinggi itupun segera bergesar setapak sambil memiringkan tubuhnya.
Namun panah Sidanti terlampau cepat. Betapapun cepatnya gerak Agung Sedayu, namun ia tidak mampu menghindari anak panah itu sepenuhnya. Sehingga dengan cepatnya panah itu mematuk lengan kirinya. Tetapi untunglah bahwa anak panah itu tidak mengenai bagian yang penting pada lengannya itu, sehingga anak panah itupun kemudian bergeser dan jatuh disamping Agung Sedayu. Meskipun demikian, maka segera sepercik darah mengalir dari luka itu. Semakin lama menjadi semakin deras.
Tampaklah Agung Sedayu menyeringai menahan sakit. Tetapi hanya sesaat. Ternyata darah yang mengalir dari lukanya itu telah menghangatkan hatinya. Kini ia telah terluka, dan ternyata demikianlah rasa sakit yang menggigit pundaknya. Rasa sakit itu kini tidak saja ditakutkannya, namun sudah dirasakannya. Dan rasa sakit itu ternyata tidak seperti apa yang dibayangkannya. Darah yang mengalir dari lukanya itu bukanlah pertanda akan kematiannya. Dan meskipun kini darah itu telah mengalir, tetapi ia masih tetap berdiri tegak dan hampir luka itu dapat diabaikannya. Tiba-tiba timbullah perasaan heran didalam dadanya. Apakah hanya perasaan ini yang harus ditanggungnya. Alangkah ringannya. Bahkan berkatalah Agung Sedayu didalam hatinya “Jadi ternyata aku tidak mati. Aku ternyata dapat juga membebaskan diri dari kematian itu. Dan kini aku telah melakukannya. Perang tanding”
Terasalah sesuatu bergolak didalam dada Agung Sedayu. Terasa seakan-akan ia telah melampaui suatu masa yang tidak pernah dibayangkannya. Terasa seakan-akan ia telah menerobos suatu batas yang selama ini mengungkungnya. Dan sebenarnya dinding yang memagari Agung Sedayu kini telah terpecahkan. Dan lenyaplah seluruh perasaan takutnya. Kini Agung Sedayu itu tidak takut lagi kepada luka, kepada darah dan kepada maut sekalipun. Sebab ternyata ia mampu menghindari maut, apabila Tuhan belum menghendakinya. “Ya” katanya dalam hati, sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan, akhirnya Sedayu itu menemukan keyakinan “Aku tidak perlu takut mati. Sebab kematian adalah takdir Tuhan. Ternyata kali ini aku telah bebas dari kematian itu, karena Tuhan belum menghendakinya”.
Bahkan kini Agung Sedayu mengangkat wajahnya. dipandanginya Sidanti yang berdiri gemetar menahan marah, duapuluh langkah dihadapannya. Ditangannya kini masih tergenggam sebatang anak panah. Sedang Sidanti telah melepaskan satu-satunya anak panahnya.
Ketegangan dilapangan itu segera sampai kepuncaknya. Ddg tajamnya Agung Sedayu menandang lawannya. Sidanti, yang dalam pandangan mata Sedayu, kini tidak lebih daripada dirinya sendiri. Sidanti itu tiba-tiba bukanlah seorang yang menakutkan lagi.
Agung Sedayu, meskipun pundaknya telah terluka, namun luka yang tidak begitu dalam itu sama sekali tidak berpengaruh padanya. Kini ia dapat berbuat apa saja atas lawannya. Betapapun tangkasnya lawannya itu, namun ia mempunyai banyak waktu untuk membidiknya, menarik busurnya dalam-dalam dan melepaskan anak panah secepat tati. Dalam keadaan yang demikian, alangkah sulitnya untuk menghindari, sebab setiap kali ia dapat melepaskan anak panahnya dengan tiba-tiba.
Sidanti masih berdiri tegak seperti tonggak. Kini tubuhnya bergetar semakin keras. Kemarahannya benar-benar telah memuncak sampai keubun-ubunnya. Meskipun demikian ia tidak gentar menghadapi panah Agung Sedayu. Dengan kecepatannya bergerak ia yakin bahwa ia mampu menghindari anak panah lawannya.
Tetapi Agung Sedayu itu masih belum membidik lawannya. Meskipun kini ia sudah dapat melepaskan diri dari sebuah belenggu yang selama ini mengungkungnya dalam satu dunia yang gelap, namun masih belum terlintas didalam angan-angannya untuk membunuh seseorang. Itulah sebabnya maka ia masih berdiri dengan ragu.
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara Sidanti serak “He Sedayu, apa yang kau tunggu?”
Agung Sedayu terkejut mendengar suara itu. Sekali lagi ia menatap wajah lawannya dengan tajamnya. Wajah yang kras dan penuh dendam. Namun, betapa ia menjadi muak melihat wajah Sidanti, tetapi perasaan itu belum dapat memaksanya untuk mencoba membunuh seseorang. Dan kembali Agung Sedayu berdiri termangu-mangu.
Lapangan kecil itu kini benar-benar dikuasai oleh kesenyapan yang tegang. Matahari dilangit menjadi semakin rendah. Warna-warna merah dengan segarnya membayang diujung-ujung pepohonan dan menyangkut iditepi-tepi gumpalan mega dilagnit. Sekali-sekali tampak diudara burung-burung cangak berbondong-bondong terbang pulang kesarangnya. Melintas dari arah barat ketimur.
Dalam kesenyapan itu, tiba-tiba terdengar suara Untara dengan nada yang rendah “Agung Sedayu. Pertandingan ini akan segera selesai apabila kau telah melepaskan anak panahmu itu”
Agung Sedayu menjadi semakin bimbang. Dicobanya untuk menenangkan perasaannya. Dan dicobanya untuk memandang dada Sidanti. Tetapi, kembali ia tidak dapat memaksa dirinya untuk membunuh seseorang meskipun orang itu telah bertekad untuk membunuhnya.
Yang terdengar kemudian kembali suara Untara “Agung Sedayu, adalah tidak bijaksana untuk membunuh lawan yang sudah tidak berdaya”
Agung Sedayu berpaling kepada kakaknya, seakan-akan ia telah menemukan suatu penyelesaian yang baik bagi perselisihannya. Ia dapat mengerti kata-kata kakaknya, sebagaimana ia selalu mendengar cerita ayahnya dahulu, bahwa penyelesaian dari persengketaan tidak harus ditandai dengan kematian.
Tetapi tanpa disangka-sangka, maka Agung Sedayu itu mendengar suara Sidanti menggelegar “Agung Sedayu, aku bukan pengecut yang minta kau kasihani. Ayo kalau kau jantan. Cobalah membunuh Sidanti”
Agung Sedayu mengangkat keningnya. Namun Untara itu berkata pula “Anak panah yang sebatang itu hakmu Sedayu. Kemana saja kau bidikkan, maka perang tanding ini sudah selesai. Dan semua persoalanpun selesai pula”
“Jangan turut campur Untara. Urusan ini sama sekali bukan urusanmu” bentak Sidanti sambil menggertakkan giginya karena marah.
Tetapi Untara seakan-akan tidak mendengar kata-kata Sidanti. Bahkan Widurapun kemudian berkata “Kau benar Untara”
Agung Sedayu masih tegak dengan penuh kebimbangan. Ia kini telah berhasil menerobos dinding yang menyekapnya dalam ketakutan. Namun ia masih belum dapat berbuat lebih jauh daripada melihat kenyataan diri dan melihat kekuasaan yang menguasai hidupnya dan hidup orang-orang lain. karena itu, ia menjadi semakin bimbang. Membunuh adalah perbuatan yang melawan kehendak Tuhan.
Dalam kebimbangan itu tiba-tiba Agung Sedayu melihat serombongan brung cangak terbang rendah melintas dilapangan. Dan tiba-tiba pula ia ingin melepaskan ketegangan yang mencekam dadanya. Dengan serta-merta, ia mengangkat busurnya. Dan sesaat kemudian satu-satunya anak panahnya itu meloncat dengan cepatnya, menyambar seekor cangak yang terbang dengan tenang dan perlahan-lahan diatasnya.
Semua orang terkejut melihat perbuatan Agung Sedayu. Mereka hanya sesaat melihat Agung Sedayu mengangkat busurnya. Dan sesaat kemudian mereka sudah melihat, seekor dari burung-burung cangak itu terpelanting dan jatuh ditanah.
Agung Sedayu sendiri terkejut melihat hasil bidikannya. Cangak yang sama sekali tidak tahu menahu persoalannya itu tiba-tiba jatuh menjadi korbannya. Namun, adalah lebih baik melepaskan ketegangan didadanya dengan membunuh seekor burung daripada membunuh Sidanti.
Tanpa diduga-duga sebelumnya, maka tiba-tiba semua orang yang berdiri dilapangan itupun kemudian melepaskan ketegangan yang selama ini mencengkam dada mereka.
