Minggu, 06 Juli 2008

Api di Bukit Menoreh 55

Tetapi dengan berita itu, maka Sangkal Putung harus lebih berhati-hati lagi. Lawan mereka kini bukan saja Tohpati dan Sumangkar yang setiap saat dapat menyusup kedalam lingkungan mereka, tetapi juga Sidanti dan Ki Tambak Wedi yang apabila mereka kehendaki mereka akan dapat berjalan-jalan didaerah kademangan Sangkal Putung yang mereka kenal dengan baik. Karena itu maka mereka harus lebih berwaspada apabila malam-malam yang akan datang salah seorang atau dua tiga orang dari mereka nganglang kademangan.
Sehari itu, cerita tentang Sidanti dan Ki Tambak Wedi yang bertempur melawan Tohpati dan Sumangkar telah tersebar luas diantara laskar Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung. Sengaja berita itu disebarkan sejauh-jauh mungkin supaya mereka menjadi semakin berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan. Gardu-gardu dengan demikian menjadi semakin cermat mengawasi keadaan. Penjaga-penjaga menjadi lebih hati-hati dan penghubung-penghubungpun selalu berwaspada apabila tiba-tiba mereka bertemu dengan orang-orang yang mereka anggap sebagai hantu-hantu yang berkeliaran, siang maupun malam.
Tetapi malam berikutnya, bukan saja berita tentang Sidanti dan Tohpati yang ternyata berkeliaran, dan yang suatu saat mereka saling bertemu dan bertempur, tetapi datang pula seorang pengawas menghadap Untara. Seorang prajurit dalam jabatan sandi.
Untara, Widura, Kiai Gringsing, Ki Demang Sangkal Putung, Agung Sedayu dan Swandaru, dengan dada yang berdebar-debar menerima orang itu.
“Apakah yang kau ketahui tentang Tohpati?” bertanya Untara.
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian katanya “Kami, para pengawas melihat kesibukan diantara mereka. Bahkan salah seorang dari kami telah berhasil menghubungi orang-orang kami yang dekat dengan lingkungan laskar Tohpati. mereka kini sedang menyiapkan diri untuk menyerbu Sangkal Putung kembali”
Mereka yang mendengar laporan itu sama sekali tidak terkejut. Mereka selalu menunggu, siang maupun malam, serbuan yang serupa itu dapat terjadi. Tetapi adalah lebih baik apabila hal itu telah mereka ketahui sebelumnya seperti pada saat-saat yang lewat.
“Kapan rencana itu akan mereka lakukan?” bertanya Widura.
“Secepatnya, mungin dalam dua tiga hari ini”
Ki Demang Sangkal Putung tersenyum, katanya “Beberapa hari yang lalu, mereka telah menyiapkan diri pula. Bahkan sampai dua tiga kali, namun serangan itu tidak juga datang”
“Tetapi kali ini agaknya serangan itu tidak akan ditunda-tunda lagi”Sahut pengawas itu.
“Mereka hanya ingin menakut-nakuti kita” gumam Swandaru.
“Itu salah satu dari siasat Tohpati yang cerdik” berkata Untara “Beberapa kali ia menggagalkan serangannya, supaya untuk seterusnya kita selalu menganggap bahwa serangan-serangannya akan tertunda-tunda pula. Tetapi apabila kita telah lengah, maka sergapan itu benar-benar datang”
Yang mendengar penjelasan Untara itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Untara yang berpandangan luas itu sangat berhati-hati menanggapi setiap persoalan.
“Ya, angger Untara benar” sahut Ki Demang Sangkal Putung “Ternyata aku telah termakan oleh siasat itu”
“Belum terlambat” sahut Widura
“Kalau mereka tidak datang” sambung Swandaru “Kitalah yang datang kepada mereka”
Serentak, mereka yang duduk dipringgitan, berpaling kepada Swandaru. Mereka merasakan getaran kata-kata itu. Getaran kata-kata seorang anak muda yang sedang dibakar oleh darah mudanya.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti sedalam-dalamnya perasaan yang sedah membakar hati Swandaru Geni. Sebagai seorang anak Demang Sangkal Putung, ia merasa bahwa tanah kelahirannya itu selalu dalam keadaan kecut dan suram. Ketakutan, kegelisahan dan kecemasan membayangi setiap wajah. Bahkan setiap orang di Sangkal Putung menjadi ngeri apabila senja datang, apabila matahari mendekati punggung pegunungan diujung barat. Namun mereka menjadi gelisah apabila mereka mendengar ayam jantan berkokok menjelang fajar.
