Selasa, 20 Mei 2008

Api di Bukit Menoreh 46

Batu itupun bergerak pula sedikit. Namun Agung Sedayu telah meloncat lebih lanjut, sehingga kali ini Agung Sedayu selamat sampai kebatu berikutnya. Agung Sedayu itupun kemudian berhenti. Kini ia melihat Swandaru yang semakin lama menjadi semakin dekat. Ketika ia sampai kebatu yang goyah itu, maka ia bergumam didalam hati “Aku sudah bersedia, dan aku tidak akan jatuh lagi kedalam sungai”
Tetapi ternyata ia salah sangka. Batu itu adalah batu yang goyah. Sehingga karenanya, maka ketika ia meloncat keatasnya, sekali lagi ia terguncang dan kehilangan keseimbangan. Meskipun ia berusaha untuk meloncat kebatu yang lain, namun ternyata ia tidak berhasil.
Tetapi Swandaru kali ini tidak mau jatuh sendiri kedalam air. Agung Sedayu yang menunggunya sambil tertawa tiba-tiba terkejut. Dengan tidak disangka-sangka tangan Swandaru meraih pundaknya, dan jatuhlah mereka berdua kedalam air bersama-sama.
Ketika mereka muncul lagi dari permukaan air, maka mereka tidak dapat menahan gelak tawa mereka yang seperti meledak dari dada.
Ki Tanu Metir yang melihat mereka bergumul didalam air itupun tertawa pula terkekeh-kekeh, sampai tubuhnya terguncang-guncang. Demikian asyiknya ia tertawa dan melihat murid-muridnya yang basah kuyup, sehingga Ki Tanu Metir itu tidak melihat bahwa beberapa orang melihatnya dengan pandangan yang tajam. Mereka sama sekali tak mengetahuinya, apa yang dilakukan oleh kedua anak-anak muda itu.
Tiba-tiba batu tempat Ki Tanu Metir berdiri berguncang, dan hampir saja Ki Tanu Metir kehilangan keseimbangan. Secepat kilat ia sempat berpaling dan memandangi orang orang ditepi sungai itu. Tetapi sekejap kemudian tiba-tiba Ki Tanu Metirpun terhuyung-huyung dan jatuh pula ke dalam air.
Agung Sedayu dan Swandaru terkejut. Ki Tanu Metir itupun terpelanting jatuh. Tetapi segera mereka terlihat beberapa orang ditepi sungai itu tertawa terbahak-bahak. Seseorang diantaranya masih memegang sebutir batu, sedang orang yang lain berkata “lemparanmu tepat kakang.”
Mata Agung Sedayu dan Swandaru terbelalak melihat orang-orang itu, seorang diantaranya adalah orang yang bertubuh tinggi tegap, berkumis melintang. Ditangannya tergenggam sebatang tongkat besi baja putih dengan kepala kekuning-kuningan berbentuk sebuah tengkorak.
Hampir saja Swandaru berdesis. Tetapi untunglah ia dapat menahan diri. Namun hatinya berteriak “Macan Kepatihan”
Agung Sedayupun berdiri tegak tak bergerak. Tetapi tiba-tiba mereka berdua terkejut ketika mendengar Ki Tanu Metir berkata “E,tole tolonglah. Tolonglah aku berdiri.”
Sesaat mereka heran melihat Ki Tanu Metir tertatih-tatih berusaha untuk berdiri. Namun sekali-sekali ia tergelincir kembali. Tubuhnya benar-benar menggigil dan dengan terbata-bata ia berteriak-teriak sambil melambaikan tangannya.
Agung Sedayu cepat menangkap maksud Ki Tanu Metir. Orang tua itu telah menjadi seorang tua yang tak berdaya. Karena itu segera ia berlari dan menolong kym tang sedang menggigil. Diangkatnya orang tua itu berdiri dan didudukkannya diatas sebuah batu yang besar. Sedangkan Swandaru melihat perbuatan Sedayu itu dengan herannya. Kenapa orang tua itu harus ditolongnya berdiri dan harus dipapah keatas sebuah batu yang besar? Bukankah orang tua itu pula yang besar? Bukankah orang tua itu pula yang telah memaksanya meloncat-loncat dan memberi mereka beberapa contoh untuk melakukannya? Namun Swandaru tidak bertanya apapun juga. Iapun perlahan-lahan berjalan mendekati Ki Tanu Metir. Ia semakin heran ketika dilihatnya orang tua itu menyeringai kesakitan. Ia sendiri telah tiga kali jatuh terpelanting, namun ia tidak merasa apa-apa. Orang tua itu baru sekali jatuh. Tetapi ia telah tampak sedemikian payahnya.