Dengan serta-merta meledaklah sorak-sorai yang gemuruh dengan dasyatnya, sedahsyat gunung Merapi itu meledak. Mereka bersorak karena mereka melihat akhir dari perang tanding itu tanpa jatuhnya korban. Mereka bersorak pula karena mereka melihat ketangkasan Agung Sedayu. Beberapa orang dari mereka bergumam “Alangkah dahsyatnya anak muda itu”
Tetapi, bagi Sidanti, apa yang terjadi itu seakan-akan merupakan tamparan yang langsung mengenai wajahnya. karena itu, maka darhnya menjadi seakan-akan mendidih. Ia sudah tidak ingat lagi apakah yang sebaiknya dilakukan. Dengan gigi yang gemeretak ia meloncat maju sambil berteriak “Perang tanding ini belum selesai. Aku tantang kau dengan cara yang lain”
Teriakan Sidanti itu benar-benar mengejutkan. Semua orang yang mendengar tertegun heran. Bahkan Widura, Untara dan bahkan Agung Sedayu sendiri. mereka melihat Sidanti dengan wajah yang menyala-nyala datang mendekati Sedayu. Dilemparkannya busurnya ketanah, lalu berkata “Agung Sedayu. Ada seribu macam cara untuk melakukan perang tanding. Marilah kita pilih salah satu diantaranya. Tidak mempergunakan jarak yang sejauh duapuluh langkah, tetapi kita lakukan dalam jarak yang dekat”
Agung Sedayu menjadi bingung. Ia telah menghindari kemungkinan yang lebih buruk dari perang tanding yang baru saja dilakukan. Ia dengan sengaja tidak membidik lawannya dengan anak panahnya. Tetapi kini bahkan ia dihadapkan pada kemungkinan yang lebih jelek.
Namun dengan demikian, Hudaya, Citra Gati, Sendaya dan orang-orang lain menjadi semakin muak melihat kesombongan Sidanti. Hampir-hampir saja mereka tidak dapat mengendalikan diri mereka pula. Tetapi yang maju kedepan adalah Widura “Cukup Sidanti. Jangan membuat persoalan menjadi lebih parah”
Tetapi dengan kasarnya Sidanti menyahut “Apa pedulimu. Persoalan ini adalah persoalan antara Sidanti dan Agung Sedayu”
“Tetapi aku kali ini tidak akan mengijinkan” berkata Widura pula.
“Aku tidak perlu ijinmu” bantah Sidanti. (bersambung)

Jumat, 07 Maret 2008

Api di Bukit Menoreh 26

Demikian kedua anak panah itu jatuh ditanah, mak semua orang yang terpukau itu seakan-akan terbangun dari mimpinya. Dengan serta-merta maka meledaklah sorak sorai mereka. Seperti gemuruhnya gunung runtuh menimpa ombak lautan yang dahsyat. Menggelegar beruntun susul menyusul. Tidak saja anak-anak, namun orang-orang dewasa, anak-anak muda Sangkal Putungpun berloncat-loncatan dilapangan itu. Menari-nari dan melemparkan apa saja keudara. Caping-caping mereka, ikat pinggang selebar telapak tangan, tongkat-tongkat dan bahkan terompah-terompah mereka.
Swandaru yang berdiri dibelakang Agung Sedayu melihat pula penturan kedua anak panah itu. Terasa dadanya menjadi bergetar seakan-akan benturan anak panah itu terjadi didalam rongga dadanya. Ia melihat pula kedua anak panah itu jatuh ditanah. Dan dengan serta-merta, ia berlari sekencang-kencangnya, memungut kedua batang anak panah itu.
Sambil berlari-lari kembali anak yang gemuk itu berteriak-teriak sekeras-kerasnya seperti sedang mabuk tuak. Katanya “Lihat, lihat. Anak panah paman Hudaya dikenai ditengah-tengah sehingga menjadi retak karenanya”
Widurapun menjadi terpaku ditempatnya. Terasa sesuatu berdesir didadanya. Bahkan kemudian mulutnya seakan-akan menjadi terbungkam. Dari tempatnya berdiri, ditatapnya wajah Agung Sedayu. Dan seakan-akan terpancar dari wajah itu, bayangan wajah ayahnya. Ki Sadewa., ipar Widura itu. Wajah itupun tampaknya memancarkan kerendahan hati yang tulus. karena itu maka timbullah iba hatinya, kalau selama ini anak itu dibiarkannya kecemasan tentang nasibnya.dan tiba-tiba pula terpancarlah janji didalam hatinya “Kalau aku mampu, biarlah aku mencoba menjadikannya seorang anak muda yang berhati jantan. Kecakapannya bermain panah, ketrampilannya berolah pedang dan bahkan kekuatan-kekuatan jasmaniah yang tersimpand didalam tubuhnya, pasti akan memungkinkan anak itu melampaui anak-anak sebayanya, bahkan akan dapat melampaui diriku sendiri”
Jang benar-benar tak dapat menahan perasaannya adalah Sekar Mirah. Gadis itu benar-benar lupa akan dirinya. Seperti kuda yang lepas dari ikatannya ia berlari kencang-kencang kearah Agung Sedayu yang masih berdiri ditempatnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Terasa seseorang menangkap tangannya dan menariknya.
“Apakah yang akan kau lakukan?”
Sekar Mirah berpaling. Dilihatnya ayahnya memandangnya dengan tajam. Dan Sekar Mirahpun menundukkan wajahnya. jawabnya “Tidak apa-apa ayah”
“Ingat Mirah” berkata ayahnya “Kau adalah seorang gadis”
“Aku tidak akan berbuat apa-apa ayah” sahut Sekar Mirah sekali lagi.
Ki Demang Sangkal Putung melepaskan tangannya sambil berkata “Jangan menodai namamu sendiri. Bersoraklah kalau kau mau bersorak. Berteriaklah kalau kau mau berteriak. Namun ditempatmu. Tak perlu kau pergi mendekat. Baik Sidanti maupun Agung Sedayu”
Sekar Mirah menggigit bibirnya. Namun dengan demikian ia mulai menyadari dirinya, bahwa ia kini berada ditengah-tengah ratusan orang yang menyaksikan pertunjukan itu. Karena itu, ia harus lebih hati-hati membawa diri. Meskipun demikian ia berkata juga “Ayah, aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kemenangan Agung Sedayu.”
“Siapa bilang ia menang?” semuanya yang mendengar pertanyaan itu menjadi terkejut, sehingga serentak mereka berpaling. Ternyata mereka melihat Sidanti dengan wajah yang merah membara. Dengan tajamnya ia memandang Sekar Mirah yang masih berdiri disamping ayahnya. Agaknya Sidanti telah mendengar Sekar Mirah memuji Agung Sedayu dengan kemenangannya.
Ketika Sekar Mirah melihat wajah Sidanti itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Namun ia merasa erhak berbuat apapun sekehendaknya. karena itu, maka ia tidak mau dibentak-bentak oleh Sidanti.
Tetapi sebelum ia menjawab, terasa ayahnya menggamitnya sambil berbisik “Diamkan anak itu”
Sekar Mirah memandangi wajah ayahnya dengan kecewa. Tetapi ia tidak bernai melanggarnya. Namun ternyata terdengar jawab dari arah lain “Bukankah sudah, ternyata bahwa bidikan Agung Sedayu lebih baik dari bidikanmu”
Warna merah di wajah Sidanti menjadi semakin menyala. Apalagi ketika ia menyadari bahwa suara itu suara Swandaru. demikian marahnya Sidanti sehingga untuk sesaat ia bahkan menjadi terbungkam. Namun tubuh dan dadanya menjadi bergetar.
Agung Sedayu yang melihat wajah Sidanti itupun tiba-tiba menjadi cemas pula. apakah anak itu akan menjadi marah? Bahkan bukan saja Agung Sedayu, tetapi juga Widura menjadi cemas. karena itu segera wajah melangkah maju. Diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi sambil berteriak diantara sorak para penonton yang masih saja menggema, katanya “Pertandingan sudah selesai. Kedua-duanya berhasil mengenai panah-panah yang masih berada diudara. karena itu maka kedua-duanya memiliki kecakapan membidik yang sama. Dengan demikian dalam pertandingan ini tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah”
Mendengar keputusan itu, sorak para penonton justru menjad idiam. Mereka merasa aneh atas keputusan itu. Meskipun benar, kedua-duanya dapat mengenai sasarannya, namun terasa bidikan Agung Sedayu lebih tepat dari bidikan Sidanti. karena itu menurut mereka Agung Sedayu dapat dianggap memenangkan pertandingan ini. Bahkan hampir bersamaan Hudaya, Citra Gati, Sendawa meloncat masuk kelapangan. Yang mula-mula berkata adalah Citra Gati “Apakah menilaian ini cukup adil?”
Widura mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan itu adalah wajar dan bahkan didalam dirinya sendiri, timbul pula pertanyaan semacam itu.
Namun demikian, tebaran pandangan Widura tidak saja terbatas ditengah-tengah lapangan dan membiarkan perasaannya berbicara. Pandangannya telah jauh melampaui batas-batas yang dapat dilihatnya ditempat yang sempit itu. Dilihatnya disuatu tempat Tohpati telah mulai menyusun kekuatannya, dan ditempat lain Ki Tambak Wedi seakan-akan selalu mengintipnya. karena itu, ia dengan pertimbangan yang masak ia menjawab “Kita tidak menentukan, bagian manakah yang harus dikenaik oleh pemanah-pemanahnya. Kita hanya melepaskan anak panah keudara. Nah, salah seorang dari para pemanah itu membidik ekornya, yang lain membidik tepat ditengah-tengah. Dan keduanya mengenai tepat diarah yang dikehendakinya. Bukankah dengan demikian kedua-duanya telah berhasil?”