Mereka selalu diganggu oleh bayangan-bayangan yang menakutkan. Apabila malam datang, maka seolah-olah orang-orang Jipang merayap-rayap dihalaman rumah-rumah mereka. Merangkak-rangkat mendekati pintu dan setiap saat mereka akan dapat dikejutkan oleh ketokan yang keras dan kasar pada pintu-pintu rumah mereka.
Tetapi apabila matahari mulai membayang diujung timur, mereka membayangkan sepasukan laskar Jipang dalam gelar Sapit Urang, atau dalam gelar Wilan Punanggal, bahkan mungkin dalam gelar Samodra Rob datang melanda kademangan itu.
Karena itulah maka setiap laki-laki di Sangkal Putung disetiap malam selalu menggantungkan senjata diatas pembaringan mereka, kecuali mereka yang berada di gardu-gardu. Bahkan lebih banyak dari mereka yang tidak berada didalam rumah mereka, tetapi digardu-gardu, disimpang-simpang empat dan di bajar desa, dengan pedang ditangan, atau keris dilambung.
Namun hati mereka menjadi agak tentram apabila mereka melihat laskar Pajang yang tampaknya selalu tenang dan teguh hati. Mereka berbangga apabila mereka melihat pedang yang berjuntai diikat pinggang mereka, atau tombak dipundak mereka. Bukan saja laskar Pajang, namun anak-anak muda mereka sendiri telah memberi kepada mereka sekedar ketentraman dan keberanian.
Tetapi bagaimanapun juga, Sangkal Putung selalu dibayangi oleh ancaman-ancaman yang menegangkan. Seperti bumbung yang dipanggang diatas api. Setiap saat akan meledak dengan dahsyatnya.
Bukan saja Kiai Gringsing, tetapi hampir setiap orang, bahkan Agung Sedayu yang sebaya dengan Swandaru itupun dapat melihat perasaan itu. Namun selain perasaan itu, Kiai Gringsing melihat perasaan yang lain yang mendorong Swandaru kedalam gelora yang lebih dahsyat lagi. Seperti yang pernah dilihatnya, Swandaru tidak segera dapat mengerti, mengapa mereka harus menghindari Tohpati dan Sidanti pada saat mereka bertemu dipadang rumput malam yang lampau. Kiai Gringsing menyadari bahwa anak muda itu sukar mengendalikan perasaannya yang sedang berkobar. Apalagi setelah ia merasa mendapatkan bekal yang lebih banyak dari masa-masa sebelumnya. Karena itu maka Kiai Gringsing merasa bahwa tugasnya membentuk Swandaru jauh lebih berat daripada Agung Sedayu. Baik dalam ilmu tata bela diri maupun dalam pembinaan watak dan sifatnya.
Dalam pada itu, maka terdengarlah Untara menyahut sambil tersenyum “Pendapatmu sangat baik Swandaru. Kalau mereka tidak datang, kita akan menjemput mereka. Namun sayang, bahwa kita masih harus melihat jalan-jalan manakah yang dapat kita lalui untuk sampai kepesangrahan Macan Kepatihan itu”
“Nah, bukankah orang yang dapat mengetahui bahwa mereka akan menyerang kita itu dapat menunjukkan dimana tempat tinggal mereka?”
Untara masih tersenyum. Jawabnya “Mudah-mudahan. Tetapi orang-orang itu pasti hanya mengetahui letak dan sekedar keadaan mereka. Namun mereka tidak akan mengenal tempat itu sebaik Tohpati mengenal Sangkal Putung. Mereka tidak atau belum dapat mengenal bahaya dan rintangan yang mungkin dipasang oleh orang-orang Macan Kepatihan. Tempat-tempat yang berbahaya sebagai tempat yang sengaja dipersiapkan untuk menergap dan menghancurkan kita. Sebab mereka tahu pasti, bahwa daerah mereka tidak akan dilewati orang lain selain orang-orang mereka. Dan suatu ketika orang-orang Pajang. Berbeda dengan Sangkal Putung. Bagaimanapun juga, Sangkal Putung adalah daerah terbuka”
Swandaru mengerutkan keningnya. Ia mengerti keterangan itu. Tetapi ia berkata didalam hatinya “Kenapa kita tidak menyergapnya dari arah-arah yang berbeda? Kalau dari satu arah dipasang rintangan-rintangan maka dari arah yang lain kita akan dapat mencapainya”. Tetapi Swandaru tidak mengatakannya. Ia mengerti betul bahwa didalam perbendaharaan pengalaman Untara, semuanya itu telah diperhitungkan dengan seksama.
