Rabu, 21 November 2007

Api di Bukit Menoreh 4


Agung Sedayu benar-benar menjadi bingung. Bahkan Utarapun tak tahu, bagaimana menjawab pertanyaan Ki Tanu Metir itu. Karena itu sesaat kemudian suasana menjadi beku. Yang terdengar kemudian adalah suara Ki Tanu pula “Bukankah angger Sedayu berdua dengan angger Untara mampu menghadapi Alap-alap Jalatunda itu sekaligus dengan Pande besi Sendang Gabus? Bukankah pade besi itu bahkan terbunuh bersama-sama dengan dua kawannya lagi?”
“Angger Sedayu, dalam gerombolan itu tak ada seorangpun yang melampaui kesaktiannya dari si pande besi yang tamak itu. Karena itu jangan takut dengan Alap-alap Jalatunda”
Mulut Sedayu seakan-akan tersumbat. Nafasnya terdengar meloncat satu-satu, namun dadanya terasa sesak.
Sedang Untara masih duduk bersandar tumpukan bantal. Matanya kadang-kadang terbuka, tetapi kadang-kadang terpejam. Dalam kekelaman pikiran itu Untara benar-benar menjadi bingung. Ia hampir-hampir tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Dengan sisa-sisa kesadarannya yang masih ada, Untara membuat perhitungan-perhitungan. Akhirnya ia mendapat kesimpulan bahwa Agung Sedayu lebih aman diperjalanan ke Sangkal Putung daripada tinggal di dukuh Pakuwaon. Didorong pula oleh rasa tanggung jawab terhadap Widura, maka kemudian ia berkata perlahan-lahan namun penuh kepastian “Agung Sedayu, tinggalkan tempat ini sebelum Alap-alap Jalatunda datang mencabut nyawa kita. Pergilah ke Sangkal Putung dan temuilah paman Widura”
Jantung Agung Sedayu terasa berdentangan. Dengan suara gemetar ia mencoba membantah perintah itu “Kalau aku bertemu dengan mereka, bukankah kepergianku tidak ada gunanya?”
Tidak, kau tidak akan bertemu dengan mereka. Aku sudah pasti” jawab Untara “Tempuhlah jalan barat”
“Bagaimana dengan tikungan Randu Alas?” Sedayu menjadi semakin cemas.
“Omong kosong dengan gendoruwo mata satu” Untara hampir membentak “Pergilah”
Bibir Agung Sedayu tampak bergerak-gerak namun tak sepatah katapun terloncat dari bibirnya, bahkan akhirnya matanyalah yang berkaca-kaca.
Ki Tanu masih belum dapat mengerti, kenapa Agung Sedayu tiba-tiba menjadi ketakutan. Tetapi sebelum ia bertanya lagi terdengar suara Sedayu mengiba-iba tanpa malu-malu “kakang, aku takut”
Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti kini, siapakah sebenarnya Untara dan bagaimanakah dengan Sedayu. Karena itu iapun berdiam diri.
Tiba-tiba ornag tua itu terkejut ketika Untara berkata dengan keras sambil meraba hulu kerisnya dengan tangannya yang lemah “Sedayu, pergilah! Kalau kau tidak mau pergi juga, biarlah kau memilih mati karena kau berbuat seperti seorang laki-laki atau mati karena kerisku sendiri”
“Kakang” Sedayu hampir menjerit. Namun wajah Untara seolah-olah telah menjadi beku.
Seakan-akan suara adiknya tidak didengarnya. Bahkan dengan mata terpejam Untara berkata pula “Bagiku Sedayu, daripada kau mati ketakutan selama Alap-alap Jalatunda itu nanti mencekikku, lebih baik kau mati dengan luka senjata didadamu”
Tubuh Sedayu benar-benar menggigil. Jantungnya berdentangan seperti guruh yang menggelegar didalam rongga dadanya. Sementara itu Ki Tanu Metir berkata dengan terbata-bata “Angger Untara, apa yang akan angger lakukan itu?”
“Kalau Sedayu tidak mau pergi, akan aku bunuh dia” desisnya.
“Angger” Ki Tanu Metir mencoba menenangkannya “jangan berkata begitu”
Untara tidak menjawab, namun terdengar ia menggeram.