Hudaya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjawab “Kami menjadi saksi. Perasaan kami, aku dan para penonton, mengatakan bahwa Agung Sedayu lebih baik dari Sidanti.”
Widura mengerutkan keningnya. Ia benar-benar berada ditempat yang sulit. Ia tidak mau melepaskan Sidanti. Tetapi Hudaya, Citra Gati, Sendaya dan beberapa orang itu adalah orang-orang yang menpunyai pengaruh yang kuat diantara laskarnya. Sudah tentu ia tidak dapat bekerja berdua saja dengan Sidanti, atau dengan satu dua orang yang lain.
Sementara itu, sementara Widura sedang sibuk berpikir untuk memecahkan persoalan yang sulit itu, terdengar suara Sidanti parau “Kakang Widura, pertandingan dapat diulangi. Kita harus sampai paada penentuan, siapakah yang menang dan yang kalah. Kita tidak boleh menjadi orang-orang banci”
“Bagus” teriak Hudaya, Citra Gati, Sendawa dan orang-orang lain “Ulangi” teriak mereka.
Widura benar-benar menjadi pening. Namun ia harus mempunyai sikap. Maka katanya “Tidak. Pertandingan sudah selesai. Tak ada gunanya kita ulangi. Aku sudah tahu pasti. Hasilnya akan sama saja. Keduanya akan mendapat nilai yang sama”
“Tidak” teriak Sidanti. “Aku menuntut perlakuan yang adil. Tidak ada yang menentukan arah bidikan pada panah yang dilepaskan oleh kakang Hudaya. Tetapi meskipun aku mengenai tempat yang aku kehendaki, namun orang-orang menganggap bidikan adi Sedayu lebih tepat. Aku ingin menghilangkan kesan itu”
Widura menggeleng. “Sudah aku katakan. Aku akan menyelenggarakannya lain kali”
“Sekarang” teriak Sidanti pula.
Suasana segera meningkat menjadi semakin tegang. Beberapa langkah Sidanti maju mendekati Widura dengan wajah yang merah menyala. Sedang dari arah lain, Citra Gati, Hudaya, Sendawa, Sonya, dan beberapa orang lagipun maju pula. wajah mereka tidak kalah tegangnya dengan wajah Widura sendiri.
Sesaat Agung Sedayu menjadi bingung melihat perkembangan keadaan. Ia melihat Sidanti menjadi marah, dan dilihatnya pula Hudaya dan kawan-kawannyapun menjadi tegang. Sehingga setiap kemungkinan akan dapat terjadi. karena itu maka tiba-tiba berkata “Paman, seandainya pertandingan ini diadakan lagi, maka aku tidak akan dapat mengikutinya”
Kata-kata itu seolah-olah merupakan penggerak yang menggerakkan setiap kepala untuk berpaling kearahnya. Sidantipun memandang wajah Agung Sedayu dengan tajamnya. Dan bahkan Citra Gati yang tidak dapat menahan perasaannya berteriak “Kanapa?”
Sedayu menjadi berdebar-debar. Jawabnya “Aku tidak dapat melakukan permainan yang lebih baik. Seandainya kakang Sidanti mempunyai cara yang lain, maka pasti aku tudak dapat mengikutinya. Aku sudah sampai pada puncak kecakapan yang ada padaku”
“Bohong” teriak Sidanti dan Hudaya hampir bersamaan, meskipun maksudnya berbeda-beda, sehingga keduanya menjadi terkejut karenanya. Namun yang meneruskan kata-katanya hanyalah Sidanti “Kau hanya akan mempertahankan keadaan serupa ini. Dimana orang-orang mempunyai kesan bahwa kau adalah pemanah yang lebih baik daripadaku”
Agung Sedayu menjadi bingung. karena itu ia tidak menjawab. sehingga yang menjawab kemudian adalah Widura “Sedayu berkata benar. Kalau Sidanti masih mungkin melakukan permainan yang lebih baik lagi, maka Sedayu akan kalah”
“Tidak adil” teriak Citra Gati.
“Tidak adil” teriak Sidanti “Kesan orang-orang akan menjadi semakin menguntungkannya. Seolah-olah ia sekedar mengalah untuk memberi kesempatan kepadaku. Tidak. Bukan perlakuan jantan bagi Sidanti. Sidanti tidak sekedar ingin mendapat perlakuan yang cengeng Sidanti adalah seorang anak muda yang jantan”
Kata-kata itu benar-benar berkesan bagi Widura. bahkan Hudaya, Citra Gati dan yang lain-lainpun terdiam pula karenanya. Betapapun mereka harus mengakui kelebihan Sidanti daripada mereka, meskipun apabila mereka dihadapkan pada suatu keadaan yang memaksa, mereka tidak takut pula melawan Sidanti.
Lapangan itu tiba-tiba menjadi hening. Dengan hati yang semakin tegang, mereka, para penonton itu melihat keadaan yang semakin tegang pula. Beberapa orang laki-laki telah mendekat mereka. Dan membentuk sebuah gelang memagari mereka yang sedang bertengkar. Yang berkata kemudian adalah Widura tegas “Tak akan ada pertandingan lagi”
“Ada” sahut Sidanti.
Sekali lagi Widura menjawab lebih keras “Tidak!”
Tetapi tiba-tiba hati Widura itu berdesir. Ditengah-tengah lingkaran orang-orang yang melihat keributan itu, tiba-tiba terjatuh sebuah benda yang benar-benar mengejutkannya. Sepotong besi yang lengkung hampir berbentuk lingkaran. “Setan” Widura mengumpat didalam hati. “Ki Tambak Wedi itu ada pula disini”
Ketika ia memandang wajah Sidanti, dilihatnya anak muda itu tersenyum. senyum yang sangat menyakitkan hati. Sementara itu beberapa orang menjadi heran juga. Namun tak seorangpun diantara mereka yang melihat, siapakah yang telah melemparkan sepotong besi ditengah-tengah mereka. Meskipun demikian, beberapa orang menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka idak tahu arti sepotong besi itu selain Widura, namun mereka merasakan sesuatu yang tidak wajar.
Ternyata benda itu sangat berpengaruh bagi Widura. ia tidak tahu pasti maksud Ki Tambak Wedi, namun ia dapat menduga bahwa Ki Tambak Wedi telah memperkuat pendapat muridnya. Dengan demikian maka Widura itu berpikir dan berpikir sehingga kepalanya hampir meledak karenanya. Ditinjaunya segenap segi-segi. Kalai ia mengadakan pertandingan sekali lagi maka persoalannya tidak akan terpecahkan. Apalagi Sidanti merasa bahwa ada semacam perlakuan yang tidak wajar terhadapnya. Menang atau kalah, Sidanti pasti akan kecewa. Kalau ia kalah, maka darahnya pasti akan semakin menyala, tetapi kalau ia kalah, maka ia akan menyangka bahwa Agung Sedayu tidak bersungguh-sungguh. Tetapi ternyata guru Sidanti itu telah ikut campur pula. bagi Widura yang sebaik-baiknya adalah bubar. Pulang ke kademangan. Namun Sidanti menolak dan gurunya memperkuat. Sehingga untuk menjaga ketenangan kademangan, apakah ia harus memenuhi permintaan Sidanti yang juga merupakan permintaraan dari Hudaya, Citra Gati dan yang lain-lain, meskipun dalam perhitungan yang berlawanan?
Widura menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia hanyut oleh kehendak orang-orang yang sedang kehilangan kejernihan pikiran itu. Hampir ia kehilangan ketetapan hati sebagai seorang pemimpin.
Dalam keadaan yang demikian itu, ketika dada Widura sedang bergetar karena benturan-benturan pertimbangannya, maka sekali lagi orang-orang yang berdiri melingkar itu terkejut. Kali ini mereka melihat sebuah cemeti kuda melenting dan jatuh hampir menimpa Widura. Widurapun terkejut pula karenanya. Tetapi tiba-tiba jantungnya serasa berhenti. Dengan nanar ia memandang berkeliling. Namun yang dilihatnya adalah wajah-wajah yang tegang dan penuh kecemasan. Widura tidak berhasil melihat seseorang yang dicarinya. Ia tidak berhasil menemukan orang yang dapat disangkanya Kiai Gringsing. Namun ia pasti, bahwa orang aneh itu hadir pula ditengah-tengah lapangan. Cemeti kuda itu telah memberitahukan kepadanya, bahwa orang itu ada didekatnya.
Dengan demikian, maka pertimbangan-pertimbangan Widura yang hampir condong dan roboh sama sekali itu itu, seakan-akan menemukan kekuatannya yang baru. Ia tahu benar maksud Kiai Gringsing itu. Dan ia percaya bahwa Kiai Gringsing tidak hanya sekedar mengganggunya seperti biasanya. Dengan cemetinya itu Kiai Gringsing pasti ingin berkata kepadanya “Jangan hiraukan orang yang bergelang besi itu, biarlah ia menjadi urusanku”
Dan kini sekali lagi Widura mengangkat wajahnya. ia melihat Sidanti keheran-heranan melihat cemeti itu. Juga Hudaya, Citra Gati dan yang lain-lain. Namun ketika ia memandang Agung Sedayu dilihatnya wajah Agung Sedayu tidak lagi sepucat tadi. Agaknya Agung Sedayupun mengenal cemeti itu pula. dan tanpa disengaja, hatinya menjadi tenang. Kiai Gringsing yang belum dikenalnya baik-baik itu, telah mencengkam kepercayaannya, sehingga seakan-akan orang aneh itu dapat dipakainya sebagai sandaran apabila terjadi sesuatu.