Sepeninggal orang yang menyampaikan kabar kepada Untara tentang persiapan orang-orang Jipang itu, maka segera Untara mempersiapkan laskarnya. Kepada petugas sandi itu Untara berpesan, bahwa pada saatnya ia harus menerima berita kelanjutan dari berita itu. Sedangkan kepada Swandaru dan Agung Sedayu, Untara berpesan untuk sementara merahasiakan berita itu, supaya rakyat Sangkal Putung tidak menjadi gelisah dan supaya Tohpati tidak menyadari bahwa rencananya sudah diketahui.
Namun yang diketahui oleh rakyat Sangkal Putung dan bahkan laskar Pajang sendiri, mereka diwajibkan meningkatkan kewaspadaan dan latihan-latihan mereka, supaya mereka tidak menjadi lengah dan bahkan melupakan bahaya yang setiap saat dapat datang. Meskipun demikian, orang-orang yang telah penuh dengan pengalaman seperti Hudaya, Citra Gati, Sonya dan beberapa orang lain, segera dapat merasakan kesibukan para pemimpin mereka, dan dengan tersenyum Citra Gati pada suatu senja berbisik kepada Hudaya “Adi, apakah aku masih akan sempat mencukur rambut yang tumbuh diwajahku ini besok?”
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan malam nanti aku belum mati”
Hudaya tersenyum, katanya “Pasti belum malam nanti”
Sonya yang ada didekat mereka menyahut “aku sudah menyiapkan pisau itu sekarang kakang Citra Gati, mumpung kau masih sempat”
Citra Gati mengerutkan keningnya, kemudian tangannya meraba kumisnya yang jarang “Hem” desahnya “Jangan sekarang. Aku belum sempat”
Sonyapun kemudian tersenyum. Katanya “Aku sudah pemgasah pedang. Kapan kira-kira kita bermain-main lagi?”
Citra Gati mengerutkan keningnya, jawabnya “Pasti sudah mendesak. Dua tiga hari lagi”
“Kenapa perintah itu tidak dijelaskan saja kepada kita? Supaya kita menjadi semakin gairah berlatih dan memersiapkan diri”
Citra Gati menggeleng “Entahlah. Pasti ada pertimbangan-pertimbangan lain. Mungkin untuk membuat kesan seolah-olah kita belum menyadari bahaya yang akan mengancam. Dengan demikian kewaspadaan orang-orang Jipang akan berkurang, seperti pada saat-saat yang lampau. Terutama pada saat serangannya yang pertama”
Sonya mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi Hudaya terawa pendek “Sebenarnya kita sudah siap menerima mereka, atau datang ketempat mereka”
“Kemana?” bertanya Citra Gati.
“Kesarang mereka” sahut Hudaya.
“Ya, dimana sarang itu?”
Hudaya menggeleng “Kalau aku tahu, aku sudah pergi kesana”
“Uh, jangan membual. Belum samapi kau kejarak seribu langkah, kepalamu telah retak oleh tongkat baja putih itu”
Hudaya tersenyum. Dikenangnya pada saat ia harus membantu Sidanti bersama Citra Gati untuk melawan Tohpati. Senjata tongkat baja putih itu terasa seperti seekor nyamuk yang beterbangan disekeliling telinganya. “Ngeri” gumamnya tiba-tiba.
“Apa yang ngeri?” bertanya Citra Gati dan Sonya hampir bersamaan.
