Kamis, 28 Februari 2008

Api di Bukit Menoreh 24

Yang tinggal adalah sebuah kepulan debu yang putih, semakin lama semakin tipis dan akhirnya lenyap ditiup angin yang sepoi-sepoi. karena itu, maka keringat yang dingin segera mengalir membasahi segenap tubuh Agung Sedayu.
Swandaru itupun memacu kudanya menyusul Sidanti yang sedang berjalan perlahan-lahan kembali kekademangan. Dengan asyiknya ia bercakap-cakap dengan beberapa orang yang sedang mengaguminya. Bahkan Sekar Mirah yang kemudian berjalan disamping ayahnya itupun berkali-kali berpaling dan sekali-sekali dipujinya anak muda itu dihadapan ayahnya.
Ki Demang Sangkal Putung hanya kadang-kadang saja menanggapi pujian-pujian itu. Namun didalam hatinya, orang tua itu benar-benar mengeluh. Gadisnya harus benar-benar dikuasainya. karena itu, maka Ki Demang Sangkal Putung itu, bahkan bertekad untuk bersikap lebih keras lagi terhadap Sekar Mirah. Ia menyesal bahwa anak gadisnya satu-satunya itu terlalu dimanjakannya. Baik oleh dirinya sendiri maupun oleh ibunya, sehingga Sekar Mirah itu mempunyai sifat yang sukar dikendalikan. Ia berbuat seenaknya seperti yang dikehendakinya. Perasaannya terlalu tampil kedepan, jauh kedepan dari pikiran wajarnya.
Widura berjalan saja tanpa menghiraukan apapun. Hanya kadang-kadang saja ia memandang orang-orang yang lalu lalang disekitarnya. Ditatapnya wajah-wajah yang dengan gembira pulang dari lapangan menyaksikan perlombaan-perlombaan yang sangat menarik hati. Perlombaan-perlombaan yang jarang terjadi di kademangan yang subur itu.
Tetapi langkah Widura itupun kemudian terhenti, ketika ia melihat dua orang berkuda menuju kearahnya. Dua orang yang dikenal baik oleh Widura, sebagai laskarnya yang patuh. Bahkan kedatangan dua orang berkuda itupun sangat menarik perhatian orang-orang yang sedang berjalan pulang dari lapangan itu. Sehingga ada diantaranya yang ikut berhenti pula, menanti kalau-kalau ada sesuatu yang penting bagi Sangkal Putung. Tetapi kedua orang itu ternyata sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencemaskan, dengan tersenyum-senyum ia kemudian turun dari kudanya dan kemudian mengangguk hormat kepada Widura.
Widurapun mengangguk pula. dilihatnya juga kedua orang itu hanya tersenyum-senyum, namun bagi Widura, senyum mereka adalah senyum yang tak begitu wajar. Meskipun demikian Widura tahu benar maksud kedua orang itu. Mereka tidak mau merampas kegembiraan orang-orang Sangkal Putung dengan sikap-sikap yang tegang dan tergesa-gesa.
Widurapun kemudian tidak bertanya langsung apa keperluan mereka. Tetapi ia yakin pasti ada sesuatu. Kedua orang itu adalah or yang sedang bertugas berjaga-jaga diujung kademangan.
“Perlombaan sudah selesai” berkata Widura kepada mereka. “Marilah kita ke kademangan”
Kedua orang itupun mengangguk-anggukkan kepalanya, dan dengan menuntun kuda mereka, mereka berjalan disamping Widura ke kademangan.
Sidantipun melihat kedua orang itu pula, demikian juga Hudaya dan Citra Gati. Bahkan Sonya yang berjalan jauh-jauh dibelakang bersama Sendawa mempercepat langkah mereka. Tetapi mereka menjadi kecewa ketika ternyata kedua orang itu tak berkata apa-apa.
Orang-orang Sangkal Putung yang berhenti karena kedatangan orang-orang berkuda itupun kemudian meneruskan langkah mereka. Ternyata dalam tanggapan mereka, kedua orang berkuda itupun agaknya hanya ingin menyaksikan perlombaan dilapangan, namun mereka sudah terlambat.
Namun Widura yang segera ingin tahu apa yang sudah terjadi itu, ternyata tidak sabar menunggu sampai mereka tiba dikademangan. karena itu maka perlahan-lahan hampir berbisik ia berkata “Ada sesuatu?”
Salah seorang dari kedua orang berkuda itu mengangkat wajahnya. sesaat ia memandang orang-orang berjalan disekitarnya namun kemudian dengan berbisik pula ia berkata “Tak begitu penting, meskipun harus mendapat perhatian”
“Apakah itu?”
“Diantara beberapa orang yang lewat dimuka gardu penjagaan kami, kami melihat seorang yang menarik perhatian kami”
Widura mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Siapa?”
“Seorang yang barangkali hadir juga menyaksikan perlombaan dilapangan. Meskipun pakaiannya kumal dan kotor, namun tongkatnya telah meyakinkan kami”
“Tongkat baja putih?”
Orang itu mengangguk.