Tetapi ia menarik nafas ketika ia mendengar orang tua itu berbisik “Jangan terjadi bentrokan dengan orang-orang itu sekarang”
“Oh” desahnya. Sekali dilayangkannya pandangan matanya ketebing dan kemudian dipandanginya orang tua yang duduk kedinginan diatas batu itu.
Tetapi Swandaru kini telah mengerti maksud Ki Tanu Metir itu. Dan mereka berdua, Agung Sedayu dan Swandarupun kemudian mengerti pula, bahwa sebenarnya Ki Tanu Metir pasti akan mampu mempertahankan keseimbangannya seandainya yang hadir dipinggir kali itu Ki Tambak Wedi, tetapi orang tua itu pasti mempunyai pertimbangan lain sehingga ia tidak mau terlibat dalam bentrokan dengan Tohpati dan beberapa kawannya saat ini.
“He!” tiba-tiba mereka mendengar seseorang diantara orang-orang yang berdiri ditebing itu berteriak “Siapakah kalian?”
Ki Tanu Metir memandangi mereka dengan wajah ketakutan. Kemudian jawabnya gemetar “Kami orang-orang Benda tuan”
“Apa kerja kalian disini?”
“Kami sedang menyelusur air sawah tuan. Dan kami berhenti sejenak untuk mandi”
Orang-orang itu tertawa. Kata salah seorang dari mereka itu “Apakah kalian biasa mandi dengan seluruh pakaian kalian?”
“Tidak tuan. Salah seorang anak itu tergelincir, namun rupa-rupanya ia tidak mau melihat kawannya masih tetap kering”
Kembali mereka tertawa. dan kembali terdengar salah seorang berteriak “Apakah benar-benar kalian hanya menyusuri air?”
“Ya tuan” sahut Ki Tanu Metir “Tetapi siapakah tuan-tuan ini?”
“Kami dari Sangkal Putung” sahut orang yang bertongkat baja putih itu.
Swandaru menjadi berdebar-debar. Ia pernah bertemu muka dengan Macan Kepatihan itu, selagi Tohpati itu bertempur melawan Sidanti dan Widura. tetapi pertemuan itu hanya sekejap dan Tohpati waktu itu sedang disibukkan oleh perkelahian itu. Sehingga agaknya Tohpati itu kurang mengenalnya.
Ki Tanu Metir kemudian bertanya pula “Apakah yang akan tuan lakukan disini?”
“Hem. Aku ingin mendapat beras, apakah orang-orang Benda mempunyai persediaan cukup?”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menggeleng. Jawabnya perlahan-lahan “Ah, tuan telah memeras semua persediaan kami. Beberapa orang Pajang yang berada di Sangkal Putung itu? Setiap minggu kami harus menyerahkan berbakul-bakul beras, sehingga kami sendiri akan menjadi kelaparan karenanya”
Tohpati itu tertawa. Kemudian katanya “Bukankah dengan demikian kalian membantu perjuangan kami melawan orang-orang Jipang?”
“Bagi kami tuan, sudah tentu lebih penting makan kami sehari-hari”
Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Dipandangnya ketiga orang yang berada dibawah tebing itu berganti-ganti. Kemudian katanya “He, apakah anak-anak muda itu tidak mau ikut bergabung dengan kami untuk melawan laskar Macan Kepatihan?”
Ki Tanu Metir menggeleng “Mereka adalah cucu-cucuku. Biarlah mereka menikmati ketentraman hidup dirumah. Apakah keuntungan kami apabila anak-anak muda itu turut bertempur?”
“Anak-anak muda seluruh kademangan Sangkal Putung bangkit serentak. Mereka telah menyumbangkan tenaga mereka untuk kemenangan Pajang. Apakah cucu-cucumu itu tidak ikut serta he?”
“Sudah aku katakan buat apa mereka ikut bertempur? Dan apakah sebenarnya keuntungan orang-orang Pajang dan orang-orang Jipang yang kini saling bertentangan?”
“Kami sedang mempertahankan pendirian kami masing-masing. Kami tidak senang melihat pengikut-pengikut Arya Penangsang berkeliaran”