“Tongkat baja putih itu. Ketika Tohpati datang untuk pertama kali, kepala tongkat itu hampir menyambar kepalaku”
“Oh” sahut Sonya “aku tidak sempat ikut bertempur saat itu. Aku hanya boleh berlari. Tetapi lusa, kalau Macan Kepatihan itu datang kembali, akulah lawannya”
Mereka bertiga tertawa, seakan-akan mereka mempercakapkan suatu peristiwa yang lucu. Namun percakapan itu adalah suatu pengakuan, betapa besarnya perbawa Macan Kepatihan pada lawan-lawannya.
Mereka berhenti tertawa ketika mereka melihat Swandaru dan Agung Sedayu berjalan melintasi pendapa turun kehalaman. Mereka kemudian berjalan berdua kehalaman belakang kademangan.
“Sudah mendesak” terdengar Agung Sedayu berbisik. Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku tidak sabar. Apa kata orang itu tadi?”
“Laskar Tohpati kini telah siap seluruhnya”
“Aku berani bertaruh, serangan itu pasti akan ditunda lagi”
“Menurut persiapan yang diketahui oleh prajurit sandi itu, agaknya mereka benar-benar akan segera menyerang”
Swandaru menggeleng lemah “Seperti beberapa waktu yang lalu. Persiapan itu telah sempurna, namun mereka tidak datang. Kali inipun agaknya demikian”
“Kita tunggu saja tengah malam nanti. Orang itu berjanji akan datang, atau orang lain yang ditugaskannya”
“Aku tidak sabar. Sarang Macan Kepatihan itu pasti disekitar tempat mereka bertempur melawan Sidanti itu. Kita aduk saja seluruh hutan itu, maka kita pasti akan menjumpai sarangnya” gerutu Swandaru.
Agung Sedayu tidak menjawab. Ia tahu benar tabiat saudara seperguruannya. Meskipun demikian, terasa suasana yang berbeda pada kademangan itu. Firasatnya mengatakan bahwa Tohpati benar-benar akan datang.
Swandaru kemudian pergi berbelok memasuki dapur. Dilihatnya ibunya dan Sekar Mirah sedang menunggui beberapa orang yang sedang masak. Ketika Swandaru melihat gumpalan daging rebus, maka segera disambarnya sepotong.
“He, Swandaru. Daging itu baru direbus. Belum lagi dibumbui. Digaramipun belum”
Swandaru tidak menjawab. Tangannya menyambar sejumput garam. Kemudian dilumurkannya garam itu pada gumpalan dagingnya.
“Huh” Sekar Mirah mencibirkan bibirnya. “Anak muda ketuk”
Swandaru berhenti. Ia berpaling sambil bertanya “apa itu?”
“Anak muda yang suka masuk kedapur, adalah anak muda yang ketuk”
Swandaru tertawa terbahak-bahak. Sambil berteriak ia bertanya “He, kakang Agung Sedayu, kau mau daging?”
Agung Sedayu yang berjalan keperigi mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia tidak menjawab. Langsung diraihnya senggot timba, dan dengan tersenyum ia menarik senggot itu turun.
Sekar Mirah yang mendengar gerit timba segera mengetahui bahwa Agung Sedayu berada diperigi. Tetapi ketika ia beranjak, Swandaru membentaknya “Mau apa kau?”
“Apa pedulimu?”
“Yang mengambil air itu bukan Sidanti”
Tiba-tiba Sekar Mirah itu meloncat mengambil sepotong kayu dan dilemparkannya kepada kakaknya. Swandaru bergeser setapak sambil tertawa “Jangan marh, aku berkata sebenarnya”
Ketika lemparannya tidak mengenai sasarannya, Sekar Mirah langsung mengambil segayung air.
“Mirah” cegah ibunya “Jangan membuat dapur menjadi becek”
Sekar Mirah bersungut-sungut sambil berjalan keluar. Gerutunya “Awas kakang Swandaru”
Tetapi bukan saja Swandaru yang bermain-main mengejek adiknya, namun sebenarnya ibunyapun kadang-kadang heran melihat sifat anak perempuannya itu. Ibunya itu tahu benar, hubungan yang tampaknya bersungguh-sungguh antara Sekar Mirah dan Sidanti beberapa waktu yang lampau.