Akhirnya berkatalah Ki Tanu Metir “Angger Sedayu, kakangmu telah menentukan apa yang akan dilakukan. Karena itu sebaiknya angger pergi. Bukankah puncak ketakutan angger itu adalah maut. Dan maut itu berada dalam gubug ini. Kalau angger pergi ke Sangkal Putung, belum pasti angger bertemu dengan maut itu. Seandainya demikian, maka maut diperjalanan itu akan jauh lebih baik daripada maut yang akan menerkam angger disini. Baik itu dilakukan oleh angger Untara, maupun dilakukan Alap-alap yang gila itu, yang pasti akan jauh mengerikan lagi”
Kepala Sedayu tiba-tiba menjadi pening. Berdesak-desakanlah perasaan yang bergumul didalam dadanya. Maut terlalu mengerikan. Dan maut itu tiba-tiba saja kini hadir dihadapannya. Sehingga seperti seorang perempuan cengeng Sedayu membiarkan dirinya hanyut dalam perasaannya tanpa malu. Sedayu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dan terdengar suaranya gemetar “Adakah kakang berkata sebenarnya”
“Akan kulakukan apa saja yang telah aku katakan, Sedayu” suara Untara lirih namun pasti “Tinggalkan tempat ini segera. Aku sudah muak melihat kau merengek-rengek seperti bayi”
Dada Agung Sedayu hampir meledak mendengar kata-kata itu. Namun mulutnya bahkan menjadi terkunci. Seperti patung ia tidak bergerak, sampai kakaknya membentaknya “Pergi sekarang juga!”
Perlahan-lahan Sedayu berdiri. Kakinya hampir-hampir tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Tetapi ia takut. Takut kepada kakaknya. Takut kalau kakaknya akan membunuhnya. Dan ketakutannya itu begitu menekan dadanya, sehingga melampaui ketakutannya atas kegelapan malam diluar dan tikungan randu alas. Karena itu meskipun hayatnya serasa telah terbang meninggalkan tubuhnya, Sedayu berjalan juga menuju kepintu. Ketika Ki Tanu Metir mendahuluinya, dan membuka pintu untuknya, orang tua itu mendengar Sedayu menahan isak didadanya. Maka bisiknya menghibur “angger, serahkan jiwa dan ragamu kepada yang memilikinya. Kalau sudah saatnya akan diambilNya, maka berlakulah kehendakNya meskipun angger berperisai baja. Namun kalau angger akan disingkirkan dari bencana, maka berlakulah pula kehendakNya itu. Karena itu jangan takut”.
Agung Sedayu menganggukkan kepalanya, namun ketakutan yang mencekamnya tidak juga mau meninggalkannya.
Dimuka pintu sekali lagi ia menoleh kepada kakaknya. Tetapi kakaknya memejamkan matanya. Karena itu Sedayu melangkah terus. Diluar dilihatnya kuda kakaknya. Dengan gemetar ia melangkah kepunggung kuda itu.
“Selamat jalan ngger” desis Ki Tanu Metir. Aging Sedayu tidak menjawab. Namun kepalanya terangguk. Dengan hati yang kosong ia menarik kekang kudanya, dan ketika kuda itu bergerak menyusup kedalam malam yang pekat, maka Sedayu merasa seakan-akan dirinya telah menyusup kedaerah maut.
Akhirnya ketika Sedayu sadar, bahwa perjalanan itu harus dilakukannya, maka segera ia memacu kudanya dengan mata yang hampir terpejam. Setiap kali ia membuka matanya, setiap kali dadanya berdesir. Dimalam yang gelap itu selalu dilihatnya seakan-akan bayangan-bayangan hitam menghadangnya diperjalanan. Namun ia sudah tidak dapat lagi berpikir. Karena itu ia tidak mau lagi melihat apapun yang berada diperjalanan itu.
Ketika Sedayu telah hilang dibalik kekelaman malam, Ki Tanu Metir menutup pintunya kembali. Kemudian perlahan-lahan ia mendekati Untara yang lesu. Dan terdengarlah ia bertanya “Kenapa hal itu angger lakukan?”
Untara menarik nafas dalam-dalm. Terdengar ia bergumam “Mudah-mudahan Tuhan melindunginya”
Ki Tanu Metir duduk perlahan-lahan disamping Untara. IA mengangguk-angguk kecil ketika terdengar gumam Untara pula “Kasihan Sedayu”
“Tetapi bukankah angger menghendakinya?” bertanya orang tua itu.
“Aku hanya ingin supaya Sedayu meninggalkan rumah ini dan sekaligus aku ingin paman Widura melindunginya, selain keselamatan laskar paman Widura sendiri. Paman Widura kenal anak itu” jawab Untara.
Kembali Ki Tanu metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Tahulah ia sekarang bahwa Untara sama sekali tak bersungguh-sungguh dengan ancamannya.
“Anak itu benar-benar keterlaluan” berkata Untara pula “Aku hanya menakut-nakutinya, supaya ia mau pergi. Ketakutan hanya dapat dikalahkan dengan ketakutan yang lebih besar. Dan aku sudah berhasil mengusirnya. Mudah-mudahan ia selamat” Untara berhenti sejenak, kemudian terdengar ia meneruskan dengan susah payah “Bukankah lebih baik Ki Tanu Metir menyingkirkan aku pula sebelum Alap-alap Jalatunda datang kemari?”