Ketegangan itu kemudian dipecahkan oleh suara Widura tegas dan lantang “Tidak ada apa-apa lagi. Itulah keputusanku!”
Terdengar gigi Sidanti gemeretak. Betapa dadanya dibakar oleh kemarahan. Dengan demikian, maka setiap orang di Sangkal Putung dan setiap orang yang melihat pertandingan itu, termasuk kawan-kawannya sendiri, akan tetap berkesan bahwa Agung Sedayu telah mengalahkannya.
karena itu maka sekali lagi ia mencoba memaksakan kehendaknya, katanya “Kakang Widura, aku minta pertandingan diadakan lagi”
Widura menggeleng, namun sebelum ia menjawab terdengarlah Citra Gati berkata “Apakah keberatannya kakang. Marilah kita melihat keadaan dengan jujur. Siapa yang kalah biarlah ia kalah dan siapa yang menang biarlah ia menang. Setan atau malaikat. Dengan demikian kita melihat kenyataan dengan pasti”
Widura mengerutkan keningnya. Dengan tajam ia memandang Citra Gati. Jawabnya “Apakah tujuan kita berada di Sangkal Putung ini? Apakah kita hanya sekedar ingin mengetahui siapakah diantara kita yang paling sakti dan paling cakap? Bahkan apakah cukup apabila kita menemukan siapakah diantara kita yang paling benar dan paling jujur? Sedang tujuan pokok dari perjuangan kita tidak selesai. Ayo, katakan kepadaku, apakah dengan saling ribut diantara kita, Tohpati dapat terselesaikan. Sisa-sisa laskar Jipang akan dapat kita batasi kegiatannya, atau bahkan kita hancurkan. Sekarang katakan padaku, apakah tujuan pertandingan ulangan ini jujur pula, sekedar untuk mendapatkan pemenangnya dengan kukur? Atau karena keinginan kita sekalian untuk menunjuk kelemahan orang lain dan menghinakannya?”
Kata-kata itu benar-benar menusuk jantung Citra Gati. Sehingga orang itupun kemudian menundukkan wajahnya. demikian juga Hudaya, Sendawa yang bertubuh raksasa dan Sonya yang kecil serta beberapa orang lainnya. Mereka merasakan kebenaran kata-kata Widura itu. Sebenarnyalah bahwa pertandingan ulangan itupun tidak dilakukan dengan tujuan jujur. karena itu, maka merekapun menjadi terdiam karenanya.
Tetapi ternyata kata-katawi itu tanpa disengaja telah menjadikan Sidanti makin marah. Ia merasa bahwa didalam kata-kata itu tersembunyi pengertian-pengertian yang seakan-akan memastikan bahwa Agung Sedayu akan dapat memenangkannya pula. pebih-lebih menurut anggapan Citra Gati. karena itu, Sidanti tidak mau diam. Apalagi ketika diingatnya bahwa gurunya ada pula dtempat itu. Katanya “Kenapa kakang Widura takut melihat kenyataan seandaiknya adi Sedayu itu tak mampu menandingi kecakapanku?”
Sekali lagi dada Widura berdesir. Namun ia harus menahan diri. Ia tidak bileh hanyut dalam arus perasaannya, supaya anak buahnya tidak menjadi berantakan karenanya. Tetapi sebelum ia menjawab tiba-tiba meloncatlah seorang gadis yang telah kehilangan pengamatan diri. Digoncang-goncangnya tubuh Agung Sedayu sambil berteriak “Kenapa tuan diam saja? Kenapa tuan tidak menyanggupinya dan membuktikannya bahwa tuan dapat memenangkannya?”
Bukan main terkejutnya Widura dan Agung Sedayu sendiri. Tetapi Hudaya, Citra Gati dan Sendawa sama sekali tidak terkejut. Sejak tadi mereka melihat gadis itu menjadi gelisah. Sekali-sekali ia maju, namun kemudian mundur kembali. Mereka melihat gadis itu meremas-remas tangannya sendiri dan bahkan menghentak-hentakkan kakinya. Tetapi yang terkejut sekali adalah Ki Demang Sangkal Putung. Dengan cepatnya ia meloncat dan menarik anaknya itu ketepi. Dengan marahnya ia membentak “Mirah, apakah kau sudah menjadi gila?”
Sekar Mirah, gadis yang selalu hanyut menurut arus persaannya itupun terkejut pula. karena itu ia menyesal, namun hal itu telah terlanjur dilakukannya. Ketika ia mencoba melihat wajah-wajah disekitarnya, maka seakan-akan mereka itu memandangnya dengan heran, sehingga kemudian Sekar Mirah itupun menundukkan wajahnya.
Tetapi apa yang dilakukan Sekar Mirah itu ternyata seakan-akan minyak yang ditumpahkan kedalam api yang menyala didada Sidanti. Gadis itu benar-benar telah menggelaplan matanya. Gadis yang selalu mengganggu perasaannya itu. karena itu tiba-tiba ia berteriak “Aku akan melangsungkan pertandingan. Disetujui atau tidak disetujui. Tidak ada sasaran yang lebih baik yang harus kita kenai. Ayo Sedayu bersiaplah. Sasaran itu adalah kita masing-masing!”
Kata-kata Sidanti itu seperti guruh yang menyambar setiap telinga yang mendengarnya. Kata-kata itu jelas mereka mengerti maksudnya. Bukankah dengan demikian Sidanti telah menjerumuskan dirinya dalam suatu perang tanding dengan senjata panah?
Belum lagi gema kata-kata itu lenyap, terdengar Sidanti itu berkata pula “Kita tentukan cara-cara menurut kehendak kita sendiri. Jangan hiraukan orang lain kalau kau jantan. Kita berdiri beradu pungung. Kita melangkah maju masing-masing sepuluh langkah. Kemudian siapakah diantara kita yang paling cepat memutar tubuh kita, membidikkan anak panah dan mengenai kepala lawan, itulah yang menang. Kita akan tahu dengan pasti, siapakah yang lebih baik diantara kita. Sebab yang kalah dapat segera ditandai, mati”
Denyut nadi Sedayu terasa berhenti karenanya. Tantangan itu tak disangka-sangkanya. karena itu betapa tiba-tiba terasa lututnya menjadi gemetar. Mati. Kata-kata itu sangat menakutkannya. Ia tidak pernah berpikir untuk dibunuh atau membunuh. Apalagi dalam keadaan serupa itu.
Swandaru yang berdiri dibelakang Agung Sedayupun jadi tergetar karenanya. Disadarilah kini, betapa jauh akibat yang sudah terjadi akibat kelancangannya. Kalau terjadi sesuatu atas mereka, apakah ia Agung Sedayu ataupun Sidanti, maka itu benar-benar akan merugikan Sangkal Putung. Sidanti telah berhasil menyelamatkan hidupnya pada saat ia melawan Tohpati, dan Sedayupun selamat pula meskipun ia berpapasan dengan pande besi Sendang Gabus, Alap-alap Jalatunda berempat. Dan sekarang, salah seorang dari mereka harus mati karena tangan keluarga sendiri. Dengan demikian maka Swandaru itupun menyesal tak habis-habinya. Tetapi ia sama sekali tidak tahu, bagaimana ia harus memperbaiki kesalahannya. Apalagi sekali-sekali ia melihat ayahnya memandanginya dengan penuh penyesalan pula.
Widura masih tegak seperti patung. Kata-kata Sidanti itu, tak disangka-sangkanya. Juga Hudaya, Citra Gati dan kawan-kawannyapun tidak menyangka. Namun Widura memakluminya, bahwa Sekar Mirahlah sebab langsung dari keputusan Sidanti itu.
Ketika Widura itu memandang Agung Sedayu, ia melihat anak itu gemetar. Beberapa orang lainpun melihat pula. namun mereka mempunyai sangkaan lain. Seperti Sidanti yang gemetar karena marah, maka merekapun menyangka bahwa Agung Sedayu menjadi marah pula. namun kemarahannya itu ditahannya, karena anak muda yang patuh itu takut benar kepada pamannya. Dengan demikian maka semua mata kini memandang kepada Widura, seakan-akan semua menunggu keputusan apakah yang akan diambilnya.
Tetapi kepala Widura itu benar-benar akan pecah karenanya. Ia kini tidak tahu, bagaimana ia akan mengatasinya. Apakah ia sendiri harus mengambil keputusan yang dapat berakibat dirinya sendiri yang harus berkelahi seperti beberapa waktu yang lalu. Dan ternyata pula terdengar Sidanti berkata “Kali ini aku tidak mau dihalang-halangi. Siapapun yang mencoba mencegahnya, orang itulah yang akan menjadi lawanku. Sekarang atau kapanpun”
Lapangan itu benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Tak seorangpun yang berani berkata sepatah katapun. Mereka melihat wajah-wajah yang kaku. Widura, Hudaya, Citra Gati, Agung Sedayu. Swandaru. Ki Demang Sangkal Putung. Sekar Mirah dan Sidanti sendiri. Bahkan wajah Sidanti itu kini benar-benar telah menjadi merah biru.