“Berkelapa kuning berbentuk tengkorak?”
Sekali lagi orang itu mengangguk.
Widura itupun menggeram “Macan yang gila itu sempat menyaksikan perlombaan itu pula”
“Aku sangka demikian. Namun kami tidak berani menangkapnya. Sebab kami tahu pasti kekuatan yang tersimpan pada dirinya”
“Kalian telah berbuat benar” sahut Widura. “Juga kalian tak dapat menghitung, berapa orang yang dibawanya”
Prajurit berkuda itu mengangguk. Katanya “Kami berenam didalam gardu kami. Seandainya kami harus bertempur, belum pasti kami berenam sempat melaporkan kehadirannya. Yang dapat kami lakukan hanyalah memukul tanda bahaya. Dan orang-orang itupun segera akan lenyap. Sedang sebagian besar dari kami, pasti sudah mati”
“Benar” sahut Widura pula, kemudian katanya “Apakah mereka sudah meninggalkan Sangkal Putung?”
“Kami menyangka demikian” jawab orang itu.
“Aku juga menyangka demikian” berkata Widura. “Orang itu hanya ingin tahu, apakah yang terjadi disini, dan sekaligus ia dapat mengetahui pula, gambaran kekuatan laskar kita disini. Untunglah bahwa perlombaan pedang dan sodoran hanya aku peruntukkan anak-anak muda Sangkal Putung, sehingga Tohpati itu tidak dapat mengukur kekuatan prajurit Pajang di Sangkal Putung”
Orang itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian mereka itupun saling berdiam diri. Namun apa yang didengar oleh Widura dari penjaga-penjaganya itu, semakin meyakinkannya, bahwa apa yang dikatakan Kiai Gringsing semalam benar-benar akan dilakukan oleh Tohpati. Sekali lagi menyergap Sangkal Putung.
Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda yang berdentang-dentang dijalan berbatu-batu dibelakang mereka. Semakin lama menjadi semakin keras, sehingga setiap orang yang mendengarnya menjadi cemas karenanya. Bahkan kedua prajurit berkuda itupun menjadi cemas pula.
karena itu, maka semua mata, berpuluh-puluh pasang, seakan-akan melekat ditikungan jalan dibelakang mereka.
Sesaat kemudian muncullah kuda itu, seekor kuda putih dengan penunggangnya yang gemuk bulat. Swandaru.
“Oh” hampir semua mulut berdesah, ketika mereka melihat anak muda itu. Sedang Swandaru itupun menjadi terkejut pula ketika dilihatnya beberapa orang berhenti dijalan seakan-akan sedang menunggunya. Sehingga tanpa sesadarnya ia bertanya sambil menarik kekang kudanya. “Apakah yang kalian tunggu?”
Kuda Swandaru itu berhenti beberapa langkah dari Sidanti. Namun Sidanti itu kemudian sama sekali tak memperhatikannya. Dengan langkah yang tetap Sidanti meneruskan perjalanannya kembali kekademangan.
Ki Demang Sangkal Putung, yang masih agak jauh dari padanya menjawab pertanyaan anaknya “Kau mengejutkan kami, Swandaru”
“Ah” sahut Swandaru. “Betapa ayah mudah menjadi terkejut, sedang kakang Sidantipun sama sekali tidak terkejut mendengar derap kudaku”
Langkah Sidantipun terhenti. Dengan wajah yang asam ia berpaling kearah Swandaru. Namun hanya sebentar, dan kembali ia tidak memperhatikan anak muda itu lagi, seakan-akan kehadirannya sama sekali tak berarti baginya.
Swandaru melihat kemasaman wajah itu. karena itu maka hatinyapun menjadi semakin panas. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk memanaskan hati Sidanti pula. maka katanya lantang “Kakang Sidanti, berhentilah sebentar”
Sekali lagi Sidanti berpaling, kali ini ia memandang Swandaru dengan tajam, katanya “Jangan ribut Swandaru”
“Aku tidak sedang ribut “Jawabnya. “Tetapi aku ingin memberitahukan kepadamu, bahwa sebenarnya bukan kaulah pemanah terbaik di Sangkal Putung”
Kali ini Sidanti benar-benar berhenti. Ia tidak saja berpaling, namun dengan sigapnya ia memutar tubuhnya. Ditatapnya wajah Swandaru dengan tajamnya. Dan bertanyalah anak muda itu dengan suara yang bergetar “Apa katamu Swandaru?”
Ki Demang Sangkal Putung dan Widurapun tertarik pula pada kata-kata Swandaru itu. Namun mereka menjadi cemas, dan berkatalah Ki Demang Sangkal Putung “Swandaru, hati-hatilah dengan kata-katamu”
Swandaru tidak menghiraukan kata-kata ayahnya. Dengan masih tetap diatas punggung kudanya ia berkata “Aku berkata sebenarnya, bahwa kakang Sidanti bukan pemanah terbaik diantara kita”
Sidanti itupun menjadi heran mendengar kata-kata Swandaru yang tiba-tiba itu. karena itu beberapa langkah ia maju mendekati Swandaru. katanya “Ulangi Swandaru. dan apa alasannya?”