“Tidak angger, tidak” sahut orang tua itu cepat-cepat “Angger memerlukan perawatanku disini”
“Tetapi” jawab Untara “kalau hal itu membahayakan ki Tanu? Kalau mereka datang kemari, dan ditemuinya aku disini, maka tidak saja aku yang akan dibunuhnya, tetapi Ki Tanu akan diganggunya pula”
“Jangan berpikir tentang aku” berkata Ki Tanu Metir “Luka angger agak parah, Aku sedang mencoba untuk mengobatinya”
Untuk sesaat keduanya terdiam. Ketika Untara mendengar derap kuda dihalaman, hampir saja ia berteriak memanggil adiknya itu kembali, tetapi segera ia mempergunakan akan dan perhitungannya untuk melawan perasaannya. “Kalau Alap-alap Jalatunda itu tidak datang kemari, dan Sedayu menemui bencana dalam perjalanannya, akulah yang bertanggung jawab” katanya dalam hati. Dan Untara sadar, apabila terjadi demikian maka peristiwa itu pasti akan menyiksanya seumur hidup. Ia akan kehilangan adiknya dan sekaligus ia sama sekali tidak berhasil menyelamatkan Widura dan laskarnya. Tetapi kalau Alap-alap Jalatunda yang bengis itu benar-benar datang kerumah itu bersyukurlah ia, meskipun nyawanya sendiri pasti akan melayang. Namun ia telah berhasil untuk terakhir kalinya menyelamatkan adiknya. Tetapi kemungkinan yang lebih jelek lagi, Alap-alap Jalatunda itu berpapasan dengan adiknya, dan adiknya itu dibunuhnya setelah anak itu menunjukkan tempatnya, kemudian Alap-alap itu datang membunuhnya. “Aku telah berusaha” pikir Untara. Segalanya akan mungkin terjadi. Untara menarik nafas dalam-dalam. Dengan penuh kepercayaan kepada kekuasaan Tuhan, Untara berhasil menenangkan dirinya. Bahkan ia berdoa semoga kemungkinan yang paling baiklah yang terjadi. Agung Sedayu selamat sampai Sangkal Putung dan Alap-alap Jalatunda tidak datang kepondok itu.
Tetapi Untara terkejut ketika didengarnya bentakan-bentakan kasar jauh ditikungan jalan. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya Ki Tanu Metir berdiri dengan gelisah.
“Suara apakah itu Ki Tanu?” bertanya Untara lemah.
Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Dicobanya untuk menangkap setiap kata-kata kasar dan keras yang memecah kesepian malam itu.
Lamat-lamat terdengar suara itu “Dimana he, dimana rumah dukun itu?”
Tak terdengar jawaban, namun terdengar seseorang mengaduh perlahan-lahan. Sesaat kemudian terdengar bentakan “Kalau kau tak mau mengatakan, maka kaulah yang akan kami bunuh”
“Ampun” sahut suara yang lain “aku hanya mendengar suara kuda berderap”
“Gila, aku tidak bertanya apakah kau mendengar suara kuda itu. Tunjukkanlah rumah Tanu Metir. Orang itu akan mengatakan segala-galanya dan kau akan aku lepaskan” teriak yang lain.
Kembali tak terdengar jawaban, dan kembali terdengar suara kasar dan beberapa buah pukulan.
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Desisnya “Orang itu tidak mau menunjukkan rumah ini”
“Kasihan” geram Untara. Terdengar giginya gemeretak menahan marah. Tetapi tubuhnya sudah terlalu payah. “Ki Tanu” katanya kemudian “Biarlah mereka menemukan aku. Maka nyawa orang itu dan mungkin nyawa Ki Tanu dapat diselamatkan”
“Apakah arti nyawa-nyawa kami” jawab Ki Tanu Metir “angger adalah salah seorang yang sangat berguna, sedang kami adalah orang-orang yang tak berarti”
Untara terharu mendengar jawaban itu. Ternyata bahwa jiwa kepahlawanan tidak saja berkobar didalam dada para prajurit yang dengan senjata ditangan mempertaruhkan nyawanya demi pengabdiannya kepada tanah kelahiran dan kebenaran yang diyakininya, tetapi didalam dada orang tua itupun ternyata menyala api kepahlawanan yang tidak kalah dahsyatnya. Melampaui keteguhan hati seorang prajurit dengan senjata ditangan menghadapi lawannya dalam kemungkinan yang sama, membunuh atau dibunuh. Tetapi orang tua itu, seorang dukun yang hidup diantara para petani yang sederhana, telah menantang maut dengan perisai dadanya, kulit dagingnya.
Untara menggeleng lemah “Tidak” katanya, “sudah sewajarnya seorang prajurit mati karena ujung senjata, namun tidak seharusnya aku berperisai orang lain untuk keselamatanku. Karena itu biarlah mereka menemukan aku disini. Selagi sempat, biarlah Ki Tanu Metir menyelamatkan diri”.