Ibunya itupun mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi kemudian. Sejak Agung Sedayu datang kekademangan ini. Agaknya Sekar Mirah adalah seorang pengagum atas sifat-sifat kejantanan, kepahlawanan. Dan terpengaruh oleh kedudukan ayahnya, ia adalah seorang gadis yang selalu berangan-angan tentang kepemimpinan dan kedudukan. Ketika setiap orang di Sangkal Putung membicarakan keberanian anak muda yang bernama Sidanti disetiap medan pertempuran, maka Sekar Mirahpun mengaguminya berlebih-lebihan. Dimatanya pada saat itu tak ada seorang laki-laki yang melampaui Sidanti diseluruh Sangkal Putung. Itulah sebabnya maka hubungannya dengan anak muda itu tampak bersungguh-sungguh.
Tetapi pada suatu ketika hadirlah Agung Sedayu diantara mereka. Setiap mulut menyebut namanya sebagai seorang anak muda yang telah membebaskan Sangkal Putung dari bencana. Seorang anak muda yang pemalu dan pendiam, tetapi menyimpan kesaktian yang tiada taranya. Namun Sekar Mirah kadang-kadang menjadi ragu-ragu menghadapi Agung Sedayu. Anak itu terlalu lembut. Bahkan anak itu selalu menghindarkan diri dari bentrokan yang akan terjadi atas dirinya dan Sidanti. Bahkan Agung Sedayu membiarkan dirinya dihinakan dan direndahkan dimuka Sekar Mirah dan pamannya Widura. Sekar Mirah hampir-hampir kehilangan kepercayaan tentang kesaktian Agung Sedayu, ketika anak muda itu tidak mau mengikuti sayembara memanah beberapa saat yang lalu.
Namun Sekar Mirah tidak dapat mengerti, kenapa Agung Sedayu ternyata benar-benar memiliki kelebihan dari orang lain. Kenapa Agung Sedayu menyembunyikan kelebihannya itu. Seandainya Swandaru tidak melihatnya, maka kemampuan Agung Sedayu tetap akan terpendam untuk seterusnya.
“Anak muda itu terlampau rendah hati” desisnya didalam hati ketika ia melihat kemenangan Agung Sedayu atas Sidanti dilapangan pada saat-saat mereka sedang berlomba. Kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh Agung Sedayu benar-benar membuat hati Sekar Mirah meledak-ledak.
Sepeninggal Sidanti, maka hubungannya dengan Agung Sedayu menjadi semakin dalam. Sekar Mirah semakin lama menjadi semakin mengagumi Agung Sedayu. Dari kakaknya ia mendengar bahwa Agung Sedayu mampu mengalahkan Alap-alap Jalatunda digaris peperangan. Tetapi Sekar Mirah tidak dapat mengerti kenapa Alap-alap Jalatunda itu tidak dibinasakan seperti Sidanti membinasakan Plasa Ireng. Bukankah dengan demikian namanya akan menjadi semakin ditakuti oleh lawan dan disegani oleh kawan? Bukankah dengan demikian kejantanannya akan menjadi semakin mengagumkan setiap orang di Sangkal Putung seperti Sidanti disaat-saat yang lampau. Sidanti selalu membanggakan diri kepadanya bahwa ia telah lebih dari sepuluh kali membinasakan lawan-lawannya dipeperangan. Kemudian angka itu dengan cepatnya naik. Duapuluh dan yang terakhir sebelum Tohpati sendiri datang ke Sangkal Putung, Sidanti berkata “Nanggala ini telah menghisap darah lebih dari limapuluh orang”
Tetapi Agung Sedayu tak pernah berkata tentang peperangan. Agung Sedayu tidak pernah bercerita, berapa orang telah pernah dipenggal lehernya, atau berapa orang pernah ditumpahkan darahnya.
Namun disamping kekecewaan-kekecewaan itu, Agung Sedayu telah benar-benar memikat hati Sekar Mirah. Ada kekuatan-kekuatan lain yang telah menariknya. Bukan karean kekaguman-kekaguman yang berlebih-lebihan. Bukan karena Agung Sedayu banyak menceritakan kemenangan-kemenangannya seperti Sidanti. Bukan karena sifat-sifatnya yang keras dan tegas. Tetapi ujud wadag Agung Sedayulah yang telah mempesona Sekar Mirah. Meskipun Sekar Mirah kadang-kadang kecewa atas sifat dan sikap Agung Sedayu yang menurut anggapannya telalu lemah dan menyia-nyiakan kekuatan-kekuatan yang tersimpan didalam tubuhnya, namun wajah Agung Sedayu selalu membayang dirongga matanya.