“Baik” jawab Swandaru. “Aku ulangi. Kau bukan pemanah terbaik di Sangkal Putung. Alasanku, dilapangan masih ada seorang pemanah yang pasti melampaui kecakapanmu”
Dada Sidanti menjadi bergelora. Betapa hatinya menjadi panas. Seandainya pada saat itu tidak ada Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Hudaya, Citra Gati, Sekar Mirah maka mulut Swandaru itu pasti sudah ditamparnya untuk ketiga kalinya.
Tetapi kini ia masih mencoba menahan dirinya. Sedang beberapa orang lainpun melangkah mendekati mereka. Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Hudaya, Citra Gati, Sekar Mirah dan beberapa orang lainnya.
Sekali lagi Ki Demang Sangkal Putung mencoba mencegah anaknya yang kurang dapat menempatkan diri itu, katanya “Swandaru, sudahlah, jangan membual. Apapun yang terjadi dilapangan menurut katamu, namun perlombaan sudah selesai. Dan angger Sidantilah yang kami anggap sebagai pemenangnya”
Swandaru tertawa. Jawabnya “Ternyata anggapan itu salah ayah”
“Tidak bisa” sahut ayahnya. “Kami semuanya menjadi saksi”
Swandaru masih tertawa. Dipandangnya kemudian wajah-wajah yang tegang disekitarnya. Dilihatnya beberapa orang memandangnya dengan penuh pertanyaan pada sinar matanya. kKarena itu, maka Swandaru itupun berkata pula “Baiklah. Katakanlah dalam perlombaan itu kakang Sidanti ternyata menjadi pemenang. Namun aku katakan bahwa ia bukanlah pemanah terbaik di Sangkal Putung”
Widura masih tetap berdiam diri. Dengan cepatnya ia memaklumi maksud Swandaru. ketika tak dilihatnya Agung Sedayu diantara mereka, maka pasti Agung Sedayulah yang dimaksud oleh Swandaru itu.dan dengan cepat pula Widura dapat mengira-irakan apakah yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu. Agaknya ia telah melakukan beberapa permainan bersama Swandaru. Namun Widura menjadi heran, bahwa Swandaru telah menyusul Sidanti dna mengatakan apa yang dilihatnya. Apakah maksud Swandaru itu telah disetujui Agung Sedayu?
Sidanti telah hampir tak dapat menahan dirinya lagi. Dengan lantang ia berteriak “Jangan banyak bicara Swandaru. katakan siapa orangnya!”
Swandaru meredupkan matanya. Dipandangnya Sidanti baik-baik. Apakah yang akan terjadi kalau ia menyebutkan nama orang yang telah mengagumkannya itu? Dan dengan las-lasan disebutnya nama itu, katanya “Kau ingin tahu namanya? Namanya Agung Sedayu”
Sidanti mendengar nama itu, seperti suara guruh yang meledak diatas kepalanya. Sesaat wajahnya menjadi tegang, namun sesaat kemudian tubuhnya menjadi gemetar. Tiba-tiba semua orangpun menjadi tegang pula ketika mereka melihat Sidanti itu, tanpa sepatah katapun, melangkah dengan tergesa-gesa menyibak semua orang yang berdiri disekitarnya. Dengan dada yang bergelora ia berjalan kembali kepalangan sambil menjinjing busurnya. Namun demikian masih juga ia bergumam “Bagus. Kita buktikan, siapakah diantara kita yang akan menjadi pemanah terbaik di Sangkal Putung”
Beberapa orang yang kemudian tersadar akan keadaan itu, segera berjalan pula kembali kelapangan. Mereka ingin menyaksikan apakah gerangan yang akan terjadi.
Widura memandang si dengan hati yang berdebar-debar pula. sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun sesaat kemudian disadarinya, bahwa ia harus hadir pula dilapangan. Seandainya terjadi sesuatu dengan Sidanti dan Agung Sedayu, maka iapun harus dengan cepat dapat mengatasinya. Meskipun demikian, Widura itu tak dapat melupakan kehadiran Tohpati di Sangkal Putung. karena itu sebelum ia pergi menyusul Sidanti, dipesannya dua orang berkuda itu untuk segera kembali kegardunya, katanya “Kembalilah kegardumu. Beritahukan kemudian gardu-gardu yang lain. Dan selalu siapkanlah tanda bahaya. Jangan terlambat”
Kedua orang itu mengangguk, jawabnya “Baik. Akan segera kami lakukan”
Demikian kedua orang berkuda itu pergi, maka berkatalah Widura kepada ki Demang yang masih saja berdiri kebingungan “Marilah kita saksikan, apakah yang terjadi”
“Baik, baik” jawab Ki Demang. Dan kepada Swandaru ia berkata “Swandaru, kau selalu saja bikin perkara. Bukankah dengan demikian kau telah memanaskan hati Sidanti? Apalagi kalau ternyata kata-katamu benar. Lalu bagaimanakah dengan hasil perlombaan itu?”