“Mungkin pimpinan tuan tidak senang melihat Arya Penangsang. Tetapi apakah perlunya pertengkaran itu berlarut-larut terus? Sejak Arya Penangsang terbunuh, maka persoalan kalian sebenarnya telah selesai”
“Siapa yang bilang he, pak tua?”
Ki Tanu Metir tertawa. Kemudian katanya “Lima enam hari yang lalu, kawan-kawan tuan datang kepondokku. Seorang bertubuh sedang, masih sangat muda dan tampan. Dikawani oleh seorang yang sudah menginjak setengah umur. Namun wajahnya menunjukkan kewibawaan yang tinggi. Namanya Untara dan Widura”
Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya “Apakah yang mereka lakukan dipondokmu?”
“Apakah tuan-tuan kenal mereka?”
“Tentu” sahut Macan Kepatihan “Untara adalah senopati laskar Pajang didaerah ini. Dikaki-kaki gunung Merapi. Sedang paman Widura adalah pimpinan laskar Pajang di Sangkal Putung”
“Oh, jadi mereka adalah pemimpin-pemimpin tuan?”
Macan Kepatihan menggigit bibirnya. Adalah tidak senang mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia terpaksa menjawab “Ya, apa yang mereka lakukan?”
“Pertama, mereka mencari beras seperti tuan, mereka telah membawa sepuluh bakul beras. Apakah tuan tidak mendapat bagian dari yang sepuluh bakul itu sehingga tuan terpaksa mencari sendiri?”
Tohpati terdiam sesaat. Tetapi kemudian jawabnya “Kau benar-benar orang tua yang bodoh. Berapa ratus orang Pajang yang berada di Sangkal Putung. Sepuluh bakul beras hanya cukup untuk tiga hari, paling lama lima hari. Nah, apakah yang akan kami makan besok, lusa dan seterusnya?”
“Dari desa-desa lain tuan akan dapat mengambil beras pula. Tetapi itu tidak penting. Yang penting pemimpin-pemimpin tuan itu berkata kepadaku bahwa sebenarnya mereka telah jemu bertempur”
“Tidak” sahut Macan Kepatihan.
“Apa yang tidak, tuan? Apakah tuan tidak bertanya bahwa pemimpin-pemimpn tuan pernah berkata demikian? Atau apakah tuan tidak percaya bahwa orang-orang Jipang juga jenuh bertempur? Atau tuan tidak percaya bahwa setiap orang sudah jemu melihat pertempuran? “Aku tidak percaya bahwa pemimpin-pemimpin Pajang berkata demikian. Aku juga tidak percaya bahwa orang-orang Jipang telah jemu bertempur pula. Dan aku juga tidak percaya bahwa setiap orang sudah jemu melihat pertempuran.
“Jadi jelasnya tuan tidak percaya kepadaku?”
“Bukan. Mungkin orang Pajang berkata kepadamu. Tetapi mereka tidak berkata yang sebenarnya.”
“Mereka berbohong? Apakah gunanya?”
“Orang-orang Jipangpun tidak pernah merasa jemu bertempur. Mereka sedang memperjuangkan sebuah cita-cita. Dan cita-cita itu akan mereka bawa mati.”
“Cita-cita? Bertanya Ki Tanu Metir “apakah sebenarnya cita-cita itu bagi orang Jipang? Apakah mereka akan menghidupkan kembali dan meletakkan Arya Jipang yang sudah gugur itu apabila mereka sudah berhasil? Tuan. Apakah tuan tidak sependapat dengan pemimpin-pemimpin tuan? Bahwa sebenarnya diantara mereka dan orang-orang Jipang itu tidak terdapat soal-soal yang tidak perlu melibatkan mereka dalam pertentangan yang berlarut-larut? Pemimpin-pemimpin tuan itu berkata, bahwa orang-orang Jipang yang sekarang masih mengangkat senjata, sebenarnya hanyalah orang-orang yang keras hati dalam kesetiakawanan mereka. Kalau mereka setia pada cita-cita mereka semula, maka cita-cita itu tidak akan dapat terlaksana. Apapun yang akan mereka lakukan. Seandainya orang-orang Pajang akhirnya dapat mereka tumpas, namun trah Sekar Seda Lepen, dasar dari perjuangan Arya Penangsang telah punah. Tak ada orang yang dapat menempatkan diri sebagai penerus cita-cita itu. Tak ada orang yang dapat menamakan diri trah Sekar Seda Lepen.”