“Ini adalah rumahku” jawab Ki Tanu Metir “Kalau aku lari sekarang, maka kerumah ini pula aku akan kembali, dan orang-orang itu akan dapat menemukan aku disini. Tak ada gunanya”
Sekali lagi Untara menarik nafas. Sebelum sempat ia menjawab berkatalah Ki Tanu Metir “Angger, kenapa kita tidak berusaha menyelamatkan diri kita berdua? Angger akan aku sembunyikan. Kalau-kalau orang-orang yang gila itu datang kemari, dan tidak menemukan angger maka akupun akan selamat pula”
“Hem” Untara menggeram. Belum pernah ia berpikir untuk menyembunyikan diri pada saat musuhnya datang. Tetapi kali ini keadaannya jelek sekali. Bahkan tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah, meskipun darahnya tidak lagi mengalir.
“Mungkinkah itu” terdengar suara Untara lirih, sedang ditikungan bentakan-bentakan kasar masih terdengar.
“Marilah angger aku sembunyikan disentong kiri. Aku timbuni angger dengan ikatan bulir-bulir padi”. Ki Tanu Metir tidak menunggu Untara menjawab. Segera ia mencoba menolongnya berdiri. Untara takut kalau-kalau mereka berdua akan roboh, tetapi agaknya Ki Tanu yang tua itu masih cukup kuat untuk memapahnya.
Disentong kiri, Ki Tanu Metir segera membongkar timbunan bulir-bulir padi. Perlahan-lahan Untara ditolongnya masuk kedalam sebuah bakul yang besar “Melingkarlah disitu ngger, dan berusahalah untuk dapat bernafas” berkata Ki Tanu Metir.
Kembali Untara menggeram, Namun ia mengharap bahwa dengan demikian, ia dan sekaligus Ki Tanu Metir dapat diselamatkan. Lusa apabila luka dibahunya itu sudah sembuh, ia akan datang kembali untuk bertemu dengan Alap-alap Jalatunda.
Dengan tergesa-gesa Ki Tanu segera menimbuni Untara dengan ikatan bulir-bulir padi. Seikat demi seikat dengan hati-hati. Didalam bakul yang besar itu Untara memejamkan matanya. Terasa nafasnya menjadi semakin sesak. Namun ia masih dapat bernafas.
Demikian Ki Tanu selesai dengan pekerjaannya, terdengar pintu rumahnya diketuk keras-keras, dan terdengarlah suara kasar memanggilnya “mbah dukun, buka pintumu”
Untara menjadi berdebar-debar. Ternyata Alap-alap Jalatunda atau orang-orangnya benar-benar datang. Meskipun demikian ia masih dapat mengucap syukur karena adiknya telah pergi.
Untuk sesaat Ki Tanu Metir berdiri dengan tegang. Ia tidak segera beranjak dari tempatnya sehingga terdengar kembali pintu rumahnya dipukul keras-keras “He, buka pintu Ki Tanu”
Ki Tanu tidak mungkin untuk mengelak lagi. Karena itu dengan terbata-bata ia berteriak dari sentong kiri “Ya, ya tunggu. Aku sudah bangun”
Tersuruk-suruk Ki Tanu Metir bergegas pergi ke pintu, dengan menyeret telumpah dikakinya. Sementara itu kembali terdengar pintunya hampir berderak patah “Aku tidak sempat menunggu” terdengar suara dibelakang pintu.
“Ya, ya” sahut orang tua itu “aku sedang berjalan”
Sesaat kemudian Ki Tanu Metir telah membuka pintunya. Demikian pintu itu menganga, demikian beberapa orang dengan senjata ditangan berloncatan masuk. Dua orang yang lain memasuki rumah itu sambil mendorong-dorong seorang yang bertubuh kecil pendek.
“Kaukah itu Kriya” terloncat dari mulut Ki Tanu Metir. Orang itu menyeringai ketakutan. Jawabnya “Ya kiai, aku diseretnya ketika aku sedang melihat air diparit. Aku sangka karena hujan yang lebat ini, parit-parit akan banjir. Waktu aku sedang menutup pematang, datanglah orang-orang ini”
“Tak usah mengigau” bentak salah seorang dari mereka “Monyet itu tidak kembali ke Jati Anom. Mereka pasti kemari untuk mengobati lukanya”
“Siapa?” berkata Ki Tanu Metir.
Seorang anak muda diantara mereka perlahan-lahan melangkah mendekati Ki Tanu Metir “Hem” geramnya “Kita telah berkenalan kiai, namun baru hari ini aku sempat mengunjungi rumahmu”
“Ya, ya angger, aku pernah mengenal nama angger. Bukankah angger Alap-alap Jalatunda?”
“Siapakah yang memberi aku gelar demikian” bertanya anak muda itu. Namun terasa pada nada kata-katanya betapa ia bangga mendengar sebutan itu.