“Kalau mereka ingin bertanding, apa salahnya ayah” jawab Swandaru. “Bukankah dengan demikian kita akan mendapat penilaian yang jujur atas semua orang di Sangkal Putung?”
“Kalau ada yang ketinggalan dalam perlombaan, itu adalah karena keinginannya sendiri” jawab Ki Demang. Namun ia tidak dapat berkata apapun seterusnya, ketika diingatnya bahwa Agung Sedayu adalah kemenakan Widura.
Tetapi Widuralah yang meneruskan “Apa yang terjadi kemudian tidak akan mempengaruhi hasil perlombaan. Adalah salah Agung Sedayu sendiri kenapa ia tidak ikut serta dalam perlombaan itu. Betapapun pandainya ia membidikkan anak panah, namun apabila itu dilakukan setelah perlombaan, maka tak ada sebuah nilaipun yang dapat diberikan padanya”
Swandaru kini jadi terdiam. Ia sama sekali tak berani menjawab kata-kata Widura. Namun orang lainlah yang kemudian berkata “Biarlah kakang. Biarlah anak muda yang sombong itu dapat menilai dirinya. Seandainya seseorang dapat melampauinya, meskipun kelebihan itu tak dapat mempengaruhi hasil perlombaan, namun kita semua akan mengetahuinya, bahwa ada orang lain yang sebenarnya lebih berhak atas kemenangan itu daripada Sidanti”
Widura berpaling kearah suara itu. Dilihatnya dibelakangnya Hudaya mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil berkata “Kau benar kakang Citra Gati”
Widura menarik nafas dalam-dalam. Meskipun demikian ia menjawab “Aku harus ada diantara mereka. Pertandingan yang kemudian inipun tak boleh lebih dari pertandingan memanah”
Hudaya tersenyum masam. Sahutnya “Apa salahnya? Bukankah semuanya ini terjadi diluar arena yang seharusnya? Kalau kali ini kakang masih mencegahnya, maka itu hanya aka nberarti menunda-nunda penyelesaian”
Didalam hatinya Widurapun membenarkan kata-katanya Hudaya itu. Namun segera terlintas didalam kepalanya, bayangan-bayangan yang mencemaskannya. Tohpati. Kalau orang-orangnya sibuk dengan bentrokan-bentrokan antara sesama, apakah jadinya kalau Tohpati itu tiba-tiba saja menerkam Sangkal Putung,? Kalau terjadi sesuatu, maka hal itu pasti akan didengar oleh Macan Kepatihan itu. Sebab siapa tahu bahwa seorang dua orang dari laskar Jipang masih ada diantara mereka dan menyaksikan perselisihan itu.
Hal inilah yang tak terpikirkan oleh Hudaya, Citra Gati dan orang-orang lain. Mereka hanya menuruti perasaan mereka saja. Kebenciannya kepada kesombongan Sidanti agaknya telah benar-benar memuncak. Dan mereka mengharap Agung Sedayu akan memberi beberapa peringatan kepada Sidanti. Namun ada hal lain lagi yang tak mereka ketahui. Agung Sedayu tidak lebih dari seorang penakut.
karena itu, kali inipun Widura menjadi pening karenanya. Meskipun demikian, maka Widura berkata tegas “Tak akan ada perkelahian diantara kita”
Hudaya dan Citra Gati tidak berkata-kata lagi. Namun wajahnya membayangkan kekecewaan hatinya. Sesaat mereka saling berpandangan. Hudaya itu, kemudian tersenyum hambar ketika ia melihat Citra Gati mengangkat bahunya.
Ketika mereka melihat Widura melangkah kembali kelapangan, mereka itupun mengikutinya pula. sedang Ki Demang Sangkal Putung dengan wajah yang masam berkata kepada anaknya “Swandaru, segera kau akan melihat akibat pokalmu itu”
Swandaru menundukkan wajahnya. kini baru disadarinya, mengapa Agung Sedayu mencegahnya untuk tidak menyampaikan cerita tentang dirinya itu kepada siapapun juga. Barulah kini ia dapat menilai perbuatannya itu. Namun semuanya sudah terjadi. Dan sebenarnya hatinyapun terbersit harapan seperti yang diucapkan oleh Hudaya dan Citra Gati itu. Namun ia tidak membantah ayahnya lagi. Bahkan iapun kemudian turun dari kudanya dan dituntunnya kuda itu berjalan dibelakang ayahnya. Sedang Sekar Mirah ternyata berjalan jauh mendahului. Dengan tergesa-gesa ia berjalan dibelakang Sidanti diantara beberapa orang lain yang ingin juga menyaksikan pertandingan yang kedua, yang pasti tidak kalah menggemparkan dari pertandingan yang baru saja selesai.
Bahkan beberapa orang sudah mulai menilai-nilai kedua anak muda yang mereka anggap sebagai pahlawan-pahlawan yang mengagumkan. Mereka berdua adalah anak muda yang namanya menjadi buah bibir orang-orang Sangkal Putung. Sidanti ternyata terkenal sebagai seorang yang gagah berani yang dengan kesaktiannya mampu bertahan melawan Macan Kepatihan. Sedang Agung Sedayu bagi mereka merupakan seorang pahlawan penyelamat padukuhan Sangkal Putung.