“Tetapi itu adalah perjuangan menuntut keadilan. Siapakah yang membunuh Sekar Seda Lepen? Kalau Sekar Seda Lepen tidak terbunuh, apakah Arya Penangsang tidak akan naik keatas tahta?”
“Ya,ya. Pemimpin tuan juga mengatakan dasar tuntutan orang-orang Jipang itu, sekarang tuan juga mengatakan.
“Oh” Tohpati mengusap kumisnya. Hampir-hampir ia lupa, bahwa ia mengaku sebagai orang Sangkal Putung.
Tetapi tak seorangpun tahu pasti, apa yang terjadi dengan Sekar Seda Lepen. “Terdengar Ki Tanu Metir meneruskan “dan semua itu telah lampau. Kalau kita tenggelam dalam urut-urutan dendam, kapan kita akan berhenti berkelahi sesama kita?”
Tohpati terdiam. Sesaat sambil mengurut-urut kumisnya yang tebal melintang. Didalam hatinya timbullah berbagai pertanyaan tentang orang tua yang mengaku berasal dari padukuhan benda itu. Macan Kepatihan sama sekali tidak dapat mengerti, kenapa orang-orang dari benda dapat berkata-kata seperti yang diucapkan oleh orang tua itu.
“Mungkin orang-orang Widura, atau Widura sendiri pernah berkata demikian seperti yang dikatakannya tadi.” Berkata Tohpati dalam hatinya. Kemudian suara didalam hatinya itu berkata pula “Apakah benar-benar Widura dan Untara sudah jemu bertempur?” Tohpati kemudian menggelengkan kepalanya ketika didalam hatinya terbetik suatu pertanyaan “Apakah orang-orang Jipang tidak jemu bertempur? Kapankah pertempuran itu akan berakhir?”
“Tidak” kata-kata orang itu dibantahnya sendiri didalam hatinya pula “Aku tidak akan pernah jemu bertempur. Syukurlah kalau orang-orang Pajang telah menjadi jemu. Itu adalah pertanda pertama bahwa mereka telah sampai ketepi jurang kehancuran mereka.”
Tetapi Tohpati itu terkejut ketika Ki Tanu Metir berkata pula “Nah, Tuan. Kalau tuan tidak sedang mengejar-ngejar orang Jipang, maka tuan akan dapat hidup didalam lingkungan keluarga tuan. Didalam lingkungan anak istri tuan kalau tuan sudah punya. Kalau tidak, maka ibu tuan dan ayah tuan tidak akan selalu menunggu tuan diambang pintu halaman”
“Kami bukan laki-laki cengeng” sahut Tohpati “Setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Kaupun harus mengorbankan berasmu untuk perjuangan ini. Nanti siang aku akan segera datang ke Benda untuk mengambil beras itu”
“Jangan tuan, jangan hari ini. Tuan pasti akan kecewa, sebab perempuan-perempuan kami belum menumbuk padi. Besok atau lusa baru tuan dapat datang mengambilnya”
“Aku perlu hari ini. Katakan kepada penduduk Benda, bahwa laskar Pajang tidak dapat menunda kebutuhannya. Siapa yang tidak tunduk kepada setiap perintah laskar Pajang, maka ia akan dihabisi jiwanya. Kau dengar?”
“Huh, tuan menakut-nakuti kami. Laskar Jipangpun tidak mengancam sekasar itu, tuan. Apakah tuan sedang bersenda gurau?”
Tohpati tersenyum didalam hati. Kalau ia dapat memisahkan laskar Pajang dari kekuatan rakyat yang mendukungnya, maka kekuatan Pajang pasti akan berkurang. Setidak-tidaknya di Sangkal Putung. Karena itu, maka jawabnya “Persetan dengan laskar Jipang. Apakah mereka juga sering mengambil beras ke padukuhan Benda?”
“Ya tuan, kadang-kadang. Tetapi mereka tidak pernah mengancam seperti tuan”
“Jipang ternyata sedang berusaha mendekatkan dirinya kepada orang-orang padesan untuk mendapat dukungan. Tetapi Pajanglah yang berkuasa atas kalian, sehingga kalian tidak bebas membantah perintahnya”