Widura yang tahu benar perasaan Agung Sedayu, menjadi semakin bingung. Kalau saja anak itu berani dan menghadapinya dengan tatag, maka ia yakin bahwa Sidanti tak akan dapat mendahuluinya. Widura itu yakin benar, bahwa anak-anak Ki Sadewa telah mewarisi keahliannya dalam berbagai senjata bidik. Tetapi hati Agung Sedayu adalah hati yang kerdil. Meskipun demikian, apabila keadaan memaksa ia harus membesarkan hati anak itu. Ia harus mencoba meyakinkah bahwa ia akan menang. Dan keputusan itu akhirnya menjadi bulat didada Widura. Ia tidak melihat persoalan lain lagi. Namun ia hanya ingin merubah tata cara pertandingan itu. Tidak sampai mati. Dan yang harus dikenai bukanlah tempat-tempat yang berbahaya. Namun apakah Sidanti yang menjadi seolah-olah gila itu mau menerimanya dan apakah meskipun sudah diperlunak itu Agung Sedayu berani menghadapinya.
Dada Widura menjadi semakin berdebar-debar ketika ia mendengar Sidanti berteriak “Minggir. Pertandingan akan dimulai”
Ketika semua orang menyibak, maka Agung Sedayu menjadi semakin takut. Dipandangnya wajah pamannya, dan hampir-hampir ia berteriak memanggilnya. Hampir ia kehilangan rasa malunya untuk sedikit saja mepertahankan namanya yang selama ini menjadi semakin dikagumi.
Lingkaran yang mengitari mereka yang sedang dibakar oleh ketegangan itu, semakin lama menjadi semakin luas. Sementara itu Sidanti sudah bergerak setapak maju. Namun Widura dengan wajah yang tegang kaku masih berdiri ditempatnya. Ketika ia memandang wajah Sidanti, dilihatnya wajah itu telah benar-benar menjadi sedemikian liarnya. Dalam pada itu, Widurapun menyadari, bahwa Sidanti benar-benar tak akan dapat diajak berbicara. Kehadiran gurunya agaknya berpengaruh juga kepadanya. Sebab dengan demikian ia menyangka, bahwa apa yang dikehendakinya pasti akan terpenuhi.
Tetapi Widura itupun memperhitungkan kehadiran Kiai Gringsing. Ia tidak tahu pasti, apakah Kiai Gringsing akan dapat mengimbangi kekuatan Ki Tambak Wedi apabila diperlukan. Namun ia pernah melihat, tangan Kiai Gringsing itu mampu meluruskan kembali sepotong besi yang melengkung karena tangan Ki Tambak Wedi, sehingga untuk sementara, maka ia dapat mengabaikan kehadiran guru Sidanti. Biarlah Kiai Gringsing mengurusnya.
Ketika keadaan semakin meningkat, maka Widura tidak dapat tetap berdiam diri ditempatnya. Ia harus berbuat sesuatu. Kalau mungkin mengurungkannya. Kalau tidak, apapun yang dapat mengurangi kemungkinan-kemungkinan yang tak diharapkan.
karena itu, maka dengan lantang ia berkata “Bagus, pertandingan akan segera dimulai. Tetapi kita belum menentukan peraturannya”
“Aku tidak memerlukannya” teriak Sidanti. Aku sudah menetapkan peraturan itu”
“Apakah hakmu?” bertanya Widura.
“Akulah yang berkepentingan” jawab Sidanti.
“Aku yang berkuasa disini” sahut Widura tidak kalah lantangnya “Aku akan membuat peraturan”
“Tidak” jawab Sidanti pula “Apapun yang akan kau lakukan, aku tetap pada pendirianku. Aku akan membidik jantung Agung Sedayu dan membunuhnya. Meskipun Agung Sedayu tidak melawan”
Dada Widura kini telah bergetar semakin cepat. Sedemikian peningnya kepalanya, sehingga ia hampir muntah karenanya. Kini ternyata Sidanti tak dapat diajaknya berbicara. karena itu maka ia harus berbuat sesuatu. Adalah tidak adil apabila dibiarkannya Agung Sedayu mati ketakutan.
“Apakah kau sudah tetap pada pendirianmu?” bertanya Widura kepada Sidanti.
“Jangan hiraukan aku” kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata “Aku akan berdiri dibelakangmu beradu punggung. Aku mengharap seseorang menghitung sampai hitungan yang kesepuluh. Nah, kemudian kau atau aku yang akan mati”
Widura telah benar-benar kehilangan kesempatan. Maka tak ada yang dapat dilakukan kecuali mencoba menyelamatkan Agung Sedayu. karena itu dengan langkah yang panjang ia berjalan disamping Agung Sedayu. Widura itupun berhenti sesaat. Ditatapknya wajah kemenakannya itu dengan penuh iba. Namun dari mulutnya meluncurlah kata-katanya perlahan sekali “Matilah kau pengecut. Apapun yang akan kau lakukan, kau pasti akan mati dilapangan ini. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirimu adalah melawan. Melawan. Mendahuluinya, membidik dadanya, atau kepalanya atau bahu kanannya. Kalau kau tak sampai hati untuk membunuh, maka yang dapat kau kenai adalah tangannya yang memegang busur itu. Secepatnya, sebelum panahnya menembus otakmu. Kalau kau tak mampu melakukannya, maka otakmulah yang akan dirobeknya dengan anak panahnya, dan jangan mencoba menyebut nama Ki Sadewa. Itu hanya akan menodai nama kakak iparku. Hanya mulut yang jantan sajalah yang pantas menyebut namanya”
Mendengar kata-kata pamannya, dada Agung Sedayu yang sudah gemetar menjadi semakin gemetar. Namun tiba-tiba terasa sesuatu yang aneh dikepalanya. Ia akan mati. Dan sebenarnya ia takut sekali kepada mati itu. Sedang kini, tanpa diduganya ia dihadapkan pada kekuasaan maut. Namun pamannya itu berkata “Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirimu adalah melawan”
Kata-kata itu melingkar-lingkar saja didalam benaknya. Betapa ia takut menghadapi lawannya, namun betapa ia lebih takut lagi kepada maut. karena itu maka tiba-tiba ia dahadapkan pada dua pilihan. Mati atau melawan.
Tubuh Agung Sedayu masih bergetar. Namun tiba-tiba ia mengangkat wajahnya. dipandangnya wajah Sidanti yang menyala. Sesaat getar didadanya menjadi bertambah cepat. Namun ketakutannya kepada maut itu telah semakin mendesaknya. Ia tidak mau mati, apalagi ditengah-tengah lapangan dihadapan beratus-ratus orang, dan diantaranya adalah Sekar Mirah.Terasa sesuatu bergolak didadanya. Dan karena itulah maka tubuhnya menjadi semakin bergetar. Namun kini ia menemukan suatu sikap untuk menyelamatkan dirinya. Dan jalan satu-satunya adalah melawan. Tak ada jalan lain. Kalau ia masih mungkin melarikan dirinya, maka ia akan lari dan bersembunyi. (bersambung)

Api di Bukit Menoreh 25


Kembali terdengar tepuk tangan yang gemuruh. Orang-orang yang berdiri berkeliling itu tak akan mau dikecewakan. Mereka benar-benar ingin menyaksikan pertandingan yang pasti akan menyenangkan sekali.
Orang-orang itupun kemudian diam kembali ketika Widura berkata pula “Nah, aku sangka Sidanti ingin mengulangi permainan panah seperti yang telah dilakukannya, bersama-sama Agung Sedayu”
“Ya kakang” sahut Sidanti.
Kini Widura memandangi wajah Agung Sedayu. Dilihatnya beberapa titik keringat membasahi keningnya. Namun kali ini Widura sengaja ingin memaksa Agung Sedayu agar berbuat sesuatu yang dapat mendorong dirinya untuk lebih percaya kepada kemampuan diri. karena itu maka katanya “Agung Sedayu, biarlah kau melakukannya. Tak ada persoalan apapun. Permainan ini hanya sekedar kelanjutan dari keinginan orang-orang Sangkal Putung mengenalmu. Sedangkan Sidanti ingin pula memperkenalkan dirinya lebih banyak lagi. Bukankah dengan kawan bermain yang lebih baik, akan lebih banyak permainan-permainan yang dapat dipertunjukkan? Bukan hanya sekedar menyamai atau melampaui sedikit kemampuan-kemampuan Hudaya atau Citra Gati”
Hudaya dan Citra Gati yang berdiri dibelakang Widurapun tersenyum masam. Namun mereka tidak marah. Bahkan mereka menjadi bersenang hati, bahwa Widura memberi kesempatan kepada kemenakannya untuk melakukan pertandingan meskipun hanya memanah saja.
Kata-kata pamannya itu terasa sedikit dapat menyejukkan hati Agung Sedayu. Bukankah dengan demikian, pamannya akan menjaminnya untuk seterusnya, apabila ada akibat dari permainan ini? Seandaiknya ia melampaui Sidanti, sedang Sidanti itu kemudian marah kepadanya, bukankah itu menjadi tanggung jawab pamannya? karena itu, terdorong pula oleh keadaan yang telah menyudutkannya, maka Agung Sedayu tidak dapat berbuat lain. Dengan ragu-ragu ia menganggukkan kepalanya. Katanya lirih “Baiklah paman. Kalau paman menghendaki”
Widura tersenyum. Baru kali ini sejak beberapa hari pamannya itu tersenyum kepadanya. karena itu hati Agung Sedayu itupun menjadi bertambah besar pula.