Ketika Sekar Mirah melangkahi pintu dapur, ia masih mendengar suara tertawa Swandaru didalam rumahnya. Tetapi Sekar Mirah tidak memperdulikannya. Bahkan kemudian gadis itu melangkahkan kakinya keperigi, menghampiri Agung Sedayu yang sedang menimba air.
“Untuk apa kakang menimba air?” bertanya Sekar Mirah.
“Mandi” jawab Agung Sedayu. Jawaban itu terlalu singkat bagi Sekar Mirah, sehingga karena itu maka sambil mencibirkan bibirnya Sekar Mirah menirukan jawaban itu “Mandi”
Agung Sedayu berpaling. Ketika dilihatnya wajah Sekar Mirah yang memberengut, Agung Sedayu tersenyum “Kenapa?”
“Kenapa?” Kembali Sekar Mirah menirukan.
Agung Sedayu kini tertawa. Tangannya masih sibuk melayani senggot timba. Ketika air didalam upih telah dituangkannya kedalam jambangan, maka dilepaskannya senggot timba itu. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati Sekar Mirah sambil bertanya “Apakah jawabanku salah?”
“Tidak” sahut Sekar Mirah pendek.
Kini suara tertawa Agung Sedayu menjadi semakin keras. Katanya “Ah, agaknya aku telah berbuat suatu kesalahan diluar sadarku. Maafkan aku Mirah”
“Tidak ada yang harus dimaafkan” sahut Sekar Mirah sambil berjalan menjauh.
Agung Sedayu mengikuti dibelakangnya beberapa langkah. Kemudian diambilnya sebutir batu, dan dilemparkannya kearah sarang lebah disebuah cabang yang tinggi.
Begitu sarang lebah itu terkena lemparan Agung Sedayu, maka berbondong-bondong lebah-lebah itu beterbangan.
Sekar Mirah terkejut. Ketika dilihatnya segerombol lebah beterbangan diudara, maka ia menjadi ketakutan. Dengan serta-merta ia berlari dan bersembunyi dibelakang Agung Sedayu sambil berkata cemas “Kakang, lebah itu akan menyengat kita”
Agung Sedayu tertawa. Jawabnya “Biarlah kita menjadi bengkak-bengkak karenanya”
“Kakang, aku takut”
Agung Sedayu masih tertawa. Dilihatnya lebah itu semakin banyak beterbangan mengitari sarangnya yang baru saja disentuh oleh batu Agung Sedayu. Tetapi lebah itu adalah lebah gula yang jarang sama sekali tidak berbahaya dan tidak buas.
Tetapi Sekar Mirah menjadi semakin ketakutan melihat lebah beterbangan mengitari sarangnya “Kakang” katanya “Bagaimana kalau lebah-lebah itu menyerang kita?”
“Kulitku kebal” sahut Agung Sedayu “Tak ada lebah yang dapat menyengat kulitku”
“Tetapi aku tidak” berkata Sekar Mirah sambil mengguncang-guncang tubuh Agung Sedayu.
“Lihat” berkata Agung Sedayu “Lebah itu akan menurut segala perinntahku. Sebentar lagi mereka pasti akan kembali kedalam sarang-sarang mereka setelah diketahuinya bahwa aku yang berdiri disini”
Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi ia masih berpegangan pada lengan Agung Sedayu.
Dan sebenarnyalah lebah-lebah yang beterbangan itu satu demi satu hinggap kembali kedalam sarangnya. Sehingga semakin lama gerombolan lebah yang mirip dengan gumpalan asap tiu menjadi semakin tipis.
Sekar Mirah memandangi lebah-lebah itu dengan mulut ternganga. Namun ketika dilihatnya lebah itu menjadi semakin berkurang, hatinyapun menjadi semakin tenang.
“Apakah mereka tidak akan menyerang kita kakang?” gumamnya.
“Kalau lebah-lebah itu akan menyerangmu, biarlah aku lawan mereka. Bukankah aku wajib melindungimu?”
“Kenapa? Siapa yang mewajibkan melindungi aku?”
“Oh, jadi bukan begitu?”