Keduanya kini akan berhadapan dalam satu pertandingan memanah. Alangkah mengasyikkan.
Sidanti sendiri yang berjalan paling depan dari iring-iringan yang semakin lama menjadi semakin panjang itu, dadanya benar-benar bergelora karena hatinya yang panas. Sejak semula ia berharap agar ia dapat bertanding dalam kesempatan apapun dengan Agung Sedayu. Namun ia menjadi kecewa ketika Agung Sedayu tidak ikut serta dalam perlombaan itu. Namun tiba-tiba dibelakangnya, Agung Sedayu telah membuatnya menjadi bersakit hati. Kini biarlah dibuktikan siapa diantara mereka berdua yang berhak menamakan dirinya pemanah terbaik di Sangkal Putung.
Kabar itu, kabar tentang Agung Sedayu, segera menjalar seperti api yang membakar kademangan Sangkal Putung. Setiap mulut dan setiap telinga telah dirayapi oleh berita itu. Beberapa orang berlari-lari pulang, untuk memanggil kakak-kakak mereka, adik-adik mereka dan keluarga-keluarga mereka yang telah terlanjur sampai dirumah, untuk menyaksikan pertandingan yang pasti akan menggembirakan hati mereka, melampaui pertandingan yang baru saja selesai.
Beberapa saat kemudian Sidanti itupun menjadi semakin dekat dengan lapangan dimuka banjar desa, sejalan dengan hatinya yang menjadi semakin bergelora oleh kemarahan. Maka iapun semakin mempercepat langkahnya, seakan-akan ia ingin meloncat dengan satu loncatan yang akan dapat mencapai sisa jarak yang sudah tidak terlalu jauh itu.
Dilapangan, Agung Sedayu berdiri dengan dada yang berdebar-debar. Berbagai perasaan berkecamuk didalam dadanya. Cemas, kecewa, meyesal bercampur baur. Sehingga lututnyapun menjadi gemetar. Ternyata Swandaru tidak menepati janjinya, sehingga akibatnya benar-benar tak seperti yang diharapkan. karena itu, dalam kebingungan Agung Sedayu itu berjalan hilir mudik tak menentu. Sekali-sekali ingin ia pergi meninggalkan lapangan. Tetapi kemudian ia menjadi ragu-ragu. Sehingga akhirnya dadanya itupun serasa berdnentangan, ketika ia mendengar suara orang-orang yang ribut semakin lama menjadi semakin dekat. Dan ternyatalah kemudian apa yang ditakutkannya. Dari balik rimbunnya daun-daun, dari balik dinding-dinding batu, muncullah orang-orang itu. Berbondong-bondong dan kemudian pecah berlarian mengelilingi lapangan.
Darah Agung Sedayu itupun hampir berhenti mengalir ketika dilihatnya, diujung iring-iringan itu berjalan seorang yang sanga menakutkan baginya. Sidanti.
Dan Sidanti itu langsung berjalan kearah Agung Sedayu. Dengan langkah yang tetap namun tergesa-gesa, seakan-akan ia takut terlambat, meskipun hanya sekejap.
Tetapi hati Agung Sedayu itupun kemudian menjadi agak tenteram ketika kemudian dilihatnya, pamannya datang pula kelapangan. Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang lagi. Dengan demikian ia hanya dapat berdoa mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atas dirinya.
Sidanti itupun kemudian berhenti hanya beberapa langkah saja dimuka Agung Sedayu. Dengan wajah tegang dipandanginya wajah Agung Sedayu.
Agung Sedayu masih saja berdiri ditempatnya. Betapapun dadanya berguncang, namun dicobanya juga menguasau dirinya. Bahkan kemudian dilihatnya juga Sekar Mirah yang memandangnya dengan penuh teka-teki. Akhirnya pamannya dan Ki Demang Sangkal Putungpun berdiri dilingkaran itu pula. hanya Swandarulah yang berdiri agak jauh, namun wajahnya masih sasa tampak memancarkan kebanggaannya atas Agung Sedayu. Sekali-sekali disambarnya wajah Sidanti dengan tatapan matanya. Ditariknya bibirnya kesamping dan kemudian ia tersenyum.
Betapa menyesal Agung Sedayu melihat anak muda itu. Namun kini semuanya telah terlanjur. Dan dirinyalah kini yang menjadi pusat perhatian segenap penduduk Sangkal Putung yang semakin lama menjadi semakin banyak.
Seperti guruh menggelegar dilangit, Agung Sedayu itu mendengar Sidanti berkata parau “Adi Agung Sedayu. Aku telah mendengar apa yang baru saja kau lakukan”
Agung Sedayu menggigit bibirnya. Dengan sudut matanya memandang wajah Swandaru. namun ia pengumpat didalam hati ketika dilihatnya Swandaru itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian Agung Sedayu itu menjawab “Aku tidak berbuat apa-apa kakang Sidanti”
Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian anak muda itu tersenyum masam “Jangan menghina aku. Kenapa kau tidak turut saja berlomba?”
“Aku tidak berhasrat” sahut Agung Sedayu.
“Tetapi kenapa kau membuat kericuhan setelah pertandingan selesai?”
“Apakah yang aku lakukan?”
Mata Sidanti menjadi semakin menyala. Dan hati Agung Sedayu menjadi semakin kecut karenanya. Namun dicobanya juga untuk tetap menatap wajah Sidanti dengan wajah tengadah. Tetapi lutunyalah yang terasa bergetaran. Meskipun demikian Agung Sedayu tidak dapat menghindarkan diri dari pertanggungan jawabnya atas semua perbuatannya. Kata-katanya dan anggapan orang-orang Sangkal Putung bahwa ia adalah seorang pahlawan. Dan anggapan-anggapan itu belum pernah dibantahnya. Apalagi ketika dilihatnya disampingnya Sekar Mirah berdiri dengan wajah yang cerah. Kepada gadis itupun telah banyak diceritakannya tentang perjalanannya ke Sangkal Putung bersama kakaknya dahulu. Dan diceritakannya betapa ia berdua bertempur melawan Alap-alap Jalatunda dan pande besi dari Sendang Gabus. Betapa dengan dahsyatnya ia berdua berhasil membunuh tiga orang diantaranya dan cerita-cerita lain yang dibuatnya untuk menutupi kekerdilan jiwanya.
Kini ia dihadapkan pada satu pembuktian. Ia tidak dapat berbuat apapun, selain berbuat sesuatu untuk menyelamatkan namanya. Tetapi, betapa ia memaksa dirinya, namun lututnya yang gemetar dan hatinya yang berdebar-debar itu sangat menyulitkannya.
Dan kemudian terdengar Sidanti berkata pula dengan suara yang lantang “Kau telah menyuruh Swandaru berteriak-teriak sepanjang jalan, bahwa pemenang dalam perlombaan itu bukan pemanah terbaik di Sangkal Putung”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sekali lagi dipandanginya wajah Swandaru. dan Agung Sedayu itupun menjadi semakin menyesali sikap Swandaru itu. Dengan tertawa Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun Agung Sedayu itu kemudian menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak menyuruhnya. Dan aku tidak berbuat apa-apa”
Semua orang yang mendengar jawaban Agung Sedayu itu menjadi heran. Tanpa berjanji, maka semua orang berpaling kearah anak muda yang gemuk itu, seolah-olah mereka bertanya kepadanya, apakah yang dikatakannya itu benar-benar bukan sebuah dongengan.
Swandarupun merasakan pertanyaan-pertanyaan yang memancar dari wajah-wajah itu. Sesaat ia menjadi bingung. Kenapa Agung Sedayu idak saja mengakuinya dan kalau perlu membuktikan dihadapan orang-orang itu? Kenapa masih saja ia merendahkan dirinya sedemikian? Namun tiba-tiba Swandaru itupun mundur beberapa langkah, keluar dari lingkaran orang yang berjejal-jejal. Dengan nanar ia memandang berkeliling lapangan. Akhirnya ia berlari-lari untuk memungut sesuatu yang tergolek dilapangan itu.
“Inilah” teriaknya “Aku akan dapat memberikan bukti kepada kalian. Lihatlah sasaran ini. Panah-panahku masih tertancap disini. Sasaran ini aku lemparkan keudara, dan anak muda itu telah mengenainya tiga kali diudara. Ya tiga kali diudara”
Semua mata memandangi bekas kepala orang-orangan itu. Mereka melihatnya tiga anak panah masih melekat pada benda itu. Dan mereka mendengar pula kata-kata Swandaru itu. Tiga anak panah mengenai satu sasaran yang terbang diudara. Mereka tidak tahu, bagaimana cara Agung Sedayu mengenainya. Namun dengan serta-merta mereka bertepuk tangan gemuruh.
Tepuk tangan yang gemuruh itu benar-benar telah menyalakan bara didada Sidanti. Selangkah ia maju, dan terdengarlah ia berkata lantang “Bohong, adakah kalian melihat, bagaimana caranya ia mengenainya?”
Suara yang gemuruh itupun berangsur diam. Dan akhirnya sama sekali ketika mereka melihat Widura melangkah maju memasuki lingkaran. Dengan tenangnya ia memandang Sidanti dan Agung Sedayu berganti-ganti. Kemudian dipandangnya semua wajah yang berdiri mengitari mereka itu.
Betapapun juga, Widura itupun berusaha untuk mengasai keadaan. Sebagai seorang pemimpin maka ia harus berbuat sesuatu. karena itu maka katanya “Tak ada pengaruh apapun atas perlombaan yang sudah berjalan. Kita sudah menetapkan pemenangnya. Namun permainan-permainan yang lain masih akan dapat dilakukan. Tetapi bukan untuk merubah dan mempengaruhi perlombaan itu.” (bersambung)