“Nah, baiklah kita berikatn tempat kepada mereka berdua” berkata Widura.
Maka orang-orang yang melingkari mereka itupun kemudian berlari-larian menyibak. Sedang Swandaru menjadi bergembira pula. segera iapun berlari-lari pula berkeliling lapangan untuk memungut panah-panahnya yang berserakan disekitar orang-orangan yang telah dilepas kepalanya.
Tetapi kemudian Widura menjadi sulit menentukan sasaran. Tidak menarik lagi apabila mereka berdua harus mengenai orang-orangan itu, walaupun diayunkannya sekali. Mereka pasti akan dengan mudah dapat mengenainya. Dalam pada itu tiba-tiba berkatalah Swandaru “Paman Widura, pertandingan ini baru dapat dimulai, seandainya kakang Sidanti mampu berbuat seperti yang dilakukan oleh anak muda itu. Mengenai sasaran tiga kali berturut-turut diudara”
Widura mengerutkan keningnya. Kata-katanya itu benar juga, tetapi belum seorangpun yang melihat, Agung Sedayu melakukannya selain Swandaru.
karena itu Widura ingin berbuat adil. Kedua-duanya harus mulai dengan sasaran dan kesempatan yang sama. Maka katanya “Swandaru, apakah sasaran orang-orangan itu masih ada?”
”Masih paman” jawab Swandaru.
“Nah, ambillah bandulnya. Ikatlah bandul itu dengan tali yang agak panjang”
Swandaru belum tahu benar maksud Widura. meskipun demikian ia berjalan juga mengambil vandul orang-orangan yang masih terletak diujung lapangan. Kemudian diambilnya sisa-sisa tali yang masih terserak-serak disana-sini. Dengan tali itu maka bandul itupun diikatnya.
“Sudahkah bandul itu kau ikat dengan tali?” bertanya Sonya.
Swandaru mangangguk. Jawabnya “Bagaimanakah maksud paman Widura dengan bandul ini?”
“Peganglah ujung talinya dan putarlah bandul itu diatas kepalamu”
Sahut Sonya.
“Ah” jawab Swandaru perlahan-lahan. “Jangan aku. Sidanti itu dapat membidikkan panahnya kearah perutku”
Sonya tersenyum. Katanya “Mereka adalah pemanah-pemanah yang baik. Mereka pasti tidak akan mengenaimu”
Swandaru menggeleng. “Peganglah” jawabnya “Kalau mereka membidik sasaran itu, maka sasaran itulah yang akan dikenainya. Tetapi kalau Sidanti itu membidik perutnku?”
“Marilah” jawab Sonya “Berikanlah bandul itu, biarlah perutku yang dibidiknya”
Maka kini Sonyalah yang memegang sasaran itu. Dipegangnya ujung tali yang lain, dan diputarnya bandul itu diatas kepalanya dalam lingkaran yang berjari-jari sepanjang tali yang lebih dari sedepa panjangnya, mendatar.
Swandaru itupun kemudian berlari-lari menepi, bahkan kemudian didekatinya Agung Sedayu yang telah memegang busurnya dan beberapa anak panah didalam endongnya.
“Masing-masing mendapat kesempatantiga kali” berkata Widura ketika mereka sudah hampir mulai “Sampai hitungan kelima belas”
Sidantipun telah mempersiapkan busurna pula. dengan wajah tegang ia mengikuti bandul yang berputar diatas kepala Sonya. Ketika Widura mulai dengan hitungan pertama, maka Sidantilah yang lebih dahulu mengangkat busurnya. Sesaat kemudian terbanglah anak panahnya yang pertama, dismbut dengan sorak sorai penonton disekitar lapangan. Anak panah itu tepat mengenai sasarannya langsung ikut berputar pula dengan bandul itu. Dengan sudut matanya Sidanti melihat tangan Agung Sedayu. Dan tangan itupun telah bergerak pua. Dan meluncurlah anak panah Agung Sedayu. Kali inipun para penonton bersorak bergemuruh. Anak panah Agung Sedayupun hinggap pula pada sasarannya.
Sidanti itupun menarik nafas panjang. Ia mengumpat didalam hatinya “Setan itu mampu juga mengenainya”
Tetapi hitungan Widura sudah sampai yang keenam. karena itu maka Sidanti itupun sekali lagi mengangkat busurnya, dan sekali lagi anak panahnya meloncat dari busurnya. Kali inipun anak panah Sidanti itu tepat mengenai sasarannya, dan karena itu maka para penontonpun menjadi semakin riuh, bersorak dan bertepuk tangan. Dan sorak sorai itu menjadi semakin membahana ketika anak panah Agung Sedayu seakan-akan tanpa mereka lihat, demikian saja telah melekat pada sasaran itu pula. agaknya ketika mereka dang asyik dengan anak panah Sidanti, Agung Sedayupun telah melepaskan anak panahnya yang kedua.
Sekali lagi Sidanti mengumpat pula. Katanya dalam hati “Aku harus mengenai untuk yang ketiga kalinya. Kalau anak itu mampu pula mengenai tiga kali, maka harus ditempuh cara yang lain untuk menentukan siapakah diantara kita yang akan menjadi pemanah terbaik”
Tetapi Sidanti itu menjadi terkejut. Tiba-tiba meledaklah sorak para penonton seperti akan meruntuhkan langit. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya sebuah anak panah lagi telah ikut serta dalam putaran bandul diatas kepala Sonya. Agaknya dengan cepat Agung Sedayu telah melepaskan anak panahnya yang ketiga.
“Gila” desisnya. Ketika itu ia mendengar Widura sudah mencapai hitungan yang kesebelas.
Dengan hati-hati Sidanti mengangkat busurnya. Kali ini ia harus benar-benar dapat mengenainya dengan tepat. Kalau tidak, maka Sedayu sudah akan menyisihkannya pada babak yang pertama. Namun ternyata Sidanti adalah pembidik yang baik. Panahnya yang terbang secepat kilat itupun kemudian mengenai sasarannya pula, disambut oleh sorak yang semakin bergelora. Lapangan dimuka banjar desa itu benar-benar seperti akan meledak.
Agung Sedayu masih berdiri ditempatnya sambil mengamat-amati sasaran yang kini sudah tidak diputar lagi. Dengan kedua tangannya Sonya mengacung-acungkan bandul itu sambil berteriak “Enam panah!”
Widura itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Kalian ternyata mempunyai kecakapan yang sama. karena itu, biarlah kita adakan permainan yang lain. Namun aku belum tahu, apakah sasaran yang lebih baik dapat kita gunakan”
Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya, namun iapun belum tahu sasaran apakah yang sebaiknya dipergunakan. Sedang Agung Sedayu lagi sibuk emdnegarkan orang menyebt-nyebut namanya. Ia menjadi berbangga juga karenanya. Bahkan kemudian timbul juga keinginannya untuk mendapat pujian yang lebih besar dari para penonton itu. Untuk sesaat ia melupakan pula akibat-akibat yang bisa terjadi. Sebab ia telah membebankan seluruh tanggung jawab kepada pamannya.
Terasa sesuatu menjalar didalam dada Agung Sedayu. Belum pernah ia sepanjang umurnya mendapat pujian semeriah ini. Pada masa-masa kecilnya, ibunya selalu memujinya. Namun bukan karena ia berbuat sesuatu. Ibunya memuji untuk menyenangkannya saja.
Apapun yang dlakukannya maka ibunya tidak pernah mencelanya. Sedang ayahnya sekali-sekali sering memujinya pula apabila ia berhasil berbuat sesuatu menurut kehendak ayahnya. Tetapi ayahnya lebih sering kecewa terhadapnya dari pada memujinya. Bahkan sering ia harus menangis kalau yahnya menyuruhnya mengulang dan mengulang suatu perbuatan yang tak dapat dilakukannya. Betapa sulitnya latihan-latihan yang diberikan ayahnya dahulu kepadanya. Memanah, bandil dan bermacam-macam ketangkasan membidik. Namun ayahnya selalu mengatakan kepadanya “Kau mampu Sedayu, kau pasti mampu melakukannya” Dan akhrinya ternyata, setelah ayahnya memberinya contoh berkali-kali, akhirnya ia mampu juga melakukannya. Berkali-kali ia diajak ayahnya berdiri dipematang dengan busur ditangan. Ia harus mendapatkan tiga ekor burung dengan tiga batang anak panah. Burung yang tidak boleh dikenainya diatas tanah atau dahan-dahan kayu. Burung itu seakan-akan harus dipetiknya dari udara. Namun akhirnya ia berhasil juga. Kalau ia menangis karenanya, ayahnya berkata kepadanya “Agung Sedayu, apakah kira-kira yang akan dapat kau lakukan? Kau tidak berani memegang tangkai pedang, apakah kau juga tidak mampu memegang busur?”
Kalau ibunya mendengar pertanyaan itu, maka ibunya selalu menjawab “Apakah dalam hidup ini tidak ada pekerjaan yang lebih baik dari berkelahi?”