“Tidak ada kewajiban itu” jawab Sekar Mirah sambil bersungut.
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kembali ia meraih sebutir batu.
“Untuk apa?” bertanya Sekar Mirah terkejut.
“Sekehendakkulah” sahut Agung Sedayu sambil membidik sarang itu kembali “Kali ini aku akan menjatuhkan sarangnya. Dengan demikian lebah itu akan menjadi liar. Aku tidak takut sebab kulitku kebal. Dan aku tidak perlu melindungi seseorang disini”
“Jangan. Jangan kakang” minta Sekar Mirah
“Sekehendakku” jawab Agung Sedayu.
“Aku takut”
“Sekehendakku”
“Kakang, jangan”
Agung Sedayu telah menarik tangannya siap mengayunkan lemparan batunya. Tetapi Sekar Mirah memegangi tangannya sambil meminta “Jangan. Kalau kakang melempar juga, aku akan berteriak-teriak”
Agung Sedayu tertawa. Batu ditangannya dilemparkannya dan kemudian katanya “Kanapa kau melarang?”
“Aku takut disengat lebah”
“Lebah itu sama sekali tidak berbahaya. Lihatlah sarangnya yang melekat pada pohon itu. Bukankah itu sarang lebah gula? Bahkan sebaiknya besok aku bikin gelodok. Kalau lebah it mau bersarang kedalam gelodok, maka kita akan mendapatkan madu”
Sekar Mirah menekan dadanya sambil bersungut-sungut “Kakang menakut-nakuti aku”
“Seharusnya kau tidak takut Mirah. Lebah itu sama sekali tidak berbahaya, seandainya lebah yang paling buas sekalipun. Lebih berbahaya daripada itu adalah laskar Jipang yang dipimpin Tohpati. Kalau Tohpati itu menyerang kita, dan berhasil memasuki kademangan ini, nah barulah kau boleh merasa takut atau barangkali kau akan berbangga atas kedatangannya”
“Kenapa aku berbangga?”
“Tohpati berwajah tampan, bertubuh tegap kekar dan seorang yang sangat sakti”
“Huh” Sekar Mirah mencibirkan bibirnya, kemudian katanya “Apakah peduliku?” Tetapi tiba-tiba ia bertanya “Tetapi apakah benar-benar Tohpati mungkin sampai kerumah ini?”
Agung Sedayu memandangi wajah gadis itu dengan seksama, kemudian jawabnya “Bagaimana kalau hal itu terjadi?”
“Jangan, jangan biarkan hal itu terjadi kakang” sahut Sekar Mirah
Kali ini Agung Sedayu tidak mengganggunya lagi ketika dilihatnya wajah Sekar Mirah menjadi bersungguh-sungguh. Seakan-akan dari matanya memancar kecemasan yang sangat. Sekali lagi ia bertanya “Apakah laskar Jipang itu masih cukup kuat untuk mematahkan pertahanan Sangkal Putung?”
Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ia takut kalau jawabannya akan menambah kegelisahan gadis itu. Dan karena Agung Sedayu tidak menjawab, Sekar Mirah mendesaknya lagi “Kakang, apakah dengan kepergian Sidanti, kekuatan Sangkal Putung menjadi sangat jauh berkurang?”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir didalam dadanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam Agung Sedayu bertanya “Siapa yang mengatakannya Mirah?”
Sekar Mirah menggeleng “Tidak ada. Tetapi aku menyangka demikian. Sebab kakang Sidanti adalah seorang yang sangat sakti. Bukankah kakang Sidanti telah berhasil membunuh orang yang bernama Plasa Ireng sebelum ia meninggalkan Sangkal Putung?”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Jawabnya “Mungkin Sidanti sangat sakti. Tetapi apakah tidak ada orang lain yang menyamai kesaktiannya?”
“Ya, ya, ada” sahut Sekar Mirah cepat-cepat “Kau, kakang”
Agung Sedayu menggeleng “Bukan, bukan aku”

2 komentar:

Joko mengatakan...

loh-loh piye iki kok gak ada lanjutannya,tiba-tiba berhenti dibulan juli 2008, masa sih beca cerita gak ada tamatnya.

brehwojo mengatakan...

ampun kesel angsale posteng, banyak yang baca tambah katah pahalane, monggo monggo.. dilanjut