“Aku tidak tahu” sahut Ki Tanu Metir “Mungkin karena kedahsyatan angger, maka dengan sendirinya nama itu tumbuh”
Anak muda itu tertawa lirih. Kemudian katanya “Bagus. Kalau kau sudah mengenal aku maka jangan sekali-sekali mengganggu pekerjaanku”
“Tidak ngger, tidak” sahut Ki Tanu cepat-cepat “aku pasti akan membantu angger”
Disentong kiri, Untara masih dapat mendengar semua percakapan itu. Karena itu ia menjadi semakin berdebar-debar ketika didengarnya nama Alap-alap Jalatunda. Anak itu bukan lawan yang berat baginya. Tetapi dalam keadaannya kini, maka tak ada yang dapat dilakukan. Meskipun demikian, dibelainya juga hulu kerisnya. Tangan yang pertama menyentuhnya, pasti akan digoresnya dengan keris itu. Dan ia yakin, setiap goresan ditubuh lawannya, betapapun kecilnya, akibatnya adalah maut. Warangan yang keras dikerisnya itu benar-benar sangat berbahaya, apabila tidak segera dapat penawarnya.
Sebentar kemudian Untara mendengar Alap-alap Jalatunda berkata “Ki Tanu, aku sedang mencari seseorang. Ia terluka ketika ia mencoba melawan aku. Adakah seseorang datang kemari untuk berobat?”
Ki Tanu Metir berdiam diri sesaat. Ia sedang mencoba mencari jawaban atas pertanyaan itu. Tetapi karena itu maka Alap-alap muda itu membentaknya “Jawab pertanyaanku”
Ki Tanu Metir menggeleng, jawabnya “tidak ngger, tak seorangpun datang kemari”
Alap-alap Jalatunda tertawa. Katanya “Kiai adalah seorang dukun yang terkenal. Orang yang terluka itu pasti pernah mendengarnya. Karena itu ia mesti datang kemari. Apakah untung rugimu kalau kau sebut dimana dia sekarang?”
O, angger benar. Tak ada untung ruginya kalau aku menyebut tempatnya, kalau aku mengetahuinya. Tetapi siapakah orang itu?” bertanya Ki Tanu Metir.
“Jangan berpura-pura. Orang itu bernama Untara. Sangat berbahaya bagi kami dan bagi kalian” jawab Alap-alap Jalatunda.
“Hem. Untara” ulang Ki Tanu Metir. “Tak seorangpun datang kemari sehari ini”
“Baru beberapa saat. Aku telah melukai pundaknya. Jangan bohong” bentak anak muda itu.
“Aku tidak berbohong ngger” jawab Ki Tanu.
Pandangan mata Alap-alap Jalatunda itu menjadi tajam, benar-benar seperti mata burung alap-alap. Selangkah ia maju mendekati Ki Tanu Metir sambil berkata “Kau sudah tua. Tidakkah kau ingin menikmati sisa-sisa hidupmu? Jawab pertanyaanku dimana Untara kau sembunyikan”
Ki Tanu Metir menjadi gemetar. Namun ia menjawab juga “Tak ada ngger, benar-benar tak ada”
“Dengar Ki Tanu” bentak anak muda itu “Aku bertemu dengan anak itu diujung hutan. Ia mencoba melarikan diri. Dalam perkelahian seorang lawan seorang, aku telah melukainya. Kemudian Untara yang mempunyai nama yang cemerlang itu bertempur berdua dengan kawannya. Karena mereka berdua itulah maka mereka sempat melarikan diri. Nah katakan kepadaku, dimana dia sekarang. Kawan-kawanku yang menyusuri jalan ke Jati Anom tidak menemuinya. Ia pasti datang kemari”
“Tidak ngger” jawab Ki Tanu “sungguh tidak”
“He monyet bungkik” teriak Alap-alap itu kepada Kriya “Jawab pertanyaanku”
Kriya itupun didorongnya maju. Dan terdengarlah Alap-alap yang garang itu berteriak “Kau lihat orang berkuda masuk kedukuh Pakuwon”
“Aku dengar derap kuda” sahut orang itu.
Tiba-tiba sebuah pukulan bersarang diwajahnya, sehingga Kriya itupun terpelanting jatuh. “Ampun” mintanya.
“Kau lihat dua orang diatas satu punggung kuda seperti katamu tadi ditikungan” teriak Alap-alap itu.
Kriya terdiam. Matanya memandangi Ki Tanu Metir, dan dari mata itu memancar kengerian yang tersangkut dihatinya.
Orang yang pendek kecil itu benar-benar berada dalam kesulitan. Ia tidak dapat mengingkari penglihatannya, yang sudah terdorong dikatakannya ditikungan ketika bertubi-tubi tangkai-tangkai senjata mengenai punggungnya. Tetapi ia takut pula untuk menyebutnya sekali lagi dihadapan Ki Tanu Metir. Bukan karena Ki Tanu Metir mempunyai kekasaran dan kebengisan seperti orang-orang itu, namun karena Ki Tanu Metir adalah orang tua yang disegani dipadukuhan itu. Ki Tanu Metir adalah seorang yang sangat baik bagi mereka. Apabila anak istri orang-orang padukuhan itu sakit, maka Ki Tanu Metir pasti bersedia untuk menolongnya. Pagi, sore, siang atau malam. Karena itu Kriya tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang dilihatnya, Sebab dengan demikian, maka akan celakalah orang tua yang baik hati itu.