Dan ayahnya menjawab “Tentu, tentu ada. Dan anak-anakku seharusnya tidak berkelahi. Tetapi mereka harus menjadi laki-laki jantan yang mampu menempatkan dirinya dalam segala keadaan. Ia harus menjadi seorang yang dapat melakukan pengabdian dalam segala bentuk. Mereka harus menghindari segala bentuk kekerasan, namun merekapun harus dapat melenyapkan kekerasan. Kekerasan yang bertentangan dengan rasa pengabdiannya. karena itu merekapun harus dibekali pula dengan ilmu yang mungkin akan berguna bagi pengabdian mereka. Melawan kejahatan, bukan untuk sebaliknya”
Apabila demikian, maka ibunya segera memeluknya sambil mengusap air mata. Bisiknya “Biarlah pekerjaan itu dilakukan orang lain. Tetapi bukan anakku. Kekerasan akan dapat berakibat buruk perkelahian dapat meneteskan darah. Aku tidak mau kehilangan lagi”
Ayahnya tidak membantah lagi. Bahkan ayahnya selalu berkata dengan lembut “Maafkan aku nyai. Aku masih selalu ingat pada masa-masa mudaku”
Tetapi kalau ia kemudian keluar dari bilik ibunya, Untara, kakaknya berkata kepadanya “Ibu sekarang berubah. Ibu dahulu ikut berbangga kalau ayah berhasil melenyapkan kejahatan. Meliindungi orang-orang lemah dari penindasan. Ibulah yang sering menggosok pedang ayah dengan minyak dan getah-getahan untuk menjadikan pedang ayah mengkilat seperti bersinar. Dan ibu pulalah yang menggosok busur ayah dengan angkup kayu sehingga busur itu menjadi gemerlapan”
Suasana yang demikian itulah yang kemudian membentuknya menjadi seorang yang kerdil. Ibunya yang selalu memanjakannya dan menakut-nakutinya dengan segala macam cara. Menyekapnya dalam pelukannya. Apabila ia bertanya “Ibu, bukankah ibu dahulu berbangga atas kejantanan ayah?” Maka ibunya akan menjawab “Sebuha mimpi yang menakutkan anakku. Itu terjadi pada masa-masa ayahmu masih muda. Ternyata kini ayahmupun menyadarinya. Bahwa tak ada yang dapat dicapainya dengan pedang ditangan. Tak akan ditemui ketentraman dan kedamaian dihati: dan ayahnyapun pernah pula mengatakannya demikian. Namun menurut ayahnya, dunia masih tetap sepeti keadaannya. Parah, karena kejahatan, nafsu, kebencian, dan segala macam bentuk kekerasan, karena itu maka segala itu harus mendapat imbangan. Tetapi harus memiliki landasan yang berlawanan. Dan landasan itu adalah cinta kasih antar sesama. Kalau sekali-sekali harus digenggamnya tangkai pedang, maka haruslah dilandasi pula dengan cinta kasih. Untuk menegakkan sendi-sendi kehidupan manusia dan kemanusiaan berdasarkan cinta kasih itu.
Dan terjadilah benturan-benturan perasaan didalam dada Agung Sedayu. Ia menjadi seorang penakut karena ibunya, namun angan-angannya kadang-kadang membumbung tinggi dalam sifat-sifat kejantanan dan kesatriaan.
Perasaan-perasaan itulah yang kini sedang saling mendesak. Seorang jantan tidak boleh membiarkan dirinya dihina tanpa sebab. Seorang jantan harus mempertahankan namanya demi kebenaran seperti mempertahankan nyawanya. Kalau nama itu lenyap, maka biarlah lenyap pula nyawanya. Tetapi dilain pihak, betapa tiba-tiba lututnya menjadi gemetar apabila ia dihadapkan pada persoalan-persoalan yang dapat menimbulkan pertentangan.
Agung Sedayu yang kini sedang berdiri diarena itu masih mendengar tepuk tangan yang semakin lama menjadi semakin surut. Dilihatnya pula, pamannya sedang berbicara dengan beberapa orang. Diantaranya Ki Demang Sangkal Putung dan Citra Gati. Agaknya mereka sedang sibuk mencari kemungkinan untuk membua sasaran yang lebih sulit dari sasaran-sasaran yang pernah dibuatnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Sidanti berdiri dengan angkuhnya. Dengan acuh tak acuh anak muda itu melihat Widura yang sedang sibuk itu. Sekali-sekali Sidanti itu memandang berkeliling lapangan dan melambaikan tangannya menyambut lambaian tangan anak-anak muda yang mengaguminya.
Agung Sedayupun kemudian memandang sekeliling lapangan. Orang-orang berjejal-jejal itu seperti sudah tidak sabar lagi menunggu. Beberapa orang yang sudah berteriak-teriak dan dengan tidak sabar mereka melambai-lambaikan tangan mereka. Ketika dilihatna Sekar Mirah, maka dada Agung Sedayu itupun berdesir. Gadis itu tersenyum kepadanya. Senyum yang aneh “Ah” katanya dalam hati. “Baru tadi aku lihat ia tersenyum dan memuji-muji Sidanti”. Namun gadis itu mempunyai kesan yang aneh didalam hatinya. Tiba-tiba timbullah keinginannya agar Sekar Mirah itu selalu tersenyum kepadanya, tidak kepada Sidanti.
Sorak sorai ditepi lapangan, serta senyum Sekar Mirah itu agaknya berpengaruh juga dihati Agung Sedayu. Ternyata didalam hatinya yang kerdil itu tumbuh juga keinginannya untuk mempertahankan namanya.
“Sidanti itu pasti tidak akan mendendam” pikirnya “Ia seharusnya bersikap jujur. Kalah atau menang. Akupun demikian juga. Namun aku mengharap untuk memenangkan pertandingan ini. Seandainya, ya seandainya Sidanti itu marah kepadaku, biarlah paman Widura menyelesaikannya”
karena itulah maka kemudian Sedayu berketetapan hati untuk berbuat sebaik-baiknya. Akan ditandinginya apa saja yang akan dilakukan oleh Sidanti. “Tetapi seandainya aku mampu” desanya didalam hati.
Widura masih sibuk berbicara dengan Ki Demang Sangkal Putung. Agaknya mereka belum menemukan cara yang paling baik untuk mengadakan pertandingan berikutnya.
Sidanti yang berdiri disamping Agung Sedayu itupun menjadi tidak sabar. Ia ingin segera mengakhiri pertandingan itu. Ia ingin segera mendengar orang-orang disekitar lapangan itu bertepuk gemuruh untuknya. Dan ia ingin anak-anak muda Sangkal Putung melambaikan tangannya kepadanya dan mengelu-elukannya, mengikutinya dibelakang sambil memujinya sampai dikademangan. Dan lebih dari itu, ia ingin Sekar Mirah itupun berjalan disampingnya sambil mengumpati Agung Sedayu yag ternyata tidak mampu melampaui kecakapannya.
Karena itu, maka anak muda yang sombong itu tiba-tiba bereriak “Kakang Widura. marilah kita akhiri prtandingan ini supaya kita tidak berlarut-larut, membidik sasaran yang terlalu baik seperti perlombaan anak-anak saja. Biarlah sekarang aku dapat menganjurkan cara yang baik”
Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Swandaru, dan orang-orang yang sedang sibuk berpikir itupun berpaling kepadanya. Dengan ragu-ragu Widura berkata “Apakah cara itu?”
Seklai Sidanti berpaling kepada Agung Sedayu, kemudian katanya “Namun terserah juga, apakah adi Sedayu sanggup melakukannya. Kalau tidak, biarlah aku mempertunjukkan permainan itu sendiri. Dengan demikian pemenang pertandingan ini segera dapat ditentukan”
“Ya” sahut Widura “Tetapi bagaimanakan cara itu?”
Sidanti tersenyum. jawabnya ”Agak sukar dimengerti. Tetapi aku pasti dapat melakukannya“. Sidanti itu berhenti sebentar. Sengaja ia membiarkan orang-orang yan gmendengar kata-katanya itu menjadi semakin bernafsu untuk mengetahuinya. Baru sesaat kemudian ia berkata “Cara yang pasti akan menarik perhatian”
“Ya” sahut Citra Gati tidak sabar “Jangan melingkar-lingkar. Sebutkan cara itu”
“Jangan tergesa-gesa kakang Citra Gati. Kau pasti akan keheranan. Melihatpun kau tak akan dapat mengerti, apalagi melakukannya”
Citra Gati tersinggung karenanya. Maka jawabnya lantang “Jangan sombong anak muda. Kau masih belum mampu mengalahkan Macan Kepatihan dipertempuran, dan melampaui lawanmu diarena pertandingan ini”
Sidanti mengerutkan keningnya. Tetapi dengan cepat Widura menengahinya “Nah baiklah. Marilah kita mulai. Aku setuju dengan cara apapun yang kehendaki, asal masih dalam batas kemungkinan dan tidak berbahaya. Kalau Sedayu tidak sanggup melakukannya, maka ia dapat dianggap kalah”
Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kembali ia tersenyum dan sekali lagi ia memandang wajah Agung Sedayu. Kini Agung Sedayulah yang menjadi acuh tak acuh. Apapun cara itu, ia akan menerimanya. Kalau masih mungkin dilakukan oleh Sidanti maka iapun akan mempunyai kemungkinan yang sama.