Mata Agung Sedayu dan Swandaru yang sejak tadi duduk mematung, tiba-tiba memancarkan kemarahannya yang selama ini ditahan didalam hatinya. Mereka tidak dapat mendengar fitnahan yang sedemikian tajamnya atas laskar Pajang yang berada di Sangkal Putung. Tetapi sebelum mereka berbuat sesuatu, maka dengan isyarat tangan yang disembunyikan dibalik batu, Ki Tanu Metir telah mencegah mereka berbuat sesuatu.
Dalam pada itu, maka terdengar Ki Tanu Metir itu berkata pula “Nah, itulah tuan. Kalau kalian, tuan-tuan tidak saling bertentangan, maka tuan-tuan tidak perlu berebut pengaruh atas rakyat padesan. Tuan-tuan dapat berbuat banyak untuk orang-orang kecil seperti kami ini”
“Tidak mungkin. Mereka bertentangan kepentingan. Kami orang-orang Pajang akan mempertahankan kemenangan kami, meskipun kami tahu, bahwa tuntutan Arya Penangsang itu adil”
Mendengar kebohongan itu, hampir-hampir Swandaru dan Agung Sedayu tidak dapat menguasai diri. Tetapi sekali lagi Ki Tanu Metir memberinya isyarat.
“Ya, katakanlah bahwa tuntutan Arya Penangsang itu adil. Tetapi garis keturunan yang sekarang memegang kekuasaan atas Demak telah patah. Putra-putra Sultan Trenggana telah hampir punah pula. Pangeran Prawata telah dibunuh oleh Arya Penangsang. Sunan Hadiri dari Kalinyamat. Kemudian yang terakhir tetapi gagal adalah Adipati Jipang. Katakanlah bahwa Arya Penangsang sedang berjuang menuntu warisan. Lalu, apakah Adipati Hadiwijaya di Pajang harus dengan rela hati menyerahkan lehernya untuk dipancung? Sedang Hadiwijaya itu sama sekali tidak tahu menahu tentang terbunuhnya Sekar Seda Lepen. Bukankah Adipati Pajangpun merasa, bahwa kini sedang memperjuangkan keadilan?
Nah tuan, selama keadilan itu dilihat dari sudut yang berbeda-beda, maka keadilan itu sendiri tidak akan dapat serupa bentuknya. Karena itu maka yang paling baik adalah apa yang dikatakan pemimpin tuan. Menjemukan. Pertentangan yang berlarut-larut adalah menjemukan sekali. Pertentangan itu tidak akan dapat memberikan apa-apa kepada kami. Kepada orang-orang kecil. Bahkan hanya akan menguras lumbung-lumbung kami. Beras-beras kami dan hidup kami akan menjadi semakin kering. Tetapi kalau tuan tidak saling bertentangan menimbang dendam dihati, maka kami akan dapat bekerja dengan baik, dengan tenang, dengan tentram. Dan tuan-tuan yang bijaksana akan dapat menuntun kami, tidak dalam olah senjata, tidak dalam bermain pedang dan tombak, tetapi dalam olah tetanen dan kebutuhan kami sehari-hari”
Macan Kepatihan terdiam pula sesaat. Kata-kata itu benar-benar menyentuh sudut hatinya. Tetapi tiba-tiba terdengar orang yang berdiri disampingnya, Sanakeling, tertawa terbahak-bahak. Katanya “He pak tua. Darimana kau dengar uraian yang melingkar-lingkar itu?”
Ki Tanu Metir memandang orang yang berdiri disamping Macan Kepatihan itu. Kemudian jawabnya “Sebagian aku dengar dari pemimpin-pemimpin tuan sendiri. Dari orang yang bernama Widura dan yang lain bernama Untara”
Sekali lagi Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Kalau Widura dan Untara berpendirian demikian, maka apakah sebenarnya yang telah mendorong mereka, orang-orang Pajang dan orang-orang Jipang saling berbunuhan? Namun kembali Sanakeling berkata “Mungkin pemimpin-pemimpin kami sedang berputus asa karena mereka tidak segera berhasil menguasai keadaan disini, begitu?”
Swandaru dan Agung Sedayu menjadi benar-benar muak mendengar percakapan itu. Mereka menjadi heran, kenapa Ki Tanu Metir masih juga telaten berbicara dengan Macan Kepatihan. Apalagi orang yang berdiri disampingnya itu.