Tetapi tiba-tiba dadanya berdesir ketika Kriya melihat Alap-alap Jalatunda melangkah mendekatinya. Dengan mengerutkan tubuhnya yang kecil itu, serta menutupi ubun-ubun dikepalanya dengan kedua telapak tangannya ia memohon “Ampun”
Alap-alap jalatunda tertawa. Seperti anak nakal yang tertawa-tawa melihat seekor anjing ketakutan, ia memandangi Kriya yang kecil dan pendek itu “Kenapa kau tak mau mengulangi kata-katamu. Kau takut kepada orang tua ini?” berkata anak muda itu sambil menunjuk Ki Tanu.
Sekali lagi Kriya memandangi wajah Ki Tanu Metir, wajah yang biasanya selalu bening, namun kali inipun tampak, betapa perasaan cemas sangat mengganggunya.
Tiba-tiba terdengarlah orang tua itu berkata perlahan-lahan “Kriya, berkatalah sebenarnya”
Kriya tidak segera mengetahui maksud Ki Tanu Metir. Karena itu untuk sesaat ia beragu, sehingga terdengar Ki Tanu Metir berkata mengulangi “Katakanlah apa yang kau ketahui kepada angger alap-alap Jalatunda”
Meskipun dengan ragu-ragu, kemudian Kriya membuka mulutnya ketika ia mendengar Alap-alap Jalatunda itu tertawa dan selangkah mendekatinya sambil menggerak-gerakkan ujung pedangnya dimuka wajahnya “Ampun ngger, Sebenarnya aku melihat orang berkuda itu”
“Hem, baru sekarang kau katakan ktu “geram Alap-alap Jalatunda. “Lalu?”
“Ya, dua ekor kuda diatas punggung orang…..eh …..eh…., dua orang berkuda diatas satu punggung kuda” sahut Kriya kebingungan.
Kemudian Alap-alap Jalatunda itu memutar tubuhnya menghadap Ki Tanu Metir sambil tertawa menyeringai. Katanya “Kau dengar dukun tua, lidah si bungkik itu terputar-putar?”
“Aku dengar” jawab Ki Tanu Metir “Tetapi adakah seseorang yang masuk kepadukuhan ini pasti datang kerumahku? Bagaimanakah kalau orang itu sekedar lewat dan terus ke Glagah Legi atau ke Gedawung?”
Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya, namun jawabnya “Hanya disini tinggal seorang dukun yang ternama” Dan tiba-tiba mata Alap-alap itu menjadi liar “Mana dia” bentaknya, sehingga Kriya terkejut dan menggigil karenanya.
Untara yang mendengar bentakan-bentakan itupun menjadi gelisah. Apakah yang akan dilakukan terhadap orang setua Ki Tanu. Tetapi Untara terkejut ketika jawabnya Ki Tanu justru menjadi tenang “Angger, kalau angger tidak percaya, silakan mencarinya”
Mata Alap-alap Jalatunda yang liar itu beredar berkeliling kesegenap sudut, kemudian sekali lagi ia berteriak “Bohong!”
Tiba-tiba diantara mereka, diantara kawan-kawan Alap-alap Jalatunda itu terdengar seseorang tertawa. Suaranya menggelegar dan jauh berbeda dengan suara Alap-alap Jalatunda “He Alap-alap kecil, agaknya kau terlalu baik hati. Jangan buang-buang waktu. Berpencarlah dan cari disemua sudut rumah ini”
Ki Tanu Metir terkejut mendengar suara itu. Demikian juga Untara. Orang yang menyebut “Alap-alap Jalatunda dengan sebutan Alap-alap kecil itupun pasti bukan orang kebanyakan. Karena itu dada Untara menjadi semakin berdebar-debar.
Alap-alap Jalatunda sendiri mengerutkan keningnya. Kemudian sahutnya “Bagus”, dan kepada anak buahnya ia berkata “Carilah orang yang bernama Untara itu sampai ketemu. Suguhkan dia kepada tamu kita kakang Plasa Ireng”
“Plasa Ireng” Untara menyebut nama itu didalam hati. Dan debar jantungnyapun menjadi bertambah cepat, sejalan dengan tubuhnya yang bertambah lemah. Plasa Ireng adalah orang yang benar-benar menakutkan. Ia adalah salah seorang prajurit Jipang yang dipercaya. Seperti Arya Jipang sendiri, Plasa Ireng adalah seorang pemarah, dan bahkan Plasa Ireng memiliki sifat-sifat yang jauh lebih bengis dari Arya Penangsang. “Orang itu ada disini pada saat aku tak mampu menemuinya” pikir Untara. Seandainya Untara tidak terluka, maka dengan penuh gairah Plasa Ireng itu akan disambutnya. Tetapi keadaan Untara sedemikian buruknya, sehingga untuk berdiripun agaknya terlalu payah baginya, hanya karena darahnya terlalu banyak mengalir.