18 komentar:

Anonim mengatakan...

Matur suwun cak ... (ridzal - batam)

nindityo mengatakan...

semalem aku tungguin jam 02.00 gak ada perubahan .. ternyata jam 4 pagi baru diupload ya... makasih mas

nindityo mengatakan...

lho aku ngomong jam 09.22 WIB tanggal 29 Februari 2008 kok malah dicatat sebagai tanggal kemaren dan jam yg berbeda ya ?

Anonim mengatakan...

horeee.... makasih yang mas rizal.
nunggu nunggu akhirnya muncul juga episod 24.
Wah wah tulisan sampeyan bener bener ngangenin. Tapi ngomong-ngomong sampeyan punya koleksi ADBM lengkap ya mas ?
Jadi mengkhayal bisa gak ya ADBM disinetronkan? Dulu di Indosiarkan pernah mau di sinetronkan tapi gak jadi. Waktu itu baru milih figuran tokohnya.
Oke sekali lagi thanks berat mas rizal, pengen sih sebenarnya mbantu mas ngetikin... (Papar-Persikmania)

yangga mengatakan...

Akhirnya keluar juga. :) kang rizal kalau tenaga saya dibutuhkan bisa saya bantu untuk membuat dalam electronic form nya, cuman saya nggak bunya bukunya :)

Thank atas upload nya

djeblog mengatakan...

Luar biasa salutnya untuk mas rizal, semoga ga patah semangat... ketik terusss........

BabehIca mengatakan...

Gimana kalo kita rame-rame bantu Mas Rizal re-type? Saya ada APDM tapi seri-seri setelah ratusan. Gimana cara kirim hasil re-type saya ke mas rizal?

rizal mengatakan...