Yang paling sukar untuk mengendalikan dirinya adalah Swandaru. Hampir-hampir ia berteriak memaki-maki. Untunglah bahwa Agung Sedayu yang agaknya lebih tenang menggamitnya. Agung Sedayu yang sejak masa anak-anaknya kelalu menghindari bentrokan-bentrokan, ternyata berpengaruh juga sampai saat ini. Meskipun alasannya telah berbeda. Dahulu Agung Sedayu menghindari setiap bentrokan dengan siapapun juga karena ia takut mengalami. Tetapi sekarang, ia menghindari bentrokan karena pertimbangan lain. Kali ini gurunya tidak mengijinkannya. Kebiasaannya untuk menghindari setiap pertentangan pada masa kecilnya ternyata membantu memperliat hatinya, menambah kesabarannya. Karena ini, apalagi disamping gurunya, ia sama sekali tidak takut bertempur dengan beberapa orang yang berada diatas tebing. Namun gurunya mengisyaratkan kepadanya untuk tetap tenang dan menghindari betrokan. Meskipun Agung Sedayu tidak tahu benar alasan gurunya, namun ia mematuhinya.
Ki Tanu Metir yang mendengar kata-kata orang yang berdiri disamping Macan Kepatihan menjadi seakan-akan terkejut. Kemudian sambil mengangkat kepalanya ia bertanya “Apakah pemimpin-pemimpin kalian benar-benar berputus asa?”
“Tentu” sahut Sanakeling “Kalau tidak, maka ia pasti tidak akan mengigau seperti itu. Perang adalah kewajiban seorang prajurit. Jadi apabila ada seorang prajurit yang tidak mau berperang, maka ia adalah seorang prajurit yang tak bernilai”
“Oh, jadi apabila keadaan Pajang dan Jipang telah menjadi baik kembali, maka apakah Adipati Pajang akan memecat semua prajuritnya?”
“Ah, orang tua yang bodoh. Tentu tidak. Negara yang tidak mempunyai prajurit maka negara itu akan tidak berarti. Setiap saat lawan mereka akan dengan senang hati merampok segala miliknya”
“Oh, jadi apabila peperangan yang satu sudah selesai, maka setiap negara perlu membuat persoalan dengan negara lain?”
He, kenapa?”
“Prajurit dan perang adalah satu, menurut tuan yang disamping itu”
Macan Kepatihan tertawa. Sanakeling akhirnya tertawa juga. “Alangkah bodohnya pertanyaan itu” gumam Sanakeling. Tetapi Macan Kepatihan menggelengkan kepalanya. Gumamnya “Tidak. Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang bodoh. Ia telah mengambil kesimpulan yang tepat dari kata-katamu sendiri”
“Tetapi maksudku bukan begitu kakang. Maksudku, setiap prajurit harus bersedia berperang, tidak boleh jemu”
“Jelaskan kepada orang tua itu, jangan kepadaku” potong Macan Kepatihan.
“Oh” Sanakeling mengerutkan keningnya. Dipandangnya orang tua yang duduk diatas batu dibawah. Kakinya berjuntai terendam didalam arus sungai yang tidak sedemikian keras. Tiba-tiba wajah Sanakeling menjadi tegang. Dan dengan bersungguh-sungguh ia berkata “Marilah kita tinggalkan orang tua gila itu”
Sanakeling tidak menunggu jawaban Macan Kepatihan. Segera ia memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi tebing sungai itu bersama beberapa orang yang lain. Namun ketika Macan Kepatihan akan beranjak pergi, maka Ki Tanu Metir itu memanggilnya “Tuan” katanya “Tunggulah sebentar”
Macan Kepatihan berhenti. Ditatapnya wajah Ki Tanu Metir yang kedinginan. Katanya “Ada apa kakek?”
“Tuan, apakah nanti tuan akan datang kepadukuhan kami?
“Tentu. Prajurit Pajang tidak dapat menunggu lebih dari saat yang telah ditentukannya sendiri. orang yang mencoba menghambat perintahnya, maka ia akan dibinasakan”
“Tuan” berkata Ki Tanu Metir “Berapa tahun peperangan ini akan berakhir?”
“Kenapa?”