Sesaat kemudian orang-orang Alap-alap Jalatunda itu memencar kesegenap sudut rumah Ki Tanu Metir. Setiap lekuk-lekuk diperiksanya, bahkan sampai-sampai gledeg-gledeg bambupun dibukanya. Tetapi tak seorangpun mereka ketemukan. Sentong kanan, tengah dan kiripun mereka jenguk pula, bahkan dengan lampu ditangan mereka. Namun disentong-sentong itu mereka hanya melihat setumpuk bantal dan disentong kiri seonggok untaian padi didalam bakul yang besar. Namun Untara tak mereka temukan.
Selagi mereka sibuk mencari-cari, kembali terdengar Plasa Ireng terawa nyaring diluar pintu. Katanya “Kuda itu telah kemari, tetapi aku melihat bekas kakinya meninggalkan tempat ini”
Alap-alap Jalatundapun segera meloncat keluar. Segera iapun mengamat-amati bekas kaki-kaki kuda itu dibawah cahaya oncor ditangan Plasa Ireng. Kemudian terdengar ia memanggil “Bawa Kriya kemari”
Kriya yang pendek itupun segera didorong keluar. Kemudian diseret mendekati alap-alap Jalatunda yang masih terbungkuk-bungkuk mengamat-amati telapak-telapak kaki kuda.
“Kriya bungkik..!” teriak Alap-alap muda itu “Kau lihat orang ini datang. Pasti kau lihat ia pergi”
“Ya, aku lihat” jawab Kriya terbata-bata.
“Kenapa kau tidak bilang sejak tadi? Kau sengaja mempermainkan kami?” bentak Alap-alap Jalatunda sambil melekatkan ujung pedangnya pada perut Kriya yang kecil itu.
“Tidak, tidak..” sauara Kriya hampir merintih.
“Atau kau termasuk gerombolan orang yang bernama Untara itu?” desak Alap-alap Jalatunda’
“Tidak…” sahut Kriya.
“Jadi kenapa kau lindungi dia?” desak anak muda itu. Ia harus dapat berlaku kasar, sekasar Plasa Ireng.
“Aku tidak tahu kalau kuda yang datang itu kemudian juga kuda yang aku lihat meninggalkan padukuhan ini” jawan Kriya mencoba menyelamatkan dirinya.
“Kenapa? Adakah perbedaanya?” pertanyaan itu sedemikian cepatnya sehingga Kriya tidak sempat mempertimbangkan jawabannya. Karena itu tiba-tiba meluncur dari mulutnya “Yang datang berdua, yang pergi hanya seorang”
“Ha” jawaban itu benar-benar mengejutkan. Kriya sendiri terkejut mendengar jawaban itu. Ki Tanu Metir yang mendengar percakapan itu mengerutkan keningnya. Ia tak akan dapat mengelak lagi. Tetapi ia tidak kehilangan ketenangannya. Karena itu sikapnya benar-benar mengherankan.
Tiba-tiba terdengar Alap-alap Jalatunda tertawa berderai dan Plasa Ireng itupun tertawa pula. Terdengar Plasa Ireng berkata “Yang seorang melarikan diri, tetapi kawannya yang luka ditinggalkannya disini”
Untara mnenjadi gelisah. Bukan karena dirinya sendiri, namun dengan demikian maka Ki Tanu Metir pasti akan mengalami bencana. Alap-alap Jalatunda yang ingin mendapat pujian dari Plasa Ireng itu dapat berbuat hal-hal diluar dugaan. Dan apa yang dilakukan Plasa Ireng sendiri akan sangat mengerikan. Apalagi ketika Untara mendengar Plasa Ireng membentak “He dukun celaka, aku tidak telaten melihat cara Alap-alap kecil itu mencari lawannya. Untara adalah seorang yang sangat berbahaya. Aku ingin menemuinya disegala medan peperangan namun aku selalu gagal. Hanya namanya saja yang pernah aku dengar. Disegala garis perang Untara pasti berhasil menyapu lawan-lawannya. Nah, tunjukkan kepadaku sekarang dimana orang itu” Kemudian katanya kepada Alap-alap Jalatunda “Alap-alap kecil, serahkan Untara kepadaku, kau dapat menemukan yang seorang lagi”
“Anak itu telah pergi” jawab Alap-alap Jalatunda.
“Kau dapat memeras keterangan dari orang pendek itu kemana ia melarikan diri. Pakai kudaku. Kejar dia dan bawa dia kemari atau penggal lehernya dan tinggalkan disekitar Sangkal Putung”
Perintah-perintah itu mengalir seperti pancuran. Dan perintah-perintah itu benar-benar mengejutkan.
Dada Untarapun tiba-tiba bergolak dengan dahsyatnya. Untara sesaat ia lupa tentang lukanya. Yang didengarnya kemudian adalah suara Alap-alap Jalatunda “Untara adalah lawanku. Karena itu aku ingin menyelesaikan perkelahian itu”
Plasa Ireng menarik nafas, tampak dahinya berkerut. Katanya “Kaukah yang melukainya?”