Alhamdulillah, khirnya saya tetap bisa jaga 6 posting bulan februari kemarin....
Utk mas nindityo, saya gak tau kenapa tanggalnya berbeda, mungkin tanggal blog ini blm disetting tanggal jakarta ya... nanti aku cek lagi
babehica, wah terima kasih sekali retype juga seri ini meski dari tengah. Mulai dari buku nomor berapa beh? Kalau skrg diposting, aneh ga ya ceritanya loncat jauh gitu hehehe. Kalau mau kirim, ke rizal.firmansjah@gmail.com aja, aku tunggu ya beh
Yg ada disaya ini lengkap sampai terakhir no 396. Tetapi karena ini koleksi pribadi kakak saya, saya ga berani meminjamkan ke orang lain. Jadi buat temen2 yang berkenan membantu retype, dg amat menyesal saya tidak bisa pinjamkan bukunya, mohon maaf beribu maaf...
Insya Allah kita semua diberi kesehatan untuk bisa menikmati bacaan ini terus, amiiin...

yangga mengatakan...

mas rizal gak usah dipinjami buku aslinya nya. Kalau ada scanner, tinggal kirimin saja hasil scannernya. Nanti saya coba dengan soft OCR di convert ke bentuk elektronik (mungkin kalau bisa). Saya juga ada scanner disini. Jadi nanti tugasnya bisa dipecah pecah, dan setelah selesai baru dikirim kembali ke mas rizal untuk di upload di blog. Email saya yanggadwi@yahoo.com kalau memang membutuhkan tenaga saa bisa dihubungi, kita bisa saling gotong royong.

arif.indarto mengatakan...

aku termasuk orang yang nunggu-nunggu cerita ini. Tetap semangat ya mas rizal

arif

Anonim mengatakan...

Atau ada yang mau urunan beli scanner utk mas rizal ? Ini kalo mas rizal belum punya lho ...

Katakan ada 100an orang penikmat blog ini (mestinya lebih) maka dengan saweran mestinya bisa nutupin harganya.

Ini kalo mas rizal dan pembacanya mau . Gimana ? (ridzal - batam)

Anonim mengatakan...

akur.mas rizal batam....klw ane mah amin bae..gimana cara sawerannya??????

yangga mengatakan...

Yup, kalau peminat blog ini 100 orang dengan saweran masing masing masing 10.000 udah dapet 1.000.0000. Menurut saya, cukup untuk beli scanner yang sekaligus gandeng dengan printernya. Apalagi ada yang menyumbang lebih :)

Anonim mengatakan...

mas rizal, saya seneng sekali ada blog ini. saya bisa bernostalgia, kegiatan apa yang saat itu say lakukan saat membaca ADBM ini pertama kali. periode yang panjang mas. Mas kalo boleh sekalian sampul depan dan gambar-gambarnya discan. :-) terima kasih ya mas
drheldy@gmail.com

Riko mengatakan...

kayaknya emang perlu gotong royong mas.... karena gak mungkin minjem dari mas rizal, saya usul, gimana kalo ada yang punya ABM serie berapa aja (sukur-sukur urut) dan discan,kemudian dikirim hasil scannernya ke mas yangga (kayaknya yg bersangkutan menawarkan diri deh hehehe...)dengan heading lengkap seri ke berapa, trus mas yangga kirim dokumen yg udah di transfer ke file text ke mas rizal, untuk diatur publikasinya, jadinya mas rizal gak capek2 lagi ngetik halamannya :) Kalo saya punyanya tinggal yg seri 4, saat perbandingan ilmu agungsedayu dengan swandaru, serta detik-detik terakhir ABM diterbitkan (serie IV-96.... wah top abizzzzdah hehehe....gimane, pada setuju nggak, terutama mas yangga n mas rizal?

yangga mengatakan...

saya nggak keberatan untuk membantu. Apa yang bisa saya bantu silahkan kontak saya.

Anonim mengatakan...

Usul yang baik sekali untuk bergotong royong menampilkan ABM ini. Kalo dilihat dari adanya gambar yg ditampilkan selama ini, saya kira mas rizal sudah menggunakan scanner. Jadi untuk ngenteng2i, sebaiknya mas rizal scan aja. Terus lempar ke siapa saja untuk di "proof" terus balik ke mas rizal untuk di post. Saya juga bersedia untuk menge"proof" naskah. kirim aja ke email saya dedeprativi@yahoo.com. O ya, biar tdk tumpang tindih sebaiknya naskah yg dikirim ke saya jangan yg sama dg yg dikirim ke mas yangga. Holopis kontul baris.

thebronk mengatakan...

Setuju banget dengan gotong royong, tapi maaf mas saya tidak bisa bantu apa-apa, tapi kalo bener ada saweran Rp, 10.000,- saya mau kok, tinggal kirim kemana ???? Lagi pula udah lama saya pengen punya koleksi ADBM, yang dapat malah nogososro sabukinten.