“Aku ingin menghitung umurku dengan kemungkinan-kemungkinan yang bakal erjadi, tuan. Kalau peperangan ini masih akan berlangsung lama maka aku akan melihat padukuhanku benar-benar menjadi kering, dan anak cucuku pasti akan mati kelaparan. Sebab beras-beras kami akan selalu mengalir keluar padukuhan kami. Sekali harus kami serahkan kepada tuan. Kepada laskar Pajang. Sekali yang lain kepada laskar Jipang”
“Kenapa kau beri juga beras kepada orang-orang Jipang?”
“Mereka datang dengan senjata ditangan tuan. Apakah yang dapat kami lakukan? Baik orang Pajang maupun orang Jipang. Dan sebenarnyalah pemimpin-pemimpin tuan menjadi jemu berperang. Apakah tuah tidak? Seorang prajurit Pajang pernah berkata kepadaku, bahwa ketika ia berangkat kemedan perang, anaknya baru berumur tiga hari. Anak yang lahir dari istrinya tercinta, setelah mereka hampir sepuluh tahun kawin. Prajurit itu berkata ‘Kalau aku pulang nanti, anakku pasti sudah besar. Tetapi ia pasti takut melihat wajahku yang setiap hari menjadi semakin buas karena bau darah’. Tuan, benarkah demikian? Apakah prajurit yang selalu berada dipeperangan menjadi buas, eh, maksudku keras?”
Tohpati melangkah kembali ketebing sungai itu. Ia tertarik mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Pertanyaan yang didengarnya itu benar-benar telah menyentuh hatinya. Dan tanpa setahunya ia menganggukkan kepalanya “Ya. Mungkin prajurit itu benar. Setiap hari seorang prajurit dihadapkan pada saat-saat yang tegang dan melihat kekerasan”
“Apakah tuan tidak berpendapat bahwa ketegangan dan kekerasan itu sebaiknya berakhir?”
Tohpati tiba-tiba mengerutkan keningnya. Dan dengan serta-merta ia melangkah surut. Ia tidak mau mendengarkan pertanyaan-pertanyaan orang tua itu mebih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang mengetuk dinding hatinya. Dinding hati seorang manusia yang kebetulan menjadi seorang prajurit. Seorang manusia yang kebetulan memiliki senjata ditangannya dan sedang memperjuangkan kehendak dan cita-cita dengan senjata itu. Bahkan mencoba memaksakan kehendak itu kepada orang lain dengan tajam senjatanya, baik atau tidak baik menurut penilaian orang lain.
Tohpati kini tidak mau mendengarkan lagi Ki Tanu Metir memanggilnya. Cepat ia berputar dan melangkah pergi meninggalkan orang tua yang duduk berjuntai diatas batu. Beberapa langkah daripadanya berdiri Sanakeling bertolak pinggang. Disampingnya dua orang kawannya sedang mengais-ngais tanah dengan ujung pedangnnya.
“Kenapa orang tua gila itu masih saja dilayani” gumam Sanakeling.
Macan Kepatihan tidak menjawab. Ia berpaling sejenak, namun ia berjalan terus sambil menundukkan wajahnya.
Sanakelingpun kemudian berjalan pula dibelakangnya bersama kedua orang yang berdiri disampingnya. dikejauhan tiga orang berjalan mendekati mereka dan berjalan dalam rombongan itu pula. Dan mereka masih mendapat kawan seorang lagi. Seorang anak muda yang bermata tajam, setajam mata burung alap-alap. Mereka adalah orang-orang yang harus mengawasi keadaan selama Tohpati berhenti ditepi sungai. Untunglah bahwa Alap-alap Jalatunda tidak turut menjenguk kedalam sungai itu. Apabila demikian, maka ia pasti tidak akan melupakan Agung Sedayu.
Sepeninggal Macan Kepatihan, Swandaru tidak sabar lagi, sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Kiai, Tohpati itu ternyata telah datang kehadapan Kiai. Kenapa orang itu tidak saja Kiai tangkap? Tidakkah dengan demikian maka pertempuran yang Kiai katakan menjemukan itu akan segera berakhir?”
“Tidak mungkin ngger. Apakah kita bertiga akan mampu menangkapnya?”
“Kenapa tidak? Bukankah mereka hanya berempat atau lima orang? Kiai sendiri pasti akan mampu melakukannya”