“Sudah aku katakan” jawab Alap-alap Jalatunda.
“Dalam perkelahian seorang lawan seorang?” desak Plasa Ireng.
“Ya” sahut anak muda itu.
Tiba-tiba Plasa Ireng tertawa, katanya “Jangan mengelabui orang tua. Aku tahu siapakah Untara dan siapakah Pratanda yang sekarang bergelar Alap-alap Jalatunda. Atau kau takut kepada yang seorang itu pula”
Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi merah. Namun tidak berani berbuat sesuatu meskipun hatinya melonjak. Meskipun demikian ia menjawab “Jangan memperkecil arti Alap-alap Jalatunda didaerah ini. Kenapa aku takut kepada yang seorang lagi. Berdua dengan Untara aku telah berhasil mengalahkan mereka”
“Jangan ulangi!” bentak Plasa Ireng. Sikapnya benar-benar garang. Apalagi kepada lawan-lawannya. Kepada Alap-alap Jalatunda itupun ia berkata “Kalau sekali lagi kau sebut kemenanganmu itu, aku tampar mulutmu. Sekarang pakai kudaku, kejar yang seorang sampai ketemu” kemudian kepada Kriya Plasa Ireng berkata “kearah mana kuda yang itu?”
Kriya yang kecil pendek itu telah kehilangan seluruh hatinya, karena itu maka jawabannyapun meluncur dengan lancarnya “keselatan”
“Terus?” desak Plasa ireng.
“Tidak. Disimpang tiga membelok kebarat” jawabnya.
“Nah, kejar dia. Lewat Kali asat” perintahnya.
Alap-alap Jalatunda masih berdiri ditempatnya, sehingga Plasa Ireng membentak “Pergi…!”
Alap-alap Jalatunda yang garang itu tidak membantah. Bergegas-gegas ia pergi kejalan kecil dimuka halaman Ki Tanu Metir. Dan sesaat kemudian terdengarlah derap kuda berlari.
Mendengar derap kuda itu, berdentanglah jantung Untara. Segera ia mencemaskan nasib adiknya. Tiba-tiba saja ia mencoba menyibakkan tumpukan padi diatasnya. Namun terasa pundaknya menjadi semakin sakit. Dan ketika ia meraba pundak itu, terasa darahnya kembali mengalir. Karena itu dicobanya untuk menenangkan dirinya. Ia mencoba berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan. Dalam pada itu terdengar Plasa Ireng membentak “He dukun tua, kangan menyamakan aku dengan Pratanda yang cengeng itu. Sekali aku bertanya, kau harus menunjukkan tempat Untara. Kalau tidak sebaiknya aku sobek mulutmu, dan aku bakar rumah ini. Nah, tunjukkan tempat Untara itu sekarang”
Sekali lagi Untara menggeliat. Ia sama sekali tidak rela, apabila dukun yang naik itu mengalami bencana karena dirinya. Tetapi dengan demikian, keadaannya menjadi semakin buruk. Darah yang kembali mengalir dari lukanya itu, sangat mempengaruhinya. Sehingga Untara menjadi sangat cemas. Ketika matanya seakan-akan tidak dapat dibukanya lagi, sesaat kesadarannya seperti hilang. Dan tiba-tiba ia menjadi sangat pening. Lamat-lamat masih didengarnya Ki Tanu Metir menjawab tenang “Sayang ngger Plasa Ireng, aku tidak dapat menunjukkan tempat itu”
“He..!” Plasa Ireng berteriak “Kau mencoba membantah. Jangan mengorbankan dirimu untuk monyet yang ganas itu”
“Ia berada dirumahku” jawab Ki Tanu, “karena itu keselamatannya berada ditanganku”
Jawaban itu benar-benar mengejutkan. Untarapun terkejut. Namun ia tidak mau mengorbankan orang tua itu. Tetapi ketika ia mencoba sekali lagi untuk bangkit, maka kepalanya menjadi semakin peningnya. Perlahan-lahan kesadarannya menjadi semakin tipis. Dan ketika ia mencoba berteriak untuk menunjukkan dirinya maka dunia seakan-akan kelam. Untara tidak sadarkan diri. (besambung)

3 komentar:

Widja mengatakan...

Salut deh sama Mas Rizal. Bisa meluangkan waktu membuat e-book Api bukit menoreh.
Kenapa gak bikin foto tiap halaman saja? trus print pdf. jadi gak perlu re-type.
Anyway, salut deh sama kerja kerasnya.

sugiri mengatakan...

betul mas rizal, bikin foto tiap halaman kayak bajakannya Harry Potter, trus print pdf.

Anonim mengatakan...

Wah baru nemu nih cerita Api di Bukit menoreh, akhirnya setelah lama nyari beruntung ada mas Rizal yang menulis lagi cerita AdBM.
Jadi nggak kehilangan jejak cerita legendaris SH Mintardja.
Makasih mas Rizal