Citra Gati masih bersungut-sungut, bahkan katanya dalam hati “Widura terlalu memanjakannya, sehingga kepentingan kemenakannya sendiri sama sekali tidak diperhatikannya”
Dalam pada itu terdengarlah Sidanti berkata “kakang Widura, perintahlah salah seorang melepaskan anak panah menyilang lapangan ini melambung keudara. Nah, biarlah kami mencoba mengenainya”
Widura tertegun mendengar pendapat itu. Apalagi Ki Demang Sangkal Putung. Bahkan sesaat Citra Gatipun terbungkam, namun kemudian bergumam lirih “Aneh, benar-benar aneh”
Sidanti melihat orang-orang itu menjadi keheranan. Karena itu, maka ia menjadi semakin menengadahkan dadanya. Dengan lantang ia berkata “Marilah, sebelum senja. Supaya aku masih dapat melihat anak panah yang terbang diudara itu”
Widura tidak dapat berbuat lain dari menyetujuinya. Meskipun demikian sekilas ia menyambar wajah Agung Sedayu dengan pandangan matanya. Namun dilihatnya anak muda itu masih acuh tak acuh saja. Sehingga dengan demikian maka Widura itupun tidak berkata apapun kepadanya.
Sidanti yang melihat Agung Sedayu sama sekali tidak terperanjat mendengar usulnya itu, maka ialah yang menjadi heran. Apakah anak itu tidak mendengar, atau anak itupun akan acuh tak acuh terhadap pertandingan berikutnya. Dan teka-teki itu ternyata telah mendebarkan jantung Sidanti. Meskipun demikian, ia masih dapat berteriak nyaring didalam hatinya “Ayolah Agung Sedayu, yang merasa menjadi pemanah terbaik di Sangkal Putung, tandingilah Sidanti.”
Widura itupun km mengumumkan cara yang akan ditempuh atas usul Sidanti. belum lagi mereka mulai dengan pertandingan itu, maka lapangan itu telah menjadi gempar. Para penonton yang keheran-heranan itu telah menyambut pengumuman Widura dengan tepuk tangan dan sorak sorai yang bergelora.
Hudayalah yang mendapat tugas untuk melepaskan anak panah menyilang garis bidik Sidanti dan Agung Sedayu. Ia sendiri tidak dapat mengerti, bagaimana cara anak-anak muda itu akan membidikkan anak panahnya. Namun Hudaya itu bergumam pula didalam hatinya “Bukan siatu hal yang tak mungkin. Sebab laju anak panah itu dapat diperhitungkan”
Tetapi kemudian Swandarupun menjadi gelisah. Ialah yang pertama-tama berteriak-teriak sepanjang jalan, bahwa bukan Sidantilah pemanah terbaik di Sangkal Putung. Namun sekarang ia mendengar sendiri usul Sidanti itu. Memanah sebatang anak panah yang melaju diudara, tentu lebih sukar mengenai sasaran kepala orang-orangan itu. Karena itu ia masih belum dapat menebak, apakah Agung Sedayu dapat juga berbuat sebaik Sidanti. Kalau kemudian Agung Sedayu tak mampu menandingi Sidanti, maka iapun pasti akan mendapat banyak kesulitan. Agung Sedayu pasti akan marah padanya dan Sidanti akan semakin mentertawakannya.
Karena itu, maka Swandaru itupun mendekati Agung Sedayu yang berdiri tegak ditempatnya. Bisiknya perlahan-lahan “Bagaimanakah tuan, apakah tuan mungkin juga berbuat demikian?”
Agung Sedayu menggeleng lemah, jawabnya “Entahlah Swandaru”
Swandaru menjadi semakin gelisah. Dalam pada itu, Hudayapun telah siap pula. kini Widura sendirilah yang memegang bende untuk memberi tanda kepada Hudaya, kapan ia harus melepaskan anak panahnya.
Ketika kemudian Sidanti telah menganggukkan kepalanya, maka dibunyikahlah bende itu. Dan Hudaya menarik tali busurnya pula. sambil tersenyum ia membidik anak panah yang terbang itu. Orang-orang yang berjejal-jejal ditepi lapangan itu menjadi diam kaku seperti beratus-ratus patting yang berjajar-jajar. Semuanya memandang kearah anak panah Sidanti. Dan sesaat kemudian anak panah itu meloncat dari busurnya. Cepat, melampaui kecepatan anak panah Hudaya. Semua matapun kemudian seakan-akan terpancang pada anak panah itu. Wajah-wajah yang tegang dan hati yang tegang pula.
Yang terjadi kemudian, betapa lapangan itu menjadi menggelegar, seakan-akan seribu guntur meledak dilangit. Tepuk tangan sorai sorai dan bahkan diantara mereka melonjak-lonjak dan menari-nari. Anak-anak muda saling berteriak-teriak dan orang-orang tua mengangguk-anggukkan kepala mereka. “Luar biasa. Luar biasa” desisnya.
Citra Gati menggigit bibirnya, sedang Hudaya menggaruk-garuk kepalanya. Widurapun sesaat terpaku diam ditempatnya. Semua mata melihat, anak panah Sidanti itu seakan-akan menyongsong anak panah Hudaya dalam garis silang. Dan pada suatu titik yang condong, anak panah Sidanti berhasil mengenai ekor anak panah Hudaya, sehingga kedua anak panah itupun kemudian terpelanting dan berubah arahnya masing-masing.
Ketika Sidanti berpaling kearah Sekar Mirah, dilihatnya gadis itu melonjak-lonja sambil mengacung-acungkan tangannya. “Dahsyat” teriaknya. Sidanti tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dilambaikannya tangannya kepada orang-orang yang masih saja berteriak-teriak tak jemu-jemunya. Betapa mereka menjadi kagum. Seakan-akan mereka tak percaya, bahwa hal yang demikian dapat terjadi. Dua batang anak panah saling berkejaran diudara.
Tetapi ternyata hal itu telah terjadi dihadapan mata kepala mereka. Dan karena itu, maka merekapun menjadi takjub.
Gemuruh dilapangan itupun kemudian mereda, ketika mereka melihat Widura mengangkat tangannya. Kemudian dengan tangannya pula Widura memberi isyarat kepada Hudaya untuk bersiap-siap. Kini pertandingan itu sampai pada penentuan terakhir. Semua orang itupun kini terpaku memandang Agung Sedayu. Namun semua orang itupun telah menjadi ragu-ragu pula. Apakah Agung Sedayu juga dapat melakukannya?
Swandaru yang berdiri dibelakang Agung Sedayu telah menjadi gemetar karenanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Sidanti itu mampu berbuat demikian menakjubkannya. Dalam dada anak muda itupun kini menjalar kebimbangan yang semakin lama semakin tebal. Karena itu, maka tubuhnya telah menjadi basah oleh keringat dingin yang mengalir tak putus-putusnya.
“Apakah kau sudah siap Sedayu?” terdengar suara Widura perlahan-lahan. Terasa pula pada nada suaranya, keragu-raguan terhadap kemenakannya itu.
Agung Sedayu itupun mengangguk perlahan. Jawabnya “Sudah paman”
Widura memandang kemenakannya itu dengan seksama. Seakan-akan ia menyesal juga atas pertandingan yang dilakukan itu. Kalau Agung Sedayu gagal, maka jiwanya yang kerdil itu akan menjadi semakin kerdil. Ia akan menjadi semakin merasa dirinya tak berharga. Sedang Sidanti telah melakukan suatu permainan yang mengagumkan. Meskipun demikian, pertandingan itu harus dilangsungkan. Kalah atau menang. Sedayu harus menghadapinya dengan jujur.
Maka, setelah semuanya siap, dengan ragu-ragu Widura memukul bendenya sebagai pertanda bahwa Hudaya harus melepaskan satu anak panah lagi.
Perlahan-lahan Hudaya mengangkat busurnya. Semua mata seakan-akan melekat pada anak panah itu. Dan sesaat kemudian, anak panah Hudaya yang kedua lepas dari busurnya, melambung keudara seperti anak panahnya yang pertama.
Kini semua mata dengan cepatnya berpindah ketangan Agung Sedayu. Ternyata Agung Sedayu tidak membidik perlahan-lahan seperti Sidanti. Ia tidak menunggu anak panah Hudaya melampaui titik yang tegak lurus dihadapannya. Dengan tangkasnya ia menarik tali busurnya kuat-kuat, seakan-akan busur itu ingin dipatahkannya. Kemudian, semua orang menjadi tegang karenanya. Kini anak panah itu melontar dengan cepat, secepat petir menyambar dilangit. Para penonton tidak mendapat kesempatan yang cukup untuk melihat anak panah itu. Namun yang terjadi kemudian telah memukau mereka. Bahkan karena itu, maka lapangan itu menjadi sunyi senyap. Seandainya sebatang jarum terjatuh, maka suaranya pasti akan mengejutkan seperti suara guruh. Yang terdengar kemudian adalah suatu derak diudara. Kemudian sepi kembali. Sesepi padang yang tak berpenghuni.
Beratus-ratus pasang mata tak sempat berkedip, sedang beratus-ratus mulut menjadi ternganga karenanya.
Seperti orang bermimpi mereka melihat anak panah Agung Sedayu secepat tati menyambar anak panah Hudaya tepat ditengah-tengah. Demikian kerasnya anak panah Agung Sedayu sehingga anak panah Hudaya menjadi retak ditengah-tengah, dan terlontar kesamping terbawa oleh anak panah Agung Sedayu. (bersambung)