10 komentar:

rizal mengatakan...

Sahabats,
Mohon maaf sebesar2nya karena postingnya terlambat dari deadline krn perjalanan keluar kota (ih, basi banget yah....)
Terima kasih buat semua yang dengan sabar (atau terpaksa..??) menunggu postingan ini, bukan karena maksud lain hanya karena gak sempet aja. Insya Allah selama hayat masih dikandung badan saya akan terus posting. Syukur2 ada yang bantu percepatnya. Udah banyak banget yang siap ya, tapi kekurangan bahan. Gpp sambil jalan kita cari cara yg lebih praktis utk boost e-ADBM ini. Sekarang, selamat menunggu lagi ya ..... khehehe..... salam. Rizal

Anonim mengatakan...

Horeeeeee!
Yes! (Tangan mengepal disentak ke bawah. Tahu kan maksud saya: ekspresi kegembiraan yang meluap)
Sekarang dah sampe mana sih Mas? Penjaga Bukit Suharto di Kaltim punya koleksi dan mungkin bisa bantu ngeboost serial ini. Eniwe,
a million thanks, Boss Rizal.
(DHE2)

nindityo mengatakan...

akhirnya..
makasih mas

Anonim mengatakan...

horeee.... makasih banget mas rizal.
akhirnya buah kesabaran kita menghasilkan kegembiraan juga....
iya neh mas, sekarang ADBM udah sampai seri berapa ya mas...???
(papar-persikmania)

Joe mengatakan...

Uhhh...akhirnya nongol juga, thanks berat nehhhh...

Anonim mengatakan...

'....duh, akhirnya datang juga yang telah "luuuu...ama" dgn rasa cemas saya tunggu, maturnuwun lho bung Rizal..." (John Kewolo, di Samarinda)

bayu mengatakan...

Makin penasaran teruusss...Hehe,.Makasi ya mas rizal semangat terus ah...

subagyo mengatakan...

Terimakasih bro Rizal, akhirnya datang juga setelah menuggu dengan harap2 cemas.

terimakasih..100x

P Sujiwo mengatakan...

Matur nuwun sanget mas Rizal atas lanjutan postingan-nya..sempat cemas juga.
Saya baru tahu dan membaca ADBM dipostingan ini.. sebelumnya Saya sudah menuntaskan Nagasasra dan Sabukinten di gajahsora.net. Kedua karya SH mintarja ini memang benar2 hebat, membuat kita yang membacanya jadi ketagihan. Satu lagi, Saya adalah asli klaten, membaca ADBM serasa pulang kampung... jadi mudah bagi Saya membayangkan seting cerita.. jatinom, bendo, sangkal putung .. dulu mungkin jongke belum ada kali ya mas? :-)
Sukses mas.. semoga menjadi manfaat

Bambang mengatakan...

Hidup bang Rizal. Setelah lama ditunggu-tunggu... nongol juga postingannya. Bambang.